I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Jatuh Miskin



Kriukkk kriukk krukk krukk


Rara mengelus perutnya pelan sedari pagi dia belum makan apapun gara-gara hukuman yang harus ia jalankan akibat telat pergi ke masjid, yah ini semua gara-gara Lesy dan Tari yang menyembunyikan mukenanya, bahkan sekarang dia sama sekali tidak memiliki uang sepeserpun rasanya bener-bener kismin


“Ya Allah tolong turunkan makanan dari langit hamba lapar sekali” doa Rara sembari menatap ke langit


“Ustadz Faishal” teriak Rara yang melihat ustadz Faishal melintas di jalan


Ustadz Faishal mengehentikan langkahnya dan menengok kanan kiri siapa yang memanggil dirinya, tiba-tiba Rara muncul dari depan


“Ustadz” panggil Rara


“Astaghfirullah bisa-bisa hamba jantungan, hamba masih belum menikah ya Allah” ujar ustadz Faishal kaget


“Hehehehe maaf ustadz ngagetin” Rara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


“Ada apa?” tanya ustadz Faishal


“Anu itu bolehkah saya meminjam hp ustadz Faishal sebentar, saya ingin menghubungi ustadz Azril” ujar Rara


“Boleh donk, ciee ada yang kangen nih” goda ustadz Faishal sembari memberikan hpnya


“Apaan sih, mmm nama kontaknya siapa kok gak ada?” tanya Rara yang mengetik nama Azril namun tidak ada


“Itu yang namanya mas bro” ujar Faishal


Rara segera menekan tombol panggilan namun sayang sekali hp Azril sedang tidak aktif, sudah ia coba tiga kali namun tetap nihil akhirnya dia mengembalikan hp di tangannya ke ustadz Faishal


“Kenapa gak diangkat ya? Apa gak aktif?” tanya ustadz Faishal


“Gak aktif” ujar Rara sedikit kecewa


“Emang ada keperluan apa, nanti coba saya sampaikan” tanya ustadz Faishal


“Mmm…. itu bilangin aku butuh uang” ujar Rara ragu-ragu baru kali ini dia benar-benar menjadi orang yang kekurangan bahkan cuma untuk sekedar makan betapa miris nya dia


“Oh ok nanti aku bilangin, mau di tambah embel-embel gak nih?” tanya ustadz Faishal jail


“Embel-embel apa?” Rara memicingkan matanya pasti ada yang gak bener


“Mas Azril sayang aku rindu banget nih sama kamu” ujar ustadz Faishal dengan nada yang di buat-buat seperti suara cewek


Ingin rasanya Rara menjitak kepala orang yang ada di hadapannya ini namun sayang sekali dia sudah mempelajari tentang mahrom, ya hukumnya haram jika bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya


“Coba ulang lebih keras lagi ustadz” perintah Rara


Dengan senang hati Faishal mengulang ucapannya “Mas Azril sayang aku rindu banget nih sama kamu” dengan nada yang sama namun dengan suara yang lebih keras hingga mengundang tatapan dari beberapa santriwati yang melewati mereka berdua


Rara tertawa mendengarnya lagian nurut aja sih, karena sadar akan situasinya ustadz Faishal langsung berdehem untuk menjaga image nya “Ekhmm sedang apa kalian di sini, pergi sana lanjutkan aktivitas kalian” ujarnya dengan suara yang sudah kembali normal


“Makasih banyak ustadz” ujar Rara yang langsung melarikan diri sebelum kena semprot


“Awas kamu ra” batin ustadz Faishal menahan malu


Rara baru saja terbebas dari kamar mandi, sejak tadi maghrib tepatnya sehabis shalat maghrib di masjid ia pergi ke kamar mandi namun naasnya ia terkunci di dalam kamar mandi sendirian, ntah siapa yang melakukan nya tapi Rara sudah bisa menebak ulah siapa ini, bahkan dia terkunci sampai pukul 9 malam ya dia melewatkan makan malam serta shalat isya berjamaah di masjid, padahal makan malam inilah yang ia tunggu sedari tadi


"Kalian bisa gak sih gak gangguin saya, emang saya punya salah apa?" tanya Rara datar


