
"Ra" Azril menatap heran pada wanita di hadapannya ini, ia melahap makanannya dengan kasar, belum di telan sudah di lahap lagi hingga membuat pipi nya kembung tiada kempes, pandangannya menatap ke arah Azril dengan kesal
"Mmmm masakan kamu enak banget sih" ujar Azril ketika satu suapan memasuki mulutnya
"Tadi pagi juga, sop ayamnya enak banget, cocok banget kalo kamu jadi koki di sini" puji Azril
"Oh jadi kamu pikir bisa seenaknya gitu nyuruh nyuruh aku kerja di sini, mentang-mentang ini RESTORAN MILIK KAMU SENDIRI" ujar Rara sinis, ia sengaja menekan kata bagian akhirnya
"Ehhh kok......" Azril bingung hendak berbicara apa, niatnya mau muji eh malah jadi kayak gini, perasaan bukan gini yang tadi Rara bicarakan, tadi istrinya mengganggap bahwa dirinya pegawai biasa di restoran ini
"Ra makannya pelan-pelan ya, kasian nanti bayinya kesedak"
"Ouh jyadi mu kawadir ma bnayai nya ja, nagk ma ku" Rara komat kamit dengan mulut penuh nasi di dalamnya
"Apa ra, kamu bicara apa, itu di telan dulu makanannya" tegur Azril
Bukannya di telan ia malah menyendok kan nasi lagi ke dalam mulutnya, hingga makanan di kotak makannya tandas begitu saja
"Apa ibu hamil makannya kayak gini ya" batin Azril yang mencuri-curi pandang ke arah istrinya
"Apa liat-liat" ujar Rara sinis sehabis ia meneguk habis minuman miliknya
"Ehhh ra mau kemana?" tanya Azril kala melihat istrinya berdiri
"Mau nyanyi di panggung, kalau di larangan bilangin ke mereka aku istri pemilik restoran ini" ujar Rara ketus
"Hah" Azril melongo melihat kepergian Rara, benar saja Rara berjalan ke arah panggung yang tersedia di sana
Biasanya panggung itu di isi ketika malam hari, banyak orang-orang yang request lagu romantis untuk pasangannya, atau untuk melamar pasangannya di tempat tersebut agar banyak pengunjung yang tahu betapa cintanya dia dengan pasangan yang ia bawa, bahkan ada beberapa pengunjung yang meminta izin agar dapat menyanyikan sebuah lagu untuk kekasihnya sendiri
Jika ingin sebuah privasi maka bisa memesan ruangan VIP yang terletak di lantai tiga empat dan lima, tentu saja dengan harga yang lebih waw
"Ekhmmm"
"Tes tes tes satu dua tiga, tiga dua satu" Rara mengetuk-ngetuk mic berkali-kali mengetes kefungsian mic tersebut
"Duh kenapa banyak juga ya pelanggan di sini" batin Rara deg deg an
"Mana udah sok sok an lagi jalan ke atas panggung" ringisnya dalam hati
"Kamu sih nin, kalau lagi kesal sama papah tuh gak usah aneh-aneh" Rara menepuk-nepuk pelan perutnya, menyalahkan sosok lain dalam tubuhnya
"Selamat siang semuanya"
Banyak pengunjung yang menatap ke arah panggung kala mendengar suara Rara
"Teruntuk semua orang yang sedang mengalami patah hati, putus cinta, di jodohkan, terpaksa menikah dengan orang yang tidak di cintai dan yang sejenisnya"
"Di harap untuk bersabar, karena kalau Tuhan mentakdirkan kalian dengan mereka maka Tuhan akan mengembalikan mereka pada kalian kembali"
"Kalau gak ya siapin tisu aja"
"Yahhhh" longosan dari suara pengunjung terdengar di telinga Rara
"Judul lagunya adalah BAHAYA"
"Iya BAHAYA, bagi kalian yang mengalami kisah seperti ini sangat sangat sangat berbahaya, so be careful"
"Ehhmmm"
Jrenggggg
"Sebenarnya aku ingin dekatmu
Namun kusadari ku tak bisa
Tak boleh ku di sini
Bahaya ku makin cinta
Ku tak ingin jauh, tak ingin berpisah
Mengapa semua selalu indah
Saat denganmu?
Sayang untuk diakhiri
Andai engkau bisa mengerti
Betapa beratnya aku
Harus aku tetap tersenyum
Adakah arti cinta ini
Bila ku tak jadi denganmu?
