I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Penghiburan Diri



"Makasih ra kapan-kapan undang lagi"


"Makasih ra makanan gratisnya"


"Iya sama-sama"


"Thanks ra, tomorrow again"


"In syaa Allah"


"Kamshamida"


"Hah, kebanyakan nonton drama nih anak"


"Makasih Ra semoga rezekinya lancar, semoga si twins bisa cepet punya adek lagi biar kita dapet makanan gratis lagi"


"Aamiin" bukan Rara yang menjawab tetapi makhluk yang tidak tahu malu di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Azril


"Thanks ra, ternyata lo ngelangkahin gue" ujar Andi


Rara menatap pada dua orang yang saling merangkul satu sama lain "Lima tahun bertahan tak ada kepastian" ujar Rara menggelengkan kepalanya


"Malu sama teman selalu ditanya kapan kawin? kapan kawin? kapan kawin? masa berlaku anda sudah habis" lanjut Amel


"Ck, nyadar kek lo juga belum naik pelaminan, lagian kita tuh nunggu lulus kuliah dulu, dapet kerja yang bagus baru nikah" timpal Andi tak terima


"Tuh denger" timpal pacar Andi


"Seenggaknya gak menabung dosa" sindir Amel


"Idih, sok alim, noh Rara dulu juga pacaran" ujar pacar Andi tak terima


"Maaf dulu istri saya khilaf, tapi Alhamdulillah pacarannya gak sampai lima tahun, gak ada setengah tahun udah putus dan dapet yang halal" ujar Azril ramah sekaligus menyindir mereka


Andi dan Jesi hanya bisa menelan salivanya, mereka merasakan pancaran hawa-hawa orang alim


"Udah yuk yang kita pulang" ujar Jesi manja sembari bergelayut pada lengan Andi


"Hati-hati pas pulang, jangan lupa duduknya jangan terlalu rapat, kasih ruang juga buat setannya duduk, ya kali dia di taruh di jok motor" teriak Amel keras


"Hahahaha, ada-ada aja kamu, mmmm mau bareng gak" tawar Rio


"Ogah, ya kali tempat duduknya bagi dua sama setan" ujar Amel ketus


"Siapa bilang ada setannya, orang kamu duduk di belakang sedangkan aku nyetir di depan sebagai SOPIR, kalau udah sampai nanti aku masukin tarifnya" ujar Rio tersenyum mengejek


"Hahahaha kegeeran sih kamu mel, orang Rio nawarin sebagai abang tukang grab, kamu lupa dia lagi kerja sambilan sebagai abang grab car" timpal Rara tertawa renyah


Muka Amel memerah karena malu "Gara gara kak Reza ninggalin aku, awas kamu kak tak aduin sama om dan tante" batin Amel kesal


***


Rara mengenakan tank top serta celana pendek, pagi-pagi gini ia telah berdiri di dekat kolam renang


"One"


"Two"


"Three"


Ia merenggangkan otot-otot nya melakukan pemanasan sebentar, hingga akhirnya ia menyalakan sebuah music dan mulai menggerakkan seluruh badannya


Come on, come on, turn the radio on


It's Friday night, and it won't be long


Gotta do my hair, put my make-up on


It's Friday night, and it won't be long


Lagu terus berputar diikuti dengan gerakan Rara yang begitu lihai dalam mempraktekkan sebuah dance, kaki, tangan, serta tubuhnya terus bergerak sesuai irama


Sayup-sayup Azril mendengar suara music, ia yang sedari tadi mencari Rara kini melangkahkan kakinya menuju halaman belakang


Mata Azril tak berkedip memandang Rara, bukan hanya karena pakaiannya saja melainkan dance yang Rara praktekkan cukup lihai


"Sejak kapan dia pinter dance? apa dia sering tampil di depan panggung seperti ini?" batin Azril meronta, ia segera menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran buruk tersebut


Music telah berhenti gerakan Rara juga ikut terhenti


"Waktunya mandiin bayi" ujar Rara sembari memakai cardigan untuk menutupi tubuhnya


Langkah Rara terhenti karena melihat suaminya yang memandang ia dengan intens


"Kenapa pakai-pakaian kayak gini di luar kamar?" tanya Azril


"Kenapa emang, kang Yudi gak sampai masuk rumah kok" ujar Rara santai


Kang Yudi merupakan satpam baru di rumah mereka, satpam yang masih muda dan berperawakan tampan serta gagah, namun sayang ia telah beristri dan telah beranak


Rara yang meminta ada satpam berjaga di rumahnya agar kedua bayinya aman, dan ia menginginkan satpam yang tampan, Azril tak setuju namun Rara tetap memaksa hingga akhirnya ia memutuskan merekrut satpam tampan yang sudah beristri dan beranak


