I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Jelmaan Keluarga Baru



Azril buru-buru menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa


"Bi Wawa"


"Bi" teriaknya


"Ada apa tuan" bi Wawa datang tergopoh-gopoh dari kamar sikem


"Bi titip sikem ya, saya ada urusan" ujarnya


"Baik tuan, tuan hati-hati jangan ngebut ingat keselamatan" ujar bi Wawa yang dapat melihat bahwa Azril sedang terburu-buru


"Iya Bi, assalamualaikum" ujarnya namun tak dilaksanakan


Ia menaiki motor dengan kecepatan tinggi menuju sebuah perusahaan besar, perusahaan terkenal milik keluarga Rara


"Maaf tuan apa anda sudah buat janji?" tanya resepsionis tersebut


Azril menggeleng "Saya ada perlu sama bang Alfred, saya salah satu kerabatnya apa tidak bisa saya menemuinya sekarang" pinta Azril


"Maaf tuan jika belum buat janji tidak bisa"


"Tapi saya adik iparnya"


"Maaf tuan lebih baik tuan buat janji terlebih dahulu"


"Tapi..... saya benar-benar ada urusan penting" mohon Azril


"Ingat lusa untuk mengosongkan jadwal saya, jangan lupa tiket pesawatnya" ujar Alfred yang berbicara pada Lan di belakangnya


Azril mendengar suara itu buru-buru ia mencegat Alfred yang kebetulan hendak menaiki lift ia baru saja melakukan rapat di hotel


Alfred mengernyitkan keningnya menatap sesosok makhluk lembek ini baginya, bagi keluarga Rara ia adalah sosok terlembek diantara mereka namun bagi keluarga Azril sendiri ia adalah sosok yang di takuti di kalangan pesantren


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan abang" ujarnya


"Tak ada yang perlu di bicarakan, saya sibuk"


Alfred melewati Azril hendak memasuki lift


"Bang apa benar Rara sakit?"


Alfred menghentikan langkahnya kala mendengar ucapan Azril, Azril berjalan mendekat ke arah Alfred dan kini ia berdiri di hadapan kakak iparnya


"Jadi benar? Rara sakit, ia pergi untuk berobat? tanya Azril, sorot matanya nampak memendam kesedihan yang mendalam


"Kamu.... Sudah menemukan surat itu?" tanya Alfred


"Kenapa bang, kenapa kalian gak pernah bilang kalau Rara sakit, dia pergi untuk berobat kan, kenapa kalian malah nyembunyiin semuanya dan menjadikan saya sebagai orang yang bodoh, padahal jelas-jelas saya suaminya, kini saya yang berhak atas dirinya dia tanggung jawab saya" ujar Azril, nadanya terdengar putus asa, kepalanya menunduk, ia mengusap air matanya yang masih berada di pelupuk matanya


"Bagaimana caranya?"


Azril mendongak menatap ke arah kakak ipar tertuanya


"Bagaimana caranya seseorang yang dengan sengaja menorehkan luka akan menyembuhkannya secara bersamaan"


"Dia tak sanggup"


"Saya yakin di mata kamu selama ini Rara terlihat baik-baik saja, namun tidakkah kamu menyadari sedikit saja kesakitan yang ia rasakan"


"Sakit kepalanya kambuh, bukan karena tumbuh penyakit berbahaya lainnya, melainkan akibat kecelakaan yang pernah ia alami, tanpa saya sebut kapan itu terjadi dan karena siapa itu terjadi kamu yang lebih tahu pasti"


"Dia memilih berobat ke luar negeri agar tak melihat mu sejenak tak mendengar suaramu atau apapun itu tentang kamu, ia tak ingin memikirkan apapun saat ini, ia hanya ingin fokus pada penyembuhannya sekaligus terapi tentang psikologisnya, tubuh serta pikirannya juga butuh diistirahatkan"


"Ia melakukan ini bukan karena tak mencintai mu, melainkan karena sangat mencintai mu, kau tahu apa yang ia katakan ketika kami bertanya soal ini"


"Ia bilang bahwa ia takut kamu merasa terbebani dan tambah merasa bersalah, jadi untuk saat ini biarkan ia bersikap egois sebentar, melupakan mu sejenak serta meninggalkan anak-anaknya"


"Pulanglah, hanya ini yang bisa saya sampaikan, jaga keponakan saya dengan baik hingga dia kembali"


Alfred meninggalkan Azril yang diam terpaku, cukup lama ia berdiam di depan lift khusus atasan hingga akhirnya ia berjalan gontai keluar dari gedung mewah tersebut


***


"Ehh iya bi ada apa?"


