
"Ra nanti habis sarapan aku mau membawamu ke rumah abi sama umi, mereka kangen sama kamu" ujar Azril yang mendekat ke arah Rara yang tengah sibuk mengutak-atik komputer milik nya
"Heem" Rara hanya berdehem menanggapi ucapan Azril
"Aku tadi udah bilang ke mama papa" ujar Azril lagi
"Heem"
"Kamu lagi ngapain?" tanya Azril yang kini berdiri tepat di belakang Rara
"Gabut" ujar Rara
"Ayo turun ke bawah bentar lagi waktunya sarapan"
Rara segera mematikan komputer nya dan bergegas turun ke bawah diikuti Azril yang mengekor di belakangnya
Setelah sarapan mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat ke rumah orang tua Azril
"Ra kita nginep di sana yuk semalam" ujar Azril yang mengingat perkataan uminya yang menginginkan mereka berdua menginap di sana
"Gak ah ngapain" Rara mengernyitkan dahinya
"Semalam aja, umi sama abi kan pingin ketemu sama kamu lebih lama, mau ya"
"Ya udah semalam aja"
"Oke semalam" Azril langsung memasukkan barang-barang keperluan mereka ke dalam tas tenteng
Azril menatap Rara yang tengah menyisir rambutnya di depan meja rias, tatapannya penuh kekhawatiran, semalam dia tidak bisa tidur nyenyak kala mendengar Rara yang terus mengigau dalam tidurnya, bahkan Rara meneteskan air matanya dalam mimpi buruk yang menyelimuti dirinya
"Ngapain natap aku kayak gitu?" tanya Rara yang melihat pantulan dari cermin bahwa sedari tadi Azril memperhatikan dirinya
"Ehh gak kok, itu kamu jangan pakai pakaian kayak pria lagi, kan hukumnya haram" ujar Azril untuk mengalihkan pikirannya tadi
"Iya iya ah, lagian ini tuh pakaian wanita ya, lihat ini" Rara berdiri menunjukkan pakaian yang melekat pada tubuhnya
"Ini tuh celana jeans perempuan, dan ini kaos hoodie perempuan gambar dino" ujar Rara yang memang benar adanya
"Masak itu kaos perempuan kok itunya gak nampak?" tanya Azril penuh selidik sembari memperhatikan tubuh Rara dari atas hingga bawah
"Kamu..... punyaku itu emang tepos terus kenapa hah masalah buat kamu" Rara langsung menyilang kan tangannya di dada, kaos hoodie berlengan panjang itu memang berukuran besar hingga tidak membentuk tubuh Rara sama sekali
"Tapi tetap saja penampilan kamu masih dapat disalah pahami oleh orang lain" gumam Azril pelan
"Kamu ngomong apa hah?" tanya Rara sinis
"Gak masalah bagi aku kok ra, apapun kamu dan bagaimana pun kamu, aku akan nerima kamu lahir batin" ujar Azril tersenyum lebar, tidak sia-sia ia membeli buku-buku tersebut serta beberapa ilmu yang di ajarkan oleh teman-temannya
***
Tok tok tok
"Assalamualaikum" Azril mengetuk pintu rumah kedua orang tuanya sembari mengucapkan salam
"Waalaikumsalam" pintu terbuka lebar menampakkan wajah tampan Ammar
"Eh bang kok kamu pulang?" tanya Azril bingung melihat abangnya bisa berada di rumah
"Ya pulang lah orang udah lulus, ayo masuk" Ammar menatap seseorang yang berada di belakang Azril, Azril yang menyadari tatapan abangnya langsung menyentuh pundak abangnya pelan
"Rara bang" ujar Azril pelan
"Oh adik ipar" Ammar tersenyum ke arah Rara, dia mengingat perkataan abi dan uminya yang menyangkut keadaan Rara
Rara tidak membalas senyuman kakak iparnya, wajahnya terlihat datar dan kaku
"Ayo masuk ra" Azril menarik tangan Rara memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu
"Assalamualaikum" suara salam terdengar dari arah pintu yang masih terbuka lebar
"Waalaikumsalam" jawab Azril dan Ammar kompak
"Eh mbak Amy masuk mbak" Ammar mempersilahkan gadis tersebut untuk memasuki rumahnya
"Ada acara di pesantren, kakek ngundang kalian...." ucapannya terhenti kala manik matanya menatap manik mata Rara, tanpa sengaja tatapan mereka saling bertemu
