
Azril menatap Rara yang tengah tertidur dengan pulas sehabis membuat kekacauan dimana-mana, mungkin dia kecapekan setelah mengeluarkan banyak tenaga yang cukup dahsyat
Dari dulu Azril selalu merasa minder dengan Rara, bagaimana tidak orang tua Rara yang memanjakannya serta kebutuhan Rara yang lebih kata cukup selalu terpenuhi, barang-barang yang Rara miliki juga termasuk barang-barang mewah, bahkan hampir semua barang yang melekat pada Rara merupakan barang miliknya yang ia beli menggunakan uang keluarganya sendiri
Dulu ia mengira bahwa Rara adalah anak manja yang tak bisa hidup tanpa uang dan kemewahan, namun begitu menikah dengannya dengan seenak jidat ia langsung menurunkan gaya hidup Rara, menempatkan ia di kontrakan sempit hingga menyuruh ia tinggal di asrama yang apa-apa selalu ia kerjakan sendiri tanpa bantuan seorang pembantu, bukannya menjadikan kehidupan Rara lebih baik ia malah menyengsarakan kehidupan Rara
Bahkan selama pernikahan Rara tak pernah meminta dibelikan barang apapun oleh Azril, hanya makanan aneh selama masa ngidamnya, justru terkadang Azril lah yang inisiatif membayar belanjaan Rara atau bahkan memberikan beberapa barang untuk istrinya sebagai surprise
Bahkan kemarin ketika Rara shopping bersama temannya malah menggunakan uangnya sendiri dan enggan menggunakan uangnya, mungkin itu uang jajan yang dulu Rara kumpulkan hingga beranak pinak
Mendengar Rara meminta sesuatu tadi membuat Azril merasa sedih, bukan karena Rara meminta, melainkan karena belum bisa memberikan apa yang Rara pinta
"2 triliun" gumam Azril pelan
***
1 Minggu kemudian
"Iya pak taruh sini saja"
"Mas itu dekorasinya naikin sedikit"
"Ayunannya taruh sana aja"
"Ini ranjang kuning sama ranjang biru agak di kasih jarak ya"
"Ehhh bang bang itu boneka nya di gantung yang bener, awas sampai lepas"
"Lemarinya geseran dikit biar gak terlalu mepet sama jendela"
"Ini karpetnya udah yang paling lembut kan mbak, biar kulit bayi saya tidak iritasi"
"Sofanya taruh sini saja pak"
"Ini kuda-kudaannya kuat kan mas, gak akan jungkir balik kan ya"
"Ini pagarnya gak terlalu pendek kah, nanti kalau bayi saya tiba-tiba bisa terbang gimana"
"Ya ampun mbak ini kenapa yang dateng boneka gorilla nanti kalau bayi saya ketakutan gimana, kan tadi saya mintanya boneka kingkong mana warna item lagi serem banget"
"Ehhhh bibi kok ada boneka chaki di sini sih, tolong buang ya bi" sindir Rara pada sosok pria yang diam mematung di ambang pintu
Bibi Wawa hanya tersenyum mendengar ucapan majikannya, bibi Wawa merupakan salah satu asisten rumah tangga yang Azril rekrut untuk membantu istrinya
Wajah Azril berubah menjadi layu mendengar ejekan dari istrinya, ia sedari tadi melihat istrinya mengatur orang-orang yang sedang mendekorasi kamar untuk kedua bayi mereka, kamar dengan nuansa setengah warna biru muda dan setengah kuning muda yang sama-sama dipadukan dengan warna putih menjadi pilihan Rara
"Akhirnya selesai juga" ujar Rara kala melihat kamar untuk bayi-bayi mungilnya sudah jadi, tak lupa ia juga menambah ranjang bayi kembar di kamar utama milik Rara dan Azril, saat malam bayi-bayi itu akan tidur di sana agar mempermudah bagi Rara kalau-kalau mereka terbangun meminta susu, untuk baby Av warna biru dan baby Ay warna kuning
Rara menggendong salah satu bayinya dan salah satunya dalam gendongan Azril
"Tantan lihat kamarnya udah jadi suka gak?" tanya Rara pada bayi dalam gendongannya
Azril hanya mampu menghela nafasnya pelan, baginya panggilan itu sungguh ironis, padahal orang-orang memanggil anaknya baby Av dan baby Ay namun tidak dengan Rara, panggilan Tantan dan Zaza adalah panggilan kesayangan bagi Rara
"Ini bener gak mau di satuin aja ranjangnya?" tanya Azril yang mulai meletakkan bayi dalam gendongannya
"Gak nanti Tantan khilaf" ujar Rara sinis
Azril memelototkan matanya bagaimana bisa seorang bayi bisa khilaf
"Sayang mereka kan masih bayi gak mungkinkan......."
