I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Cieeee Cieeee Di Dalam Kelas



"Kalau kamu gak bodoh maju ke depan terangkan bab sebelumnya, tapi sebelum itu saya mau salam dulu serta mengabsen nama kalian satu persatu" terdengar sautan suara yang menggelegar di dalam kelas


"Eh ini kan suara..... iya gak salah lagi ini suara ustadz Nathan" gumam Zelin yang mulai menghadapkan wajahnya ke depan


"Ehhh ada ustadz ganteng eh maksud saya ustadz Nathan, kapan ustadz masuk?" tanya Zelin cengar-cengir sendiri


Namun pertanyaan Zelin di abaikan begitu saja seperti angin lalu yang hanya lewat namun tidak di hirup


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ustadz Nathan mengucapkan salam yang tertunda di depan kelas, tadi ketika dia memasuki kelas malah di sambut dengan teriakan Rara serta Zelin


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab penghuni kelas kompak


"Kamu yang di belakang yang duduk di samping Rara maju ke depan terangkan bab sebelumnya" ujar ustadz Nathan setelah selesai mengabsen penghuni kelas satu persatu


"Zelin namanya tadz" sorak santriwati kompak


"Ustadz pura-pura lupa atau pura-pura gak ingat?" tanya Shella lantang hingga membuat seisi kelas tertawa


"Tau nih ustadz siapa tau aja jodoh, yah meskipun saya selalu berdoa kalau ustadz berjodoh sama saya" ujar Desi


"Ihhh Desi kamu kok nikung aku sih" gerutu Zelin sebal


"Peace sebelum lengkung janur menguning" ujar Desi sembari mengarahkan dua jari andalan, seisi kelas mulai ricuh begini kalau ustadz Nathan yang mengajar mereka selalu menggoda ustadz Nathan dengan Zelin


"Janur kuning melengkung kali" teriak seisi kelas


Setelah kericuhan mulai mereda ustadz Nathan angkat bicara "Udah selesai ributnya?" tanya ustadz Nathan dengan wajah coolnya


"Masih ada yang mau ribut lagi?" tanyanya lagi namun seisi kelas hanya diam membisu


"Ustadz wajah ustadz kok mirip seseorang ya" ujar Rara tiba-tiba yang sedari tadi memperhatikan wajah ustadz Nathan


"Iya mirip sama mantan kamu kan" ujar ustadz Nathan santai namun seisi kelas nampak bingung


"Wedehhh keren kamu ra punya mantan setampan ustadz Nathan terus punya suami tampan lagi" ujar Shella kagum sembari mengacungkan jempolnya


"Faiz" gumam Rara pelan


"Aku juga mau dong ra punya pacar yang tampan cari di mana sih?" tanya Desi penasaran


"Di Webtoon banyak" ujar Rara asal


"Hahahaha pacar virtual donk" timpal santriwati lainnya


"Zelin maju terangkan bab sebelumnya!" perintah ustadz Nathan


"Cieeeee ustadz manggil Zelin nih ye ciee ciee" gini nih yang ustadz Nathan gak suka ketika memanggil nama Zelin pasti selalu di godain


"Siap ustadz" Zelin maju ke kelas dengan pedenya namun


"Aduh ini apa sih gak ngerti" Zelin menggaruk tengkuknya seperti orang linglung


"Makanya Zelin jangan sibuk belajar ilmu fiqih terus dong" ledek Tari, ya pelajaran fiqh adalah pelajaran yang diajarkan oleh ustadz Nathan di kelas mereka


"Ya mana aku tau kalau tiba-tiba ustadz Nathan gantiin pelajarannya ustadzah Ratna kalau tau begini aku bakal belajar dengan rajin kok" gerutu Zelin sebal


***


"Ustadzah Zahra" Rara menghampiri ustadzah Zahra hendak menagih janji


"Ustadzah mana uangnya" Rara menyodorkan tangannya sembari menggerakkan jari-jarinya


Zahra memandang Rara tidak suka "Belum di kirim" ujarnya


"Kok belum sih saya kan udah minta dari bulan lalu saya juga butuh uang" wajah Rara nampak kecewa


