
Dua bulan kemudian
"Assalamualaikum sayang, maaf ya pulang agak telat tadi ada masalah di tempat kerja" pria itu mengecup kening istrinya lembut
"Ra aku bawain fudgy brownies kesukaan kamu" ia menaruh sekotak brownies yang sempat ia beli sepulang kerja di atas meja samping istrinya
"Assalamualaikum" suara salam terdengar dari balik pintu
"Waalaikumsalam" Azril mencium tangan kedua mertuanya
"Eh udah pulang tadi mama sama papa keluar sebentar untuk makan siang, padahal mama gak lapar tapi papa kamu nih maksa" degus mama sebal
"Lapar gak lapar harus makan dong ma biar sehat iya kan ra" ujar papa sembari menghadap ke arah putri bungsunya meminta persetujuan
"Papa kamu sok tahu ya sayang" ujar mama sinis
"Kamu udah makan Azril kamu kelihatan kurus banget?" tanya mama
"Udah ma tadi" ujar Azril bohong, selama dua bulan ini rasanya Azril enggan untuk makan, ia hanya makan beberapa suap dalam sehari, seluruh menu makanan yang menggiurkan di restorannya enggan ia sentuh
"Hai pa ma ra nobi" sapa Dariel yang baru datang
"Dariel ih udh di bilangin namanya Azril bukan Nobi" tegur sang mama
"Nama Nobi tuh lebih cocok buat dia ma, anggap aja panggilan kesayangan dari kakak ipar tertamvannya" ujar Dariel
"Rara coba tebak kakak bawa siapa?"
"Masuk!" perintah Dariel
"Jeng jeng jeng treng treng treng" suara gendang bertalu-talu keluar dari mulut Dariel kala seseorang itu memasuki ruangan
"Kamu siapa?" tanya papa dan mama bingung kala melihat seorang laki-laki yang tinggi dan tampan, di belakangnya muncul Alfred beserta Lan, mereka sudah paket komplit
"Permisi om tante" laki-laki itu menyalami tangan kedua orang tua Rara
"Nama kamu siapa nak?" tanya papa penasaran
"Perkenalkan om tante nama saya Faiz" ujar laki-laki tersebut ramah
"Faiz kayak pernah dengar" mama dan papa Rara saling berpandangan
"Ini adalah seseorang yang pernah singgah di hati Rara" ujar Dariel memberi penjelasan, seketika raut muka Azril berubah
Papa dan mamanya kini mengerti siapa laki-laki yang baru datang ini ya dia merupakan mantan Rara sekaligus kakak kelas Rara baik waktu SMA ataupun di kampus
Perlahan Faiz melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang tempat Rara berada, dia menggenggam tangan Rara dengan hati-hati
"Ra ini aku apa kamu masih ingat dengan ku"
"Ra kamu belum mengatakan yang sebenarnya kenapa waktu itu kamu minta mutus"
"Namun kini aku sudah mengetahui jawabannya"
"Sakit ra, empat tahun aku ngejar kamu berusaha dapetin hati kamu tapi pada akhirnya kamu pergi ninggalin aku begitu saja"
"Selama empat tahun itu aku selalu berdoa kepada Allah agar aku bisa memiliki kamu, dan ketika Allah sudah mengabulkan doaku aku sadar bahwa caraku untuk memiliki mu itu salah"
"Maka dari itu Allah mengambil kamu dariku lagi, aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa karena ini memanglah takdirnya"
"Ra ayo dong bangun lihat aku, aku mau menagih penjelasan kepada kamu, meski aku sudah mengetahui alasannya tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulut kamu" mata Faiz berkaca-kaca melihat kondisi Rara
"Kamu tetap cantik ra, apapun kamu bagaimana pun wujud kamu, kamu tetap cantik" ujar Faiz perlahan tangannya mengelus kepalanya, rambut Rara sudah tumbuh sedikit namun masih terlihat berantakan, bagian yang dulu botak kini sudah ada yang tumbuh meski hanya sedikit
Azril hanya menatap Faiz dengan tatapan tidak suka, ingin rasanya dia menepis tangan Faiz dari tubuh istrinya namun dia harus urungkan niatnya itu
"Aduh panas nih Lan suhu AC nya naikin dong" ujar Dariel sembari mengibaskan tangannya di depan wajahnya
"Iya nih Lan panas ya" Alfred ikut nimbrung, dalam hatinya dia tersenyum puas kala melihat raut wajah Azril
Lan memijat pelipisnya lagi-lagi dua kakak beradik ini bertingkah aneh
Faiz terus saja berusaha mengajak Rara untuk berbicara agar Rara bisa mendapat respon untuk membantu pemulihannya
