
"Akkkhhh sakit umi, abi kak Ammar" teriak Rara di dalam kamar, ia memanggil siapapun yang ada di rumah itu berharap ada yang mendengar teriakannya
Rara merasakan perutnya terasa amat sakit nampaknya ada sesuatu yang hendak ingin menerobos keluar
"Umi abi kak Ammar sakit, tolongin Rara" teriakan Rara mulai melemah
"Astaghfirullah ra kamu kenapa?" tanya umi yang memasuki kamar Rara dengan panik, ia buru-buru ke kamar Rara kala mendengar menantunya berteriak
"Abi Rara kesakitan" teriak umi panik, uminya segera membantu Rara mengenakan kerudung
"Kenapa Rara mi?" tanya abi yang baru datang tergopoh-gopoh
"Ini perutnya Rara sakit kayaknya mau lahiran deh"
"Ah masak bukannya kandungannya baru delapan setengah bulan ya" ujar abi
"Ya orang lahiran kan beda beda, banyak juga yang lahir sebelum waktunya" ujar umi kesal
"Umi abi sakit Rara gak kuat" ingin rasanya Rara menangis namun sekuat tenaga ia tahan
"Ammar siapin mobil, Rara mau melahirkan" teriak abi kencang, ia dan istrinya kini berusaha membantu Rara berjalan ke luar rumah
Ammar cepat tanggap, ia dengan sigap mengeluarkan mobil dari garansi
Mobil melaju dengan cepat, Ammar meninggikan kecepatan pada mobilnya
"Mar pelan-pelan dong, jangan menantang maut" tegur sang abi
"In Syaa Allah kita sampai tujuan dengan selamat, tadi aku sudah berdoa sebelum mengendarai mobil ini" ujar Ammar penuh keyakinan
Tak ada persiapan apapun, mereka berangkat dengan terburu-buru, bahkan pakaian ganti untuk Rara pun tak disiapkan, pagi-pagi bumil itu sudah membuat heboh seisi rumah
Sesampainya di rumah sakit Rara segera di bawa ke ruang bersalin, nampaknya ketubannya sudah mau pecah, pintu ruang bersalin tertutup rapat, namun umi ikut masuk ke dalam menemani Rara
Sekitar dua puluh menit mama Rara datang ke rumah sakit seorang diri dikarenakan suaminya sedang berada di luar kota
"Bagaimana keadaannya?" tanya mama Rara panik pada besannya
"Masih berjuang di dalam bersama umi yang mendampinginya" ujar abi
"Apa Azril belum pulang?" tanya mama Rara
Abi menggeleng "Belum, kami semua tidak terpikir bahwa Rara akan melahirkan secepat ini" ujar abi
Mama Rara meminta agar di perbolehkan masuk, beruntung petugas rumah sakit memperbolehkan mama Rara masuk menemani perjuangan putrinya yang mempertaruhkan nyawanya demi kedua buah hatinya
***
Azril mondar mandir di depan pintu ruang operasi, mulutnya terus berdoa demi keselamatan wanita yang berada di dalam
Pintu terbuka menampakkan seorang dokter mengenakan masker serta beberapa rekan lainnya yang keluar dari ruang operasi
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Azril dengan wajah yang panik
"Operasi berjalan dengan lancar, dan pasien telah berhasil melalui masa kritisnya, dia akan segera sadar kalau tubuhnya sudah merasa lebih baik" ujar dokter
"Alhamdulillah, terimakasih dok, apa bisa saya melihatnya?"
