
"Terus kenapa, bukankah dia pantas mendapatkan itu semua" semua orang yang berada di ruangan itu tersentak mendengar pernyataan dari Zahra
"Apa kalian tahu seberapa menderitanya kakak ku karenanya" air mata Zahra mulai mengalir mengingat wajah sedih kakaknya
"Tiap hari kerjaannya hanya melamun meratapi nasibnya, dia menjalankan hidupnya seakan-akan tanpa arah dan tujuan" Zahra mencoba menghapus air matanya namun lagi-lagi air mata itu mengalir begitu saja
"Mbak Iza juga jarang makan" suaranya terdengar serak
"Bayangkan saja kalau kalian berada di posisinya, pernikahan yang hanya berumur sehari tandas begitu saja hanya karena wanita ****** tersebut"
"Tutup mulut kamu" bentak Afham spontan ketika mendengar nama ****** keluar dari mulut Zahra
"Terus kalau bukan ****** apa hah, beraninya dia masuk ke rumah mbak Iza bahkan menggoda suaminya" teriak Zahra
"Dia menyandang status janda hanya dalam waktu semalam"
"Hiks hiks hiks" Zahra mulai terisak
"Malam yang seharusnya membahagiakan buat dia justru malah sebaliknya, dia hancur, kehidupannya juga hancur, bukankah Rara juga pantas mendapatkan itu"
"Itulah mengapa aku selalu menghukumnya di jam makan, agar dia merasakan apa yang mbak Iza rasakan"
"Jadi uang yang selama ini aku titipkan untuk Rara kamu ambil?" tanya Azril, mukanya menyiratkan rasa kekecewaan pada orang yang sudah ia percaya sepenuhnya
Zahra tersenyum sinis "Aku tidak mengambilnya aku hanya menyimpannya, bukankah dia anak dari orang yang terpandang yang selalu hidup enak, biar dia bisa merasakan bagaimana rasanya jika tidak memiliki uang sama sekali"
"Kamu gila ya" ujar Nathan
"Heh kamu membela dia hanya karena dia merupakan mantan dari adik kamu kan" ujar Zahra sinis, ntah dari mana dia mengetahui kabar ini
"Ya dia memang mantan dari adik saya, karena itu saya percaya bahwa dia tidaklah bersalah" ujar Nathan tegas
"Atas dasar apa kamu bilang dia tidak bersalah, jelas-jelas dia terbangun di kamar mbak Iza dan ustadz Azril" teriak Zahra
"Adik mana yang tidak ikut sedih ketika kakaknya terpuruk hah"
"Tapi kamu sudah keterlaluan Zahra, hampir tiap hari dia mendengar hinaan dari Lesy dan Tari, dan juga beberapa teman yang terhasut oleh omongan mu, belum lagi hukuman yang sering kamu berikan padanya, saya yakin dia bisa melawan kamu tapi sayangnya dia malah mengikuti semua permainan kamu, apalagi keluarganya cukup berkuasa dan terpandang, setiap orang memiliki perasaan Zahra bagaimana jika kamu yang ada di posisi Rara, ingat Zahra kamu hanya melihat dari sisi kakak kamu tapi tidak melihat dari sisi Rara" ujar Ratna
"Bagus kalau begitu, semakin banyak yang menghujatnya maka semakin sukses balas dendam ku" ujar Zahra santai
"Tapi sayang sekali masih aja ada yang membela dia meski sudah mendengar gosip tersebut, benar-benar bodoh orang itu" degus Zahra
Zahra menyebarkan gosip itu terus menerus tujuannya agar semua santri dan para guru termakan oleh gosip tersebut hingga Rara merasa sendiri dan tak ada yang menemaninya bahkan sekedar berteman dengannya, begitu pula harga diri yang Rara miliki biar saja hancur berkeping keping, dan orang yang membenci Rara akan semakin bertambah, tapi sayangnya masih banyak yang menemaninya serta membela nya meski diam diam
"Zahra cukup kamu benar-benar keterlaluan" bentak Azril
