
Sehabis dari rumah sakit kini Rara duduk di depan meja rias, ia memolesi seluruh wajahnya dengan berbagai macam make up, ia juga memodel hijabnya hingga terlihat cantik
"Mau kemana?" tanya Azril kala Rara sudah berdiri dan menenteng tas, ingin rasanya Azril melarang Rara menggunakan make up secantik itu, namun ia sadar diri akan posisinya saat ini
"Ra mau kemana, mas anterin?" ujar Azril sembari memegang pergelangan tangan Rara, mencegah wanita itu keluar dari pintu kamar
"Mau cari suasana baru, jangan ikuti aku, atau kamu aku usir sekarang juga dari sini" ancam Rara tajam, ia menepis tangan Azril dan berlalu pergi
Azril melongo mendengar ancaman Rara, ia mengacak rambutnya "Ya Allah kenapa lagi-lagi aku membuat kesalahan sebesar ini"
Tin tin tin
"Masuk ra" teriak Amel dari dalam mobil
Tanpa sungkan Rara segera memasuki mobil tersebut, seisi rumah mengizinkan Rara pergi karena itu bareng Amel, teman dekat Rara yang tidak neko-neko, ia salah satu teman yang lulus seleksi dan diterima baik oleh keluarga Rara
"Cieee yang habis brojol, kok tubuh nte tetep kurus gini ya, biasanya ibu setelah melahirkan itu agak gemukan tau" decak Amel
"Gimana mau gemuk makan aja kadang gak mood" batin Rara
"Mau kemana nih?" tanya Amel
"Mau shopping, habis itu perawatan ke salon, habis itu makan, habis itu...." Rara nampak berfikir keras, ia hendak merubah suasana menghilangkan kepenatan yang sudah menumpuk sekian lama
"Ck, udah nikah masih aja suka foya foya" decakan suara pria yang kini tengah menyetir membuat Rara membelalakkan matanya
"Ehhhh ada kang Reza" pekik Rara, ia memajukan tubuhnya agar dapt melihat wajah Reza dari dekat "Supir baru ya" lanjut Rara yang membuat Reza mencengkram setirnya kuat-kuat
"Eh siluman kunti, enak aja ngatain gue tukang supir, kalau bukan karena rengekan Amel ogah gue nganterin lu"
"Hahahaha masih sama gak berubah" tawa Rara pecah, ia jadi teringat kembali akan sosok Reza, Reza merupakan kakak kelas Rara ketika SMP berjarak satu tingkat, namun tidak untuk SMA, justru mereka malah sekelas
"Aduh ra, supir keluarga pada sibuk terpaksa mungut dia" ujar Amel santai
"Heh bocil ff, gak ada sopan sopannya ya sama kakak sepupu sendiri"
"Kamu ancam apa dia mel?" selidik Rara
"Biasa, inilah keuntungan satu universitas sama dia, aku ancam aja ke dia kalau gak nurutin kemauan ku bakal aku laporin ke paman dan tante kalau dia suka bolos plus pacarin cewek lebih dari dua"
"Astaghfirullah, kelakuan blangsak kamu gak berubah sampai sekarang" Rara sok sokan mengelus dadanya
"Idih gayanya udah rohanian sekarang, dulu aja gaya roh halus" timpal Reza merinding
"Noh udah sampai sana cepetan, nanti kalau udah selesai telpon aja" ujar Reza, ia menaruh kedua lengannya di belakang kepala
"Kamu nunggu di mobil?" tanya Rara
"Ya gak mungkinlah, lu kate gue patung apa" decak Reza
"Biasa habis ini dia mau jalan sama ceweknya" bisik Amel
"Oalah, hati-hati bakal kepergok sama pacar kamu yang lain" nasehat Rara
"Halah aku mah udah pro, gak bakal ketahuan" ujar Reza yakin
"Udah yuk ra, kita puas puasin melepas penat di sini, aku juga letih karena tugas yang menumpuk"
Rara dan Amel berjalan keliling mall, mereka juga membeli barang-barang kesukaan mereka, Amel juga termasuk orang yang berada namun ia tak terlalu suka mengoleksi berbagai macam aksesoris wanita, hanya membeli seperlunya namun dengan harga yang waw katanya biar awet, ia juga tidak diperbolehkan pacaran, bahkan ia sudah mengenakan hijab dari SMP meski terkadang kelakuannya agak melenceng dari wanita kalem yang orang-orang pikirkan, maka dari itu ia lulus seleksi pertemanan ala keluarga Rara
Namun tentu saja Rara juga berteman dengan manusia blangsak lainnya, namun tidak sering Rara bawa ke rumah, karena kalau ada keluarganya bisa di interogasi mereka
***
Mereka duduk di sebuah cafe dekat mall, tubuh Rara terasa lebih segar sehabis melakukan perawatan, ia tak perlu memikirkan asi untuk si bayi karena tadi ia sudah menyetok bayak asi
"Ra kok bisa kamu mencintai suami kamu?" tanya Amel penasaran, yang ia tahu tidak mudah bagi Rara untuk jatuh cinta
"Aku juga gak tahu" ujar Rara yang menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya
"Kamu mulai luluh sejak kapan?"
