
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju rumah yang di singgahi Afham untuk menemui keluarga istrinya di temani Afham di sampingnya karena rasanya tidak mungkin jika Azril pergi sendiri ke sana
Azril menghentikan langkahnya dia meneguk ludahnya kasar kala melihat lima orang yang sedang duduk di depan rumah Afham dari jarak jauh, apa yang harus dia katakan apa dia harus jujur atau dia harus berbohong, batinnya terus berseteru antara memilih jujur atau bohong, jika dia jujur sudah pasti keluarga Rara akan marah besar namun jika dia bohong pasti suatu saat kebohongannya akan terbongkar, diantara keduanya akan mendapatkan hasil yang sama, yang membedakannya hanya waktu saja
Afham yang melihat raut ketakutan Azril pun memegang pundaknya
"Azril mau tidak mau kamu harus bertanggung jawab, bicaralah yang jujur pada mereka tentang kondisi Rara yang sekarang" ujar Afham menenangkan
"Tapi..." Azril ragu
"Udah bicara tentang kondisi Rara yang koma di rumah sakit aja dulu mereka keluarganya Rara juga berhak tahu, untuk yang lainnya itu terserah kamu, aku akan membantu mengatakan tentang kronologi Rara yang mengalami kecelakaan, untuk kejadian sebelumnya aku tidak akan ikut campur" ujar Afham
Mereka melanjutkan langkahnya untuk menemui keluarga Rara
"Assalamualaikum" Afham datang bersama Azril
"Waalaikumsalam" ujar mereka kompak
"Ehhh menantu papa udah dateng makin tampan aja kamu" puji papa mertua Azril
"Mana Rara?" tanya Alfred datar sedangkan Dariel hanya menatap sinis ke Azril
"Rara dimana Azril kok gak bareng, oh ya bagaimana kabar kalian?" tanya mama mertuanya sembari tersenyum ramah
Azril hanya diam menunduk rasa bersalah kian muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam, rasanya dia tidak sanggup untuk menghancurkan ekspresi raut wajah mertuanya itu
"Pak bu sebelumnya kami mohon maaf karena ada kabar yang tidak berkenan di hati kalian" ujar Afham sopan
"Kabar apaan dulu nih baik apa buruk?" tanya Dariel
"Mmmmm bisa di bilang kabar buruk" ujar Afham pelan
Alfred melihat ekspresi wajah Azril yang menunduk benar-benar mencurigakan "Gak usah bertele-tele cepat katakan!" perintah Alfred dengan nada yang sedikit ia tinggikan
"Kak kamu tuh yang sopan ih, bukan bawahan kamu itu" tegur sang mama kala mendengar suara Alfred bagai seorang atasan yang memerintah bawahnya
"Kami mau menyampaikan kabar bahwa Rara...." Afham menghentikan ucapannya sebentar untuk menarik nafas dalam-dalam, kok aku jadi tegang gini ya kan aku bukan suami Rara batin Afham bingung
"Rara mengalami kecelakaan dan sekarang dia mengalami koma" berita itu akhirnya lolos juga dari mulut Afham
"Apaaa" semua keluarga Rara terkejut bukan main mendengar kabar tersebut
"Dimana dia sekarang, Azril bawa mama menemui dia" mama Rara yang panik langsung berdiri mengguncang lengan Azril pelan
"Ayo bawa kita menemui Rara" ujar papa Rara, ada guratan kesedihan di wajahnya
"Lo emang gak becus ya buat jagain Rara aja gak bisa" bentak Dariel
Sedangkan Alfred dan Lan hanya diam mematung ntah apa yang mereka pikirkan
"Azril ayo bawa kita menemui dia sekarang, dia dimana?" tanya mama Rara yang sudah meneteskan air matanya
Azril segera membawa keluarga Rara menuju rumah sakit tempat Rara di rawat, dia mengambil alih setir dari Lan, sedangkan Afham tidak ikut bersama mereka
Setelah sampai di rumah sakit Azril segera membawa mereka ke ruang ICU namun sayangnya jam itu bukanlah waktu diperbolehkannya untuk berkunjung
"Anak saya di dalam kenapa saya tidak boleh menemuinya" bentak papa Rara pada suster yang menjaga ruang ICU tersebut
