I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Ibu Dari Anak-anakku



Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun cahaya dari motor yang Azril naiki membuat satpam yang berjaga di sana segera menghampirinya, seluruh keluarga Adelard telah berada di dalam rumah lantas siapa malam-malam begini yang mengunjungi rumah keluarga tersebut


"Maaf mas cari siapa ya?" tanya pak satpam heran


"Permisi pak, maaf menganggu malam-malam" Azril melepas helmnya agar satpam tersebut dapat mengenalinya


"Oalah tuan Azril, mari tuan silahkan masuk" satpam itu membuka gerbang selebar mungkin agar Azril dapat masuk dengan leluasa, padahal ia hanya mengendarai motor saja


Semua pintu sudah terkunci, nampaknya penghuni rumah sudah banyak yang beristirahat


Azril ragu hendak membunyikan bel rumah tersebut namun rasa khawatirnya jauh lebih besar dari segalanya, akhirnya ia menekan bel beberapa kali


Pintu rumah terbuka lebar menampilkan sosok wanita paruh baya yang merupakan salah satu pekerja di rumah itu


"Tuan Azril" nampaknya ia terkejut melihat kedatangan Azril


"Mari silahkan masuk, saya panggilkan dulu tuan dan nyonya"


"Tunggu" Azril menghentikan langkah wanita tersebut


"Saya takut menganggu istirahat mereka, saya hanya ingin bertemu dengan istri saya, apa istri saya sedang berada di kamarnya?"


Wanita itu mengangguk "Iya tuan, non Rara ada di dalam kamar, tuan dapat melihat kondisinya di sana"


"Apa kemarin istri saya habis masuk rumah sakit?"


"Tidak tuan, non Rara sempat di larikan ke rumah sakit sekitar dua hari semenjak tinggal di rumah ini"


"Ada apa dengannya?"


"Setahu saya non Rara pingsan sama kekurangan gizi"


"Kekurangan gizi? apa dia tidak makan?"


"Non Rara hanya mau makan beberapa suap saja tuan"


"Baik bi kalau gitu saya ke atas dulu, permisi"


Azril segera menaiki tangga menuju kamar Rara, hatinya deg deg an hendak membuka pintu tersebut


Tangannya sudah meraih hendle pintu "Bismillahirrahmanirrahim" gumamnya, sebenarnya ia belum siap menemui Rara namun hati kecilnya begitu khawatir


Clek


Pintu kamar terbuka secara perlahan, ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati mendekati ranjang, dilihatnya istrinya itu tengah tertidur membelakangi dirinya


Azril melirik nampan di atas nakas yang berisi sepiring nasi serta susu, namun sayang makanan itu tak tersentuh sama sekali


Rasa bersalah menyeruak di sekujur hatinya, ia merasa sudah berlaku egois yang tak pernah mengerti kondisi istrinya


Pandangan Azril mulai berembun, jujur saja ia sangat merindukan sosok istrinya yang selalu terlihat menggemaskan di matanya


Dengan hati-hati ia duduk di tepi ranjang, tangannya menyentuh pundak Rara dan mengelusnya dengan lembut, kemudian beralih ke atas kepala Rara


"Kenapa tidur dalam keadaan rambut basah" gumamnya dalam hati, bantalnya ikut basah menyerap rambut basah milik Rara


Merasa ada seseorang yang menyentuhnya perlahan Rara membuka matanya


"Mas Azril udah datang ma?" tanyanya dengan suara lemah tanpa membalikkan badannya


Azril terkejut mendengar pertanyaan Rara, nampaknya wanita itu mengira bahwa ia adalah mamanya


"Rara makannya nanti aja ma, nunggu mas Azril pulang" ujarnya lagi


Azril tak kuasa mendengar ucapan Rara dengan nada yang begitu lemah, bahkan suara nya hampir seperti sebuah bisikan


"Sayang" panggil Azril lembut


Rara memejamkan matanya meresapi suara seseorang yang sangat ia harapkan keberadaannya "Rara kangen mas Azril hiks hiks hiks" ujarnya sembari terisak, ia seperti berhalusinasi mendengar suara Azril yang memanggil dirinya


"Sayang ini mas"


Rara mencoba membalikkan badannya, benar saja sosok yang selalu ia tunggu dan tanyakan keberadaannya kini tengah duduk di sampingnya, tak peduli itu mimpi atau kenyataan, ia langsung meraih leher Azril dan memeluknya dengan erat, seketika tangisannya pecah