"Ya silahkan setelah pasien di pindah ke ruangan lain bapak boleh mengunjunginya"
Azril mengangguk paham, setelah wanita itu di pindahkan ke ruang pasien Azril ikut masuk ke dalam
Baheer memasuki ruangan dan berdiri di samping Azril "Administrasi sudah saya tangani bang, kemudian orang yang tidak sengaja menabraknya juga sudah mengganti sebagian dana di karenakan dia juga memiliki keterbatasan dalam perekonomian"
"Setidaknya dia mau bertanggung jawab" ujar Azril
"Apakah saya harus menghubungi pak Rahmat?" tanya Baheer
"Jangan dulu, nanti pak Rahmat khawatir, biar Fera sampai pulih baru kita perlahan memberi tahukan keadaannya" ujar Azril, ia tak mau membuat pak Rahmat panik karena kejadian yang dialami putri sulungnya
"Biak bang, oh ya bang apa abang mau makan dulu dari tadi pagi abang belum makan?" tanya Baheer
"Ya, tolong sekalian belikan buah-buahan, sama sekotak roti, barangkali Fera menginginkannya"
"Baik bang, kalau gitu saya pamit dulu" ujar Baheer
Ia membeli apa saja yang di perintah Azril, setelah mendapatkan semuanya ia segera kembali ke rumah sakit
Baheer membuka pintu ruangan dimana Fera berada, dilihatnya Fera kini telah sadar dan duduk bersandar di atas ranjang, ia sedang berbincang dengan Azril meski suaranya masih terdengar lemah, namun nampaknya tenaganya perlahan sudah mulai pulih
"Kamu mau makan apa? ini ada buah, roti atau mau makan bubur rumah sakit, kata dokter jangan makan yang berat berat dulu" ujar Azril yang mengeluarkan satu persatu makanan dari kantung keresek dibantu dengan Baheer
"Mau apel aja"
"Oh ya sebentar saya kupasin dulu" ujar Azril yang meraih pisau dan buah apel, ia mulai mengupas buah dengan hati-hati meski tidak ahli
Baheer mulai mengutak-atik hpnya yang tadi sempat tertinggal di dalam mobil barang kali ada sesuatu yang penting mengenai pekerjaan, namun ia mengernyitkan keningnya kala mendapati banyak panggilan yang masuk namun tak terjawab, yang paling banyak menelpon adalah abi Azril serta bang Ammar
"Apa ada sesuatu yang sedang terjadi di sana" gumam Baheer, ia melirik ke arah Azril yang tengah sibuk menyuapi Fera dikarenakan tangan kanan Fera sedang di pasang infus, ntah kenapa bisa kebetulan seperti itu, biasanya tangan kiri yang di infus agar pasien bisa lebih leluasa menggunakan tangan kanannya, namun tak jarang tangan kanan yang di pasang infus karena mungkin ada beberapa kendala atau hal lain
***
Kedua bayi mungil itu kini berada di inkubator untuk mendapat penanganan serta perawatan yang tepat, Rara melahirkan secara prematur kedua bayi mungil itu memiliki berat badan rendah maka dari itu mereka berdua membutuhkan perawatan intensif
Sedangkan Rara setelah melahirkan menjelang beberapa menit kini ia tak sadarkan diri, tubuhnya nampak lemas dengan berbagai alat bantu untuk menunjang pemulihannya
"Gimana udah bisa di hubungi?" tanya umi pada suaminya
"Belum mi, hpnya gak aktif" ujar abi
Umi beralih menatap Ammar " Gimana mar kamu bisa menghubungi adek kamu"
"Umi hpnya aja gak aktif ya gak mungkin bisa di hubungi, mau di ganti hp siapapun itu kalau hp dia gak aktif tetep gak bisa dihubungi" ujar Ammar dengan sabarnya
"Ah kamu tuh gimana sih" gerutu umi
"Baheer juga belum mengangkat telponnya, mungkin di silent kali ya mi" lanjut Ammar
Mama Rara sedari tadi menunggu putrinya di samping ranjang, beberapa kali ia mengusap air matanya kala melihat wajah lemah putrinya, ia jadi teringat dulu kala melahirkan Rara dan kembarannya namun pada akhirnya kembaran Rara tak dapat di selamatkan beberapa menit setelah melahirkan, waktu itu mama Rara begitu frustasi hingga mengalami baby blues yang cukup parah hingga Rara memasuki usia satu tahun
"Kamu harus bertahan ra, ada dua bayi yang menunggu pelukan kamu" ujar mama lirih
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Jangan lupa doain Rara biar cepat sadar, pas lahiran darahnya keluar banyak banget 😣
See you next episode kawan-kawan 🙂