
"Ladang?"
Azril terkekeh melihat raut wajah Rara yang kebingungan
"Kalau bingung buka Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 223, di situ tertera aku bisa mendatangi ladang ku kapan saja bahkan dengan cara yang aku sukai" ujar Azril sembari terkekeh pelan
"Ngomong apa sih gaje" gerutu Rara
"Udah deh mending kamu tuh pergi aja dari rumah ini, nyadar kek kamu itu cuma beban, numpang tinggal di rumah orang, makan di rumah orang gak malu apa"
Sehabis mengucapkan kata itu Rara segera keluar dari kamarnya, tanpa sadar Rara berhasil membuat hati Azril terluka
Azril menatap kepergian Rara dengan nanar, tubuhnya masih terduduk di lantai, perkataan Rara memang benar kalau boleh memilih dia ingin membawa Rara pergi dari rumah mertuanya dan tinggal di rumah miliknya sendiri, sebenarnya ia belum mempunyai rumah sendiri tapi uang yang ia miliki sudah lebih banyak dari kata cukup untuk membeli sebuah rumah, kalau tidak mau tinggal berdua lebih baik dia membawa Rara tinggal di rumah kedua orang tuanya daripada mertuanya karena tanggung jawab Rara ada pada dirinya
Azril mengusap wajahnya kasar, dia segera mengambil kunci mobil dan segera pergi ntah kemana, mungkin ini salahnya karena kejadian semalam, Azril terlalu memaksa meminta haknya, sebenarnya bisa saja dia menahan tapi tetap saja dari lubuk hatinya yang paling dalam dia menginginkannya, daripada istrinya berdosa lebih baik di paksa begitu pemikiran Azril
***
Di sisi lain kini Rara tengah mengutak-atik hpnya mencari informasi di google tentang surah Al-Baqarah ayat 223 yang di maksud oleh Azril
Blushh
Wajah Rara memerah ternyata yang dimaksud ladang itu adalah dirinya, tak hanya membaca artinya ia juga membaca tafsirannya
Tiba-tiba ada satu artikel yang membuatnya penasaran, ternyata artikel tersebut berisikan sebuah hadist mengenai suami istri
“Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjang lalu tidak dituruti, hingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat melaknati dirinya sampai Shubuh”
Rara meneguk salivanya dengan susah payah, bagaimana jika ia menerima tetapi tidak ikhlas, gak akan di laknat kan
"Isss kenapa cuma istri aja, bagaimana jika sebaliknya kenapa kok gak ada hukumnya" Rara menaruh hp di sampingnya
"Akkkhhhh kok kesel banget ya kalo inget kejadian itu, malu bangettttttt" Rara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Gak ra ini bukan pertama kalinya bagimu ini udah ketiga kalinya, toh dia juga yang ambil keperawanan aku dulu" Rara terus saja berdebat dengan hatinya
Rara mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan
"Bismillah, demi balas dendam" ujar Rara semangat
"Balas dendam apaan?"
Rara terkejut kala mendengar suara kakak pertamanya
"Apa dia mendengar yang tadi di ucapkan, semoga saja tidak" doa Rara dalam hati
Rara menoleh ke arah belakang dilihatnya kakak pertamanya itu tengah berdiri tak lupa dibelakang nya ada seseorang yang selalu setia kepadanya "Eh kak Alfred, kak Lan" ujar Rara dengan senyum canggung nya
Alfred mengerutkan dahinya "Balas dendam sama siapa?" tanya Alfred lagi
"Tuh sama ikan itu" Rara menunjuk ke arah kolam yang terdapat berbagai macam jenis ikan
"Emang ikannya kenapa?" tanya Alfred yang ikut duduk di samping Rara
"Tadi pas ngasih makan jari aku di gigit" ujar Rara asal
"Mana coba lihat" Alfred segera meraih kedua telapak tangan Rara
"Hehehehe gak sakit kok kak, aku kesel aja di kasih makan malah makan tanganku" ujar Rara sembari menarik kedua tangannya
"Aneh biasanya kamu suka lo kalo mereka ngerumuni tangan atau kaki kamu" ujar Alfred yang mulai mengobok-obok kolam ikan tersebut
"Masak sih kak?"