Jika memang ku harus pergi
Yakinlah, hatiku kamu"
Rara memainkan gitarnya sembari mengeluarkan suara emasnya dengan penuh penghayatan untuk menghilangkan rasa gugupnya
"Bu..." lagunya terhenti kala ada seseorang yang melanjutkan ia bernyanyi
"Bukankah semesta yang pertemukan kita? Seorang pria tampan berjalan menaiki tangga
Rara membelalakkan matanya kala mendengar suara yang tak asing baginya, suara yang melanjutkan ia bernyanyi mengingatkan ia pada masa SMA nya
Haruskah ku sampaikan pada bintang?
Mengapa bukan kamu
Yang memiliki aku?
Andai engkau bisa mengerti
Betapa beratnya aku
Harus aku tetap tersenyum
Adakah arti cinta ini
Bila ku tak jadi denganmu?
Jika memang ku harus pergi
Yakinlah, hatiku kamu, oh"
Sebuah senyuman terlontarkan untuk dirinya, makhluk itu kini berada di dekatnya yang sedang duduk memainkan gitar
"Mengapa cinta pertemukan" lanjut Faiz dengan sorot mata yang menatap pada mata Rara, ia mengisyaratkan bahwa habis ini adalah giliran Rara bernyanyi
"Bila akhirnya dipisahkan?" lanjut Rara yang menangkap isyarat tersebut, ia melongo namun dengan segera ia menetralkan wajahnya agar penampilannya tetap terlihat waw
"Dan mengapa ku jatuh cinta
Pada cinta Yang tak jatuh padaku? Ho-oh" ujar mereka berdua
"Harus aku tetap tersenyum
"Adakah arti cinta ini
Bila ku tak jadi denganmu?" lanjut Faiz
"Jika memang ku harus pergi
Yakinlah, hatiku kamu, kamu
Harus aku tetap tersenyum
Adakah arti cinta ini
Bila ku tak jadi denganmu?
Jika memang ku harus pergi
Yakinlah, hatiku kamu, hu-uh-uh
Yakinlah, cinta untukmu
Hu-hu-hu-uh" ujar mereka berdua kompak
Prokkk prokkk prokkk
Suara tepuk tangan yang meriah menghujani restoran tersebut
"Sial aku baru putus"
"Ya ampun hiks hiks hiks, kenapa suasananya mendukung dengan perasaan ku saat ini"
"Huaaaaaa, kenapa dia jahat banget sama aku"
Rara terkekeh kala melihat ekspresi pengunjung yang bisa dipastikan bahwa mereka baru mengalami patah hati, bahkan ada yang mengelap matanya dengan tisu
"Aduh mati aku" gumam Rara kala melihat ekspresi wajah Azril
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Rara pada Faiz
"Makan, terus liat kamu nyanyi bawaannya pingin di duetin gitu, ya udh ngambil mic langsung naik"
"Suara kamu meningkat ya tambah makin bagus aja" puji Faiz
"Aku duluan buru-buru" bisik Rara
"Terimakasih semuanya" Rara buru-buru turun dari panggung, tujuannya satu mengemis pujian dari Azril
"Udah selesai nyanyinya?" tanya Azril datar sedatar-datarnya, dalam ekspresi itu menyimpan sejuta amarah
"Udah, gimana bagus banget kan suaraku?" ujar Rara bangga, ia menepuk-nepuk dadanya dengan penuh kebanggaan
"Ayo pulang" Azril langsung berjalan menuju pintu keluar restoran
"Ehh gimana bilang dulu suaraku gimana" ujar Rara dari belakang, ia mengikuti langkah Azril
"Mas......"
"Kamu tuh kenapa sih"
"Suara aku bagus kok, gak malu-maluin"
"Mas...."
"Mas...."
"Cuma numpang nyanyi di atas panggung restoran milik kamu aja marah, salah ya emang, aku ganggu pelanggan kamu emang?"
"Dulu pas SMA kalau ada waktu luang aku nyanyi di cafe-cafe lo, mereka semua suka kok, menikmati lagu ku"
"Mas kamu kenapa sih"
Rara terus saja mengoceh hingga mobil berjalan, namun tak ada sahutan dari Azril, sebisa mungkin Azril mengendalikan amarahnya, ia membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan
"Mampir beli brownies dulu" dengus Rara di akhir ocehannya
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