
"Jangan..... jangan....."
"Lepaskan" gumam Rara
"Jangan ku mohon" wajah Rara tampak gelisah dan pucat namun matanya masih terpejam, rasanya ada seseorang yang menyentuh dirinya
Deg
Tepat pukul 12 malam Rara terbangun dari mimpi buruknya hujan deras dengan suara petir yang saling bersahutan membuat dirinya semakin menderita, matanya terbuka lebar seakan-akan ada yang memaksanya untuk bangun
"Apa ini" Rara terkejut kala melihat rambut yang berserakan di bantalnya, rambut indah dengan warna hitam kecoklatan oh shit ini kan
"Rambutku" Rara berteriak histeris dia langsung meraba seluruh kepala, raut wajahnya mulai memerah dia segera melihat cermin betapa terkejutnya dia rambut panjang nan indah miliknya kini telah tiada tangannya terus meraba kepalanya
"Bangun kamu Lesy jangan pura-pura tidur bangun" teriak Rara seperti orang yang kesetanan dia mengguncang-guncang tubuh Lesy dengan keras hingga membuat Lesy terbangun dengan kesal
"Apaan sih lo bangunin gue" bentak Lesy
"Apa yang lo lakuin sama rambut ku, kenapa kamu melakukan ini" Rara menarik kerah baju tidur Lesy dan mengguncangnya berkali-kali, Lesy berusaha melepaskan tangan Rara namun tenaga Rara sangat kuat
"Hahahaha" Lesy tertawa dengan keras ketika melihat rambut Rara yang kini tinggal setengah, bahkan beberapa bagian nampak botak tak beraturan
"Puas lo sekarang" teriak Rara dia menampar pipi Lesy dengan keras
"Lo kenapa sih bukan gue pelakunya" teriak Lesy ternyata tenaga Rara cukup kuat hingga mampu membuat dirinya tersungkur
"Bohong ini pasti kerjaan lo kan, apa salah aku hah" teriak Rara tepat di depan wajah Lesy
Plakkk
Suara tamparan kini terdengar lagi Lesy berusaha menghindar dari amukan Rara, ia memundurkan badannya hingga terpojok dengan didinding kamar
Tari yang sedari tadi terbangun akibat keributan yang terjadi di kamarnya hanya memejamkan matanya, dia pura-pura tertidur rasanya dia seperti orang ketakutan melihat Rara seperti orang kesetanan
"Bukan gue pelakunya" ujar Lesy dengan suara melemah akibat dua tamparan yang di layangkan Rara di kedua pipinya
"Kalau bukan lo siapa lagi" Rara terus saja berteriak, kakinya ia langkahkan menuju tempat tidur Tari
"Bangun Tari bangun" Teriakan Rara membuat Tari kaget bukan main, dengan segera dia mendudukkan dirinya
Kedua pundak Tari di cengkram kuat oleh Rara hingga membuat sang pemilik pundak meringis kesakitan
"Apa yang lo lakuin sama rambut ku hah" Rara berteriak tepat di wajah Tari
"Bukan aku, aku tidak melakukan apapun" ujar Tari dengan wajah memelas ia takut akan bernasib sama dengan Lesy
"Gak usah munafik kamu jawab hah apa kamu yang memotong rambutku"
"Jawab apa kalian yang melakukan ini" suara Rara mulai melemah
"Bukan ra bukan aku" ujar Tari
"Bukan aku juga" kekeh Lesy
Rara segera mengambil jilbabnya dan keluar dari kamar terkutuk itu, dia menerobos para air yang turun dari langit, air matanya kini mengalir menyatu dengan air hujan, siapa yang tahu jika dia menangis dalam pelukan air hujan
Langkahnya terhenti kala melewati sebuah rumah sederhana perlahan dia mengetuk pintu rumah itu berkali-kali tanpa jeda, tangannya terus mengetuk dengan keras tak peduli dengan jari-jari tangannya yang merintih kesakitan
Clek
Pintu terbuka dengan lebar menampilkan sosok pria yang tinggi dengan mengenakan sarung dan baju koko nya, pria itu nampak bingung akan kedatangan seseorang di tengah malam seperti ini
"Loh ra" dia terkejut menatap Rara dengan kondisi yang memprihatinkan gamis yang ia kenakan sudah basah kuyup akibat air hujan
"Kamu kenapa?" tanya ustadz Afham
"Aku pinjam hp" ujar Rara datar dengan wajah yang ia tundukkan
"Hah"
"Aku pinjam hp" Rara mengulang ucapannya masih dalam keadaan yang menunduk
"Ra kamu......."
