I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Baju Haram



"Kenapa lihat-lihat mmmm, papah gak iri kok semalam papa udah dapat banyak" ujar Azril pada bayi mungil yang sedang menatapnya dengan tatapan kemenangan, si Av kini berada dalam gendongan Rara dan sedang meminum susu penuh gizi


"Mas" tegur Rara, ia berjalan mundur menghindari suaminya, barangkali otak suaminya terjatuh di lantai takut keinjek


"Dia ngeliatin mas gitu banget ra, emang dia pikir itu punya dia apa" gerutu Azril


"Emang mas pikir ini punya mas apa hah" timpal Rara kesal


"Iya itu punya mas" ujar Azril tegas


"Kita nginep berapa hari di sini?" tanya Rara ia mengalihkan pembicaraan yang anfaedah alias tak bermanfaat


"Kamu maunya berapa mmm?" Azril malah balik bertanya


"Terserah"


"Besok kita pulang"


Rara hanya mengangguk


"Ra mas berangkat dulu ya" pamit Azril


"Mau ke restoran?" tanya Rara


"Gak sayang, mau ngajar"


"Loh emang mas Azril masih ngajar di sini?"


"Cuma sesekali kalau sempat dan kalau ada yang butuh pengganti, kali ini mas gantiin ustadz Alif, dia lagi ada acara jadi gak masuk" terang Azril


Rara mengangguk mengerti


"Eh kenapa gak ustadz lain aja yang gantiin?"


"Karena ustadz Alif temennya mas, jadi dia seenak jidat nyuruh-nyuruh, kenapa mmmm? gak mau di tinggal mas ya?" goda Azril


"Gak, udah sana pergi" usir Rara


Azril hanya terkekeh pelan "Kalau gitu mas berangkat assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Bener otaknya jatuh kayaknya, apa ketinggalan di rumah ya" gumam Rara kala punggung Azril sudah tak terlihat


***


"Heem Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Azril mengucapkan salam dengan lantang di hadapan para santrinya


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab mereka kompak


"Kali ini saya akan menggantikan pelajaran ustadz Alif karena beliau berhalangan hadir"


"Baik ustadz"


"Keluarkan buku kalian dan buka hal 85, barang siap yang tidak membawa buku dipersilahkan untuk keluar dari kelas ini" ujar Azril tegas


Satu dua tiga santri keluar dari kelas karena tidak membawa buku


"Siapa lagi yang mau keluar? tidak ada, baik sekarang kita mulai pelajarannya, awali dengan bacaan basmalah dan doa mau belajar agar ilmu kalian tidak hilang"


"Tidak ada yang ngobrol, tidak ada yang tidur, tidak ada planga plongo, dan tidak ada yang melamun, perhatikan ke depan dan dengarkan penjelasan saya dengan baik, jika kalian melanggar salah satu diantara yang saya sebutkan tadi maka di persilahkan untuk keluar dari pintu kelas ini, semuanya paham?"


"Paham" jawab seluruh santri kompak


Sepanjang penjelasan


"Paling belakang pojok kanan ngapain ngangguk-ngangguk terus, mau nyium meja hah, keluar, lap dulu ilernya"


Braakkkk


"Bisa-bisanya duduk di depan tidur, keluar"


Pletakkkk


"Ngapain bengong, lagi mikirin pacar, keluar"


Plukkkkk


"Coba kamu ulangi penjelasan saya tadi, kalau tidak bisa langsung keluar"


Teng teng teng teng


Suara lonceng yang dipukul menandakan istirahat telah tiba, padahal enakkan pakai bel tapi mereka malah masih memakai lonceng biar legend katanya


"Baik untuk pertemuan ini cukup sampai di sini dulu, jangan lupa belajar lebih giat lagi, tutup dengan doa agar ilmunya terkunci di otak kalian, saya akhiri wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Azril mengucapkan salam pada setengah murid yang tersisa di kelas sedangkan setengahnya lagi berdiri di luar


"Mmmm bagus besok ulangi lagi" ujar Azril yang langsung berlalu dari hadapan mereka


Samar-samar Azril mendengar suara canda tawa dari dalam rumah kakek


"Assalamualaikum" Azril memasuki rumah dengan mengucapkan salam


"Waalaikumsalam" jawab mereka


Azril mengerutkan dahinya bingung "Ngapain kalian di sini?" tanya Azril


"Silaturahmi masak gak boleh"


"Oh, udah selesai acarnya?" tanya Azril yang berjalan ke arah Rara, ia menyodorkan tangannya untuk Rara cium, dan kemudian ia duduk di samping Rara


"Udah"


"Mana sikem?" tanya Azril pada Rara


"Di bawa umi abi keliling pondok" ujar Rara


"Masak ia segalak itu" gumam Rara yang melihat wajah Azril sembari menggelengkan kepalanya, cerita Zidan dan Alif tadi membuat ia tak percaya jika Azril merupakan salah satu ustadz galak yang ditakuti banyak santri


"Kenapa ra kok lihatin mas gitu banget?" tanya Azril bingung


"Eh gak pa pa" ujar Rara


"Tapi masih sereman kak Alfred sih kalau di pikir-pikir, kesalahan kecil karyawan aja main pecat-pecatan, duh jadi kangen kakak" batin Rara


