I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Sssttt... Ada Yang Ngungkapin Perasaan Nih



"Mas aku laper" pekik Rara kala mobil telah berjalan kembali


"Mau makan dimana?" tanya Azril


"Mau makan di restoran kamu aja"


"Ok"


Mobil berhenti di sebuah restoran mewah, kini sepasang suami istri itu berjalan masuk ke dalam


"Mau duduk di mana?" tanya Azril


"Mau di ruangan yang tertutup aja"


"Mau makan di ruang kerjanya mas?" usul Azril


"Gak, mau di ruangan yang tertutup aja tapi lesehan" ujar Rara yang banyak maunya


Azril mengangguk, ia memesan ruangan yang Rara pinta, sekaligus memesan makanan yang hendak mereka santap


Rara langsung mendudukkan dirinya di bawah bantal empuk yang telah di sediakan, meskipun lesehan tetap terasa nyaman


"Mas sini duduk" Rara menepuk tempat kosong di sebelahnya


Azril menurut, ia duduk tepat di samping istrinya " Mmm apa gak sebaiknya mas duduk di hadapan kamu aja biar enak" tangannya menunjuk tempat kosong di hadapan Rara dengan perbatasan meja


"Gak usah sini aja"


Beberapa saat kemudian makanan tersaji hingga memenuhi meja makan


"Mas ada yang ingin aku tanyakan padamu"


Azril menghadap ke arah Rara "Mau tanya apa?"


"Nanti aja kita makan dulu" ujar Rara ia hendak menyiapkan energinya serta mentalnya untuk berbicara serius dengan Azril


Mereka berdua makan dengan tenang, tak jarang Rara mencolong makanan milik Azril karena ternyata makanan yang di pilih Azril lebih enak dari pilihannya


Selesai makan Azril menghadap ke arah Rara, menagih pertanyaan yang tadi ingin di lontarkan oleh istrinya


"Tadi mau tanya apa ra?" tanya Azril


Rara sedikit gugup, akhirnya ia mengambil minuman Azril yang masih tersisa seperempat dan menyeruputnya karena hanya itu yang tersisa di meja makan "Mmm enakkan minuman milik kamu mas, tau gitu tadi aku tuker aja sama punyaku"


Azril melepaskan tangan Rara dari gelas " Nanti kita pesen lagi, sekarang mau tanya apa?" tanya Azril yang dapat membaca gerak gerik Rara bahwa ia ingin menghindar


"Kamu pakai pelet apa mas?" tanya Rara serius dengan tiba-tiba


"Pelet? maksud kamu apa?" tanya Azril bingung


"Ya kamu pasti habis pakai pelet dan melakukan jampi jampi ke aku kan"


"Hah, ya gak mungkin lah ra dosa itu, percaya sama kayak gituan sama aja menyekutukan Allah" pekik Azril


"Terus kalau gak ngelakuin itu kenapa aku jadi kayak gini? kenapa aku bisa berubah gini?"


"Kayak gini gimana maksudnya? emang kamu kenapa? ngerasa ada sesuatu yang aneh pada diri kamu apa ada yang sakit?" tanya Azril panik


"Iya"


"Apa? gejala apa yang kamu rasakan?" wajah Azril terlihat begitu serius mengkhawatirkan Rara


"Ini hati aku, jantung aku selalu ngerasa aneh"


"Aneh gimana?" Azril begitu khawatir ia mengulurkan tangannya memeriksa bagian yang Rara ucapkan tadi


Rara memutar bola matanya malas, suaminya ini selalu menanggapi segala sesuatu dengan serius


"Aneh kan mas" ujar Rara memelas


"Gak kok ra, cuma detakannya aja yang lebih cepat, mungkin kamu lagi tegang atau lagi gugup"


"Iya itu aneh namanya"


"Kamu ngerasa sakit ra?" tanya Azril yang kembali panik


Rara mengangguk pelan


"Bisa jadi"


"Kapan aja ini terasa sakit? maksudnya itu apa saat kamu melakukan aktivitas yang berat atau tiba-tiba sakit sendiri?" wajar Azril semakin khawatir


"Waktu kamu marah dan meninggalkan aku selama seminggu, waktu aku mikirin kamu kalau suatu saat bakal pergi ninggalin aku demi mantan kamu atau bahkan demi wanita lain"


Azril menatap wajah Rara "Mas gak akan ngelakuin itu" ujarnya serius


"Ayo kita cek up ke rumah sakit"


