I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Detik-Detik Sebelum Tsunami



Azril dan Rara pergi menuju kediaman Fera, awalnya papa serta kakaknya hendak ikut namun Rara melarangnya, ia ingin menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri, akhirnya sang papa mengutus supir untuk mengantar mereka karena kondisi Azril yang cukup memprihatinkan


"Ra"


"Ra percaya sama mas"


"Rara sayang"


"Sayang"


"Syafeera"


Azril terus saja memanggil istrinya meski tak ada jawaban dari Rara hingga membuat Rara jengah, pasalnya ia juga tak enak dengan sang supir yang mendengar kicauan suaminya


"Bisa diem gak" gertak Rara, ia melayangkan tatapan tajam ke arah suaminya


"Makanya jawab kalau mas panggil" ujar Azril


"Diem, kompres tuh muka dengan benar" bisik Rara sembari menggerakkan giginya


"Alangkah enaknya kalau kamu bantuin mas" ujar Azril lirih


Rara tak menanggapi ucapan Azril, sebenarnya prihatin juga dengan wajah Azril yang babak belur tapi egonya lebih tinggi


"Ssstttssss" sesekali Azril menahan suara ringisannya, Rara yang terkadang melirik ke Azril ikut meringis dalam hati


"Untung bukan wajahku" batin Rara penuh syukur


Mobil berhenti di sebuah rumah bertingkat, itu adalah apartemen, Fera memang sudah biasa tinggal di apartemen katanya agar mempermudah pekerjaannya, yah meski sesekali ia akan pulang ke rumah orang tuanya


"Ini apartemennya dia kamu yang bayar?" tanya Rara begitu turun dari mobil


"Astaghfirullah sayang kok kamu soudzon gitu, mas gak punya tanggung jawab untuk menghidupi dia, mas cuma punya tanggung jawab menghidupi kamu serta anak-anak kita" terang Azril


Mereka menaiki lift menuju lantai 25 tempat di mana Fera berada


Azril menekan bel pintu apartemen yang ditempati Fera berulang kali hingga sang pemilik membukakan pintu


"Mas Azril" ujar Fera terkejut, apalagi melihat wajah Azril yang penuh lembam, untuk apa Azril mencarinya, bahkan ini pertama kali Azril mencarinya di apartemennya


"Ada apa dengan wajah mas?" tanya Fera khawatir


"Kena hantam, lembek banget kan" ujar Rara yang muncul dari balik tubuh Azril, wajahnya terlihat datar penuh arti


Azril hanya diam saja, ia nampak pasrah dengan tingkah Rara


"Bisa saya masuk ke dalam" pinta Rara karena sedari tadi Fera hanya menatapnya dari atas hingga bawah, kemudian dari bawah hingga atas


"Oh ya silahkan masuk mas" ujar Fera yang memundurkan tubuhnya agar mereka bisa masuk dengan leluasa


"Woy yang minta masuk siapa yang dipersilahkan siapa" gerutu Rara geram dalam hati


"Mari silahkan duduk, sebentar ya saya ambilkan minum dulu" ujar Fera yang bergegas pergi ke dapur


Azril duduk bersebelahan dengan Rara, ia memperhatikan gerak-gerik istrinya tanpa henti


Beberapa saat kemudian Fera datang dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat dua gelas air serta baskom "Ini silahkan diminum" ujarnya yang menaruh gelas-gelas tersebut di hadapan para tamu


"Mmmm ini mas air kompres untuk mengobati wajah mas" ujar Fera yang meletakkan baskom dekat minuman Azril


"Gak usah repot-repot, sepanjang perjalanan sudah saya kompresin pakek batu" ujar Rara yang menatap lekat pada Fera


"Hah" Azril hanya melongo mendengar ucapan Rara


"Maaf mbak jika luka lembam seperti ini harus di kompres pakek........"


"Stuuuuttttttt" Rara menghentikan ucapan Fera


"Sayang" bisik Azril, ia menegur istrinya agar tidak memotong pembicaraan orang lain


"Saya orangnya gak suka bertele-tele, langsung to the point saja, saya ingin menanyakan sesuatu tentang HUBUNGAN KALIAN" ujar Rara, ia menatap Azril serta Fera secara bergantian


"Punya hubungan apa kamu sama suami saya?" tanya Rara


"Saya hanya sekertarisnya mbak" ujar Fera jujur


"Apa semalam kamu menelpon mas Azril melalui hp uminya?"


Wanita itu menatap ke arah Rara, kemudian ia menganggukkan kepalanya


"Lantas apa maksud dari kata BISAKAH KITA SEPERTI DULU LAGI?"


