
Ia tak marah karena suaminya membahas tentang hukum aborsi, justru itu menjadi pelajaran tersendiri baginya, lagipula sang penceramah tadi tak menyebutkan bahwa istrinya sendiri lah yang hendak melakukan aborsi karena alasan tak masuk akal, namun satu yang mengganjal hatinya yaitu obrolan sang suami dengan sang mantan
Hati Rara bergemuruh hebat, ia teringat perkataannya yang terakhir kali bahwa ia memperbolehkan Azizah melakukan apapun untuk menembus dosanya, bagaimana jika saat ini ia menagih itu semua, meminta kembali suaminya, kenapa ia baru muncul saat ini, kenapa di saat Rara sudah merasa nyaman dengan Azril dan merasa sangat bergantung pada Azril ia baru menampakkan dirinya
"Mas aku" Rara mendudukkan dirinya, berusaha menjernihkan pikirannya
"Kamu lihat?" tanya Azril ia ikut mendudukkan dirinya di hadapan Rara
Rara mengangguk pelan
"Kebetulan tadi gak sengaja bertemu, tadi dia ngucapin kata maaf dan terimakasih, dia juga titip salam buat kamu"
Rara menatap wajah Azril yang nampak datar "Apa mbak Azizah meminta mas Azril kembali kepadanya?" batin Rara
"Dia mau pindah ke Jember, calon suaminya asli Jember" Azril melanjutkan ceritanya
"Apa dia tidak memintamu kembali menjadi suaminya?" tanya Rara sedikit lega itu artinya dia tidak akan meminta Azril kembali
Azril menggeleng "Kita akan menatap masa depan kita dengan pasangan masing-masing"
"Kalau gitu apa kamu mau hadir di acara pernikahannya, dan kemudian menyanyikan lagu patah hati di depan semua orang, biar semua orang tahu bahwa cinta kalian tak bisa menyatu"
"Hahahaha, kamu bicara apa sih ra, ya gak mungkin lah, masak mas nyanyi kayak gituan ya merusak suasana pernikahan itu namanya"
"Tapi yang lagi viral tuh seperti itu mereka...."
Azril menempelkan jari telunjuknya tepat di mulut Rara agar wanita itu berhenti mengoceh yang tidak-tidak
"Kita di undang ra tapi acaranya di Jember jadi mas minta maaf sama dia kita gak bisa terbang ke Jember karena perut kamu yang sudah sebesar ini" tangan Azril mengelus perut Rara
Rara mengangguk paham, ia menepis pikiran yang tidak-tidak dan mencoba percaya atas apa yang diucapkan suaminya
"Ra ada sesuatu yang ingin mas sampaikan" ujar Azril serius
"Apa itu?" tanya Rara waswas
"Mas mau ke Surabaya"
"Berapa lama?" ia bernafas lega kala sesuatu itu bukan hal yang aneh aneh, pasti ini karena kemarin Azril bercerita tentang restoran yang berada di Surabaya diambang kebangkrutan
"Paling cepat sekitar dua minggu, tapi kalau belum selesai bisa lebih lama dari itu"
"Paling lama berapa minggu?"
"Ntahlah mas juga tidak tahu, tapi sebelum itu mas mau bawa kamu ke suatu tempat"
"Kemana? apa ini semacam sebuah perpisahan?"
"Hehehehe, ya gak lah ra, aku kan ke sana cuma buat ngurusin pekerjaan, aku berharap masih ada kesempatan agar restoran di sana bisa bangkit kembali" Azril terkekeh melihat ekspresi wajah Rara
"Kenapa gak di danai dari restoran kamu yang ada di sini, toh di sini restoran kamu berkembang pesat"
Azril tersenyum "Gak semudah itu sayang, justru sebaliknya malah dapat mempengaruhi restoran yang ada di sini, sebelum itu terjadi maka harus mengambil tindakan"
"Mmmm, bawa aku" pinta Rara yang merentangkan kedua tangannya
"Kamu lagi hamil besar, ini udah hampir delapan bulan mas gak mau kamu kenapa-kenapa sewaktu dalam perjalanan"
"Kalau gitu nanti pas lahiran mas udah harus di sini, nemenin aku" pinta Rara
Azril tersenyum "Insya Allah ra, ya udah ayo siap siap kita pulang ke rumah"
Rara mengangguk ia memakai hijabnya kembali dan merapikan riasan wajah sekedarnya
***
"Mas mau bawa aku kemana?" tanya Rara yang tengah duduk di samping kemudi, sehabis sarapan Azril mengajak Rara pergi
"Nanti kamu juga tahu ra" ujar Azril yang fokus dengan kemudinya
Mobil memasuki sebuah pagar, ia memarkirkan mobilnya di halaman gedung yang nampak sederhana
Rara dan Azril turun dari mobil
"Ini panti asuhan?" tanya Rara yang membaca papan besar di sana
"Iya" jawab Azril
Azril tersenyum memandang Rara dari samping "Kamu tahu ra, ini alasan kenapa restoran mas bisa berkembang pesat"
"Hah" Rara menatap ke arah Azril yang sedari tadi memandangi dirinya
"Maksudnya?"