"Aku pinjam hp" Rara mengangkat wajahnya tatapan matanya sangat tajam namun menyiratkan sebuah luka yang cukup dalam
"Kamu duduk dulu biar saya ambilkan hpnya" ustadz Afham langsung masuk ke dalam rumahnya mengambil barang yang di minta Rara
"Ini" ustadz Afham menyerahkan hp miliknya
Rara mengambil hp itu dan berjalan ke pojok dekat kursi yang terletak di depan rumah ustadz Afham namun dia tidak duduk di kursi melainkan duduk di bawah di samping kursi seakan-akan ingin bersembunyi menutupi dirinya
Panggilan tersambung
"Hallo assalamualaikum" ujar seseorang dari seberang sana
"Afham ada apa?" ujarnya lagi
"Kenapa?"
"Kenapa? kenapa harus aku"
"Kenapa harus aku yang menanggung semua dosa yang bahkan sama sekali tidak aku lakukan"
"Kenapa aku harus memiliki rasa bersalah padahal bukan aku yang salah"
"Bagaimana dengan kehidupan kamu sekarang? apa kamu juga mengalami apa yang aku alami?"
"Aku capek"
"Aku lelah"
"Aku mohon tolong hentikan semua permainan mu dengan mantan adik ipar mu"
"Tolong hentikan permainan balas dendam mu dengan mantan adik ipar mu"
"Kenapa harus menyiksa aku sedemikian rupa?"
"Apa hanya aku yang bersalah di sini"
"Bukankah kamu juga bersalah"
"Apa kamu puas sekarang, apa sudah cukup menyiksaku"
"Tiap hari aku harus mendengar cacian dari teman sekamar ku"
"Hampir tiap hari aku mendapat tatapan mata yang tidak bersahabat"
"Hampir tiap hari aku mendapat sidang padahal bukan aku yang salah"
"Hampir tiap hari aku berdiri di terik panasnya matahari"
"Hampir tiap hari aku merasa kelaparan hanya karena aku harus memenuhi hukuman darinya"
"Aku bahkan tidak memiliki uang hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari ku"
"Bahkan tiap hari aku tidak bisa tidur nyenyak, hanya mimpi buruk yang selalu menghantuiku"
"Jika kamu berpikir aku bodoh maka kamu salah"
"Aku tidak bodoh hingga tidak bisa memahami apa yang kalian lakukan padaku"
"Aku tidak sebodoh apa yang kamu pikir"
"Lantas aku juga tidak berdaya dengan hatiku sendiri"
"Kenapa sekarang kalian malah memotong rambut ku"
"Kenapa kalian menghilangkan rambut ku"
"Kenapa hah jawab"
"Kenapa hanya aku yang kalian sebut pelakor"
"Kenapa hanya aku hah" Rara berteriak dengan keras suaranya terdengar pilu menyiratkan isi hatinya yang sudah lama tergores, meski goresannya kecil namun jika tiap hari goresan itu ia dapatkan maka hatinya akan sobek penuh luka
"Apa kamu puas sekarang hah"
"Apa kalian puas hah"
"Kamu sudah menyakiti aku bahkan sampai titik terendah yang aku miliki"
"Hiks hiks hiks"
"Hiks hiks hiks"
Rara terus saja berbicara dengan Isak tangisnya, air matanya sedari tadi mengalir, hatinya sudah lelah dan tidak mampu untuk diajak berdamai, sekuat apapun dia mencoba menahannya pada akhirnya hatinya akan rapuh
"Aku akan ke sana sekarang" ujar Azril, hanya itu kata yang keluar dari bibirnya sedari tadi dia hanya diam membisu mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut istrinya, ya meski awalnya dia butuh beberapa menit untuk mencerna suara siapa ini