I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Open Donasi



"Kenapa waktu terasa begitu lambat" keluh Rara dia menaruh kepalanya di atas meja dengan lengannya sebagai tumpuan kepalanya


"Lambat apaan malah bagiku waktu terasa sangat cepat, bentar lagi kita lulus aku jadi deg deg an" ujar Zelin


"Kenapa kamu deg deg an?" tanya Rara bingung


"Ya aku takut aku bakal pisah sama ustadz Nathan, aku di suruh balik ke Jakarta lagi sama ortu habis lulus, maka dari itu aku harus bisa dapetin jiwa dan raganya kak Nathan" ujar Zelin


"Zelin kalau seandainya nih, seandainya loh hanya seandainya aja, kamu nih ya gak dapet ustadz Nathan kamu mau gak mempertimbangkan ustadz Afham?" tanya Rara


"Idihhh ogah aku mah males banget liat dia bawaannya ngajak berantem mulu" ujar Zelin bergidik ngeri


"Hahahaha Rara kamu tuh ada ada aja masak jodohin Zelin dengan ustadz Afham sih, mereka tuh bagaikan minyak dan air yang gak akan bisa bersatu" Shella ikut nimbrung obrolan mereka mumpung bel belum berbunyi


"Bagaikan minyak panas yang kecipratan air, begitu minyak panas mengenai setetes air saja langsung..." ujar Shella


"Duarrrrrr" ujar Shella dan Rara kompak


"Hahahahahahaha" Rara dan Shella tertawa terbahak bahak


"Gak lucu" Zelin menatap tajam ke arah dua teman laknatnya


"Oh ya ra kamu baik-baik aja kan ra?" tanya Shella khawatir


"Tentu saja aku baik-baik saja buktinya aku masih bisa tertawa" ujar Rara santai


"Rara mah kuat emang kamu baru kemarin di tuduh nyuri uang aja langsung mewek" ledek Zelin


"Ya lagian aku gak terima lah di tuduh gitu aja makanya aku mengeluarkan jurus air mata dan wajah memelas biar mereka luluh" ujar Shella


"Emang kamu di tuduh sama siapa?" tanya Rara


"Siapa lagi kalau bukan Lesy biangnya pembuat masalah, makanya aku khawatir kamu di taruh di kamar terkutuk" ujar Shella


"Kamar terkutuk?" Rara mengerutkan dahinya


"Yang kemarin aku bilang itu loh ra kamar khusus anak-anak yang kenakalannya di atas rata-rata dan di luar nalar, aku juga heran kenapa ya tiba-tiba ustadzah Zahra naruh kamu di sana yang notabe nya anak baru, udah gitu ya mindahin aku tiba-tiba lagi, ya sih emang beliau tuh adiknya ustadzah Azizah tapi gak segitunya juga kali"


"Pokoknya kalau kamu masih di ganggu mereka berdua aku bakal memberikan mereka pelajaran dengan jurus keramat yang aku miliki, ini adalah jurus turun temurun yang sangat ampuh" Zelin memperagakan beberapa pukulan udara


Rara tersenyum beruntung dia masih memiliki beberapa teman baik di sini


"Oh ya ra utang kamu yang kemarin itu gak usah di ganti ya, itung-itung sedekah sama kaum duafa hahahaha" ujar Shella yang tertawa terbahak bahak apalagi melihat ekspresi wajah Rara memang bener mereka ini teman laknat


"Aku juga kalau gitu ra, sabun mandi, odol, sampo sama sabun cuci yang aku kasih ke kamu itu gak usah di ganti itung-itung sembako buat rakyat menengah ke bawah" ujar Zelin yang mengikuti gaya Shella


"Alhamdulillah rezeki, besok besok kasih lagi ya open donasi aku sekarang" ujar Rara gembira, ingin rasanya dia mengacungkan jari tengahnya tapi karena mereka sudah berbaik hati mau membantu perekonomian kehidupannya di pondok ini dengan sangat terpaksa ia urungkan