"Suster kami mohon kami ini keluarganya tolong izinkan kami untuk melihatnya" ujar mama Rara sembari menghapus air matanya
"Mohon maaf bu ini sudah peraturan rumah sakit" ujar suster tersebut
Alfred geram melihat mamanya yang berusaha memohon kepada suster tersebut namun di tolak mentah-mentah
"Lan cari tahu siapa pemilik rumah sakit ini, kalau perlu hancurkan saja rumah sakit ini" ujar Alfred geram
"Baik bos" Lan mengangguk patuh
Beberapa menit kemudian seorang laki-laki paruh baya datang menemui mereka "Ada apa ini?" tanyanya
"Ini pak mereka mau menjenguk pasien di dalam tapi sekarang bukan waktu kunjungan" ujar suster tersebut
"Biarkan mereka masuk" ujar pemilik rumah sakit tersebut, rumah sakit ini merupakan rumah sakit swasta yang jaraknya cukup dekat dengan pesantren dari pada rumah sakit lainnya
Akhirnya semua keluarga Rara memasuki ruangan tersebut kecuali Lan yang sedang menemui pemilik rumah sakit
Siapa yang tidak terkejut kala melihat wujud Rara sekarang, rambut indah yang selama ini ia jaga kini sudah hilang, wajah Rara yang dulunya putih bersih kini nampak berwarna coklat akibat terlalu sering berdiri di samping tiang bendera di bawah teriknya matahari, tubuh Rara terlihat sangat kurus pipi chubby yang ia miliki kini nampak tirus, di tambah lagi wajah pucat yang tak kunjung sadarkan diri itu terlihat lemah tak berdaya
"Rara sayang kenapa kamu bisa seperti ini" perlahan mamanya memeluk dia dengan hati-hati, air matanya mengalir melihat kondisi putri nya yang cukup tragis
"Siapa yang menabrak kamu sayang bilang sama mama" mamanya terus merancau berharap putri kesayangannya bisa cepat sadar
Papa Rara mengelus punggung istrinya berusaha memberikan ketenangan padanya
Alfred mengepalkan tangannya dia langsung keluar dari ruang ICU, diam-diam Dariel juga keluar mengikuti sang kakak
Alfred langsung menarik kerah kemeja milik Azril yang sedang duduk termenung dengan wajah gelisah nya, Alfred melirik kanan kiri tidak cocok untuk berantem di sini, akhirnya dia mencengkeram lengan Azril dan menariknya dengan kasar untuk mengikuti langkahnya, Azril hanya pasrah mendapat amukan dari kakak pertama Rara, sebelumnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi
Alfred membawa Azril ke halaman belakang rumah sakit yang sepi dan tak ada orang sama sekali, dia mendorong Azril hingga punggung Azril bertabrakan dengan tembok, tangannya kembali menarik kerah kemeja Azril dengan kasar
"Lo apain Rara hah" teriak Alfred di hadapan wajah Azril
"Lo apain Rara hingga dia menjadi seperti itu"
"Kemana wajah putih Rara hah kenapa sekarang dia menjadi hitam"
"Kemana pipi chubby miliknya kenapa sekarang jadi tirus"
"Dan yang paling penting kemana rambut panjang miliknya kenapa malah jadi botak hah"
Alfred terus berteriak di hadapan Azril sembari menguatkan cengkraman di kerahnya hingga membuat Azril meringis menahan sakit di bagian lehernya
"Jawab kenapa lo diam aja hah apa Lo mendadak bisu, jawab kenapa dia bisa koma" Azril hanya menutup rapat bibirnya, bibirnya terasa kelu enggan untuk mengeluarkan satu patah katapun, bibirnya hanya mampu mengeluarkan suara rintihan karena rasa sakit yang ia terima
Bughhhh
Satu kepalan tangan Alfred berhasil ia layangkan ke pipi Azril hingga membuatnya jatuh tersungkur ke tanah
Bughhhh
Pukulan bertubi-tubi ia layangkan ke tubuh Azril, ntah itu bagian wajah, bahu, punggung asal tinjuan itu mengenai tubuh Azril saja agar rasa pelampiasannya terbalaskan
"Jangannnnnn" suara teriakan yang cukup keras menghentikan aksi Alfred