
Semenjak kejadian di kebun binatang itu Rara tidak mau bertemu dengan Azril, setiap pagi sebelum berangkat kerja serta setiap sore saat pulang kerja Azril selalu berkunjung ke rumah Rara namun yang di cari tidak mau menampakkan dirinya
Bahkan Azril selalu mengetuk pintu kamar Rara agar ia mau menemuinya barang bertatapan sebentar saja, namun pintu tersebut selalu tertutup rapat dan tak terbuka sedikit pun
Azril tak menyerah ia selalu mengunjungi rumah mertuanya hingga membuat kedua kakaknya jengah
"Nobi ini sudah hari ke 25 kamu mengunjungi rumah ini dan sudah ke 25 pula kamu di tolak mentah-mentah"
"Apa kamu gak bosan?" ujar Dariel kesal, setiap hari hanya pemandangan tubuh Azril yang berada di ruang tamu, atau di depan kamar Rara, tapi tentu saja itu berlangsung sekitar satu jam an karena ia juga harus berangkat kerja
"Gak bang, gak bakal bosan sampai di akhirat pun saya gak bosan" ujar Azril yang tengah duduk menyender di depan pintu Rara
"Ck" Dariel berdecak
"Hargailah keputusan Rara" ujar Dariel yang langsung menuruni anak tangga
"Apapun itu bakal aku hargai asal jangan berpisah" teriak Azril agar kakak iparnya mampu mendengar ucapannya
"Lima menit lagi" gumam Azril menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya
Rara mengintip pintu ketika di rasa sudah aman ia baru keluar dan melakukan aktifitas nya seperti biasa
"Gak kasian sama suami kamu?" tanya mama kala melihat putrinya sudah menuju ruang makan
"Kasian" Rara meminum susu coklat yang ada di hadapannya
"Terus kenapa kamu mengabaikan dia?"
"Terus aku harus gimana ma?"
"Turunkan sedikit ego mu, beri dia kesempatan, Allah saja Maha Pemaaf"
"Sayangnya aku hanya makhluk ciptaan-Nya yang tak mudah untuk memaafkan, ma aku gak mau munafik, hati ku berkata bahwa dia kesakitan"
Mamanya menghela nafas berat "Apa kamu tidak mencintainya?"
"Menurut mama apa jatuh cinta itu mudah, aku baru mengenalnya dan dia memberikan kesan yang buruk bagiku, tak banyak berinteraksi dengannya hingga aku kehilangan ingatan, di saat itulah ia baru menunjukkan segala perhatiannya padaku, apa mama pikir itu sebuah cinta?"
"Tidak ma, itu hanya sebuah rasa bersalah" Rara menjawab soal yang ia lontarkan sendiri
"Tapi sekarang mama bisa melihat di matanya bahwa dia mencintai mu dengan tulus, mungkin memang di awali dengan rasa bersalah hingga menumbuhkan sebuah rasa cinta"
"Tapi maaf ma aku tak mudah untuk jatuh cinta, sebaik apapun orang itu" Rara melangkah pergi dengan membawa selembar roti tawar
"Biarkan saja ma, baru kali ini Alfred mendengar Rara mengakui keadaan hatinya" ujar Alfred yang sedang menikmati sarapannya, sedari tadi ia hanya menyimak dua wanita yang berharga dalam hidupnya
"Iya kamu juga sama saja keras kepalanya, semua anak mama mendapatkan keturunan dari papanya" dengus mama sebal
"Itu karena aku yang selalu berusaha lebih keras di kamar" ujar papa yang baru datang
"Pa" teriak mama malu karena di sana masih ada Alfred yang duduk manis mengelap tisu di mulutnya
"Abaikan aku, aku masih polos kok" Alfred langsung meninggalkan meja makan
***
"Kak please izinin aku keluar" ujar Rara yang memohon pada Alfred
"Gak boleh ra, kondisi kamu belum stabil"
"Kak aku dah sehat walafiat, please" Rara mengatupkan tangannya di depan dada
"Mau kemana kakak antar"
"Kakak harus kerja, itu kak Lan sudah menunggu di mobil"
"Terakhir kamu menerobos hujan, kakak gak izinin"
"Astaghfirullah kak, jangan gitu, sekarang cuaca cerah, lagi pula kemarin hanya hujan biasa tidak ada guntur atau petir"
"Gak" ujar Alfred yang sedang mengenakan sepatu kerja
"Kali ini aja"
"Janji" Alfred memicingkan matanya
"Iya" Rara menganggukkan kepalanya setuju
"Ini" Alfred menyerahkan satu kunci mobil pada Rara
"Cepetan sana keburu ketahuan papa"
Rara mengambil tasnya dan segera keluar dari rumah, buru-buru ia membuka pintu mobil, perlahan tapi pasti mobil itu berhasil keluar dari pekarangan rumahnya
Mobil Rara memasuki wilayah kampus tempat ia belajar dulu, namun kini mimpinya harus ia kubur dalam-dalam, sekuat-kuatnya kamu berusaha jika Allah tidak berkehendak maka itu mustahil bagimu
Tujuan nya ke sini hanya satu mengurus pengunduran dirinya sebagai mahasiswi kedokteran
Setelah selesai Rara keluar dari ruangan ia berjalan dengan gontai
Rara hanya tersenyum mengangguk
"Udah selesai ngambil cutinya?"
