
"Aku siapa aku dimana"
Satu kalimat yang keluar dari bibir Rara membuat semua orang tercengang, sorot mata Rara terlihat kebingungan, tangan kanannya mulai memegangi kepala berusaha untuk mengingat siapa diri ini
"Apa kamu tidak mengingat apapun?" tanya dokter
Rara menggelengkan kepalanya, sembari mengerjap-ngerjapkan matanya berharap ada satu hal yang ia ingat namun hasilnya nihil
"Sus tolong ambilkan kaca!" perintah sang dokter
Dengan cekatan suster mengambil benda yang di pinta dokter
"Coba lihatlah dirimu!" ujar dokter tersebut sembari mengarahkan kaca ke wajah Rara
Dahi Rara mengerut kala melihat cerminan bayangan dirinya
"Apa aku seorang pria" ujar Rara tangannya kemudian memegang dadanya "Tapi aku memiliki benda tersebut" lanjutnya
Dariel yang awalnya panik kini malah menundukkan wajahnya ke samping, kedua bibirnya saling menekan satu sama lain agar tawanya tidak lepas begitu saja
"Auuu sakit kak" gumam Dariel pelan kala sang kakak melayangkan cubitan maut di lengannya
"Tidak sayang kamu seorang wanita yang cantik" ujar mama yang mendekati putrinya
Rara memicingkan matanya "Siapa kamu?" tanya Rara
"Aku mama kamu ra, ini papa kamu, apa kamu tidak mengenali kami" ujar mama dengan buliran air mata yang menetes
Ntah kenapa hati Rara bergetar kala melihat air mata yang menetes dari wanita yang baru saja mengakui dirinya sebagai mama, hati kecilnya berbisik bahwa dia tidaklah berbohong
Rara tersenyum menampakkan kedua lesung pipinya "Mama" ujarnya
Mama Rara langsung memeluk erat tubuh putrinya "Iya sayang ini mama, mama kangen sama kamu" isak tangis terdengar dengan jelas di telinga Rara, perlahan Rara membalas pelukan hangat yang terasa nyaman baginya
Papa Rara terharu kala melihat pemandangan di depannya, rasa syukur masih memenuhi ruang hatinya biarpun putrinya hilang ingatan tapi dia masih di beri kesempatan untuk membuka mata cantiknya untuk melihat dunia ini
"Ra pria yang berdiri di sana itu papa kamu" mama Rara menunjuk suaminya yang sedang tersenyum dengan mata berkaca-kaca
"Papa" ujar Rara, pria paruh baya itu langsung berhamburan memeluk putri tercintanya
"Iya ini papa sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga"
"Pa lepasin ini sakit" ujar Rara kala merasakan sesak saat sang papa mengeratkan pelukannya dengan seerat eratnya
"Maaf ra papa kangen banget sama kamu" ujarnya sembari melepaskan pelukan dari tubuh putrinya
"Kalau dua orang itu adalah kakak kamu, kak Alfred dan kak Dariel" mamanya menunjuk ke arah dua orang pria yang memiliki kepribadian bertolak belakang
"Kak Alfred" panggil Rara yang membuat Alfred tersenyum, dia mendekati Rara dan memeluk tubuh adik kesayangannya tangannya mengelus kepala Rara dengan lembut
"Sudah kak jangan lama-lama gantian" Dariel langsung melepaskan pelukan diantara keduanya
"Kak Ari" ujar Rara yang membuat keluarga Rara tercengang, kecuali Dariel lagi-lagi dia harus mendengar panggilan yang tidak ia sukai apa Rara memiliki dendam terselubung padanya hingga hanya kata itu yang ia ingat
"Gak ma, aku panggil kak Ari karena rasanya kurang pantas dia menggunakan nama Dariel, terlalu bagus untuknya" ujar Rara polos yang membuat Dariel kesal
"Gak jadi meluk" degus Dariel kesal namun kini ia mendapat tatapan tajam dari seluruh keluarganya
"Ehhh jadi deh" dia langsung memeluk erat sang adik beberapa detik dan langsung melepaskannya begitu saja
