
Azril segera menyembunyikan kertas yang ia pegang di punggungnya agar Rara tidak melihat, dia berjalan ke arah nakas guna mengambil hp miliknya, benar saja dugaannya banyak pesan wa yang masuk namun belum ia buka, jarinya menyentuh layar pesan yang bertuliskan Alif
"Kado pernikahan buat nte udah sampai kan?"
"Eh lupa salam Assalamualaikum"
"Gimana bagus gak?"
"Aku yakin kamu bakal suka"
"Secara dulu kamu tidak terlalu tertarik kan mempelajari fiqih di bab itu"
"Simpan saja kata terimakasih mu itu"
"Oh ya selamat menikmati waktu berduaan"
"Good luck calon ayah"
Azril melotot membaca pesan dari sahabat karibnya itu, kini ia beralih membuka pesan dengan nama Zidan yang tertera di layar
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Hadiah udah sampai dengan selamat"
"Baru bisa beliin kado pernikahan sekarang, itu masih nyicil lo, ana patungan sama Alif demi nte, maaf ya gak sekaya nte"
"Sengaja ngirimin nya malam-malam biar bisa langsung di pakai"
"Kata abang abang nya ada panduan cara penggunaannya"
"Kalau belum jelas lihat kak google aja, lihat seperlunya jangan berlebihan"
"Gak usah merasa sungkan kita tahu kok kamu seneng banget kan"
"Selamat menikmati"
Azril meneguk saliva nya kala membaca pesan dari kedua sahabat karibnya ini, mungkin sosok Faishal lebih waras ketimbang mereka berdua
Pandangannya beralih ke arah Rara yang sedang asyik mencoba sofa baru tersebut, Azril tahu pasti bahwa gadis itu tidak mengerti maksud terselubung dari kursi yang tengah ia duduki saat ini
Ia menatap sekilas ke arah kertas panduan lagi
Blush
Wajah Azril memerah kala menatap kertas panduan dengan judul kursi tantra, ingin rasanya ia merobek-robek kertas tersebut tapi ini bukanlah waktu yang tepat
"Astaghfirullah" Azril menyembunyikan kertas tersebut di salah satu laci yang paling dalam, menumpuknya dengan segala macam benda agar Rara tidak dapat menemukannya
"Kenapa?" tanya Rara bingung kala Azril yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan aneh
"Sofanya empuk loh, ini bisa buat tidur-tiduran, enak deh rebahan sembari membaca buku di sini" ujar Rara yang kini tengah berbaring di atas kursi tersebut
Azril yang sudah tidak tahan lagi mulai mengambil selimut dari atas kasur kemudian ia menghampiri Rara, bayangan itu mulai memenuhi pikirannya, jantungnya kini berdegup dengan kencang, ah istrinya itu benar-benar bisa membuat dia jatuh cinta berulang kali
Perlahan Azril mengangkat kedua paha Rara dan meletakkannya di atas paha miliknya, kini ia sudah duduk tepat di hadapan Rara dengan posisi kaki Rara yang mengapit tubuh Azril, Rara yang sadar akan posisi ini langsung berusaha bangun dari tidurnya namun dengan sigap Azril mengunci pergerakan tubuh Rara
"Sayang kita ibadah lagi ya" ujar Azril lembut, wangi tubuh Rara membuat ia semakin hilang kendali
"Gak mau minggir" Rara terus saja memberontak tapi tetap saja ia tidak bisa melepaskan diri, bahkan ia hampir jatuh kalau saja Azril tidak menahannya, sudah di pastikan kepalanya akan membentur lantai
"Ra kalau kamu melawan terus kamu bisa jatuh" ujar Azril lembut, Azril mulai menyelimuti tubuh mereka, bisikan doa sudah Azril ucapkan kini dia memulai aksinya, membuat Rara terbuai hingga mengabaikan segala nya termasuk penolakannya tadi
"Panggil mas ra" pinta Azril kala mendengar suara manja yang keluar dari bibir Rara, ntah dorongan apa hingga Rara mau mengikuti permintaan Azril
Setelah aksinya selesai ia memangku Rara, Azril memeluk erat tubuh Rara yang masih tersengal-sengal akibat ulahnya, wajahnya ia sembunyikan di dada Rara