"Kakak gak berangkat kerja?" tanya Rara
"Ini mau berangkat, kamu jaga diri baik-baik ya, jangan lupa minum obatnya, papa sama mama masih di luar kota jangan bandel" nasehat itu lagi-lagi keluar dari muluk cerewet kakaknya, Rara hanya mengangguk pelan padahal mah masuk telinga kanan keluar telinga kiri
***
"Bosen di rumah sendiri yang lain kok pada belum pulang sih" gumam Rara yang duduk di depan meja makan sendirian padahal ini sudah waktunya makan malam tapi tak ada satupun orang rumah yang pulang
Mama papanya pergi keluar kota, kalau Alfred memang sering lembur jadi dia jarang pulang tepat waktu, sedangkan Dariel ntahlah anak itu selalu berkelana kemana saja yang ia mau
"Eh kok dia belum pulang ya, biasanya sebelum jam enam udah pulang, atau bahkan sebelum ashar pulangnya" batin Rara
"Non apa masakannya tidak enak?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang bertugas menyiapkan makanan
"Eh enak kok bi" ujar Rara yang kembali menyantap makanannya
Selesai makan Rara langsung menyambar kunci mobil yang terletak menggantung di tembok, di bagasi masih terdapat dua mobil sebagai cadangan
"Mau kemana non?" tanya satpam penjaga
"Mau keluar bentar pak, tenang aja udah izin kok sama mama papa" ujar Rara berbohong
"Oh baik non hati-hati ya" pak satpam itu pun membuka gerbang agar mobil Rara bisa keluar
"Kemana ya enaknya hehehe untung keahlian menyetir ku masih ada" wajah Rara terlihat senang, sudah lama ia tidak keluar rumah sendirian
"Ke bar sabi nih" Rara tertawa geli mengingat kelakuan nya dulu, beberapa kali dia pernah ke bar hanya untuk menemani teman-teman nya, sekaligus melihat kemaksiatan secara live
Kemudian ia menepis pikiran, kepalanya menggeleng-geleng pelan "Ya kali ke bar kalau ketahuan sama seisi rumah bisa-bisa habis aku, ingat ra itu haram" gumamnya pelan padahal mobil telah berjalan sesuai arahan menuju bar
Tik tik tik
"Eh kok gerimis" Rara agak terkejut, buru-buru dia memutar balik setirnya, namun matanya menangkap sosok wanita yang tengah berhenti karena di cegat oleh tiga orang pria, Rara memarkirkan mobilnya dan buru-buru turun, jalanan memang sepi jadi agak rawan jika berjalan sendirian atau menyetir sendirian
"Oi oi oi beraninya sama perempuan gak malu apa sama " teriak Rara
"Heh bocah ingusan yang banci gak usah sok sok an deh lu"
"Wah lumayan ada mangsa baru, bawa mobil lagi, waw mobil mewah nih anak kecil gak pantes bawa mobil sini kasih kakak aja"
"Heh" Rara tersenyum sinis kala mereka bertiga berjalan mendekat ke arahnya
"Wah bagus juga nih mobil" ujar salah satu diantara mereka sembari mengelus-elus mobil tersebut
"Akhhhhhhh" Rara langsung menendang tangan pria yang memegang mobilnya, dengan sigap dia juga segera menendang senjata yang dimiliki oleh seluruh kaum pria
"Najis mugholadoh tau gak sih" ujar Rara sinis
"Apa lo lihat-lihat mau juga itu nya di tendang" ujar Rara yang menatap tajam ke arah dua orang pria lainnya
Namun mereka berdua segera menggelengkan kepalanya dan lari terbirit-birit meninggalkan temannya yang terpuruk, mereka bukanlah pria yang berotot dan berbadan besar, mereka bertiga cuma bermodalkan penggertakkan dan cutter saja, beli pisau aja gak modal tampang doang kayak harimau padahal mah hatinya kayak Hello Kitty
"Kamu gak papa?" tanya Rara sembari membantu wanita itu membangunkan motor nya yang tadi tergeletak di tanah
"Makasih kak" ujar wanita itu sembari meringis kesakitan
"Mmm kamu mau nganter pizza?" tanya Rara kala melihat kursi belakang motor terdapat kotak pesan antar dengan gambar pizza
"I-iya kak" ujarnya gugup
"Ya udah naik mobil saya saja, nanti kasih tau alamat nya kemana, oh ya motor nya tinggalin di sini aja ya nanti biar saya suruh orang mengantarkannya" ujar Rara