I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Tsunami Melanda



"Awas kamu mas udah bohongin aku" batin Rara yang merencanakan hendak menjambak rambut Azril


Kini ia beralih menatap Fera kala teringat percakapan suaminya dengan sang sekertaris tadi pagi melalui telpon


"Ku dengar kamu sakit, sakit apa?" tanya Rara basa basi


"Aku mengalami kecelakaan saat berada di Surabaya"


"Udah lama?"


"Sekitar hari Jum'at"


Rara mengangguk-anggukkan kepalanya "Hari Jum'at ya, kebetulan bayi ku juga lahir hari Jum'at" gumam Rara yang belum menyadarinya, namun Azril malah merasa was-was, ada ketakutan yang tak dapat digambarkan dengan gambaran dan tak dapat tertuliskan dengan tulisan


Deg


Setengah menit barulah Rara tersadar "Jadi kamu gak bisa dihubungi karena ngurusin dia? kamu gak bisa nemenin aku lahiran karena mengkhawatirkan dia" tanya Rara menatap lekat mata Azril


"Bukan gitu ra mas....."


"Jawab iya apa nggak?"


"Waktu itu Fera harus di operasi mas......"


"Iya apa nggak?"


Azril mengangguk pasrah, ia dapat melihat sorot mata Rara penuh kekecewaan serta kilatan kemarahan


"Hahahaha bagus ya" samar-samar Rara tertawa sumbang, belum selesai ia kecewa karena Azril melanggar janjinya kini ia mendapati alasan pelanggaran janji tersebut


Ia kira Azril akan segera terbang menemuinya meski terlambat, tapi nyatanya ia tak bisa dihubungi dan malah menemani perjuangan hidup wanita lain


"Sangat bagus, perhatian banget suamiku ini" Rara tersenyum penuh arti


Ia mulai berdiri dan mengusap meja dengan kasar, menyingkirkan segala benda yang ada di atas meja hingga membuat beling kaca gelas berpecahan dimana-mana


Praangggg


Brukkkkkkk


Belum sempat Azril dan Fera menghilangkan keterkejutannya kini Rara sudah berjalan mengacak-acak benda dalam sapuan pandangannya


Praangggggg


Brukkkkkk


Gedubrakkkkk


Ketoprakkkkk


Prrraaakkkkkkk


"Ra" teriak Azril panik, ia buru buru mencegah Rara mengamuk dalam apartemen Fera, namun sudah terlambat


Semua yang ada pada pandangan Rara ia banting habis-habisan


Bruuukk


"Ra cukup ini apartemen orang" ujar Azril yang memeluk tubuh Rara meski mendapat berontakan


"Lepasin, lepasin" teriak Rara, ia seperti kerasukan setan, iblis dan kawan-kawannya


"Adddduuuuuhhh" kini giliran Azril yang berteriak, pada bagian tubuh untuk menghasilkan anak di tendang begitu saja, hingga Rara terlepas dari kukungannya


Fera hanya meringkuk ketakutan melihat amukan Rara, barang-barang nya berantakan semua mau marah tapi takut, takut akan jadi sasaran berikutnya


"Ra cukup ra, mas mohon plis ini rumah orang, kamu boleh ngamuk di rumah kita" ujar Azril yang sudah dapat meraih tangan Rara


Rara menatap tajam ke arah Azril "Ya Allah manis banget, kayang kucing garong lagi ngamuk" batin Azril yang sempat-sempatnya terpesona


"Kenapa hah, kenapa kamu lakuin ini ke aku" bentak Rara keras yang membuat Azril tersadar


"Ra mas mohon kita pulang ya" pinta Azril


"Kenapa kamu bohong ke aku" bentak Rara lagi


"Mas gak maksud bohong sama kamu ra, mas minta maaf, kita pulang dulu ya" bujuk Azril


Rara lebih menajamkan matanya hingga membuat nyali Azril menciut, rasanya ia akan ditelan bulat-bulat pada mulut mungil istrinya


"Pecat dia!" ujar Rara yang membuat Azril tersadar


"Aku bilang pecat dia" Rara meninggikan suaranya di hadapan Azril


"Kenapa diam aja, aku bilang pecat dia"


Fera hanya mampu menunduk, ia kini merasa ketakutan


"Tapi ra dia...." Azril nampak ragu, bagaimana bisa ia memecat Fera sedangkan Fera merupakan anak dari sepasang suami istri yang dulu ia tolong sekaligus yang membantu merintis usahanya


"Aku mau kamu pecat dia" teriak Rara dengan rengekan


"Ok ok mas pecat dia sekarang" ujar Azril yang berusaha menenangkan istrinya


Azril beralih menatap Fera yang tengah meringkuk di atas sofa dengan bantal yang ia peluk sebagai tameng pelindung


Rara melepas paksa cengkraman pada pergelangan tangannya, ia berjalan ke arah Azril hingga tak ada jarak di antara kedua


"Ssssstttttttt sayang" Azril meringis kala merasakan rambutnya di jambak kuat-kuat


