
"Tidurlah ini sudah jam dua belas malam" ujar Azril kala selesai menyuapi istrinya makan
Rara menggelengkan kepalanya "Nanti kamu pergi"
"Mas gak pergi, mas akan tetap berada di sini"
"Kalau gitu mas juga tidur" Rara menepuk-nepuk kasur kosong di sebelahnya
Azril menghela nafas panjang, kemudian ia menuruti permintaan istrinya, merebahkan dirinya di samping Rara
Rara menjulurkan tangannya memeluk Azril dari samping, Azril terdiam mematung mendapatkan pelukan dari Rara
"Ra sejak kapan kamu seagresif ini" ujarnya
"Aku gak agresif aku cuma takut mas tiba-tiba ilang"
Azril terkekeh pelan, ia memiringkan badannya sedikit dan membalas pelukan Rara dengan hati-hati
"Sekarang tidur ya" usapan lembut di atas kepalanya membuat Rara memejamkan matanya hingga akhirnya ia benar-benar tidur terlelap
Malam pukul 3 dini hari lagi-lagi ia terbangun, lantunan suara ayat Al-Qur'an terdengar merdu di telinganya, kali ini bukan halusinasinya ataupun bayangannya melainkan sosok suami nyatanya tengah membaca Al-Qur'an di atas sajadah
Rara mengucek matanya, memastikan apa yang ia lihat adalah kenyataan, benar saja apa yang Rara lihat adalah suami orisinalnya
Rara duduk memandangi wujud suaminya hingga kalimat shadaqallahul adzim terdengar dari mulut Azril
"Loh kok bangun ra, belum shubuh istirahat lagi ya" Azril merapikan sajadah yang ia jumpai di kamar Rara
"Aku kira mas pergi" gumam Rara
Azril tersenyum "Mas gak pergi kemana-mana kok tenang aja" Azril mendudukkan dirinya di samping Rara
"Ayo pulang mas ke rumah kita" pinta Rara
"Mas akan bawa kamu pulang tapi bukan ke rumah kita" ujar Azril tegas
"Terus kemana?"
"Ke rumah abi sama umi"
"Tapi..."
"Mas gak mau di bantah ra"
"Ya udah gak pa pa ke rumah abi sama umi aja" ujar Rara pasrah
"Atau sesekali kita bisa tinggal di sini"
Rara hanya mengangguk setuju, sebenarnya ia ingin tinggal di rumah mereka namun ia tak ingin membantah perkataan Azril
Azril tak akan membiarkan Rara tinggal sendiri kala ia pergi bekerja selama kehamilannya, ia tahu jika tinggal sendiri Rara akan mudah mendapatkan kebebasan seperti kemarin, leluasa membohongi suaminya
Padahal dulu rencananya setiap Azril berangkat kerja akan menitipkan Rara pada umi nya, atau pada mertuanya agar Rara tak bosan serta ada yang menjaganya mengingat kondisi Rara yang belum sembuh akan traumanya, namun Rara menolak ia berkata ingin mandiri dan tak ingin merepotkan orang lain, bisa-bisanya Azril mempercayai begitu saja
"Aku tahu mas belum sepenuhnya memaafkan aku" ujar Rara lirih
Azril terdiam mendengar perkataan Rara, memang benar sejauh ini ia belum bisa memaafkan perbuatan Rara sepenuhnya, meski ia sudah berusaha sekuat tenaga
"Memaafkan memang tak semudah membalikkan telapak tangan, aku mengerti itu, sangat mengerti, apalagi perbuatan ku yang diluar batas hingga hampir membunuh bayi kita"
"Tapi aku akan berusaha agar mas percaya sama aku" nadanya terdengar gentir, rasa bersalah di hatinya juga belum hilang, ia telah mengecewakan banyak orang hanya karena percaya akan kutukan itu
Azril mengangguk "Mas minta maaf pernah mengatakan perkataan yang tak sepantasnya, ra sungguh mas gak bisa kehilangan kamu, jangan buat mas kecewa lagi ya" ujarnya sembari mengelus rambut Rara
"Iya, aku akan nurut sama mas" ujar Rara antusias
"Anak pintar" ujar Azril gemas, ia mengacak sedikit rambut Rara
"Aku bukan anak-anak, anak kita belum lahir, ucapkan kata itu untuk anak kita nanti" ujar Rara yang tak terima dianggap anak-anak, meski sifatnya terlalu kekanak-kanakan dan belum dewasa seperti umurnya tapi tetep saja ia enggan di panggil anak-anak
"Eh iya istri pintar" ralat Azril
"Mas boleh aku minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Tolong rahasiakan ini dari umi sama abi, aku takut" ujar Rara menunduk
