
"Ayo udah siap?" tanya Azril yang mendapat anggukan dari Rara
Kini mereka berdua hendak kencan, Azril ingin menghabiskan waktu berdua dengan Rara tanpa ada yang menggangu bahkan kedua bayinya ia titipkan pada bi Wawa dan mbak Sita, toh juga Ay masih ngambek sama Rara hingga tak mau di gendong olehnya
"Kita mau ke mana mas?" tanya Rara di dalam mobil
"Kencan ra, gimana kalau di mulai dari bioskop, masih ingatkan awal kita kencan, dulu kamu bilang pingin punya bayi" ujar Azril sembari terkekeh
"Ingat banget dong, pas itu mas di sangka gak waras kan" ujar Rara yang membuat Azril cemberut
"Itu kan gara gara kamu sayang" ujar Azril
"Kamu nyalahin aku?"
"Eh gak kok, mas yang salah waktu itu" ujar Azril gelagapan
"Bagus deh, untung sadar diri"
"Makasih ra udah mau bertahan selama ini"
"Jangan di bahas" cegah Rara
Azril mengangguk paham. Ia meminggirkan mobilnya dan berhenti di supermarket
"Mau beli apa?" tanya Rara
"Cemilan, kan istri mas doyan nyemil" ujar Azril
"Ehhh sekarang suami aku dah peka ya" sindir Rara
"Sayang mas dari dulu selalu peka buat kamu" mereka berdua turun dan membeli banyak cemilan, meski tadi ada drama sedikit karena ada pencuri skin care yang ketahuan oleh mas mas mini market, hingga menjadi pusat para pembeli di sana
Tujuan awal mereka adalah bioskop, setelah mereka menonton mereka mengisi energi ke warung bakso beranak, barangkali Rara tertarik untuk memiliki anak lagi
Rara membelah perut bakso itu dengan hati-hati, ketika bakso terbelah terlihatnya anak anak bakso dan telur puyuh yang cukup banyak, ini pertama kali Rara memakan bakso beranak, biasanya ia lebih tertarik dengan bakso iga atau bakso sambal mercon
"Ihhh geli anaknya banyak banget" ujar Rara
Azril terkekeh "Namanya juga bakso beranak, tuh lihat anaknya kecil kecil kan"
"Tapi waktu aku lahiran, perutku gak di belah tuh inikan metode caesar, coba suruh baskonya mas ngeden bisa gak, kalau bisa aku bakal turutin kemauannya mas selama seharian" tantang Rara yang tak masuk di akal, namun mendengar tantangan istrinya membuat Azril semangat untuk memenuhi tantangan tersebut
"Ok" Azril berdiri dan mencuci tangannya di wastafel yang tersedia
Rara sudah tersenyum remeh karena itu tak mungkin bisa di lakukan
Azril duduk kembali dengan pisau di tangannya, ia membuat bolongan pada bakso itu, Rara hanya melihat aksi suaminya sembari menguyah bakso dengan santai
Setelah lubang terbuat Azril memencet bakso itu, ia menekan nekan dari berbagai arah, usaha Azril membuahkan hasil, kini salah satu anak bakso itu berhasil keluar dari lubang yang tadi Azril ciptakan
"Oeee oeeee"
Rara membelalakkan matanya, cara apa itu
"Ihhh mas jorok" pekik Rara
"Giman ra, mas berhasil kan"
"Gak kamu jorok, aku jadi gak nafsu makan" ujar Rara yang menyuapkan bakso terakhir ke mulutnya
"Tapi kan ra, bakso kamu udah habis" ujar Azril yang melongo, cepet amat istrinya makan
Setelah mengisi tenaga ia mereka singgah sebentar ke masjid untuk shalat ashar, kemudian ia membawa Rara ke kebun binatang hingga membuat wajah Rara awalnya sumringah menjadi suram
"Kamu kenapa ra, kok muram gitu?" tanya Azril kembali ke sosoknya yang tidak peka
"Ini adalah tempat bersejarah bagi kita, di tempat ini aku memberikan kamu cincin dan mengungkapkan cinta padamu, jadi untuk mengingat nya kembali..."