Rara menggenggam tangan Azril


"Mas aku gak tau kamu ngelakuin apa hingga membuat aku enggan jauh darimu, aku ngerasa sangat bergantung padamu dan nggak mau kehilangan kamu, rasanya aku ingin hidup bersama kamu seumur hidupku"


"Bahkan kini aku sudah menaruh hati padamu" ungkap Rara


Mendengar ungkapan Rara kini ia sadar bahwa istrinya sedang mengutarakan perasaan padanya, jantungnya berdegup kencang bukan karena kesakitan melainkan kegugupan yang dibaluti kasmaran, tiba-tiba Azril memeluk tubuh Rara erat


"Mas Muhammad Azril Athallah aku mencintaimu" Rara mencengkeram kemeja Azril kala mengucapkan kata itu, sumpah demi apa ia sangat malu mengatakan ini, ia juga bingung kenapa mesti malu padahal ini adalah suaminya sendiri


"Kenapa baru bilang sekarang? kenapa di saat besok mas berangkat ke Surabaya baru ngomong gini? kan mas jadi gak mau pergi ninggalin kamu"


"Aku juga gak tahu, mungkin.... karena baru beraninya sekarang" ucap Rara jujur


Azril melepas pelukannya agar dapat melihat wajah manis istrinya, tangannya masih berada pada kedua bahu sang istri


"Mas gak pakai pelet ra, apalagi jampi jampi"


"Mas hanya minta bantuan pada sang pembolak-balikkan hati manusia"


Rara melengkungkan bibir nya kebawah "Yang di sepertiga malam itu?"


"Bukan hanya itu, di setiap shalatnya mas baik sunnah maupun wajib mas selalu meminta pada Allah"


"Mas meminta agar hati kamu yang dulu mas pecahkan perlahan akan di satukan kembali meski tak sempurna, mas juga meminta agar di hati kamu terselip nama mas di sana"


"Dan sekarang hati aku telah berbalik kepadamu, serpihannya udah menyatu, jadi jangan di retakin lagi ya" pinta Rara


"Pasti sayang, mas mencintaimu" Azril mendaratkan kecupan pada kening sang istri kemudian memeluk kembali tubuh Rara


"Jadi ini alasan kamu meminta makan di ruangan tertutup, agar kamu bisa mengutarakan perasaan kamu pada mas" bisik Azril yang menggoda istrinya


"Mas apaan sih" Rara semakin malu dibuatnya, tanpa sadar ia mengeratkan pelukan pada suaminya


***


"Hati hati di jalan ya, jangan lupa jaga kesehatan, jangan terlambat makan, usahakan shalat tepat waktu, jangan bekerja terlalu keras, kalau capek istirahat aja dulu setelah bugar baru lanjutkan pekerjaannya lagi, jangan terlalu lama di sana kasian istrimu lagi hamil tua, ingat nanti kalau sudah sampai sana kasih kabar, kalau ada apa-apa juga kasih kabar biar kita gak khawatir" uminya melontarkan nasehat yang sering Azril dengar kala akan berpergian jauh


"Baik umi" Azril mencium punggung tangan uminya, kemudian ia menatap lekat ke arah Rara


"Mmmmm aku... mmm pesanku sama kayak umi" ujar Rara kikuk, ia copy paste ucapan milik ibu mertuanya, dia bingung mau ngucapin apa, ditambah Azril yang menatap Rara seakan-akan meminta ia menuangkan sebuah pesan untuknya


Azril terkekeh pelan mendengar pesan dari istrinya, kemudian ia memeluk tubuh Rara erat, tentu Rara juga membalas pelukannya tak kalah erat dari suaminya


"Nanti kalau lahiran mas udah harus pulang ya"


"In Syaa Allah sayang, doakan mas ya"


Rara mengangguk dalam pelukan Azril


Kecupan singkat ia berikan di dahi istrinya, sebenarnya pingin lebih tapi malu ada uminya, untung tadi di kamar udah lebih dari ini


Azril melepas pelukannya ia menatap mata Rara dalam-dalam, sepertinya Rara enggan untuk di tinggal pergi, tapi ia juga enggan untuk mengutarakannya pada sang suami


"Udah sana berangkat" ujar Rara ketus untuk menyembunyikan ketidak relaannya atas kepergian Azril untuk sementara waktu


"Jangan lupa makan yang teratur ya ra porsinya harus lebih banyak, minum susunya juga harus lebih banyak, jangan bertingkah aneh-aneh lagi, bla bla bla ................" Rara menikmati ocehan suaminya, mungkin suara ini yang bakal Rara rindukan di saat sang suami jauh darinya


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Comment titik doang juga gak pa pa 🙃