"Udah pensiun malah"
"Hah pensiun emang kamu kerja di sini apa?"
"Seorang mahasiswa juga termasuk pekerjaan"
"Hahahaha ada-ada aja kamu, see you on the class" ujarnya yang mulai melangkah pergi, ia menganggap ucapan Rara hanya sebuah candaan
"In" teriak Rara membenarkan
Rara melanjutkan perjalanannya sembari menunduk lesu, hanya lantai yang menjadi pemandangan nya saat ini, hatinya belum mantap kala melihat banyak orang yang tengah mengenakan jas putihnya sebagai kebanggaan mahasiswa kedokteran
Langkahnya terhenti kala menatap sepasang sepatu di hadapannya, ia mendongakkan kepalanya
"Ehhhh........."
"Mantan" gumam Rara yang semakin lesu
Faiz terkejut mendengar sebutan mantan dari mulut Rara namun kemudian seulas senyum ia berikan "Akhirnya ingatan kamu sudah pulih"
Rara hanya mengangguk pelan, ia bingung bagaimana bersikap dengan mantan
"Udah mulai masuk kuliah lagi?" tanya Faiz
Rara menggelengkan kepalanya
"Ngambil cuti lagi ya?" tebak Faiz
Rara tetap menggelengkan kepalanya
"Terus?"
"Kak, aku minta maaf" ujar Rara sembari menundukkan kepalanya
"Tak apa ini bukan salahmu, waktu itu aku hanya kecewa karena tak mengetahui alasan detail nya kamu memutuskan aku"
"Padahal tinggal sedikit lagi aku mau melamar mu tapi...." Faiz menghela nafas
"Kamu bukan takdir ku" lanjutnya
"Kalau aku berpisah dengannya apa kamu mau menerima ku kembali?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Rara
Faiz terkejut "Maksud kamu, apa yang kamu katakan ra?"
"Ah tidak, maaf aku sedang kacau" ujar Rara yang langsung melangkah hendak pergi namun Faiz memegang tangannya mencegah kepergian Rara
"Apa dia menyakitimu?" tanya Faiz
Rara memijat pelipisnya pelan, sadar apa yang ia ucapkan tadi itu adalah salah "Tidak kak, lupakan apa yang aku katakan, aku hanya banyak pikiran"
"Gak ra kamu bohong, apa yang dia lakukan padamu ra?"
"Sayang......" teriak seorang wanita dari jauh yang menghampiri mereka berdua
Faiz buru-buru melepas pergelangan tangan Rara
"Kamu lagi ngapain yang?" tanya wanita berambut panjang yang mendekat ke arah mereka
Rara menatap ke arah wanita tersebut kemudian ia beralih menatap Faiz, sadar akan situasi ia menundukkan kepalanya
"Aku....." Faiz melirik ke arah Rara yang menundukkan kepalanya, wanita manis miliknya dulu kini telah mengenakan hijab
"Maaf mengganggu waktu kalian" ujar Rara, ia membalikkan badan melangkah pergi
"Ra......" Faiz memanggil Rara pelan, ia hendak mengejar wanita tersebut namun ia urungkan karena kini dia sudah memiliki kekasih
Rara memasuki mobilnya, satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya dulu kini telah memiliki kekasih lain, ini bukan salah Faiz melainkan kesalahan nya, ia merututi dirinya sendiri karena mengatakan sesuatu yang tak sepantasnya kepada Faiz, apalagi ketika ia mengetahui bahwa Faiz sudah memiliki kekasih lain
"Kenapa sesakit ini, satu persatu yang dulu aku miliki sekarang semua hilang........ hiks hiks hiks"
"Astaghfirullah" Rara mengusap wajahnya kasar
"Aku masih punya keluarga lengkap kok"
"Soal kuliah gampang cari impian baru aja, mau ngambil apa ya......"
"Pendidikan sabi kali"
"Pendidikan Bahasa Arab aja biar nanti kalau ngomong di Aamiinin semua orang"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