"Stop" Rara memotong ucapan Azril
"Ayo cepat beli tiketnya, udah gak sabar mengunjungi kawan kawan kamu mas" ujar Rara
Azril menurut ia membeli dua tiket orang dewasa, kemudian ia dan istrinya berjalan-jalan di sana, hari sudah sore jadi tak terlalu panas
Azril mengandeng tangan Rara, sesekali mereka singgah untuk duduk dan meminum jus mangga
"Iya sayang"
"Apa mas pernah mengajak mbak Azizah ke sini?" tanya Rara
"Ehhh kenapa tiba-tiba bahas itu" tanya Azril, ia tak ingin membicarakan wanita masa lalunya yang hanya singgah sebentar
"Kamu ngajak aku ke sini lagi, kayaknya tempat in spesial buat kamu"
"Iya tempat ini emang spesial, tapi karena kamu lah yang menjadikan tempat ini spesial, biar ku tegaskan sekali lagi aku tak pernah mengajaknya kemanapun itu, jadi jangan di bahas lagi ya" ujar Azril, namun pandangan istrinya tertuju ke arah lain
Azril mengikuti pandangan istrinya, ia melihat sosok wanita bergamis sedang mengandeng anak kecil dengan seorang pria di sampingnya, pantas saja istrinya bertanya seperti itu
"Itu suaminya mbak Azizah yang baru ya?" tanya Rara
"Mungkin"
"Terus yang dia gandeng anaknya? masak anaknya udah segede itu jangan jangan" Rara mendelik ke arah Azil
"Jangan berpikir yang aneh aneh" Azril mengelus puncak kepala Rara
"Barangkali itu keponakannya, udah yuk masih ada tempat yang harus kita kunjungi" Azril kembali mengandeng tangan Rara, mobil berhenti sebentar di sebuah jembatan, kini mereka berdua menyaksikan matahari terbenam dengan indahnya, setelah puas Azril membawa Rara ke hotel
"Loh mas kok ke sini bukannya pulang"
"Mas mau bulan madu sama kamu, ayo" Azril mengeluarkan koper mini di bagasi mobil
"Hah sejak kapan mas siapin koper itu"
"Rahasia ayo jalan"
"Gak ah mas, aku pulang aja, mau berusaha menarik hati kedua bayi aku"
"Besok kan masih bisa sayang, ayo tadi kan kamu sudah janji bakal nurutin permintaan mas seharian"
"Ehhh tapi kan kamu gak memenuhi syarat dari tantangan"
"Kamu kan gak menyebutkan syaratnya apa, jadi mas yang menang"
"Gak mas kalah"
"Mas menang sayang, gak boleh menarik kata kata lagi ayo, ingkar janji itu dosa"
"Ehhh kok jadi bawa bawa dosa sih, selalu gitu ancamannya"
"Ra orang yang berjanji tapi tidak di tepati termasuk orang munafik, ada hadisnya mau mas bacakan" tawar Azril lembut
"Gak usah" Rara berjalan di depan Azril meski maksud suaminya baik tapi tetep aja membuat Rara kesal
Rara membuka pintu kamar hotel setelah Azril menyerahkan kartunya
Rara memundurkan langkahnya "Mas kayaknya kita salah kamar deh" gerutu Rara
"Gak salah kok, ini bener"
"Di dalam sana banyak bunga mawar, ada dua angsa lagi, kayak malam pengantin"
Azril menarik tangan Rara untuk masuk, benar saja di dalam kamar itu bagaikan kamar pengantin namun tentu saja Azril tak kaget karena dialah yang merencanakan ini semua
"Ayo ambil wudhu kita shalat Maghrib berjamaah" pinta Azril
Setelah shalat berjamaah
"Mau pesen makan di sini atau makan di luar?" tanya Azril
"Mau mandi dulu"
"Oh ya mandi dulu ayo bareng biar cepet"
Rara mendelik mendengar ucapan suaminya, mereka ini bukan pengantin baru dan lagi telah hadir dalam pernikahannya dua buah hati tapi ntah kenapa Azril ingin bersikap romantis seperti ini
***