"Mas" pekik Rara


Azril mengelus lembut punggung Rara "Iya sayang ini mas, maafin mas sudah membuatmu jadi seperti ini" Azril ikut meneteskan air mata, ia tak tega mendengar tangisan istrinya yang terdengar begitu pilu


"Hiks nggak mas nggak salah hiks, aku yang salah hiks maaf" Rara menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Azril, kata maaf ia selipkan berulang kali di tengah tengah tangisannya


Azril membiarkan Rara menangis sepuasnya, hingga di rasa cukup ia melepas pelukan Rara


Azril mengambil tisu di atas nakas, mengelap wajah Rara serta lehernya yang sudah terasa lengket


"Jangan nangis lagi, ini matanya sudah bengkak" Azril mengecup kedua mata Rara secara bergantian


"Tunggu sini sebentar mas ambilin hairdryer dulu"


Rara menarik kaos yang di pakai Azril, ia menggelengkan kepalanya


"Deket kok, itu di meja rias sana" Azril menunjuk meja rias yang dapat di tempuh dengan enam langkah, akhirnya Rara melepaskan tangannya dari kaos Azril


Azril mengambil hairdryer dan mulai mengeringkan rambut Rara, menyisirnya agar tidak kusut lagi


"Udah cantik sekarang istrinya mas"


Tanpa sadar Rara meneteskan air matanya lagi, sosok Azril yang ia mimpikan tadi sungguh berbeda dengan yang ada dihadapannya ini, ia takut sosok dingin itu muncul lagi


"Ehhh kok nangis lagi" dengan sigap Azril mengusap air mata Rara


"Mas ke sini mau ngapain?" tanya Rara was was


"Mau lihat istrinya mas, mas khawatir"


"Bohong, kamu mau nagih jawaban dari pilihan kamu itu kan, atau mau langsung menyuruh ku menandatangi surat perceraian?"


"Astaghfirullah gak sayang, maaf waktu itu memberikan kamu sebuah pilihan yang bahkan mas sendiri gak sanggup menerimanya, jujur mas kecewa waktu itu hingga mas tidak bisa berpikiran jernih"


"Beri aku kesempatan lagi mas, aku minta maaf, aku tahu aku salah"


"Iya ra, mas akan berikan itu, jangan bahayakan diri kamu lagi ya, dan jangan bahayakan anak-anak kita, hidup dan mati ada di tangan Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar"


"Kamu harus janji tidak akan pernah membohongi mas lagi"


Rara mengangguk setuju


"Aku..... aku pantas kan jadi seorang ibu?" tanya Rara lirih, ia teringat jelas mimpi yang menyakitkan itu, mimpi yang dapat menampar ia dengan keras


Azril tersenyum mendengar perkataan Rara "Tentu sayang, apalagi ibu dari anak-anakku"


Mendengar itu Rara segera masuk kedalam pelukan Azril, ia menenggelamkan wajahnya di dada milik Azril


"Heem"


"Heem"


"Heem"


Suara deheman dari tiga orang membuat mereka melepaskan pelukannya, tidak seperti orang-orang pada umumnya yang mengintip di balik pintu, justru mereka telah masuk ke dalam kamar dan berdiri tak jauh dari ranjang


"Kapan kalian masuk? kenapa gak ngetuk pintu dulu" tanya Rara sedikit kesal bercampur malu


"Kan lagi asyik-asyiknya berbaikan makanya ada yang masuk gak kedengaran" ujar mama


"Barusan kok ra, gak pa pa dilanjutkan saja live streamingnya, lumayan malam-malam dapat tontonan mengenaskan bagi kaum jomblo" desis Dariel


"Situ aja kali yang jomblo" sindir sang papa sembari merangkul pundak istri tercintanya


Dariel menatap ke arah mama dan papanya yang saling merangkul pundak serta pinggang, kemudian ia beralih melihat adiknya yang sedang berpegangan tangan dengan suaminya


"Sial awas kalian semua" Dariel melangkah keluar dengan menghentakkan kakinya, haruskah orang jomblo sepertinya tersakiti di malam hari, seharusnya tadi ia tak penasaran dengan kedatangan Azril ke sini


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Comment titik doang juga gak pa pa 🙃