"Sudah malam tuan jangan kebanyakan melamun di sini, anginnya dingin nanti masuk angin lo" ujar bi Wawa yang memperingatkan bos nya


Azril mengangguk "Iya bi, bibi juga Istirahat ya" Azril berjalan lesu ke arah kamar ia merebahkan tubuhnya di atas kasur


"Syafeera Halwah Adelard, nama yang indah" gumam Azril


"Di panggil Rara, manis...." rancaunya tak jelas, ia tersenyum kala mengingat wajah istri namun perlahan senyum itu luntur, sedetik kemudian lelehan air mata mengalir dari pelupuk matanya


"Aku menghancurkan hidupmu, tapi kamu..... masih mau menerima aku"


Tangan kanannya meraba kasur di sebelahnya, kosong tak ada orang, biasanya istrinya terlelap tidur di sampingnya, kemudian ia beralih pada tangan kirinya yang meraba atas nakas mencari benda pipih berpengetahuan luas


Ia menyalakan benda tersebut menatap wajah cantik Rara dari layar hpnya


"Aku merindukan mu tidakkah kamu di sana merindukanku" gumamnya lirih


"Bagaimana kondisi mu di sana sudahkan jauh lebih baik atau......."


"Aku di sini selalu mendoakan mu, doaku tak akan pernah putus karena itu satu-satunya usaha yang bisa ku lakukan"


***


Sementara itu.......


"Sayang minum coklat panas nya dulu, sudah di bilang saljunya tebal jangan terus-terusan main di luar" teriak seorang wanita paruh baya di depan pintu rumah


"Sebentar Aunty, sebentar lagi selesai" teriaknya menyauti ucapan aunty nya


"Astaga ini anak udah gede udah berkeluarga masih aja susah di bilangin"


"Tara, aunty cepat ambil kamera" ia buru-buru menghampiri aunty nya yang tengah berkacak pinggang di depan pintu rumah


"Pakai lebih banyak slayer, jangan sampai kamu kedinginan kalau perlu pakai jaket double, mana topinya kenapa gak di pakai"


"Ahhh aunty cerewet" ujarnya melewati aunty nya dan masuk kedalam rumah, ia memakai topi berbulu lembut serta mengambil sebuah kamera


"Kak Fren tolong dong fotoin" pintanya pada seorang pria bertubuh tinggi yang tengah sibuk dengan laptopnya di ruang tamu


"Mmmm" pria tersebut menghentikan aktivitasnya, ia mengambil kamera yang di sodorkan olehnya


"Ya ampun nih anak mau kemana lagi" wanita paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya yang kembali keluar rumah


"Mau foto aunty"


"Ayo kak buruan" dia sudah berdiri mengambil posisi yang pas, nyaman serta akurat


"Oh My God dari tadi kamu sibuk buat kayak ginian" Fren menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik sepupunya


Rara mengangguk antusias "Ini mas Azril, ini Av dan ini Ay" Rara memperkenalkan satu persatu hasil kerja kerasnya, tiga buah boneka salju yang telah ia dandani dengan syal serta topi di atasnya, satu boneka salju bertubuh tinggi bahkan melebihi tingginya kira-kira setinggi Azril, serta dua buah boneka salju kecil di depan mereka yang cukup imut dengan topi menggemaskan dan syal kecil di lehernya


Fren tersenyum melihat tingkah Rara "Ok, are you ready?" tanyanya yang telah siap membidik kamera ke arah Rara serta keluarga baru buatannya


"Ready"


Cekrekk


Cekrekk


Cekrekk


"Ahhh hasilnya bagus banget makasih kak" ujarnya sembari tersenyum riang


Wanita itu menghadap ke arah tiga boneka salju buatannya sembari tersenyum manis "Sampai berjumpa lagi" gumamnya


***


⛄⛄⛄⛄


❄️❄️❄️❄️