
"Assalamualaikum ra, mas pulang sayang" teriak Azril kala memasuki pintu rumahnya
"Sayang mas pulang mas pingin di peluk" ujarnya tak tahu malu
Ntah kenapa sifatnya menjadi sebleng seperti ini, sifat barunya yang nampak aneh mulai tumbuh pada diri Azril semenjak Rara pulang dari luar negeri
Namun tak ada sahutan sama sekali, rumah nampak sepi, tak ada tangisan anak-anak, tak ada kericuhan di dapur, serta tak ada kehidupan di sana
"Rara, bi Wawa, Av Ay" Azril mengabsen penghuni rumah satu persatu namun tak ada yang menyahuti, ia berjalan ke arah dapur namun kosong melompong, ia membuka kamar sikem namun tak ada penghuni di sana, ia berlari menaiki tangga dan memasuki kamarnya namun tak ada manusia di sana
"Kemana mereka" Azril sudah nampak was was ia hendak berlari menemui satpam di depan namun
"Assalamualaikum, eh mas udah pulang" sapa Rara, ia baru saja memasuki rumahnya dan melihat Azril turun dari tangga dengan tergesa-gesa
"Ra kamu dari mana?" Azril segera menghampiri Rara yang sedang menggendong Av
"Dari masjid, ikut pengajian ibu-ibu di sana, tadi di tawarin sama tetangga, pengajiannya seminggu sekali" ujar Rara
"Ya Allah mas kira kamu kemana, kenapa gak bilang mas tadi" ujar Azril kesal
"Hehehe maaf mas, lupa, soalnya tadi baru dikasih tahu pengajiannya jam setengah empat ya udah Rara langsung siap-siap pengajiannya kan mulainya jam empat"
"Ini sama bi Wawa ya kan bi, tadi kita bawa Av dan Ay mereka pintar gak rewel disana, si Av malah duduk anteng dengerin, kalau Ay dia tidur" Rara menjelaskan agar suaminya tak marah
"Hahaha iya ra, kayaknya si Ay mirip kamu, sedangkan Av mirip aku" ujar Azril sembari mencubit pipi Rara, dan mengambil alih Av dari gendongan Rara
"Isss dulu aku tuh selalu anteng ya dengerin di awal meski ujung-ujungnya ngantuk" ujar Rara antara membenarkan dan menyangkal
"Ini dapet snack juga di sana, tapi punya aku sama bi Wawa, mas gak boleh minta"
"Kalau mau aquanya aja ya"
"Dasar pelit, ya udah sana ganti baju, mas juga mau ganti baju baru pulang kerja"
"Ok bi titip sikem ya" pamit Rara mereka berjalan ke kamar sikem lebih dulu agar bi Wawa bisa mengawasi mereka
"Gimana tadi pengajiannya? suka?" tanya Azril
"Emm lumayan, ustadznya lucu pembawaannya gak bikin boring"
"Dan mas tahu, ustadznya masih muda coba, katanya dia anaknya ustadz yang seharusnya ngisi ceramah sore ini, tapi karena bapaknya berhalangan hadir dia gantiin, uhhh mana ustadznya tampan lagi" ujar Rara, itulah perkataan ibu-ibu pengajian di sana dan kenyataannya memang benar adanya
"Apa ra coba ulangi!" pinta Azril
"Bagian mana?" tanya Rara
"Di bagian akhir"
"Bagian akhir.... oh ustadznya tampan, banyak ibu-ibu yang tertarik untuk di jadikan mantu hahaha ada-ada aja ya"
"Tampanan mana sama mas?" tanya Azril datar, beruntung Rara kini sedang tak menatap mata tajam suaminya karena ia sedang mengisi air di bak mandi untuk Azril mandi
"Tampanan mas sih, eh apa sebelas dua belas ya, tapi bagi rara ....."
"Akh mas bikin kaget aja" ujar Rara kesal, hampir saja ia jatuh ke bak mandi, tadi ketika ia berbalik badan tanpa ia sadari Azril sudah berdiri di belakangnya tepat dengan mengenakan handuk sebatas pinggang saja
"Bagi kamu apa?"
Kini Rara dapat melihat mata tajam Azril, hadeh ini orang cemburu lagi kah
"Bagi aku ya tampanan mas lah, kan kamu suami aku" ujar Rara
"Oh berarti kalau dia yang jadi suami kamu lebih tampan dia?"
