I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Mengabadikan Sebuah Momen Berharga



Azril mengayunkan box bayi agar Av dapat terlelap menyusul Ay yang kini telah bermimpi indah


Kini ia beralih dan bergantung pada sufor, ia tak mau mencari ibu susu seperti yang Rara bilang dulu


Awal-awal menjaga kedua bayi tanpa istrinya sungguh menyulitkan, apalagi Av dan Ay yang kerap kali seperti mencari mamah mereka dan tentunya sumber makanan utama mereka, akhirnya Azril mempekerjakan seorang baby sitter untuk menjaga mereka kala Azril sedang bekerja, namun ketika Azril pulang bekerja baby sitter itu pulang dan tinggallah bi Wawa yang siap siaga dua puluh empat jam, ia merawat kedua bayi itu bagaikan cucunya sendiri


Azril yang dulu biasanya pulang sore atau kerap kali ia pulang maghrib hingga malam kini ia beralih untuk pulang jauh lebih awal, pulang di siang hari atau bahkan jam sepuluh pagi udah pulang untuk menemani kedua bayinya, padahal kedua orang tua Azril juga sering sekali berkunjung serta menginap untuk menjaga cucu mereka, namun Azril tetep kekeh pulang lebih awal dan membawa sebagian pekerjaannya ke rumah agar ia tak ketinggalan perkembangan kedua bayinya


"Ay dan Av sudah tidur?" tanya uminya


"Alhamdulillah sudah umi, makasih umi lagi-lagi ngerepotin"


"Astaghfirullah anak ini udah di bilangin dia cucu umi dengan senang hati umi akan merawatnya, umi mau nginep sini aja lagi"


"Beneran umi mau nginap lagi, udah empat hari lo umi nginep sini kasian abi di tinggal sendirian"


"Siapa bilang besok abi kamu bakal nginep sini kok selama dua hari, mumpung hari libur"


Azril tersenyum "Ya udah kalau gitu umi istirahat ya jangan capek-capek"


"Iya udah umi tidur di kamar sikem aja, suasana lebih adem"


***


"Uhhh pinter banget sih cucu mbah uti udah bisa duduk sendiri ya sekarang" ujar umi


Azril tersenyum, ia membidik kamera ke arah dua bayi kembarnya yang tengah duduk dengan memegang mainan di tangan mungilnya


"Ra kamu lihat sekarang mereka sudah bisa duduk sendiri dengan mudah tanpa di bantu, mereka cerdas sayang kayak papahnya" batin Azril ia tak henti-hentinya tersenyum menatap dua buah hatinya


"Nanti kalau usianya udah enam bulan di kasih mpasi ya secara bertahap, pelan-pelan aja" nasehat uminya


"Iya mi"


***


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, eh mama papa" gumam Azril terkejut


Mereka berdua tersenyum


"Silahkan masuk ma pa" Azril mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam rumah


"Gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah baik ma, mama sama papa baikkan?"


"Alhamdulillah baik"


"Kita mau lihat si kembar" ujar mama Rara


"Oh ya silahkan ma pa" Azril mempersiapkan kedua orang tuanya memasuki kamar sikem, di sana nampak sikem sedang asyik bermain bersama Baheer


"Tuan nyonya" sapa Baheer sembari berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya


Kedua orang tua Rara tersenyum tipis, kemudian mereka berdua duduk di atas karpet bulu tebal dekat sikem


"Uhhh cucu opa cantik dan ganteng banget ya" papa Rara langsung mengangkat tinggi-tinggi si Av hingga membuat bayi itu tertawa riang


"Ini siapa yang paling cantik" ujar mama Rara ia juga mengangkat Ay dan menaruhnya dalam pangkuan


"Eeeee dak dak" Ay memberontak pada pangkuan omanya, ia masih merasa asing pada dua orang ini, padahal sudah beberapa kali omanya menggendong Ay


"Yah kok oma di tolak" bayi itu turun dari pangkuan omanya


"Sayang itu Oma" ujar Azril yang meraih Ay


"Ini oma Ay oma" Azril mendudukkan Ay di atas pangkuan mertuanya, sembari membujuk bayi itu, hingga akhirnya Ay menurut dan anteng dalam pangkuan omanya


Azril diam termenung ingin sekali ia bertanya tentang Rara namun ia bingung mau mulai darimana


"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya papa tiba-tiba


Azril segera mengangguk "Gimana kabar Rara pa?" inilah pertanyaan yang dari dulu ingin ia ketahui, bukan hanya ini saja melainkan Rara ada dimana, kapan dia pulang, apa tujuannya dst


"Kamu doakan saja yang terbaik"


Bukan ini jawaban yang Azril ingin dengar "Pa ma kemana Rara pergi?"