"Lantas apa bedanya sama kalian, saya sudah cukup sabar ya menghadapi sifat kekanak-kanakan kalian" ujar Rara sinis


"Seenggaknya kita gak pernah ngerusak rumah tangga orang lain" ujar Lesy sembari mendorong pundak Rara pelan dengan jari telunjuknya


"Heh, kalau kalian gak tahu kejadian yang sebenarnya gak usah sok sok an menyebarkan fitnah deh" Rara tersenyum miring


"Kita tuh gak fitnah emang kenyataannya kan, kamu tau gak betapa sedihnya ustadzah Azizah karena kelakuan kamu, lantas kamu bisa hidup enak gitu baru karena bisa dapetin ustadz Azril, ingat ya ra kamu tuh cuma bisa dapetin raganya bukan hatinya, satu-satunya orang yang di cintai ustadz Azril cuma ustadzah Azizah" ujar Tari panjang lebar


"Heh terus kenapa, yang di cintai ustadz Azril kan ustadzah Azizah bukan kalian, terus kenapa jadi kalian yang sewot" ujar Rara sembari tersenyum manis


"Kamu tuh bener-bener gak tahu malu ya, pantas saja ustadzah Zahra tidak menyukai kamu, busuk banget jadi orang" ujar Lesy


"Terserah kamu mau menghina saya apa tapi yang jelas jangan pernah ganggu hidup saya lagi, kalau kalian masih berani ganggu saya, saya akan laporkan semua perbuatan busuk kalian" ujar Rara yang langsung melangkahkan kakinya keluar kamar


"Jangan harap ada ustadz dan ustadzah yang percaya sama kamu karena mereka sudah mengecap kamu buruk" teriak Lesy


Rara mendengar apa yang Lesy ucapkan karena teriakan itu terdengar sampai keluar kamar


"Aku benar-benar jatuh miskin sekarang" gumam Rara yang berjalan dengan gontai ntah kemana, tidak punya tenaga tidak punya uang untung ia masih punya pikiran


Bbrraakkk


"Aduh maaf maaf saya tidak sengaja kalau saya sengaja saya gak mungkin minta maaf" ujar Rara yang langsung berjongkok memunguti kertas-kertas yang berserakan di tanah


"Kamu ngapain malam-malam gini bukannya istirahat malah kelayapan" ujar seseorang yang Rara tabrak tadi


"Cari makan tapi gak ada terpaksa makan angin" ujar Rara yang masih fokus memunguti kertas tersebut


"Oh"


Rara mendongakkan kepalanya menatap siapa yang ia tabrak


"Eh ustadz Afham maaf ya gak liat" ujar Rara sembari memberikan kertas yang ia pungut tadi


Kriukkk Kriukkk Krukkk Krukkk


Suara perut Rara berbunyi di saat yang tidak tepat bukannya malu ia malah mengelus perutnya dan menenangkan cacing di dalamnya


"Sabar ya cacing-cacing tercinta bukannya aku tidak ingin memberikan kalian makan namun keadaan lah yang membuat kalian seperti ini" ujar Rara sembari mengelus-elus perut ratanya itu


"Kamu tadi malam gak makan?" tanya ustadz Afham yang membuat Rara menoleh ke arahnya


"Masih di sini rupanya, kirain dah pergi" batin Rara dalam hati


"Dari kemarin ustadz saya belum makan kasihanilah saya ustadz saya kelaparan sudah dua hari saya gak makan" ujar Rara dengan nada pengemis pada umumnya


Bukannya kasian ustadz Afham malah tertawa


"Astaghfirullah bukannya ngasih duit kek makan kek malah ngetawain" degus Rara kesal


"Ya ya, kamu mau makan apa biar saya belikan kebetulan saya mau keluar pondok" ujar ustadz Afham yang membuat mata Rara berbinar-binar


"Mie ayam satu bungkus, bakso satu bungkus, nasi Padang satu bungkus pakek daging ya, oh ya minumnya jus alpukat" ujar Rara senang


"Kamu mau ngerampok ya, di kasih hati malah minta jantung" ustadz Afham langsung melongos pergi