
"Halo Assalamualaikum mas" Rara mengangkat telpon yang masuk di hpnya
"Waalaikumsalam, lagi apa ra?" tanya Azril di seberang sana
"Lagi ngasih makan si buntel, mas lagi ngapain? udah makan belum?" tanya Rara karena memang saat ini adalah jam untuk makan siang
"Alhamdulillah sudah tadi ra, mas jadi kangen masakan kamu" ujar Azril
"Aku juga kangen kamu yang ngabisin masakan aku" balas Rara
"Hehehe, kamu sendiri udah makan belum, tadi makannya banyak kan? jangan cuma makan satu porsi aja, ada dua bayi di sana"
"Iya iya mas, Rara tau, tadi udah makan kok"
"Gimana kabar bayi-bayi kita, mereka masih sering nendang kamu gak?" tanya Azril
"Mereka baik, kan kemarin habis periksa ke dokter, mas dua hari lagi bakal pulang kan, udah hampir dua minggu lo di sana?" tanya Rara dengan penuh harap mendengar jawaban iya
"Maaf sayang, pekerjaan mas masih belum selesai di sini, besok masih ada rapat kerjasama dengan......"
"Oh gitu ya udah lanjutkan perjuangan mas" ujar Rara yang memotong pembicaraan Azril
"Kalau udah selesai mas bakal langsung pulang kok ra, sabar ya sayang"
"Heem, pokoknya kalau lahiran mas udah ada di sini, kalau gak nanti aku cari dokter tampan aja buat ngadzanin bayi kita" ancam Rara
"Ehhh jangan dong sayang, yang capek-capek buat kan mas, yang berusaha dengan keras kan mas sampai mengeluarkan banyak peluh keringat, kok malah pria lain yang adzanin enak aja, mas usahain bakal cepet menyelesaikan masalah di sini kok ra"
"Emang mas doang yang capek, aku lebih capek kali" gerutu Rara
Azril terkekeh di seberang sana "Ya udah kalau gitu mas tutup dulu telponnya, nanti malam mas sambung lagi, good bye manis ku, Wassalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, mas jelek" balas Rara ketus
"Buntel papah kamu gak jadi pulang besok lusa, kamu jangan kecewa ya" ujar Rara yang mengelus kepala kucing tersebut
"Meow meow"
"Mau ke depan rumah lagi, ya udah sana mainnya jangan lama-lama ya, awas kalau kabur"
"Meow meow" si buntel berjalan pergi meninggalkan Rara, belakang ini Rara sedikit curiga dengan kelakuan si buntel yang sering sekali main ke halaman rumah, atau bahkan sering berjalan di sekitaran kompleks dan menghilang begitu saja, namun dia akan kembali ketika maghrib atau bahkan saat malam hari
Biasanya si buntel lebih menyukai berjalan di dalam rumah, mengganggu Rara ketika Rara sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau bahkan rebahan di sofa yang empuk, dia akan main di halaman rumah jika Rara mengajaknya, namun sekarang berbeda
Rara berjalan mengendap-endap, menyibakkan sedikit korden untuk memata-matai si buntel yang kini telah berada di halaman rumah
"Oh pantas saja, sekarang si buntel udah punya teman to" gumam Rara kala melihat si buntel tengah menemui sosok kucing yang dulu pernah menggoda Rara, kedua kucing itu terlihat akrab, memang sedikit mirip di karena kan bulu mereka yang sama-sama berwarna putih, namun milik si buntel lebih lembut, cerah dan bersih, serta lebih gemuk si buntel ketimbang..... anggap aja si gumpal, nama baru yang Rara sebut untuk kucing milik Iqba
Awalnya Rara tersenyum kala melihat kedua kucing itu seperti tengah berinteraksi dengan akrab "Akhirnya si buntel punya teman main...... ehhhhh" Rara menjerit pelan kala melihat si gumpal mulai menduselkan kepalanya di badan si buntel, makin lama kelakuan mereka makin menjadi jadi, hingga Rara menutup matanya kala aksi 18+ yang mereka lakukan "Apa-apaan mereka berdua itu, melakukan perbuatan yang tidak senonoh di depan rumah" batin Rara kesal
Rara hendak berjalan memergoki mereka namun panggilan dari sang umi menghentikan langkahnya
"Ra buat brownies keju yuk" ajak sang umi yang mendapat anggukan dari Rara
Sebelum mengikuti langkah uminya menuju dapur Rara sempat mengintip kembali jendela tersebut, namun ternyata si buntel dan si gumpel telah pergi menghilang ntah kemana
"Oh jadi ini alasan si buntel sering main ke luar" batin Rara
***
"Darimana kamu?" tanya Rara sinis
"Meow meow" si buntel berjalan mendekat ke arah Rara, ia menduselkan kepalanya tepat di kaki Rara
"Jam segini baru pulang ke rumah, habis darimana hah?" tanya Rara geram
"Kenapa ra kok teriak-teriak?" tanya Ammar kala melihat adik iparnya sedang berbicara pada kucing peliharaannya
"Ini kak si buntel nyeselin banget baru pulang jam segini" gerutu Rara
"Yang penting kan pulang dengan selamat ra"
"Gak bisa gitu dong kak, tetep aja gimana kalau besok dia gak pulang, atau mungkin di ambil orang"
"Ya udah masukin ke kandang aja"
"Eh iya bener kak, masukin kandang" ujar Rara dengan smirk di wajahnya
"Eh ra kakak mau tanya dong ke kamu?"
