
Tubuh Azril menegang kala melihat pasien yang tengah terbaring lemah di atas ranjang dengan di bantu berbagai macam alat
"Benarkah ini Rara" batin Azril perlahan ia langkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang yang di tunjukkan oleh suster tadi
Azril masih menelusuri pandangan pada setiap tubuh Rara matanya membulat kala melihat dengan jelas sebagian kepala Rara yang di balut dengan perban, hilang sudah rambut indah nan panjang milik Rara, yang ada hanya rambut dengan potongan yang tidak beraturan layaknya seorang pria bahkan di beberapa bagian kepala Rara nyaris tidak ada rambut alias botak
"Kenapa sekarang kalian malah memotong rambut ku"
"Kenapa kalian menghilangkan rambut ku"
Perkataan Rara soal rambut nya terus saja terngiang ngiang di pikiran Azril, benarkah ada seseorang yang memotong rambutnya
"Ra" panggil Azril lembut, kini dia berada tepat di samping Rara, wajah pucat Rara terlihat sangat jelas dalam pandangan Azril
"Ini bener kamu kan ra" ujar Azril lagi, rasanya dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya ini padahal jelas-jelas wajah istrinya mampu di tangkap oleh lensa matanya
Perlahan tangan Azril hendak menyentuh tangan Rara yang ditempeli dengan jarum infus
"Tunggu pak" suara suster menghentikan aksinya
"Kenapa sus, kenapa saya tidak boleh menyentuh istri saya sendiri yang sudah jelas-jelas halal bagi saya" ujar Azril sendu
"Bukan gitu pak tapi....." ujar suster yang langsung di potong oleh Azril
"Tapi apa sus, suster mau mengira saya bakal mencabut selang infus nya, dia istri saya sus tidak mungkin saya mau mencelakakan istri saya sendiri" ujar Azril yang tidak dapat berpikir dengan jernih
"Bukan pak bukan gitu......" lagi-lagi ucapan suster terpotong begitu saja
"Terus apa, saya tidak punya penyakit menular apapun" ujar Azril lagi
"Pak tolong dengerin saya sampai selesai, bapak tadi kemari buru-buru kan dan belum mencuci tangan bapak, saya tidak mau ya pasien saya sampai terinfeksi, kalau bapak mau menyentuhnya cuci tangan dulu sana" ujar suster dengan nada kesal, ingin rasanya suster itu berteriak namun dia sadar bahwa saat ini dia berada di ruang ICU
"Oh" Azril hanya ber oh riya dan segera mencuci tangannya
Setelah selesai mencuci tangan dia mendudukkan diri di kursi samping tempat tidur Rara, perlahan telapak tangan Rara ia genggam dengan sangat hati-hati
"Ra ini aku, apa kamu bisa mendengar ku" ujar Azril pelan di dekat telinga Rara agar tidak menggangu pasien lainnya
"Ra aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kamu semenderita itu"
"Ra aku tidak bermaksud membuang mu"
Azril menghela nafas nya pelan "Ra kenapa kamu bisa kecelakaan, siapa yang menabrak mu?"