"Kamu boleh pakai kayak gini di dalam kamar kita, tak hanya itu kamu juga boleh melepas semuanya namun hanya di kamar kita dan tak ada yang boleh melihatnya kecuali suami kamu" ujar Azril tegas


"Modus banget sih" batin Rara


"Iya" satu jawaban yang Rara berikan hanya agar masalah ini tidak sampai berlarut-larut, ia gak mau berdebat panjang lebar di pagi hari


***


Rara duduk di kursi santai dekat kolam renang, setelah menidurkan bayi-bayinya ia ingin menatap gelapnya langit sembari memangku gitar yang ia bawa dari rumahnya


Wajah cantik itu mengadah ke langit, menatap beberapa bintang sembari tersenyum manis


Perlahan tangannya terayun pada senar gitar, ia mengeluarkan suara merdunya pada gelapnya malam, lagu pesan dari hati menjadi pilihannya


Azril menatap istrinya dengan teduh dari atas balkon ia tersenyum lebar mendengar suara nyanyian Rara yang begitu indah di telinganya, meresapi setiap alunan lagu tersebut, ini kedua kalinya Azril melihat Rara bernyanyi sembari memetik senar gitar, jika dulu ia menatap Rara dengan tatapan tajam kini ia menatap Rara dengan tatapan kerinduan, ia ingin sekali menemani istrinya menikmati suasana romantis di sana namun ia juga tak ingin merusak suasana hati istrinya


"Ra mas kangen" gumam Azril lirih


***


1 Minggu kemudian


Azril dan Baheer menatap depan pintu utama rumahnya terdapat banyak sandal maupun sepatu hak tinggi yang tersusun rapi, dilihat dari modelnya ini semua milik seorang wanita


Azril dan Baheer saling berpandangan


"Apa Rara mengundang temannya lagi?" bisik Azril


"Gak bang, kayaknya bukan teman, dilihat dari modelan sepatu sama sendalnya ini milik seorang ibu-ibu" ujar Baheer


"Kok kamu tahu?"


"Insting"


Azril dan Baheer membuka pintu secara hati-hati


"Assalamualaikum" ujar mereka berdua kompak, dilihatnya banyak ibu-ibu yang sedang mengobrol sembari menikmati teh dan berbagai macam cemilan


"Waalaikumsalam" sapa mereka kompak


"Mas udah pulang" sapa Rara yang berjalan mendekati suaminya, ia mencium punggung tangan Azril


Azril mengulas senyumnya


"Eh ini nak Azril ya, pasangan muda di kompleks ini" sapa salah satu ibu yang duduk di sofa


"Iya benar Bu, dan ini asisten saya" ujar Azril ramah, memang kebanyakan tetangga di sini sudah memiliki anak pertama yang sudah memasuki masa remaja, diantara mereka memang Azril dan Rara adalah pasangan paling muda, apalagi Rara tidak terlihat cocok bersanding dengan ibu-ibu di sana, ia bagaikan anak mereka, kira-kira umur ibu-ibu di sana 30 an lebih bahkan ada yang berumur 40 an


"Maaf belum sempat ngadain syukuran perpindahan, waktu itu saya sedang banyak pekerjaan, sedangkan istri saya sedang mengandung bayi kembar, kondisinya juga kurang sehat" ujar Azril, memang dari dulu ia hendak mengadakan acara syukuran rumah barunya namun selalu tidak sempat


"Oh gak pa pa nak Azril santai saja"


"baru pulang kerja nih?"


"Iya bu" Azril mengangguk sopan


"Senangnya ya punya bayi kembar, kenapa kalian tidak menunda kehamilan, umur kalian masih muda apa tidak ingin menikmati masa-masa pacaran?"


"Itu sudah rezeki saya dan istri saya bu, Alhamdulillah kalau bisa di kasih sekarang kenapa nggak"


Mereka hanya mengangguk memahami ucapan Azril


"Saya permisi ke dalam dulu Bu" pamit Azril disusul dengan Baheer, ia segera naik ke atas menuju kamar sedangkan Baheer keluar rumah untuk pulang


Rara masih duduk di sana menemani ibu-ibu yang asyik mengobrol banyak hal sembari menjaga kedua bayinya, tak ada yang nyambung bagi Rara, pembicaraan mereka terlalu rumit begitu pikirnya, sungguh ia lebih memilih mengobrol dengan teman sepantarannya, namun ia juga harus bisa bersosialisasi dengan masyarakat di sini


Azril sudah mandi dan mengganti pakaiannya, niatnya hendak menemani Rara namun ternyata ibu-ibu di sana sudah pada pulang, ia melihat Rara yang diam melamun di atas sofa, tangannya tak lepas dari stroller baby, sesekali menggoyangkannya pelan agar si bayi tenang


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


See you next episode