"Boleh nambah?" tanya Azril yang mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik istrinya dengan dahi yang penuh peluh
Tak menghiraukan gelengan istrinya, kini ia mendatangi ladangnya lagi, Rara hanya bisa pasrah ia melingkarkan tangannya di leher sang suami, ntah kenapa tenaganya hilang begitu saja, tubuhnya terasa lemas efek apa ini
"Kalau udah berakhir teriakin nama mas ya" pinta Azril sembari tersenyum, ekspresi Rara yang satu ini begitu langkah baginya, dan hanya ia yang boleh menyaksikannya
"Mas Azrilllllllll" teriakan Rara menandakan permainan telah usai, Azril tersenyum puas kala mendengar Rara yang meneriaki namanya, cukup keras tapi tenang saja kamar ini kedap suara jadi orang di luar kamar tak akan mendengar suara dari dalam
Berawal dari ketika Rara menginjak kelas 6 SD, tiba-tiba ia memiliki hobi gemar bernyanyi sembari memainkan gitarnya, suara Rara dulu tak sebagus ini, bagi keluarganya dulu jika Rara sudah mulai mengeluarkan suara nyanyiannya maka petaka itu di mulai, tak jarang mamanya menegur Rara yang selalu berisik di dalam kamar akibat suara serta alat musik yang ia mainkan apalagi ketika malam hari, bukannya tidur malah ngerock, pada akhirnya kamar itu berubah menjadi kamar kedap suara, ya begitulah sejarah kamar Rara yang kedap suara
Beberapa menit kemudian Azril mengangkat tubuh Rara ke dalam kamar mandi, melakukan ritual mandi besar untuk menyucikan diri mereka sebelum menyelam ke alam mimpi dengan perasaan yang berbunga-bunga, tapi kayaknya perasaannya Azril saja yang berbunga-bunga sedangkan Rara ntahlah
Pukul dua dini hari seperti biasa Azril terbangun untuk melakukan shalat malam, sebelum itu ia menggeret sofa itu ke kamar mandi dan mencucinya, beruntung kamar mandi Rara cukup besar, setelah bersih ia menggeret nya ke balkon agar besok pagi dapat terkena sinar matahari
"Apa di kasih seprei aja ya biar gampang" gumam Azril
"Oh ya hadiahnya tidak buruk juga" Azril terkekeh pelan
Setelah beres dengan sofanya ia berwudhu dan bersimpuh di hadapan Sang Maha Kuasa
***
"Halo Assalamualaikum" Azril mengangkat telponnya yang sedari tadi bergetar
"Waalaikumsalam bang"
"Semua masalah sudah beres bang, tapi masih menunggu sidang" terdengar suara Baheer dari sebrang sana
"Apa abang mau mengikuti sidangnya?" tanya Baheer
"Tidak aku muak melihat wajahnya"
"Baiklah"
"Ada lagi?"
"Tidak ada bang hanya itu saja"
"Aku tutup wassalamu'alaikum" ujar Azril datar
"Waalaikumsalam"
"Aduhhhhhh aduhhhh sakit" Azril meringis kala rambutnya terasa di tarik oleh seseorang dari belakang
Azril membalikkan tubuhnya, benar saja di belakangnya telah berdiri sosok istrinya dengan wajah memerah
"Kok rambut mas di tarik ra?" tanya Azril polos
"Adduhhhh ra lepasin ya" bukannya menjawab Rara malah menarik rambut Azril lagi, tentu saja rasanya sakit karena tarikannya begitu kuat
"Ra lepasin ya" Azril menggenggam pergelangan tangan Rara yang sedang menarik rambutnya
"Aduhhhh ra" Azril meringis kala sesuatu berharga miliknya mendapatkan tendangan maut dari lutut istrinya, tarikan di rambutnya sudah terlepas tapi dia malah terduduk di lantai akibat ulah lutut istrinya
"Rasain tuh, itu bayaran semalam" ujar Rara sinis
"Loh ra tapi itu kan ibadah sayang" ujar Azril yang masih menahan sakit
"Kamu cuma modus tau cuma modus" teriak Rara
"Ra jangan bagian ini ya, nanti kalau sakit siapa coba yang mau ngunjungin ladang miliki kamu lagi"
"Ladang?" Rara mengerutkan dahinya bingung atas apa yang diucapkan Azril
______________________________________________
Jangan lupa like, comment and vote