"Mengingat sifat Tantan kayak kamu bisa saja dia khilaf" ujar Rara ketus
"Masih marah ya" gumam Azril yang melirik ke arah Rara
"Pikir aja sendiri" Rara segera berlalu, ia merapikan pakaian bayi-bayi nya dan memasukkan satu persatu ke dalam lemari bayi
***
1 Minggu kemudian
Azril pulang dengan mendapati halaman rumahnya bagaikan parkiran
"Baheer siapa yang berkunjung?" tanya Azril
"Saya kurang tahu bang" ujar Baheer
Perlahan Azril berjalan mendekati pintu utaman, tangannya mendorong kedua pintu tersebut
Ia terkejut bukan main, kini rumahnya berubah menjadi sebuah pesta, banyak anak-anak muda di sana dengan pakaian yang sopan meski banyak yang tak mengenakan jilbab
Pintu yang terbuka lebar menjadi sorotan bagi para tamu undangan, mereka menatap ke arah Azril lekat-lekat
"Ehhh suamiku udah pulang" sapa Rara yang berjalan menghampiri Azril dengan menggendong baby Ay
"Ekhhhh semuanya mohon perhatiannya" teriak Rara, tanpa diminta sedari tadi mereka sudah memperhatikan kedua pasangan tersebut
"Perkenalkan semuanya ini suami saya, tampan bukan, namanya Muhammad Azril Athallah, kalian bisa memanggilnya pak Azril, jangan manggil mas karena dia bukan mas mas supermarket, jangan panggil dia abang karena dia bukan abang tukang bakso, jangan panggil dia akang karena dia bukan akang gendang" ujar Rara yang mendapat sorakan dari teman-teman alumninya, gelak tawa mereka menjadikan suasana semakin riuh
Azril memelototkan matanya "Ada apa dengan Rara, apa ia kerasukan" batin Azril
"Hahaha jadi bener kamu udah nikah kirain tadi bercanda" timpal salah satu teman Rara
"Waw cari yang kayak gini di mana ra? perkasa lagi bisa langsung menghasilkan dua bayi" ujar Chacha yang cukup vulgar hingga membuat Azril merasa risih
"Langka Cha susah dapetinnya, kamu harus merelakan sesuatu yang berharga yang kamu miliki sebagai seorang wanita" ujar Rara dengan raut wajah serius
"Maksud kamu? kamu kehilangan keperawanan" canda Amel sembari bergidik ngeri karena baginya tidak mungkin Rara melakukan hal semacam itu di luar pernikahan, ia turut ikut menggendong baby Av
Baru saja Rara membuka mulutnya tiba-tiba Azril membekam mulut Rara agar tidak ceplas-ceplos
"Namanya jodoh sudah di atur sama yang kuasa" ujar Azril datar, kemudian ia mengambil alih baby Ay dari Rara
"Uhhh suaranya, pantes kamu ninggalin kak Faiz"
"Heleh masih tampan aku kan Ra" ujar Rio yang merupakan cowok tertampan di kelas Rara
Rara mengangguk "Hooh tampan banget makanya aku ngusulin kamu untuk jadi bendahara di kelas dulu" ujar Rara sembari tersenyum manis, namun hawa disampingnya membuat Rara bergidik ngeri
"Ohhhh jadi kamu dalang di balik semua ini" pekik Rio, ia merasa kesal telah dipermainkan oleh Rara, ternyata ketampanan itu membawa bencana
"Hahahaha" para cowok yang ada di sana tertawa melihat ekspresi kesal Rio, jadi teringat kala Rio mendapati permintaan aneh dari teman-teman perempuannya hanya demi mau membayar uang kas kelas
"Ayo silahkan dimakan jangan sungkan-sungkan, dimakan sekalian dengan gelas dan piringnya juga gak papa, bawa pulang juga gak papa asal jangan perabotannya kalau mau makan perabotannya dine in, no take away" ujar Rara
"Lu kate kita Samson apa" pekik Andi
"Iya ra ini aku dah bawa karung, denger kamu ngadain pesta syukuran kami semua mengucap syukur" ujar Chacha
"Buset gak karung juga kali, ini cocoknya di jadiin tempat sampah" timpal Amel yang merebut karung bawaan Chacha
"Ra" panggil Reza
"Eh iya ada apa kang"
"Bukan akang gendang" ujar Reza sinis
"Hehehehe, kenapa?"
"Kue coklat di sana habis, keluarin dong yang baru aku belum kebagian, kamu pasti masih ngumpetinkan di belakang" pinta Reza
"Nih anak tahu aja, mana kuenya tinggal satu kotak lagi" batin Rara kesal, itu kue yang akan Rara nikmati sendiri, perasaan dia udah mesen sepuluh box kue coklat dan menyisakan satu untuk dirinya kenapa malah kurang, pasti Reza korupsi
"Beneran kek kamu belum kedapatan?" tanya Rara yang memicingkan matanya, pasalnya makhluk ini juga sangat menyukai kue coklat, brownies dan sejenisnya
"Suer" Reza mengangkat dua jarinya
"Ya udh iya, sepotong aja ya"
"Idih orang kaya kok pelit"
"Eh nyadar kek kamu juga kaya"
"Kayaan kamu"
"Baru tahu kamu"
"Udah cepetan sana ambilin"
Akhirnya Rara menyerahkan separuh kue dalam kotak dan menyisakan separuhnya lagi
"Ya elah nanggung amat ngasihnya cuma separuh kotak"
"Bukannya bersyukur malah kufur, mana kata terimakasihnya"
"Iya iya ah elah, makasih cantik" puji Reza yang langsung kabur dari hadapan Rara
Beberapa menit tanpa sengaja pandangan Rara tertuju ke arah Reza yang diam-diam memasukkan 3 kotak kue coklat ke dalam kresek yang tadi ia umpetin di bawah kolong meja
"Oi kang Reza" teriak Rara kesal
Reza tersentak kaget, dengan langkah seribu ia menghilang keluar dari rumah tersebut
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Ehhh ketemu lagi, holla para pembaca, besok ketemu lagi ya jangan kabur dulu, love you all