"Kamu boleh ngelakuin ini semua tapi di rumah kita, maaf mas bersikap kasar" bisik Azril


Ia mencubit kedua tangan Rara hingga cengkraman pada rambutnya melemah, merasa ada celah Azril menarik tangan Rara menjauhkan dari rambutnya, ia segera mengangkat tubuh Rara layaknya karung beras, semen dan sejenisnya


"Turunin, turunin" Rara memberontak dengan memegang kepalanya, menyelamatkan hijabnya agar tidak terbuka


Azril segera keluar dari apartemen Fera begitu saja


Fera berdiri dan segera berjalan ke arah pintu, dua orang itu kini telah menghilang di telan lift


"What? mereka pergi gitu aja"


Fera beralih memandang rumahnya yang sudah kacau balau, meski tsunami lebih parah dari ini tapi ini sudah seperti tempat pembuangan sampah


"Salah berurusan sama orang, mana di pecat lagi" gumam Fera sembari tersenyum kecut


"Wajah serta kekuatannya memang tidak bisa di samakan" lanjutnya


Bagaimana mungkin Rara yang terlihat manis dan imut serta bertubuh agak pendek memiliki kekuatan sebesar ini


***


Rara membuka pintu mobil dan membantingnya kuat-kuat, ia segera berlari memasuki rumah miliknya dan sang suami yang kebetulan pintu rumah sudah terbuka, nampaknya beberapa orang yang bertugas membersihkan rumah tersebut sedang melaksanakan tugasnya


"Rara" teriak Azril yang buru-buru mengejar Rara


"Gak aku gak boleh terlihat lemah gak boleh" ujar Rara yang mengusap air matanya


Ia membanting beberapa guci serta furniture lain yang berada di ruang tamu hingga membuat ketiga pelayanan terkejut, Azril melongo melihat tingkah istrinya, ternyata omongan Azril tadi benar-benar Rara dengarkan


Rara berjalan dengan gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya, pandangannya mengedar pada seluruh isi kamar


Prakkkk


Brukkkkk


Ia membanting semua barang yang berada dalam kamar tersebut, semua furniture baru juga ia banting kuat-kuat


"Dasar kamu laki-laki breng***" umpat Rara kala melihat foto suaminya dan dirinya di atas nakas


Prangggg


Ia membanting foto tersebut, bukan foto pernikahan hanya foto biasa yang mereka lakukan karena mereka tak memiliki foto pernikahan yang bagus untuk di panjang, wajah kedua mempelai kala itu terlihat sangat tertekan, bahkan ketika Rara memaksakan senyumannya malah menjadi seperti senyuman joker yang mengerikan


Azril hanya mampu berdiri di depan pintu, tatapannya penuh rasa bersalah


"Hiks hiks huaaaaaaaa" akhirnya tangis Rara pecah, Azril segera berjalan mendekati istrinya yang telah meringkuk di lantai


"Sayang" panggil Azril


"Huaaaaa hiks hiks mas jahat"


"Maaf"


"Huaaaaa hiks hiks"


Azril mencoba menyentuh kepala Rara namun segera di tepis oleh Rara


"Tega kamu mas, tega hiks hiks"


"Apa yang harus mas lakukan agar mendapatkan maaf darimu?" tanya Azril parau


Rara mendongakkan kepalanya "Aku mau kompensasi 2 triliun"


"Apa satu triliun?" Azril diam mematung, uang sebanyak itu bagaimana cara Azril mendapatkannya


"Kenapa kamu gak mau ngasih hiks hiks?


"Mas gak punya uang sebanyak itu sayang" ujar Azril lirih


Uang yang ia hasilkan tidak hanya untuk dirinya sendiri ia juga membaginya untuk kedua orang tuanya serta melakukan donasi rutin, bahkan belakangan ini pengeluaran yang ia keluarkan begitu banyak, pernikah yang tandas juga menguras begitu banyak uangnya, membangun rumah untuk Azizah, membangun rumah untuk Rara, membangun panti asuhan, bahkan ia terkena musibah soal restoran yang berada di Surabaya hingga membuat pengeluarannya terombang ambing, mungkin ini karma baginya karena telah mendzolimi Rara dan tak menghargainya sama sekali, kadang suami lupa bahwa rezekinya juga merupakan doa dari seorang istri


Belum lagi kerugian barang-barang baru yang Rara hancurkan begitu saja membuat hatinya meringis, ditambah kerusakan apartemen Fera pasti ia turut andil di dalamnya


"Untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Azril


"Untuk menunjang kehidupan aku dan anak-anak aku kelak, jaga-jaga kalau kamu suatu saat berada didalam pelukan wanita lain" ujar Rara sinis


"Gak ra, mas gak berada dalam pelukan wanita lain selain kamu dan umi" ujar Azril


"Siapa yang tahu masa depan hah" bentak Rara, ia sudah mengikis kepercayaannya pada sang suami


Mulai detik ini ia memutuskan untuk bersenang-senang dalam pernikahannya


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Sampai ketemu lagi di episode berikutnya