"Ya mana saya tahu, kalau aku jadi ustadz Azril gak sudi aku nafkahi orang yang sudah menghancurkan hidupnya" ucapan Zahra membuat Rara tersenyum sinis


"Jangan jangan kamu yang ngambil uang dari ustadz Azril kan"


"Hufffttt" Rara menghembuskan nafasnya kasar


"Dasar nenek pendendam" gerutu Rara


"Ngutang aja kali ya, andai ada yang mau di ajak kerjasama jadi partner ngepet, biar aku yang bagian jaga lilinnya" gumam Rara


"Apa aku kerja aja kali tapi kerja apaan, eh pucuk di cinta ulang pun tiba" Rara segera berlari menghampiri ustadz Faishal


"Ustadz Faishal" teriak Rara


"Apa" ustadz Faishal menyahut dengan sinis nampaknya dia masih dendam atas kejadian yang menimpa harga dirinya


"Ustadz jangan marah dong, meskipun aku sengaja tapi aku gak bermaksud" ujar Rara memelas


"Mau apa lagi, mau minjam hp lagi?" tanya ustadz Faishal masih dengan nada yang sama


"Gak aku cuma mau nanya balasan pesan kemarin apa ya?" tanya Rara


"Oh yang kamu bilang kangen itu ya, kata Azril dalam waktu dekat dia mau ke sini tapi masih gak tau kapan masih nunggu waktu luang" ujar Azril


"Gendeng emang ya siapa juga yang kangen sama dia, aku nanya mana uang yang aku minta"


"Oh ya itu Azril bilang uangnya udah di kirim ke ustadzah Zahra kamu di suruh minta ke ustadzah Zahra" ujar Faishal tersenyum mood nya udah kembali baik ketika melihat ekspresi Rara yang sebal bercampur kesal


"Tuh kan bener uangnya di embat sama nenek pendendam, ya Allah bukannya aku berburuk sangka tapi inilah sangkanya" batin Rara


"Mmmm bisa minta tolong gk ustadz" Rara menatap Faishal dengan penuh harapan


"Apa?"


"Itu tolong dong ambilin uangnya"


"Kenapa gak ngambil sendiri aja" Faishal memicingkan matanya


"Aku kan jarang ketemu sama nenek pen.... eh maksudnya ustadzah Zahra, jadi aku mau minta tolong sama ustadz Faishal yang baik hati dan tidak sombong ini"


"Iya memang bener sih aku tuh selalu baik hati dan tidak sombong"


"Tapi bukannya kamu sering ya bertemu sama ustadzah Zahra, bahkan lebih sering daripada aku" ujar Faishal


"Mana ada, aku tuh jarang ketemu sama dia" elak Rara


"Kamu kan hampir tiap hari tuh berdiri di depan meja sidang, nah di belakang kamu itu biasanya selalu ada ustadzah Zahra yang ngawasin kamu, setahu aku nih ya dia tuh yang jadi perantara antara kamu dan suami kamu"


"Hah perantara gimana?" tanya Rara bingung


"Ya dia tuh selalu ngelapor ke ustadz Azril apa aja yang kamu lakukan di pondok, dia kan yang di jadikan Azril kepercayaan untuk jaga kamu" ujar Faishal


"Jaga apaan balas dendam sih iya" gerutu Rara


"Balas dendam apa?" tanya Faishal bingung


"Ehh bukan apa-apa, besok aku akan cari ustadz lagi kalau sampai besok ustadz belum dapet uangnya awas aja aku akan bongkar rahasia ustadz" ancam Rara


"Eh iya iya tapi jangan bongkar rahasia aku ya" ujar Faishal


"Nah gitu dong deal ya, kalau gitu aku pamit wassalamu'alaikum" Rata langsung bergegas pergi


"Untung Rara belum bongkar rahasia aku" Faishal menghembuskan nafas lega


"Eh tunggu dulu emang aku punya rahasia apa" Faishal menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Aku kan gak punya rahasia apa-apa"


"Ya Allah berikanlah hamba kepintaran untuk menghadapi bocah gemblung itu untung cantik"