"Beres ra besok aku di jenguk nanti tak bawain jangkrik kering deh sama sambal jengkol pete di jamin kamu bakal ketagihan" ujar Shella yang menggerakkan kedua alisnya


Rara bergidik ngeri membayangkan makanan yang habis di sebutkan oleh Shella dia menggelengkan kepalanya pelan "Aduh gak usah repot-repot shel aku mah pizza aja sama burger" tolak Rara dengan lembut


"Jadi gak enak nih sama kamu, udah gak pa pa pizza sama burger aja" kekeh Rara


"Kalian berdua bisa diem gak" bentak Zelin hingga membuat kedua orang ini diam membisu


"Aku mau pecel lele ya shel" ujar Zelin lembut


"Helehhh" degus Rara dan Shella kesal


Setelah kelas selesai Rara melihat ustadz Faishal melintas di depan kelas dengan secepat kilat dia langsung menghampiri ustadz Faishal untuk menagih janji


"Ustadz Faishal" panggil Rara dengan kencang


"Duh ra bisa gak sih gak usah teriak-teriak masih normal nih kuping" ujar ustadz Faishal


"Hehehehe maaf habis seneng banget gituh ketemu ustadz kayak nemu harta karun yang terpendam KALAU ustadz sudah berhasil mengambil uang dari ustadzah Zahra" ujar Rara yang menekan kata kalau


"Loh kata dia udah di kasih ke kamu kemarin gimana sih" ujar ustadz Faishal bingung, hilang sudah wajah senang Rara senyumannya pun ikut luntur terbawa kabar yang mengecewakan itu


"Belum" ujar Rara lesu dia hendak pergi namun di cegat oleh ustadz Faishal


"Haishh ya udh kamu pakai uang ini dulu ya" ustadz Faishal merogoh sakunya dan memberikan tiga lembar uang bergambar Soekarno Hatta, mata Rara langsung berbinar binar karena melihat gambar sosok pahlawan yang memberikan jasa terbesar bagi kemerdekaan Indonesia mungkin


"Makasih ustadz baik banget sih nanti ini di ganti sama ustadz Azril ya atau gak bilangin suruh gesek kartu ATM ku aja buat gantiin uang ustadz"


"Oh ya rahasia ustadz gak jadi aku bongkar karena aku gak tau rahasia apa yang dimiliki ustadz kalau gitu aku pamit dulu wassalamu'alaikum" ujar Rara yang langsung pergi begitu saja


"Gak ada rahasia" teriak Faishal


"Waalaikumsalam" ujarnya lagi


***


Sudah hampir setengah tahun Rara berada di pondok pesantren besok merupakan hari kelulusan siswa siswi akhir tapi tidak bagi Rara tentu saja karena dia sudah pernah merasakan perpisahan SMA, para wali murid mereka banyak yang sudah berdatangan untuk melihat kelulusan anaknya moment yang penting yang hanya terjadi sekali seumur hidup tentu akan di abadikan bareng keluarga tercinta, ntah perpisahan di pondok ini dengan di sekolahnya dulu itu sama atau tidak yang jelas besok bukanlah hari yang berarti bagi Rara


Rara menatap langit-langit kamarnya, Lesy dan Tari sudah tertidur dengan pulas mereka tidur lebih awal untuk mempersiapkan diri karena besok adalah hari yang spesial bagi mereka


"Aku gak bisa tidur" gumam Rara


Lima menit kemudian


"Zzzzzzzz" Rara sudah tertidur dengan gelisah ia menyelam ke dalam mimpi yang lagi-lagi mimpi yang tidak menyenangkan, mimpi buruk itu kini hadir lagi tanpa undangan


"Jangan..... jangan....."


"Lepaskan" gumam Rara


"Jangan ku mohon" wajah Rara tampak gelisah dan pucat namun matanya masih terpejam, rasanya ada seseorang yang menyentuh dirinya