"Ya iyalah mas.... ehhh bukan gitu maksudnya, gimana ya, gini loh mas itu kan baru kalau tapi pada kenyataannya kamu suami aku berarti tampanan kamu"
"Jangan natap aku kayak gitu, mas tenang aja nanti malam aku kasih jatah deh" ujar Rara yang langsung keluar dari kamar mandi
"Aduhh malu banget, bisa-bisanya aku ngomong gitu, kalau dia lagi gak pingin gimana, kan kesannya aku yang pingin" batin Rara sembari menutup wajah yang tersipu malu
Ponsel Azril berbunyi, Rara yang melihat itu segara mengambil ponsel Azril yang terletak di atas meja rias
"Isss ngapain sih dia nelpon mas Azril segala" gerutunya kesal
"Hallo assalamualaikum, mas Azril sedang mandi jadi dia tidak bisa mengangkat telpon, biasanya aku yang mandiin dia, tapi untung aja saat ini aku tak memandikan dia jadi masih bisa mengangkat telpon mu" ujar Rara dengan penuh percaya diri, kalimat itu tidak sepenuhnya bener justru malah sebaliknya Azril lah biasanya yang lebih sering memandikan istrinya sebelum shubuh datang
"Waalaikumsalam, ini nak Rara ya"
Jderrrrrrrr
Tubur Rara diam mematung, rasanya seperti di sambar petir saja, ia sangat malu sungguh malu
"Ehh iya om, maaf hehehe tadi Rara cuma bercanda" ujar Rara kikuk, ia mengira bahwa itu telpon dari Fera lantaran layar telpon tadi tertera nama Fera yang menghubungi
"Iya gak pa pa om paham, ini om lagi pakai hpnya Fera jadi pasti kamu salah paham"
"Hehehe maaf om, aduhh jadi malu, aduh om tolong lupain ya perkataan tadi" ujarnya, raut wajahnya bener-bener bertambah merah
"Ah gimana ya, kayaknya gak bisa di hapus deh dalam memori om" goda pak Rahmat ayah dari Fera, orang tua itu nampak friendly, bahkan dulu ketika mengklarifikasi hubungan anaknya dengan Azril ia nampak tenang dan ramah, tak ada emosi sedikit pun, bahkan ia dapat memahami ketika Fera berhenti bekerja dengan Azril
"Ahhh om jangan gitu, bikin tambah malu aja"
"Hahaha ya sudah nanti tolong sampaikan pada Azril besok saya akan datang ke restorannya"
"Oh ya om nanti saya sampaikan"
"Tenang saja om gak bawa Fera kok"
"Bener loh ya om" mau dikata apa lagi Rara sudah terlanjur malu jadi sekalian saja ia menanggapi candaan pak Rahmat
"Iya bener ya sudah om tutup dulu, sampaikan salam om pada Azril"
"Siap om"
"Wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Aduhh" Rara memukul-mukul kepala nya pelan, kenapa tadi dia tidak menunggu salam lebih dulu dari sebrang sana dan malah mengatakan sesuatu yang memalukan dengan penuh percaya diri
"Sayang kenapa kok di pukul kepalanya" Azril meraih tangan Rara agar wanita itu berhenti memukuli kepada meski hanya pukulan pelan saja
"Ehh mas gak pa pa kok"
"Itu tadi bapaknya Fera telpon katanya besok mau ke restoran kamu nemuin kamu" ujar Rara kikuk
"Sayang kok wajah kamu memerah gini? kamu berpikir macam-macam ya" tanya Azril
"Enak aja, gak kok" sangkal Rara
"Udah mas, aku siapin baju dulu" Rara mengambil baju koko serta sarung untuk Azril karena pria itu akan langsung berangkat ke masjid mengingat waktu mau masuk maghrib
Setelah suaminya pergi ke masjid Rara bersiap shalat dengan bi Wawa sebagai imamnya, katanya menghormati yang lebih tua
Selesai shalat Rara menyiapkan baju Azril, ia melirik ke sebuah foto tentang dirinya dengan Azril serta kedua buah hati mereka yang masih bayi, foto itu diambil beberapa hari sebelum Rara mengatakan dirinya akan keluar negeri
"Apa bener aku tidak usah terlalu banyak tahu tentang masa lalu itu, mungkin perkataan kak Dariel benar, don't know too much"
***