I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Allah Itu Maha Baik



"Wedeh mewah bener nih restoran"


"Namanya juga restoran bintang-bintangan"


"Tapi kok sepi ya?"


"Pada gak mampu bayar kali, harganya kemahalan"


"Alah sotoy, kalau kayak gitu mah restoran ini udah bangkrut dari dulu"


"Sutttt orang kismin diem aja, ini tuh namanya booking tempat"


"Tau deh yang olang kaya"


"Eh itu Rara, makin cantik aja dia padahal udah punya dua anak"


Pletak


"Aduh"


"Jaga tuh mata mau di colok sama suaminya Rara"


Rara tersenyum melihat beberapa temannya sudah datang, restoran ini sengaja di booking semalaman untuk teman-temannya Rara


"Duduk aja gak usah sungkan-sungkan, mau duduk di lantai juga boleh"


"Ya Allah ra, kita tahu kok pakaian kita ini di mata kamu hanya sebuah lap pel" ujar Chaca mendramatisir keadaan


"Dihhh pakaian lo aja kali, gue mah gak" timpal Dina


"Udah-udah ayo duduk dulu, dramanya nanti aja, silahkan pesan apapun yang kalian mau" ujar Rara


"Aduh ra baik banget sih dalam rangka apa ini?"


"Dalam rangka beramal" canda Rara


"Rara" teriak Amel


"Oi gak usah teriak teriak dong" gerutu Reza kesal


"Bawel"


Satu persatu teman-teman Rara pada datang ke restoran, dengan tanpa sungkannya mereka memesan apapun yang mereka mau


Dalam sekejap restoran itu menjadi ramai oleh tingkah laku teman sekelasnya Rara, tak lupa beberapa dari mereka ada yang menyumbangkan sebuah lagu baik yang memiliki suara emas maupun suara karat


Beberapa permainan mereka lakukan salah satunya truth or dare, yang kalah wajahnya di baluri tepung, sedangkan yang menang hanya mendapatkan tepuk tangan gratis


Waktu terus berjalan tak terasa sudah hampir tengah malam, satu persatu mereka pulang dalam keadaan setengah sadar karena mengantuk bukan karena apa-apa, meski begitu insting mereka masih peka buktinya sebelum pulang mereka masih ingat untuk membungkus makanan agar di bawa pulang ke rumah masing-masing


Lihatlah sekarang restoran itu berubah menjadi kapal pecah, sungguh sangat parah dan ironis, Azril hanya menggelengkan kepalanya melihat hasil maha karya teman-teman Rara, kini matanya mencari sosok sang istri yang tak nongol-nongol sedari tadi, bibirnya tersenyum kala mendapati apa yang ia cari


"Ra bangun yuk" Azril mengelus kepala Rara, wanita itu sudah terlelap menelungkupkan kepalanya di atas meja berbantal tangan, bisa-bisanya istrinya itu tidur sembarangan


"Emmmm"


Lagi-lagi Azril menggelengkan kepalanya, setelah melihat para zombie eh temen-temen Rara maksudnya pulang dengan wajah bak ondel-ondel kini istrinya sendiri juga memiliki wajah yang sama, di wajahnya tampak taburan tepung yang tak rata


"Sayang bangun"


"Emmm ya emmm" Rara menggeliatkan tubuhnya


"Udah pagi?" tanyanya


"Belum, ayo pulang lihat semua temanmu sudah pulang"


"Heem"


Rara berdiri di bantu Azril, ia memapah istrinya menuju mobil, takut kalau tidak di papah bisa-bisa istrinya masuk ke selokan, begitu masuk mobil Rara kembali memejamkan matanya menjemput mimpi yang sempat tertunda


Mobil mulai berjalan meninggalkan restoran, tangan Azril sedari tadi tidak tinggal diam ia mengusap wajah Rara yang belepotan tepung


"Jangan ganggu" rancau Rara karena merasa risih


"Gak ganggu ra, ini wajah kamu kayak ondel-ondel" Azril terus mengusap wajah Rara