Mata Azril sedari tadi tidak lepas dari istri dan mantan istrinya bahkan dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Faiz, isinya menceritakan tentang kenangan mereka dulu di sekolah hingga mampu membuat kuping Azril terasa panas
Perlahan Azril berjalan mendekati istrinya dan duduk di sebelah kiri istrinya dia ikut menggenggam tangan istrinya di bagian kiri, Faiz yang melihat kedatangan Azril menghentikan ceritanya dan menghadap ke arah Azril dengan tatapan elangnya
"Enak ya jadi Rara tangan kanan dan kirinya ada yang gandengin" ujar Dariel
"Iya ini bentar lagi mau nikah" ujar Dariel sembari melirik ke arah Lan, Lan yang dilirik langsung bergidik ngeri dengan tatapan tuan mudanya itu
"Enggak tuan muda saya masih normal" ujar Lan merinding
"Ayolah Lan jangan malu-malu meong gitu dong" ujar Dariel sembari menaik turunkan alisnya, sontak Lan langsung berlindung di belakang Alfred
"Dariel kamu jangan menodai keponakan ku dong" tegur sang papa
"Ah papa katanya pingin cepet punya menantu" ujar Dariel
"Udah kamu lajang aja seumur hidup daripada merusak kaum pria di dunia ini"
***
Besoknya Faiz datang mengunjungi Rara lagi, sayangnya di dalam ruangan itu hanya ada Azril dan Faiz tak lupa Rara yang masih setia memejamkan matanya
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Azril dingin
"Mau ketemu mantan" ujar Faiz santai
"Sayang mantan kamu datang tuh usir dia dong" bisik Azril di telinga Rara
"Rara ayo dong bangun sayang usir dia" Azril berbisik lagi
"Gak bakal bangun kalau lo bisikan dia kayak gitu" ujar Faiz sinis
Kepala Faiz mulai menunduk mengarah ke telinga Rara
"Sayang aku datang nih ayo dong bangun, kamu gak kangen sama aku" ujar Faiz lembut
Azril yang mendengar itu sontak langsung berdiri
"Kamu..... berani sekali manggil istri orang dengan panggilan sayang" ujar Azril geram
"Kenapa emang dulu aku manggil dia gini" ujar Faiz acuh, dia malah menggenggam tangan Rara dengan lembut
"Lepaskan tangan kamu darinya!" perintah Azril
"Gak mau aku masih kangen, dulu kita sering genggaman tangan kayak gini" ujar Faiz sembari tersenyum
"Itu dulu bukan sekarang, sekarang dia milikku" hampir aja Azril berteriak
"Ya siapa tau aja hatinya masih milikku" ujar Faiz santai
Azril menatap Faiz dengan tatapan tajam setajam pisau, ingin rasanya dia mengusir makhluk ini tapi dia tidak boleh egois, jika memang Rara masih memiliki rasa pada Faiz maka itu dapat membantu merespon perkembangan kondisi Rara
Faiz yang di tatap tajam tak mau kalah dia ikut menatap Azril dengan tatapan tajam setajam pedang
Deg
Mereka berdua terkejut kala merasakan gerakan dalam genggaman mereka berdua tangan kanan dan tangan kiri sama saja
Azril dan Faiz langsung menunduk melihat tangan masing-masing yang sedang menggenggam tangan Rara, kedua tangan kecil itu memberikan pergerakan pada jari-jari nya
Sedetik kemudian Azril dan Faiz saling berpandangan
"Apa kamu merasakannya?" tanya Azril senang
"Iya aku merasakannya" ujar Faiz tak kalah senang
Mereka berdua langsung menatap wajah Rara tampak kedua kelopak mata Rara bergerak-gerak, perlahan tapi pasti mata cantik itu terbuka menetralkan cahaya yang masuk pada retina matanya
Azril dan Faiz langsung berlari ke depan ruangan di sana ada suster yang selalu standby di sana khusus menangani Rara
Kini dokter dan suster memeriksa kondisi Rara, tampak wajah Azril dan Faiz yang berseri-seri, tak lupa Azril mengabarkan pada keluarga Rara serta keluarganya selagi Rara di periksa
Sedari tadi Rara diam saja tak berkutik, dokter bertanya pun dia diam saja
"Assalamualaikum Alhamdulillah ya Allah akhirnya kamu sadar juga" papa dan mama nya langsung mempercepat langkahnya ke ranjang Rara begitu pula para kakak Rara mereka berkumpul mengelilingi Rara
Sudah hampir sepuluh menit Rara terdiam semenjak dia sadar kan diri, perlahan Rara hendak mendudukkan dirinya dokter dan suster dengan sigap membantu Rara untuk duduk menyender pada ranjang
Rara mengarahkan pandangannya pada orang-orang di sekeliling nya, perlahan bibirnya terbuka
"Aku siapa aku dimana"