"Masya Allah manis banget dia" gumam Amy dalam hati
"Astaghfirullah" Amy segera mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Memang bener ya berondong itu manis" batin Amy dalam hati sembari tersenyum tipis
"Mbak kenapa mbak?" tanya Ammar heran
"Eh gak pa pa kok, itu tadi apa ya, iya itu, tadi sampai mana, aduhh" Amy merututi dirinya sendiri kala konsentrasinya hilang begitu saja, bahkan ia lupa sampai mana tadi ia berbicara dan apa yang mau ia bicarakan
Ammar dan Azril saling pandang melihat kakak sepupu nya yang salah tingkah
"Ehhh menantu umi udah datang" terdengar suara umi kala melihat Azril dan Rara yang tengah duduk di sofa, uminya baru saja memasak makanan yang banyak dan lezat di dapur hingga tidak menyadari bahwa mereka berdua sudah datang
Rara hanya tersenyum tipis ke arah uminya, sedangkan Amy tengah bingung dengan pikirannya sendiri "Menantu? mana menantunya perasaan aku sendiri cewek di sini" batin Amy
"Loh Amy ada apa? ayo sini duduk" ujar umi yang baru saja melihat keponakannya tengah berdiri mematung
"Eh iya bulek, ini ada undangan acara di pesantren" ujar Amy yang mulai mendudukkan dirinya di sofa
"Oh gitu, jam berapa?" tanya umi
"Jam 10 bulek" ujar Amy sopan
"Oh ya In Syaa Allah nanti kami datang, kamu udah makan, ayo makan bareng, ayo ra, Azril, bang, ayo makan umi udah siapin" ajak umi
"Boleh bulek kebetulan saya belum sarapan" ujar Amy
"Eeee umi Rara tadi udah sarapan sebelum berangkat ke sini" ujar Rara pelan
"Masya Allah suaranya lembut banget" batin Amy dalam hati
"Yahh Azril gimana sih kamu, padahal umi sengaja masak banyak buat menantu umi ini" terlihat raut wajah umi yang kecewa
"Ya Azril mana tahu umi bakal masak banyak" Azril hanya tersenyum canggung, ada sedikit rasa bersalah pada wanita yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini
Amy membelalakkan matanya kala mengerti akan situasi yang ada di hadapannya ini, "Astaghfirullah jadi dia seorang wanita" batin Amy kecewa
"Emmm bulek saya pamit dulu ya masih ada urusan" Amy langsung berdiri dari duduknya
"Loh gak jadi sarapan dulu di sini?" tanya umi heran
"Gak jadi bulek, saya baru ingat kalau masih ada urusan lain, ya sudah kalau gitu saya pamit dulu Assalamualaikum" ujar Amy yang langsung menghilang dari rumah keluarga Azril
"Aduhh apa sih yang aku pikirkan tadi" Amy menepuk-nepuk jidatnya pelan, wajahnya memerah menahan rasa malu
Kini keluarga Azril tengah duduk di meja makan, Rara menusuk mangga yang telah di potong dadu oleh ibu mertuanya dan memasukkannya ke dalam mulut, sedangkan Azril dia malah mengambil piring serta nasi dengan porsi mungil
"Ammar" abinya memanggil putra sulungnya kala mereka semua telah selesai menyantap sarapan
"Iya bi?"
"Apa kamu mau abi jodohkan dengan Azizah?" tanya abi to the point, ada alasan tersendiri bagi abinya bertanya seperti ini pada putra sulungnya
"Uhukkk uhukk" Azril tersedak oleh mangga yang baru saja ia makan kala mendengar perkataan abinya, tadi Rara tidak dapat menghabiskan mangga di mangkuknya karena perutnya sudah full maka dari itu Azril mengambil alih mangkuk istrinya yang masih terdapat beberapa potong mangga
"Pelan-pelan Azril" uminya menyodorkan segelas minum
Azril meneguk minuman dengan susah payah, manik matanya menatap ke bawah, hatinya deg deg an mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut abangnya
Ammar menatap ke arah Azril yang terlihat gugup, dia yang ditanya kenapa malah adiknya yang gugup, kini Ammar beralih menatap seseorang yang berada di samping Azril ternyata wanita itu hanya cuek saja tak peduli akan situasi yang menegangkan ini
"Ammar mau abi"