"Kamu tak perlu tahu, bukankah Rara memintamu untuk fokus pada kedua bayimu"


"Tapi saya suaminya saya juga berhak tahu....."


"Papa tahu, jika papa jadi kamu papa juga akan berkata demikian, tapi balik lagi pada diri ini yang sudah terlalu egois cukup lama, ini keputusannya dia, percayalah dia akan kembali, kamu doakan saja"


"Saya tak pernah putus mendoakannya" ujar Azril


"Syukurlah, oh ya kita mau nginep di sini untuk jagain sikem, bolehkan?"


"Tentu boleh pa nanti biar Azril suruh bi Wawa buat mempersiapkan kamar tamu" ujar Azril


Sudah ia duga semua keluarga Rara benar-benar membungkam mulutnya untuk memberi tahu keberadaan Rara saat ini


***


Waktu terus bergulir enggan berhenti


"Ayo sayang ke sini" panggil oma dan opa yang menyemangati Ay dan Av dalam belajar merangkak


Lagi-lagi Azril memotret moment ini mengabadikan bayinya yang sudah mulai merangkak


"Ra lihatlah anak kita sudah bisa merangkak, usianya sudah enam bulan sayang, tidakkah kamu merindukan mereka" batin Azril, ia sibuk membidik kameranya dan berbicara pada batinnya


"Dapetttt" papa menggendong cucunya dan mengangkat tinggi-tinggi kala bayi itu berhasil merangkak ke arahnya


"Pinter banget cucu opa, yah besok opa harus pergi gak bisa nemenin kalian main lagi"


"Ihhh sayang gak boleh **** jari ya, udah lapar ya mau minum susu atau mau bubur" mama menyingkirkan tangan Av yang memasukkan jari nya ke mulut


"Ayo ke dapur kita maem bubur" mama dan papa membawa cucu mereka ke dapur dan mendudukkannya di kursi bayi


Ternyata di sana bibi Wawa sudah siap siaga hendak membuatkan bubur bagi mereka


Azril mengikuti langkah mertuanya, ia tersenyum penuh syukur masih ada kedua orang tuanya serta mertuanya yang selalu berusaha mau membantu merawat bayinya


"Ra mereka udah di beri mpasi lo, Ay paling lahap makannya mirip kamu"


***


Azril merogoh lemari ia hendak mencari sesuatu, namun matanya tertuju pada sebuah kotak perhiasan milik istrinya


Ia membuka kotak tersebut tak banyak perhiasan di sana, meski kotaknya cukup besar namun hanya ada dua kotak cincin serta dua buah kalung dan gelang


Azril tersenyum ia ingat betul bahwa dua kotak cincin ini adalah pemberiannya saat akad nikah serta saat mengungkapkan perasaannya


Ia menatap dua kalung yang satu berinisial F dan yang satu berbentuk kupu-kupu, bukan kalung emas mupun perak hanya kalung biasa yang terbuat dari titanium


"Dari siapa kalung ini?" batin Azril ntah kenapa ia malah teringat oleh mantan Rara yang berinisial F


"Gak boleh cemburu itu hanya masa lalunya, biarlah ia menyimpan kenangan tersendiri dalam hidupnya" gumam Azril


Tangannya meraih sebuah surat, ia mengernyitkan dahinya bingung ada huruf A di pojok amplop tersebut, buru-buru ia membuka surat tersebut seketika ia menenggang ini surat untuknya, benar ini untuknya


***


Ehhh maap ya slow upnya hehehe, selamat membaca semuanya, good night semoga mimpi indah, mimpiin jodoh masing-masing, see you next episode 👋