
Tiga hari kemudian
"Lagi apa?" tanya Azril kala melihat istrinya sibuk memainkan ponselnya
"Apa" ujar Rara sinis, selama tiga hari ini Azril diam membisu bagaikan patung yang dapat bergerak namun tak dapat berbicara hanya kepadanya
"Udah gak marah?" tanya Rara sinis
"Iya udah gak, udah tiga hari soalnya, batasnya maksimal tiga hari"
"Nyebelin banget sih kamu"
"Kamu nyeselin"
"Kamu yang diemin aku tiga hari berturut-turut" ujar Rara dengan nada tinggi
"Emang aku salah apa?" tanyanya polos
"Duet sama mantan" ujar Azril santai, meskipun hatinya masih dongkol tapi ini adalah batas waktu dalam marahan
"Hah" Rara melongo mendengar ucapan Azril
"Cuma gara-gara itu"
"Cuma?"
"Iya cuma kan"
"Bagiku gak CUMA" ujar Azril dengan tatapan tajamnya
"Iya iya besok besok gak lagi"
"Masih ada kata BESOK" Azril semakin menajamkan matanya
"Aduhhh gak kok gak, kamu lagi PMS ya mas galak bener"
"Ayo buruan siap-siap kita ke dokter kandungan sekarang, jangan harap kamu bisa balikan sama mantan kamu" ujar Azril yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi
"Hah"
"Heem"
"Au ah"
***
"Ngapain kamu naik ke atas kasur?" tanya Rara kala Azril merangkak ke atas kasur
"Tidur" jawab Azril polos
"Selama tiga hari ini kamu dengan suka rela tidur di lantai, sana lanjutkan perjuanganmu tidur di lantai"
"Ehhh itu kan karena masih marahan ra" ujar Azril memelas
"Ra...." perlahan Azril mendekat ke arah Rara, ia memeluk erat pinggang Rara
"Kangen" gumamnya
"Mas jangan bikin merinding coba, selama ini aku di rumah gak kemana-mana, tiap hari juga ketemu"
"Iya tetep aja kangen, gak enak juga ya diam-diaman itu"
"Lah kamu yang mulai duluan mas"
"Kamu yang mancing"
"Mana ada...."
Cup
"Ra ayo kita adu bibir lagi, biar bisa ngikutin seperti orang-orang pada umumnya"
"Gak mau nanti jadinya kacau kayak kemarin"
"Makanya nyoba lagi, ini mas udah deg deg an lo"
"Apaan sih mas bikin malu aja" Rara memalingkan wajahnya dari hadapan Azril
"Kita coba pelan-pelan ya, ikuti naluri"
"Mas kamu tuh gak punya naluri jadi jangan coba-coba"
"Punya ayo kita buktikan sekarang" ia mulai mengadu bibirnya dengan bibir istrinya, sedikit lebih baik tapi sayang istrinya tak mau di ajak kerja sama
"Mas cukup ini...... mmmmm"
"Belajar itu nya lain kali lagi ya ra, ada hal yang lebih mendesak" bisik Azril
"Mas pelan-pelan kok, kata dokternya tadi gak pa pa sekali-kali, mas pengen jenguk bayi kita" bisikan Azril semakin menjadi-jadi
"Jenguk apaan janinnya belum kebentuk sempurna" pekik Rara
"Tapi dia udah kangen sama abinya" tangan Azril sudah beraksi sedari tadi
"Gak ada abi di sini, abi lagi di kamarnya sama umi"
"Aaaaaa bajuku"
"Sssstttttttt sayang jangan berisik, di sini gak kedap suara" Azril segera menarik selimut
***
"Mas bangun, mas bangun" Rara mengguncang pundak Azril, memaksa pria tersebut untuk membuka matanya
Azril mengerjapkan matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Rara
"Eeemmmm"
"Kenapa kamu mau lagi?"
"Hah lagi, aku belum minta apa-apa kok" ujar Rara bingung
Azril mendudukkan dirinya dan menyender di headboard
"Bikinin mie instan sama telor ceplok" pinta Rara
"Oh kamu laper ya, jangan makan mie instan ra gak baik, makan nasi aja ya, masih ada nasi di dapur kok lauknya juga masih"
"Gak mau, maunya mie instan"
"Tapi kita gak punya mie instan ra, besok aja ya, ini udah malam, tuh udah jam dua belas malam"
"Maunya sekarang" paksa Rara
"Ya ya mas ke supermarket yang pintunya selalu terbuka dulu ya" ujar Azril, ia memasuki kamar mandi untuk mencuci wajahnya
"Supermarket 24 jam kali" teriak Rara agar Azril dapat mendengar teriakannya di kamar mandi, Azril yang mendengar teriakan Rara terkekeh pelan, mungkin otaknya sedikit tertular oleh istrinya sendiri
Satu setengah jam kemudian
"Tara ini dia mie instan nya udah jadi" ujar Azril sembari membawa nampan di tangannya
Rara tersenyum menyambut kedatangan mie nya namun ......