"Nah kalau yang itu" mama Rara menghentikan ucapannya sebentar kala menunjuk ke arah Azril "Itu suami kamu sayang" lanjutnya
Deg
"Hah suami gak gak aku gak mau punya suami kayak gitu" ujar Rara sinis ntah kenapa hatinya merasa sakit kala melihat wajah Azril
Azril yang awalnya tersenyum manis kini berubah menjadi kecut, perlahan senyuman itu luntur ntah kenapa hatinya merasa perih kala mendengar istrinya tidak mau mengakui dirinya padahal ia tahu pasti bahwa istrinya ini telah kehilangan ingatannya
"Terus kamu mau suami yang kayak gimana ra biar kakak cari kan" tanya Alfred lembut
"Aku mau kayak gitu" jari telunjuk Rara menunjuk ke arah Faiz yang berdiri di samping Azril, Faiz menunjuk dirinya sendiri dan bergumam "Aku" seakan-akan tidak percaya, namun sedetik kemudian dia tersenyum manis penuh kemenangan
Azril menunduk sedih ternyata istrinya lebih memilih mantannya dari pada dirinya, jika dipikir-pikir Rara terbangun dari tidur panjangnya karena kehadiran orang ini sedari kemarin, apa itu artinya di hati Rara masih menyimpan sosok Faiz
"Mmmm sayang tapi suami kamu Azril yang itu" ujar papa lembut agar tidak menyinggung diantar keduanya
"Hahahaha masak aku dah bersuami sih gak mungkin lah orang aku masih muda gini" Rara tertawa pelan
Azril berjalan mendekati Rara ia menyentuh tangan Rara lembut hingga membuat tawa Rara berhenti dan menatap Azril dengan sorot mata penuh tanya, dia bukanlah seorang wanita yang gampang terbawa suasana jika ada seorang pria yang menyentuhnya dengan lembut, mungkin ini efek dari kedua kakaknya yang berjenis kelamin laki-laki jadi dia sudah terbiasa dengan laki-laki namun bukan berarti dengan mudahnya seorang laki-laki dapat menyentuhnya
"Gak pa pa kalau kamu belum bisa mengingat nya aku akan berusaha mengembalikan ingatan mu kembali dan jika itu tidak bisa maka aku akan memberikan kamu ingatan yang baru" ujar Azril tulus di dalam matanya tak nampak sebuah kebohongan
Rara segera menepis tangan Azril kasar
"Kamu gak usah ngaku-ngaku ya jadi suami aku, aku tuh belum menikah dan belum mau menikah" ujar Rara sinis, hatinya terus berbisik bahwa dia masih lajang, apa terkadang hati juga bisa berbohong, atau hatinya hanya sekedar menutupi kebohongan dan enggan menerima kenyataan
"Aaauuuuu" Rara langsung memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut
"Kamu kenapa sayang dokter ini gimana?" mama Rara terlihat panik dia segera memegangi tangan putrinya
"Tolong jangan terlalu di paksa untuk mengingat sesuatu, perlahan-lahan saja In Syaa Allah ingatannya akan pulih kembali tapi saya tidak bisa menjamin kapan ingatannya akan segera pulih" ujar dokter menjelaskan
"Baik dok kami mengerti"
"Kalau begitu saya buatkan resepnya dulu mohon jangan terlalu menekan pasien itu bisa berdampak buruk bagi ingatannya serta mentalnya" dokter dan suster keluar dari ruangan tersebut
"Gak pa pa rara pelan-pelan saja ya jangan terlalu di pikirkan, kalau kamu gak mau punya suami kayak dia nanti kakak ikutkan kamu take me out aja di sana kamu bisa memilih laki-laki tampan sepuas mu" ujar Dariel yang membuat telinga Azril terasa panas
"Tapi kan dia istri aku" ujar Azril tidak terima
"Ah apa jangan-jangan kalian mau nge prank aku ya, apa ini tayangan iMarried projects" tanya Rara yang membuat semua orang kebingungan
"iMarried projects"