"Heem maaf apa bener anda keluarga dari saudari Syafeera?" tanya dokter yang baru saja berdiri di sebelah Azril, dialah dokter yang menangani Rara
Azril langsung berdiri "Ya dok bener saya suami nya" ujar Azril
"Baik pak kalau begitu bisa ikut saya sebentar untuk konsultasi tentang penyakit istri bapak" ujar dokter ramah
"Baik dok" Azril mengikuti dokter tersebut ke ruangannya
"Operasi kemarin memang berjalan dengan lancar tapi kita tidak bisa memastikan kapan istri bapak sadar"
"Operasi?" Azril mengerutkan dahinya bingung
"Iya operasi, apa bapak belum mengetahuinya? kemarin ada pihak keluarga dari istri bapak yang sudah menandatangani surat persetujuan operasi" ujar sang dokter
"Siapa dia?" tanya Azril
"Sebentar" dokter tersebut membolak balik kan kertas mencari data operasi Rara
"Ini namanya bapak Afham" dokter tersebut menyerahkan kertas persetujuan operasi, Azril membaca kertas tersebut dengan seksama
"Kemarin istri bapak membutuhkan penanganan dengan segera, satu-satunya tindakan yang dapat menyelamatkannya hanya operasi, beruntung istri bapak bisa melewati masa kritisnya" ujar dokter menjelaskan
"Lantas kapan istri saya akan sadar?" tanya Azril
"Setelah operasi istri bapak mengalami koma dan belum sadarkan diri sampai saat ini, saya tidak dapat memastikan kapan istri bapak bisa sadar, bapak berdoa saja untuk kesembuhannya"
"Apa kemungkinan besar istri saya bisa sadar?" tanya Azril sendu, wajahnya terlihat pucat
"Saya bukan Tuhan yang mampu memberikan manusia nyawa, saya hanya perantara agar dapat membantu istri bapak bisa pulih kembali yaa meskipun saya di bayar sih" ujar dokter tersebut
"Saya mau bertanya lagi dok?" ujar Azril
"Iya silahkan" dokter mempersiapkan Azril bertanya
"Apa rambut istri saya memang di temukan seperti itu, atau kalian potong untuk membantu pengobatan kepalanya?" tanya Azril, dia hendak memastikan perkataan Rara
"Iya, dia ditemukan dalam kondisi mengenakan jilbab yang sudah berantakan, dan rambutnya memang seperti itu, kami tidak memotongnya sedikit pun" ujar dokter tersebut yang membuat Azril menegang jadi siapa yang memotong rambut istrinya, nampaknya rambut itu sangat berharga baginya
"Apa ada yang perlu di sampaikan lagi dok?" tanya Azril lagi
"Untuk saat ini tidak ada, tapi nanti kita akan mendiskusikan pemulihan untuk istri bapak, oh ya untuk biaya administrasi nya mohon di urus ya" ujar dokter tersebut mengingatkan dengan senyuman penuh arti
"Kalau begitu saya permisi dulu" setelah mendapat anggukan Azril segera pergi dari ruangan tersebut, dia pergi ke bagian administrasi untuk mengurus segala biaya pengobatan Rara, nampaknya biaya operasi telah di lunasi oleh Afham nanti dia akan menggantinya
Setelah selesai mengurus administrasi dia kembali ke ruang ICU sebentar
"Ra aku pamit pulang dulu, nanti aku akan ke sini lagi" ujar Azril tangannya menyentuh kepala Rara dengan pelan
Azril kini sudah duduk manis di dalam taksi, dia hendak balik ke pesantren lagi untuk menanyakan kronologi kecelakaan Rara, hatinya kini sedang berbisik-bisik mengucapkan doa agar Rara segera bangun dari tidurnya, tadi dokter bilang dia mengalami koma Azril takut Rara akan mengalami koma yang cukup lama, bukankah koma bisa berlangsung harian bahkan tahunan
"Ya Allah berikanlah kesembuhan buat istri hamba, tolong sadarkan dia dari komanya, semoga apa yang hamba takutkan tidak akan terjadi" batin Azril
Taksi memasuki kawasan pesantren, suasana di pesantren masih ramai karena acara kelulusan belum selesai, dia segera pergi ke rumah Afham lagi untuk mencari kebenaran apa yang selama ini terjadi dengan kehidupan Rara di sini, namun ketika dia mengetuk pintu rumah Afham tidak ada sautan sama sekali dari dalam, mungkin sekarang dia lagi sibuk mengurus pesantren ini apalagi ini merupakan hari kelulusan siswa siswi akhir
Pandangannya menatap sosok perempuan yang selama ini menjadi kepercayaannya "Zahra" Azril berteriak memanggil nama Zahra