"Tanya apa kak?"
"Hayooo kak Ammar lagi jatuh cinta ya, sama siapa kak, spil orangnya dong"
"Ssstttttt, jangan keras-keras" Ammar menempelkan jari telunjuk nya di bibirnya sendiri
Rara menengok ke kanan dan kiri "Sama siapa kak?" tanya Rara dengan bisikan
"Sama cewek"
"Ya kali sama cowok, kayak kak Dariel aja"
"Biasanya cewek suka apa?"
"Kakak mau nembak dia?"
"Gak ra, kakak mau lamar dia"
"Ouuuu kakak udah ungkapin niat baik kakak belum?"
"Hehehe belum"
"Sama mahasiswi kakak ya, ya elah kak baru aja dua bulan di terima jadi dosen udah kepincut aja sama cewek"
"Isss bukan mahasiswi kakak, itu lo anaknya pak Mino" Ammar segera membungkam mulutnya karena kelepasan
"Udah kesebut gak usah di tutupin lagi mulutnya" ujar Rara yang terkekeh pelan
"Ya pokoknya itu lah" ujar Ammar menahan malu
"Mmmm mbak Ita ya, kayaknya dia gak suka deh sama kakak" ujar Rara yang mengingat-ingat sosok Ita, sebenarnya ia pernah bertemu beberapa kali dengan gadis yang memiliki profesi bidan itu tiap kali mengikuti acara di pondok, umi pun sudah mengenalkan mereka berdua, namun dilihat dari tingkahnya yang selalu menghindari sosok Ammar membuat Rara merasa curiga atas sikapnya
"Yah ra, kamu mah buat pesimis orang aja?" ujar Ammar lesu
"Hahaha iya deh maaf, kalau gitu langsung coba aja, kita gak akan tau kalau belum di coba"
"Iya juga ra, tapi kakak sedikit gugup" jujur Ammar
"Aku kok ngerasa kalau mbak Ita kayaknya gak mau deket sama aku, kayak menghindar gitu, kenapa ya?"
"Loh ra, belum tidur, hp kamu di kamar dari tadi berbunyi loh" ujar umi kala melewati ruang tamu
"Eh iya umi, kalau gitu Rara pamit dulu, kak Ammar tenang aja nanti aku bantu sebisaku, ok" Rara membentuk tanda ok pada jarinya
"Bantu apa ra?" tanya umi penasaran
"Umi bentar lagi bakal kedatangan mantu baru, siap-siap aja umi" Rara langsung melongos pergi memasuki kamarnya
"Benarkah itu mar?" tanya umi sumringah
"Ehhh doain aja umi, kalau gitu Ammar masuk kamar dulu ya" ujar Ammar kikuk, ia juga bergegas pergi memasuki kamar
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya putra sulung ku mau menyempurnakan agamanya"
"Hallo mas" ujar Rara kala melihat wajah letih Azril di layar hpnya, ia menelpon balik Azril
"Waalaikumsalam sayang" ujar Azril sedikit menyindir
"Hehehe lupa Assalamualaikum mas"
"Waalaikumsalam"
"Mas capek banget ya?" tanya Rara prihatin
"Setelah liat wajah kamu mas jadi semangat kembali"
"Mas langsung istirahat aja, Rara matiin ya" Rara tak tega menganggu istirahat suaminya
"Bentar, mas pingin liat wajah kamu sama denger suara kamu, satu menit aja" pinta Azril
Rara hanya terdiam menatap wajah Azril, ia juga merindukan suaminya, Rara merebahkan tubuhnya, ia memiringkan posisi tidurnya dan meletakkan hpnya berhadapan dengan dirinya, di ganjal dengan bantal agar dapat melihat wajah Azril dengan jelas
Perlahan Rara memejamkan matanya, hingga terbang ke alam mimpi bebas, Azril tersenyum kala melihat wajah istrinya yang telah tertidur
"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah" ujar Azril sebelum ia memutuskan panggilannya
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Comment titik doang juga gak pa pa 🙃