Azril tampak berpikir "Baiklah, lagi pula ini masalah rumah tangga kita"
***
Waktu terus bergulir tanpa berhenti sedetikpun, kini Rara dan Azril kembali lagi untuk tinggal di rumah orang tua Azril
Umi mengangkat panggilan dari putranya "Assalamualaikum Azril"
"Waalaikumsalam umi"
"Seperti biasa Rara lagi ngejar kucing yang nongol di halaman rumah, tadi sehabis bantuin umi dia buru buru ke depan halaman" ujar umi yang telah hafal tujuan putranya menelpon ibunya, semenjak kembali tinggal bersama orang tuanya sifat Azril bertambah posesif terhadap istrinya
"Hehehehe umi tau aja" Azril hanya terkekeh pelan
"Kandungannya semakin membesar, udah umi ingatkan jangan sering lari lari tapi Rara tetep ngeyel"
"Iya umi nanti aku ingatkan lagi"
"Oh ya umi tolong suruh Rara selalu bawa hpnya ya"
"Ya ya nanti umi kasih tau"
"Makasih umi, kalau gitu aku tutup telpon dulu ya wassalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Ada ada aja tingkahnya sekarang" umi menggelengkan kepalanya
Mungkin kondisi Rara yang masih belum siap menikah membuat Rara lebih bertingkah kekanakan, berbeda dengan Azril yang sudah matang dan siap untuk menikah, pernikahan bukan hanya sekedar bermodalkan cinta saja melainkan kesiapan materi, mental, psikologi juga sangat penting
"Assalamualaikum umi" ujar Rara yang memasuki dapur dengan sedikit ngos ngosan
"Walaaikumsalam, udah dapet kucingnya?" tanya umi
"Belum mi, Rara haus mau minum dulu, habis itu cari si buntel lagi, kenapa ya dia sering ke sini tapi pas di deketin langsung kabur" Rara menuang air dingin di gelas bening, ia meneguknya hanya dengan beberapa tegukan saja
"Itu kucing punya tetangga ra, beberapa rumah dari sini, kalau suka izin aja sama pemiliknya" ujar umi memberikan saran
"Rumah yang mana mi?" tanya Rara
"Tiga rumah dari sini, itu yang cat tembok nya warna hijau toska"
"Gitu ya mi, kalau gitu Rara ke sana dulu ya"
"Eh tunggu ra" umi menghentikan langkah Rara
"Azril berpesan kamu di suruh bawa hpmu sekarang"
"Iya mi" Rara segera bergegas mengambil hp di kamarnya "Duhhh banyak banget sih maunya"
Setelah membawa hp dia bergegas keluar rumah mencari kucing kesukaannya
"Duhhh ganggu aja sih" gerutu Rara kala mendapati hp nya berbunyi
"Hallo assalamualaikum mas"
"Waalaikumsalam, kamu lagi apa?" tanya Azril
"Aku lagi........."
"Jatuh cinta" ujar Rara kala pandangannya saling bertemu dengan manik mata biru milik kucing gemuk putih yang hendak lewat melalui celah-celah pagar
"A.... apa ra? j...... jatuh cinta? m..... maksud kamu gimana?" tanya Azril terbata-bata, hatinya terasa nyilu, ia merasakan dunianya seakan-akan runtuh begitu saja
"Mas aku matiin dulu ya, aku harus mengejar dia dulu, nanti aku telpon balik" Rara segera mematikan hpnya dan memasukkan ke saku gamis
"Haloo ra... ra... tunggu dulu ra....."
"Astaghfirullah" hampir saja Azril berkata kasar di seberang sana
Rara berdiri di depan pintu pagar rumah yang temboknya berwarna hijau toska, ia berjinjit memegang pagar tersebut, matanya mengintip celingak-celinguk ke halaman rumah berharap sosok buntelan putih itu menampakkan dirinya
"Tadi dia masuk sini, kemana ya sekarang" gumam Rara lirih
"Ekhhhhmmm, maaf dek cari apa ya?" suara seorang pria mengejutkan dirinya, spontan dia memundurkan langkahnya beberapa centimeter dari jarak pagar
"Ehhh maaf mas, a... aku c... cuma mau nangkep, ehh... itu apa liat buntelan eh kucing gemuk putih ya itu"
Pria itu terkekeh mendengar ucapan Rara yang terdengar gugup bahkan tak jelas apa yang ia bicarakan, kini Rara bagaikan maling yang tertangkap basah oleh pemilik rumah
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Comment titik doang juga gak pa pa 🙃