"Mas apa ini" pekik Rata terkejut
"Mie instan sayang, sama telor ceplok di atasnya"
Rara meneguk ludahnya dengan susah payah
"Mas kenapa ini mienya bleyek gini, mana bentuk asli mienya? kenapa dia berubah wujud? mana telor ceplok nya kayak habis kecelakaan gini lagi bentuknya"
"Gak tau ya ra, padahal udah ngikutin instruksi di bungkusannya"
"Kalo telurnya tadi pas mas balik malah jadi ancur, kuningnya gelinding ke pinggir"
"Ini kelamaan ngerebus mienya"
"Eh masak sih tadi mas cuma lebihin sepuluh menit dari instruksi di bungkusnya, biar lebih matang maksudnya, biar empuk"
"Emang daging apa" batin Rara meringis
"Ini apinya kecil apa besar?"
"Paling besar lah ra, biar cepet matang" Rara sudah tidak mampu berkata-kata lagi, nampaknya suaminya ini sudah tidak bisa di selamatkan lagi
"Ayo buruan di makan ke buru dingin"
Melihat Rara tak bereaksi apapun ia mengambil inisiatif sendiri, mengambil alih sendok dari tangan Rara dan
"Aaaaaa......"
"Telen ra telen, masih bisa diterima kok makanannya" batin Rara yang menguatkan dirinya sendiri
Dari kemarin kemarin pingin nyuruh orang ganteng buat bikin mie instan, mau nyuruh abi gak mungkin udah gak terlalu ganteng, mau nyuruh kak Ammar nanti di su'udzonin, mau nyuruh Azril tapi gengsi masih marahan, eh sekalinya ada peluang malah berakhir tragis
"Ehh jangan tidur dulu, kamu kan habis makan" cegah Azril kala melihat istrinya hendak merebahkan tubuhnya
"Aku mau tiduran"
"Sini senderan di bahu nya mas aja" ujar Azril, perlahan ia menuntut kepala Rara agar bersender di bahunya
"Cari kesempatan dalam kesempitan"
"Hehehe tau aja"
Tangan Azril mengelus-elus rambut Rara dengan penuh kasih sayang, aroma wangi sampo masih tercium pekat di hidung Azril
"Rambut kamu baru tumbuh sampai bawah telinga, kamu kilatan makin imut aja" Azril memberikan beberapa kecupan di atas kepala Rara
Rara mendongakkan kepalanya menatap ke arah Azril "Rambut aku tergolong agak lama tumbuhnya"
"Maaf" ujar Azril penuh penyesalan
"Untuk apa?" tanya Rara yang menatap ke depan
"Untuk semuanya"
"Enak ya kalau minta maaf kayak gitu, tinggal kita buat kesalahan aja yang banyak hingga menumpuk, terus di akhir baru bilang maaf, pas di tanya maaf untuk apa, kita jawab maaf untuk semuanya" ujar Rara terkekeh kecil
"Gak gitu ra, waktu ini mas udah minta maaf berkali-kali sama kamu mas ...."
"Aku tahu aku cuma bercanda" potong Rara
"Suara kamu bagus banget" puji Azril yang mengalihkan pembicaraan, ia tahu bahwa tidak semudah itu Rara memaafkan kesalahannya, jelas karena terlalu banyak luka yang ia torehkan pada hati istrinya
"Iya dong, itu hasil dari les vokal, butuh perjuangan tau"
"Kamu les vokal dulu, pantes ada gitar di kamar kamu"
"Iya aku suka main gitar sama nyanyi, dulu suara aku kayak aluminium, tapi sekarang Alhamdulillah sudah berubah jadi emas bentar lagi mau jadi platinum"
"Aamiin habis jadi platinum jadi diamond ya ra"
"Hooh" ujar Rara yang menganggukkan kepalanya dengan antusias
"Suara mas juga bagus" ujar Rara tiba-tiba
"Eehh gak kok ra mas gak terlalu bisa nyanyi"
"Bohong"
Azril menatap wajah datar Rara namun sorot mata Rara lah yang menjadi tanda tanya besar baginya
"Aku lihat sendiri" ujar Rara yang dapat menebak apa yang Azril pikirkan
"Hah kapan? dimana?"
"Dua hari sebelum pernikahan kita, di gedung... gedung apa ya lupa"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