"Diam kamu" ujar Azril, jatuh cinta rasanya tidak mungkin yang ada hanya rasa penyesalan dan rasa bersalah yang cukup dalam terhadap Rara
"Apa salahnya jatuh cinta sama istri sendiri yang salah tuh seseorang yang mencintai orang yang bukan miliknya dengan tidak wajar" ujar Ratna
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Faishal memasuki ruang guru dengan mengucapkan salam dengan nada khas orang berpidato
Suasana dalam ruangan nampak tegang namun Faishal sama sekali tidak menyadarinya "Eh pada kumpul di sini ternyata, ayo guys acara nya bentar lagi mau di mulai sebenarnya sih udh dari tadi tapi saya tunda satu jam karena kalian semua belum stand by di sana, terutama kamu Afham yang merupakan orang terpenting di sini" ujar Faishal namun tidak ada sautan
"Ini mereka semua kenapa ya pada sakit gigi semua kali ya" gumam Faishal
Pandangannya mengarah ke Azril "Ehhh ada mas bro kapan sampainya tumben gak minta aa' jemput pasti kangen berat ya sama istrinya"
"Oh ya aku lupa bilang sebulan yang lalu istri kamu nyuruh ambilin uang di ATM nya dia niatnya sih mau gantiin uang dari ku tapi setelah aku pikir-pikir lebih baik aku infaq kan aja ke dia aku ikhlas lahir batin kok apa sih yang gak buat gadis cantik" niat hati ingin bercanda malah mendapatkan tatapan tajam dari Azril, bukan hanya Azril dia juga mendapat tatapan tajam dari seluruh temannya di ruangan itu kecuali Zahra
"Seharusnya setahun lagi kamu baru ingat" sindir Ratna
"Aduh kalian pada kenapa sih" Faishal menggaruk tengkuknya kebingungan
"Ya udah deh kalau kedatangan saya mengganggu kalian saya akan pergi, mohon jangan halangi kepergian saya" ujar Faishal yang sedang memerankan drama sad boy nya
***
Azril duduk di kursi depan ruang ICU pikirannya kalut memikirkan apa yang tadi Zahra katakan
"Benarkah kamu semenderita itu?" gumam Azril pelan
Apakah kalimat ini di peruntukan untuk Rara? tentu saja tidak kali ini Azril malah memikirkan Azizah karena ucapan Zahra tadi, ntah kenapa rasa bersalah itu muncul kembali karena dia telah menyakiti orang yang dulu amat ia cintai
Azril menghembuskan nafasnya pelan "Bagaimana kabar kamu sekarang? apa kamu begitu terpuruk dengan keadaan kita ini? Azizah semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku, laki-laki yang amat mencintaimu"
Jam kunjungan pasien telah tiba ada beberapa orang yang memasuki ruang ICU, Azril bangkit dari duduknya dan ikut memasuki ruang ICU tersebut tak lupa dia mencuci tangan terlebih dahulu
Dia menatap wajah Rara dengan lekat, lagi-lagi dia mengingat perkataan Zahra, jatuh cinta pada Rara, rasanya tidak mungkin untuk jatuh cinta dalam waktu yang singkat, jatuh cinta pada pandangan pertama bukanlah dirinya, baginya butuh waktu untuk mencintai seseorang, dan butuh waktu pula untuk melupakan seseorang
"Maaf ra aku belum bisa mencintai mu, aku juga yakin kamu masih belum bisa move on kan dari mantan kamu" ujar Azril pelan
"Ra kalau kamu bangun nanti jangan pernah salahkan Azizah ya, dia tidak salah aku lah yang salah dan untuk Zahra tolong maafkan semua perbuatannya, aku tahu kamu tersiksa tapi rasanya dia juga tersiksa dengan keadaannya karena melihat kondisi kakaknya, aku tahu cara dia salah aku tidak membelanya namun aku yakin kamu mau memaafkannya" pandangan Azril tidak luput dari wajah manis tersebut
"Heh......"
Azril menoleh menghadap ke arah samping "Kamu..."
___________________