"Itu....." Fera melirik ke arah Azril, ia bingung hendak menjelaskan dari mana


"Itu apa?" tanya Rara mengintimidasi


Fera hanya terdiam


Rara yang jengah melihat Fera diam membisu akhirnya beralih menatap suaminya


Azril diam sejenak hingga akhirnya "Kamu..... kamu pingsan ra" ujar Azril pelan sembari menunduk


Flash back


Sehabis ia dari kamar mandi ia segera menuruni anak tangga, ia hendak menghampiri Rara yang tengah menonton tv di ruang tamu


Baru saja ia menuruni anak tangga ia melihat istrinya seperti sedang menelpon seseorang namun ia tak berbicara apapun, hanya menjadi pendengar yang setia


Pranggg


Azril terkejut kala hp yang Rara pegang terjatuh begitu saja, beberapa detik kemudian tubuh Rara terjatuh di atas sofa hingga membuat Azril panik


"Sayang kamu kenapa? Ra bangun" ia menepuk pipi Rara beberapa kali namun Rara tak kunjung membuka matanya


Tanpa sengaja Azril menginjak hp uminya yang tergeletak di bawah


Panggilan masih tersambung, ia tahu ini nomor Baheer


"Hallo hallo Baheer?"


"Mas"


Bukan suara Baheer yang ia dapati melainkan suara Fera


"Fera?" Azril mengerutkan keningnya


"Apa yang terjadi?" tanya Fera yang bingung kala mendengar suara Azril yang berusaha membangunkan istrinya


"Apa saja yang kamu bicarakan?"


"Aku"


"Jawab, apa saja yang kamu bicarakan hingga membuat istriku pingsan" bentak Azril


"Maaf aku tak tahu bahwa yang mengangkat telpon istri mu mas" ujar Fera, suaranya terdengar parau, ia berusaha menahan air matanya


"Kata apa yang terakhir kamu ucapkan?" tanya Azril dingin, ia serasa sedang memerintah karyawannya, meski memang benar Fera termasuk karyawannya


"Aku......" Fera ragu


"Cepat katakan!"


"Aku mengira itu kamu, makanya aku bertanya bisakah kita seperti dulu lagi"


Azril tersenyum sinis, ia menatap wajah Rara yang pingsan dalam keadaan pucat, perlahan ia mengusap pipi Rara yang nampak basah karena air matanya


"Bukankah saya sudah pernah bilang itu gak akan mungkin, semenjak kamu mengutarakan perasaanmu pada saya dan semenjak saya tahu perasaanmu pada saya maka semenjak itu pula saya mengubah cara pandang saya dalam bersikap dan berinteraksi denganmu"


"Aku paham, kalau gitu aku tutup dulu, maaf sudah menimbulkan masalah pada rumah tanggamu" ujar Fera, ia langsung memutus panggilan


Azril membopong tubuh Rara ke kamar, ia melonggarkan semua pakaian Rara yang dirasa cukup ketat, kemudian ia memijat kepala Rara dengan minyak, sesekali ia menyodorkan minyak tersebut di dekat hidung Rara serta mengoleskannya di dada


Ia meminta tolong pada abi dan uminya mengantar si buntel serta hendak menukar kembali hp miliknya, tadi pagi Baheer berkata bahwa ia sudah mengirim hp Azril ke rumah orangtuanya


Semalaman ia tak tidur, ia ingin menunggu Rara hingga sadar


Flash back off


"Benarkan, itu bukan mimpi, kejadian di depan tv itu bukan mimpi" batin Rara


"Kenapa kamu bohong mas?" tanya Rara penuh selidik


"Mas gak mau kamu kepikiran ra, kondisi kamu belum pulih" ujar Azril, ia merasa bersalah karena tidak memberitahukan istrinya kejadian yang sebenarnya


"Heh alasan"


"Jawab pertanyaan saya, apa maksud dari BISAKAH KITA SEPERTI DULU LAGI?" tanya Rara lagi, ia takkan puas sampai mendapatkan jawaban


"Dulu saya menyukai mas Azril, namun ketika saya mengutarakannya mas Azril menolak saya, dan semenjak itu sikap mas Azril berubah, ia semakin menjauhi saya" ujar Fera ia menundukkan kepalanya


"Saya hanya tidak ingin dianggap memberikan harapan pada kamu, jadi ini yang terbaik" timpal Azril


"Aku hanya meminta sikap mas Azril seperti dulu, benar-benar menganggap aku sebagai teman, saling memberi masukan satu sama lain atau sekedar bercerita" ujar Fera penuh harap, andai ia tidak memberitahukan perasaannya mungkin kini ia dan Azril masih dapat berhubungan baik sebagai teman


"Maaf saya gak bisa, lebih baik saya menjaga jarak agar kamu tak semakin terluka" ujar Azril


Kini Rara tahu maksud dari perkataan Fera apa, ia mungkin salah paham tapi tetap saja baginya mereka salah, sampai ia memimpikan sesuatu yang tidak semestinya terjadi


Ia menatap suaminya penuh kecewa, ada sesuatu yang hendak ia ledakan tapi ia tahan dulu


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Sampai jumpa di bab selanjutnya, ilaliqo' 👋