I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Ibadah Malam Itu Penting



"Ra tadi kamu dari mana?" tanya Azril yang baru saja memasuki kamarnya, sehabis menemui Lila dia tidak mendapati keberadaan Rara


"Jalan-jalan" ujar Rara yang sedari tadi duduk dengan menatap layar komputer, film yang ia tonton cukup seru meskipun matanya sudah kedip kedip sedari tadi


"Jalan sama siapa?"


"Kak Alfred"


"Ra ayo shalat, kita beribadah" ajak Azril


"Aku dah shalat"


"Shalat lagi yuk aku imamin" bujuk Azril


Rara menatap horor ke arah Azril "Biasanya kamu shalat ke masjid" ujar Rara, memang benar Azril selalu pergi ke masjid tiap jam shalat


"Ya aku kan juga pingin jadi imam buat kamu"


"Gak besok aja, eh gak deh kapan kapan aja" tolak Rara, ia kembali menatap layar komputer


"Ra ayo dong, biar nambah pahala"


Melihat Rara tidak merespon Azril terus berusaha membujuk Rara agar mau memenuhi permintaannya


"Ra ibadah lo, masak kamu tolak"


"Rara sayang ayo dong kita beribadah, dua rakaat aja"


"Sayang" Azril membungkuk menaruh kepala tepat di atas pundak Rara dari belakang


"Sayang ayo shalat" ujar Azril yang ikut menatap layar komputer, mencari tahu isi film apa yang membuat istrinya mengabaikan dirinya, sebenarnya bukan hanya sekali ini saja sih dia diabaikan


Bujukan Azril membuat Rara jengah, otaknya sudah tidak konsen menonton film yang ada dihadapannya ini "Lagian shalat doang kan, gak ada salahnya juga aku menerima, itung-itung dapat pahala" batin Rara lelah


"Iya iya, minggir ih jangan deket-deket" ujar Rara yang mendorong kepala Azril dari pundaknya


Jawaban Rara membuat Azril tersenyum lebar "Ya udh kamu wudhu dulu" ujar Azril


Rara langsung mematikan komputernya dan bangkit dari duduknya, bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka serta giginya tak lupa dia berwudhu, setelah shalat nanti dia mau langsung tidur saja mengingat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam


Setelah Rara keluar dari kamar mandi kini giliran Azril yang mengambil wudhu, Azril membenarkan rambutnya sehabis berwudhu, tampan benar-benar sangat tampan, ternyata benar ya air wudhu meningkatkan ketampanan


"Ayo ra, dua rakaat aja" ujar Azril yang telah siap berdiri di atas sajadah, begitu pula Rara yang telah berdiri di belakang Azril


Setelah shalat Rara langsung merapikan mukenanya dan merangkak ke atas ranjang, matanya sudah konslet hendak di tutup


Azril tersenyum simpul kala melihat tingkah Rara, dia ikut merapikan sajadah tanpa mengganti pakaiannya, nyatanya baju koko serta sarung itu masih melekat di tubuhnya


Azril ikut naik ke atas kasur, wajahnya ia dekatkan dengan wajah cantik istrinya, ciuman bertubi-tubi mulai mendarat ke setiap inci wajah Rara hingga membuat Rara memicingkan matanya


"Eeeemmmm kamu ngapain?" ujar Rara sembari mendorong tubuh Azril, namun ternyata matanya tidak bisa diajak kerjasama begitupula tenaganya


"Mau melakukan ibadah sayang" ujar Azril lembut


"Kan tadi udah" Rara berbicara dengan mata yang ia tutup kembali, tapi sayup-sayup Rara mendengar Azril melantunkan sebuah doa


Azril terus saja melakukan aksinya hingga membuat Rara terbuai, mata Rara terbuka sempurna, ia berteriak-teriak histeris dengan kalimat penolakan, namun pada akhirnya teriakan itu berubah menjadi suara yang aneh


"Sayang" suara lembut Azril yang memanggil-manggil dirinya berhasil mengalihkan dunianya, hujan di luar begitu deras sekan-akan mendukung aksi yang Azril lakukan


Semua kain kini telah berjatuhan, akhirnya hal itu terjadi, tapi Azril merasakan ada yang aneh, pandangannya menuju ke bawah, benar saja dugaannya, kemudian ia menatap wajah Rara yang meringis kesakitan bahkan kini istrinya telah mengeluarkan air mata


"Sayang" segala cara Azril lakukan untuk meminimalisir rasa sakit yang di rasakan oleh Rara hingga aksinya selesai


Azril menatap wajah lelah Rara di dalam pelukannya, berkali-kali dia mengusap wajah Rara namun tangannya tak mengusik gadis tersebut yang tengah terlelap