"Sejak...... ntahlah mungkin saat aku mulai tinggal di rumah mertuaku"
"Dia terlalu perhatian mel, awalnya risih lama-lama juga aku menikmati perhatiannya, hal kecil aja dia selalu perhatiin, tapi dia juga kadang lebih mementingkan pekerjaannya atau bahkan orang lain, aku juga tidak tahu apa dia suka memberikan perhatian pada wanita lain"
"Aku juga bingung kenapa aku bisa jatuh cinta" Rara menopang dagunya pada telapak tangan
"Kamu menyadarinya saat kapan?"
"Saat kita cekcok, terus dia memilih pergi buat nenangin diri selama seminggu, aku ngerasa kayak hampa gitu, ada yang kurang dan...... mungkin aku sudah bergantung padanya" ujar Rara kesal
"Cekcok kenapa?" tanya Amel
"Biasalah urusan rumah tangga, nanti kamu juga akan merasakannya saat berumah tangga" Rara tak menceritakan permasalahan rumah tangganya, ia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya sebagai bahan obrolan
"Aku juga agak kesel sama diri aku sendiri, bisa-bisanya aku mogok makan hanya karena dia ninggalin aku selama seminggu" decak Rara, mungkin pada waktu itu ada rasa takut kehilangan yang tak dapat di jabarkan
"Hahaha, padahal dulu kak Faiz juga perhatian tuh sama kamu, tapi lama banget kamu jatuh cintanya"
"Beda mel, sama kak Faiz kan pacaran yang belum ada ikatan suami istri, toh juga ketemunya jarang tidak sesering suami, nah kalau sama suami pagi siang sore malam selalu ketemu, kecuali saat dia kerja sih, belum lagi dia teman sekamar dan partner ranjang, dia bahkan ngasih perhatian lebih, kayak ngeringin rambut lah, nyelimutin aku, terkadang ngambilin makan, bangunin shalat"
"Oalah jadi pingin nikah deh, aku mah tugas kuliah numpuk jadi males aku, mana banyak dosen yang garang lagi, rasanya pingin cepet-cepet ada yang nanggung hahahaha" Amel terkekeh pelan membayangkan kelak suatu saat dia akan bersanding dengan seseorang di pelaminan
"Ya udah nikah sana, kata kamu kemarin di telpon ada dosen baru nyeselin karena terlalu disiplin" Rara mengganti topiknya
"Nah itu ra yang bikin aku kesel, beliau tuh gantengnya ganteng orang alim, tapi disiplinnya serta ketegasannya sungguh keterlaluan menyamai dosen dosen sepuh lainnya, ya emang sih pinter lulusan Mesir tapi ya setidaknya memberikan kita sedikit kelonggaran lah" ujar Amel menggebu-gebu
"Hahahaha jadi kangen masa kuliah" kini impian Rara hanya tinggal sebuah mimpi
"Awalnya aku seneng dapet dosen muda karena katanya dosen muda itu masih friendly dan bisa memberikan kelonggaran, serta tak pelit nilai tapi ini... pupus sudah harapan ku" ujar Amel melongos
"Hahahaha penasaran orangnya gimana" Rara tertawa melihat ekspresi Amel, tak biasanya Amel menceraikan soal dosennya hingga sedetail ini
"Jangan ra, nanti kamu jatuh cinta aja, kasian suami kamu ntar kalah saing, yah meski mereka sebelas dua belas sih kalau dilihat" Amel mengingat kembali wajah Azril
"Lumayan jadi peluang selingkuhan atau pelarian, kali aja kedepannya di butuhkan" ujar Rara asal sembari terkekeh
"Dihh maruk lu, nih liat fotonya kayak gini, nemu di grup kelas sebagai kewaspadaan yang harus dihindari" Amel menyodorkan hp miliknya ke arah Rara
"Ehhhhh ini kan" Rara tertegun sejenak kemudian ia mengembangkan senyumannya
"Siapa ra kamu kenal?"
"Kak Ammar, kakak ipar aku" Rara terkekeh pelan
"Padahal dia baik lo, lembut lagi, ramah dan sopan, satu kata kalau kamu bisa dapetin dia beruntung" ujar Rara yang mempromosikan kakak iparnya, padahal mah kakaknya sendiri aja belum laku
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Sabar biarkan Rara refreshing sejenak melepas kepenatan