"Dulu mas tidak pernah berpikir untuk berbisnis, waktu zaman MA dulu mas pernah menolong sepasang suami istri"
"Mereka kehilangan tempat dagangannya akibat penggusuran, mereka juga sudah tidak memiliki modal lagi untuk memulai dagangannya kembali, namun mereka masih membutuhkan biaya hidup anak-anaknya yang masih sekolah"
"Allah mempertemukan mas dengan mereka berdua, hingga akhirnya mas menyerahkan semua tabungan milik mas untuk modal usaha mereka"
"Dulu setiap ada waktu luang atau tidak ada kegiatan di pondok mas pergi ke sana untuk bantu bantu, meski hanya sekedar mencuci piring atau menjadi pelayan"
"Kau tahu ra, awalnya mas tak berniat mengambil keuntungan dari mereka namun siapa sangka hasil kerja keras mereka dari rumah makan yang sekedarnya menjadi semakin besar dan ramai"
"Mereka berkata ini semua berkat mas, akhirnya mas juga menerima uang penghasilan dari rumah makan tersebut, dan dari situlah kerja sama mulai terjalin"
"Bahkan saat masuk kuliah mas mengambil jurusan ekonomi bisnis agar dapat mengembangkan restoran tersebut meski mas tidak memiliki kemampuan memasak"
"Berkembangnya rumah makan cukup pesat hingga kita mampu mempekerjakan banyak orang dan membangun restoran cabang di beberapa daerah"
"Dari dulu setiap mas dapat penghasil tiap bulan selalu mas sisihkan untuk menjadi donatur di beberapa panti asuhan, donatur di pondok kakek atau sekedar memberi pada orang yang membutuhkan hingga saat ini"
"Jadi ketika kamu bertanya kenapa mas bisa memiliki restoran padahal mas tidak memiliki bakat memasak jawabannya hanya satu itu semua karena Allah"
"Berinvestasi lah dengan Allah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang besar"
Rara terharu mendengar cerita suaminya, sungguh orang yang begitu bijak "Mas aku...."
"Pingin duduk" ujar Rara
"Eh maaf ra, mas kebanyakan cerita ya, ya udah ayo masuk mobil lagi mas bawa kamu ke suatu tempat lagi"
"Mas gak mampir dulu ke dalam, pasti pengurusnya mengenal mas kan"
"Gak usah ra, paling jam segini mereka pada sibuk anak anak juga pada belajar"
Akhirnya Rara menurut, mobil berjalan kembali hingga memasuki sebuah pagar yang besar
"Ini panti asuhan lagi" ujar Rara yang turun dari mobil, sudah dapat terbaca dari papan besar "Panti Asuhan Athfalul Jannah"
Bangunannya nampak baru, terdapat beberapa gedung di sana, lumayan besar dan luas namun nampak sederhana dan asri
"Iya bedanya pemilik panti ini suami kamu" ujar Azril, ini adalah panti asuhan yang di bangun atas dasar janjinya pada Lila
"Hah kapan bangunnya?" tanya Rara
"Mmmm awal pembangunan sekitar seminggu setelah kita pulang dari Surabaya waktu ingatan kamu belum pulih"
"Itu mah ingatan aku dah pulih" batin Rara
"Jadi ini alasan mas tetep mempertahankan restoran yang di Surabaya itu?"
Azril mengangguk "Restoran yang di Surabaya itu penghasilannya juga di sisihkan untuk pesantren cabang kakek" ujar Azril
"Aku mau ke sana kangen Zelin sama Shella, kangen ustadz Faisal sama ustadz Nathan juga" ujar Rara yang mengingat masa kelamnya di sana
"Ehhh apa apaan itu, kamu gak boleh kangen sama cowok lain, cukup kangen sama mas aja" ujar Azril tak terima
"Maksud aku tuh kangen sebagai teman sama guru di sana, gak lebih mas"
"Gak pokoknya jangan main ke sana lagi, mas gak mau kamu mengingat masa-masa menyakitkan itu"
Rara mengerucutkan bibirnya "Padahal kamu yang nyakitin"
"Ya mas yang nyakitin makanya mas gak mau lagi"
"Ya ya jangan di tekuk gitu dong wajahnya" Rara bergelayut di lengan Azril agar suaminya mau tersenyum kembali
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Comment titik doang juga gak pa pa 🙃