Rara sudah konslet ia tak dapat membuka mata lagi, maka dengan senang hati Azril menggendong tubuh Rara memasuki rumah mereka


"Uhhh masih ringanan ngangkat galon" gumam Azril kala sudah berhasil meletakkan Rara di atas tempat tidur dengan selamat


Subuh-subuh Rara sudah berteriak histeris hingga mengusik Azril yang tengah membaca Al-Qur'an


"Ada apa ra?" tanya Azril panik kala mendengar teriakkan Rara, ia menyudahi membaca mushaf Al-Qur'an dan meletakkannya di rak lemari


"Apa yang kamu lakukan ke aku mas, mana baju ku?"


"Ya ampun sayang mas kira kenapa"


"Mas gak macam-macam kan, aku lagi ada tamu bulanan loh" selidik Rara


"Terus kenapa kalau macam-macam, yang penting gak masukin kamu aja"


"Mas" Rara mendelik tajam ke arah Azril


"Gak sayang mas gak ngapa-ngapain, semalam mas cuma mau bantuin kamu ganti baju tidur tapi karena kamu kebanyakan tingkah jadi baju tidurnya belum sempat kepakai, mas cuma bisa ngelepas baju kamu aja, udah itu aja gak kurang tapi ada lebihnya"


"Oh"


"Udah sana mandi, hati-hati bocor lagi"


"Masssss" teriak Rara kesal bercampur malu


"Hahahaha kenapa masih malu, mas udah biasa kok akan hal itu, kamu lupa dulu siapa yang sering...."


"Cukup mas, aku mau mandi"


"Ok, mas siapin air hangat dulu"


"Gak usah mas, aku gak mau berendam"


"Ok, hati-hati jangan sampai nabrak tembok kayak waktu itu"


***


"Kamu ngapain sayang, mau kemana kok ini bajunya di masukin koper?" tanya Azril kala melihat istrinya sibuk mengemasi pakaiannya


"Mau ke Bali"


"Ya ampun sayang ke Bali nya kan masih enam hari lagi"


"Gak pa pa di siapin dari sekarang"


Azril hanya tersenyum kala melihat istrinya seantusias itu


"Kenapa antusias sekali?" tanya Azril


"Soalnya ini liburan pertama aku ke luar kota bareng suami sama anak-anak" jawab Rara, matanya masih fokus melipat baju-bajunya


Ahh kalau tahu istrinya bakal sesenang ini dari dulu ia akan membawa Rara jalan-jalan keliling Indonesia


"Habis liburan ke Bali mau liburan kemana lagi?" tanya Azril yang menghentikannya aktivitas Rara


"Kenapa nanya gitu? liburan ke Bali nya aja belum" Rara menatap ke arah suaminya bingung


"Ya gak pa pa di planning aja"


Rara nampak berpikir "Aku sih pingin ke.... Lombok"


"Lombok? ok Lombok"


"Habis dari Lombok?" tanya Azril lagi


"Kemana aja asal sama mas"


"Itu pasti"


"Aku mau beresin bajunya mas sekalian, mas temenin main sikem sana, daripada di sini nanya-nanya mulu nanti gak selesai-selesai packing nya"


"Ya ya, sampai ketemu di meja makan" Azril mengecup pipi Rara sekilas dan berlalu pergi ke bawah untuk menemani sikem


Rara menatap kepergian suaminya, perlahan hatinya mulai menghangat ia ingin hidup seperti ini saja bahagia bersama suami, anak-anak, para ikan di kolam serta kucing kesayangannya tanpa ada orang-orang di masa lalu mereka, dan berusaha melupakan kenangan pahit meski itu tak mungkin terlupa, lebih tepatnya bersahabat dengan masa lalunya karena masa lalu itu bagian dari diri kita sendiri yang harus di terima


"Benarkan Allah itu Maha Baik"


"Aku juga akan belajar untuk menjadi orang baik, agar aku bisa berkumpul dengan orang-orang baik di surga-Nya"


***