Plakkk


Plakkk


Dua pulpen yang di pegang Azril ia layangkan tepat di jidat mereka berdua, ia sudah ahli dalam menembak jitu menggunakan alat tulis, keterampilan itu ia tekuni semasa menjabat menjadi ustadz di sini hingga sekarang


"Aduhhh" ringis kedua pria jomblo itu sembari mengelus dahinya


"Ngapain sedari tadi kalian lihatin istriku" ujar Azril ngegas


"Ya elah cemburuan amat, ya maap khilaf" ujar Zidan, sebenarnya lebih ke penasaran kenapa gadis manis ini bisa merubah Azril sedemikian rupa


"Kita kan baru ketemu istri nte secara langsung seperti ini, dulu pas pernikahan kalian hanya sekilas itupun wajah aslinya di tutupin make up atau hanya di ponsel nte, ehh ternyata setelah melihat langsung lebih waw dari segala-galanya" ujar Alif lebay, padahal sama halnya kayak Zidan ia ingin mencari tahu bagian mana dari Rara yang mampu meluluhkan hati Azril


"Mending urusin tuh murid kalian, lif santri didik nte benar-benar kurang disiplin" tegur Azril


"Ya sebagai wali kelas kelas bawah itu susah, otaknya beda jauh sama santri kelas atas, jangan di samain dong, itu lagi kok bisa nte ngeluarin santri ane dari kelas hingga setengah, dasar tidak berperi kesantrian" gerutu Alif, bisa-bisa harga dirinya sebagai wali kelas di cap buruk gara-gara santrinya


"Kelas atas sama kelas bawah sama aja, jangan di manjain" timpal Azril


***


"Mas" panggil Rara, kini ia tengah sibuk merapikan baju-baju mereka


"Mmmm"


"Besok mau ke kantornya kak Alfred, udah lama gak ke sana" ujar Rara


"Iya besok kita ke sana" tanya Azril


"Ehhh gak usah aku aja, sekalian ngajak sikem jalan-jalan ke perusahaan besar, kali aja ada yang mau rekrut mereka" tolak Rara


"Ya udah kalau itu maunya kamu, tapi mas yang nganter"


Rara hanya mengangguk, perlahan hubungan mereka kian membaik meski kadang ada cekcoknya


"Sayang ini baju apa?" tanya Azril, ia mengangkat pakaian itu dan menatapnya aneh sekaligus geli


"Astaghfirullah aku lupa membungkusnya, itu baju tidur untuk malam pengantin, buat kado pernikahan mbak Ita dan kak Ammar, jangan di sentuh nanti rusak mau aku bungkus habis ini" ujar Rara, pesanan itu baru saja datang tadi pagi gara-gara Rara salah memberikan deadline pada sang desainer


Azril menelan ludahnya kasar "Kok kamu gak pernah makek kayak ginian?" tanya Azril, bahkan terlintas di otaknya bayangan Rara yang memakai pakaian yang sangat-sangat kekurangan bahan


"Untuk apa, gak penting, yang penting ini tuh hadiah buat mereka" Rara mengambil baju haram tersebut dari tangan Azril, baju haram yang ia pesan secara khusus dan dengan harga kisaran dua jutaan untuk memberi kesan terbaik bagi kakak iparnya, sekaligus agar kelak kedua mempelai bisa saling menerima satu sama lain


"Ihhh mas juga mau kado kayak gitu" ujar Azril


"Kamu mau jadi bencong mas? nanti aku pesenin kalau kamu pingin yang penting di pakai" ujar Rara yang terkekeh pelan, kini giliran ia yang membayangkan Azril mengenakan pakaian itu


"Bukan mas yang pakek tapi kamu, mmmm sayang, ini.... kamu aja yang pakek sekarang ya, urusan kado mereka besok besok aja ya" pinta Azril memelas


"Apaan gak mau, orang ini buat mbak Ita" tolak Rara


"Lagi pula ini ukurannya mbak Ita, aku mah kebesaran" lanjut Rara beralasan


"Masak, coba dulu sini mas bantu" dengan secepat kilat Azril mengambil baju tersebut dari tangan Rara


"Ayo sayang pakai" pinta Azril, Rara segera mundur dari hadapan suaminya, sebisa mungkin ia menghindari Azril


"Gak mau" pekik Rara


"Ayo sayang kamu pasti cantik" Azril terus saja berjalan ke arah Rara, bahkan langkahnya kian melebar


"Astaghfirullah mas istighfar, itu baju haram" pekik Rara ia dengan gesit menghindari suaminya yang mengejarnya


"Ini akan halal jika istri yang memakainya dihadapan suaminya sendiri, ayo ra jangan malu-malu dong"


"Gak mau pergi sana"


***


Holla jumpa lagi dengan mereka, Jan lupa like, comment and vote ya, terimakasih semua yang sudah merelakan waktu kalian untuk membaca kisah mereka, cuma mau bilang jika penasaran sama kisah kakaknya Azril silahkan cek novel berjudul "Satu Imam Dua Ikatan" kita akan beralih kehidupan mereka satu tahun kedepan, dari judulnya kalian pasti sudah tahu kan, ini genre apa? yups benar sekali ini genre poligami, bagi yang suka silahkan berkunjung, bagi yang gak suka tetep harus di baca 🤣 see you next episode kawan-kawan 👋👋👋