"Sayang aku mencintaimu, kamu percaya kan" ujar Azril sendu


"Apapun yang terjadi kedepannya aku mohon jangan pernah tinggalkan aku"


Pukul dua dini hari Azril melepas pelukan Rara, dia bangkit memunguti sesuatu yang berserakan di lantai akibat ulahnya dan memasukkan nya ke dalam keranjang kotor


Azril menyalakan shower untuk membersihkan dirinya mencari kesegaran untuk tubuh serta pikirannya, setelah selesai ia memakai baju koko serta sarung yang baru ia ambil dari lemari


Kini dia bersimpuh di hadapan Sang Kuasa, semua hajatnya ia curahkan disertai dengan butiran-butiran dzikir yang ia alirkan, memohon ampunan serta memuji Sang Khaliq, setelah itu lantunan ayat suci Al-Quran ia ucapkan hingga menunggu fajar tiba


Azril menatap lekat ke arah Rara yang tertidur pulas, perlahan dia membuka selimut yang menutupi tubuh Rara, benar saja ada cairan merah di sana, dia mengusap wajahnya kasar, jika ini yang pertama lantas waktu itu apa


Tak ingin Rara curiga ia membersihkan bagian itu dengan tisu hingga bersih membuat Rara sedikit menggeliat, kemudian ia menyelimuti tubuh Rara lagi, membangunkan gadis itu untuk menunaikan ibadah subuh


"Ra bangun yuk udah subuh" bisik Azril


"Ra ayo bangun" suara Azril mengusik tidurnya, perlahan mata Rara membulat sempurna


Dia mendudukkan dirinya sembari menarik selimut ke atas


Rara menatap tajam ke arah Azril, kejadian semalam benar-benar di luar dugaannya, ingin rasanya Rara berteriak tapi nasi telah berubah menjadi nasi goreng, tentu saja tidak bisa dikembalikan lagi hingga memutih, hanya bisa diubah lagi hingga menjadi gosong


"Ayo mandi" tanpa aba-aba Azril mengangkat tubuh Rara hingga ia melayang, tentu saja tanpa selimut, jika ia mengangkat selimutnya juga sudah di pastikan warna itu akan terlihat oleh Rara


"Hey selimut nya" ujar Rara, tangannya berusaha menggapai selimut


"Gak pakai selimut kalau mandi" dengan segera Azril membopong Rara dan menaruhnya di bathtub


"Keluar aku bisa sendiri" perintah Rara, akhirnya Azril keluar dari kamar mandi


Selama Rara mandi dia mengganti seluruh seprei serta selimut dengan yang baru, saat Rara menunaikan ibadah shalat ia menyucinya di dalam kamar mandi, menghilangkan noda merah hingga bersih seperti semula


***


"Ra ayo dong jangan ngambek lagi" bujuk Azril, kini mereka berdua tengah duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh


"Sana pergi! ngapain masih di sini" bentak Rara


"Gimana aku bisa tenang kalau kamu lagi marah gini" Azril hendak memegang lengan Rara namun dengan sigap tangan Azril di tepis olehnya


"Ra ibadah itu kan penting, kamu dapat banyak pahala loh semalam"


"Pahala pahala mbah mu tuh pahala"


"Kalau mbah aku ngelakuin nya sama kakek baru dapet pahala"


"Halah itu maunya kamu doang kan, dasar buaya"


"Loh ngak sayang beneran kita dapat pahala yang banyak loh, kalau gak percaya tanya aja sama malaikat" ujar Azril


"Bohong itu maunya kamu doang" teriak Rara


"Itu aku nyari pahala ra, beneran nyari pahala, ibadah di atas kasur itu juga penting" bujuk Azril


Rara hanya diam dengan wajah yang masih di tekuk, nampaknya wanita itu benar-benar marah besar


"Ra bukannya semalam kamu juga......"


"Diam" teriak Rara hingga membuat Azril terkekeh


"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya" Azril berdiri dan berjalan mendekat ke arah Rara, kini dia berdiri tepat di depan Rara


Kepalanya ia tundukkan "Ra aku suka waktu kamu memanggil-manggil aku, tapi nanti malam panggilannya diganti mas aja ya jangan ustadz" bisik Azril yang membuat wajah Rara memerah


Cup


Bibir Azril menempel tepat di kening Rara "Aku berangkat sayang, assalamualaikum"


Rara menoleh ke arah pintu yang telah tertutup rapat, dia merututi dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia keceplosan memanggil Azril dengan sebutan ustadz


"Jangan sampai dia menyadarinya" gumam Rara lirih