I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Jangan..... Berhenti.....



"Jangannnnnn"


"Ku mohon kak jangannnnn"


"Jangan menghajarnya tanpa aku" teriak Dariel dengan segera dia melangkahkan kakinya ke arah mereka berdua


Bughhhh


Dariel meninju pipi Azril dengan keras, seketika kedua kakak beradik itu melayangkan pukulan bertubi-tubi, mereka mengkroyok habis Azril


"Jangannnnnn" kini terdengar lagi suara teriakan yang cukup keras, Alfred dan Dariel menghentikan pukulannya dan menengok ke asal suara tersebut


"Jangan...... Berhenti......" teriak Lan


Alfred dan Dariel melanjutkan aksinya kembali, mata Lan melotot melihat kelakuan kakak beradik tersebut, dia langsung berusaha menghentikan mereka berdua


"Apaan sih Lan tadi katanya jangan berhenti" gerutu Dariel sebal


"Saya bilang"


"Jangan" dia menjeda ucapannya sebentar


"Berhenti" ujar Lan kembali, dia mengulang kalimatnya tadi


"Iya, jangan berhenti kan" ujar Dariel yang langsung menendang kaki Azril


"Saya bilang"


"Jangan" Lan menjeda ucapannya lebih lama


"Berhenti" dan melanjutkan ucapannya


"Nah tuh kan jangan berhenti" kekeh Dariel


"Bukan tuan muda saya bilang jangan spasi berhenti" Lan berusaha menjelaskan ucapannya tadi


"Tadi gak ada spasinya tuh" ujar Dariel sinis


"Berisik banget sih kalian" ujar Alfred datar


"Lan urus dia" perintah Alfred datar


"Laki-laki lemah seperti mu mana pantas bersanding dengan Rara" Alfred merapikan kemejanya kemudian dia langsung pergi meninggalkan tempat yang bersejarah itu, bagaimana tidak menjadi tempat bersejarah, tempat itu baru saja menjadi saksi bisu antara dua orang kakak yang mengkroyok habis adik iparnya sendiri


"Tuh dengerin" degus Dariel dia menepuk-nepuk telapak tangan kanan dan kirinya seakan-akan menyingkirkan debu yang terletak pada kedua telapak tangannya tersebut, kemudian dia ikut pergi meninggalkan Azril beserta Lan di sana


"Mari tuan saya bantu" ujar Lan yang membantu Azril untuk berdiri, tubuhnya sudah penuh dengan luka lembam bahkan kepalanya berdarah akibat benturan yang cukup kuat serta bibirnya sudah sobek berdarah akibat pukulan yang cukup dasyat


Kepalanya mulai terasa pusing, tenaga dan pikirannya benar-benar terkuras habis


Lan memapah Azril ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan


***


Malam ini Azril duduk di samping Rara, dia menggenggam tangan Rara dengan hati-hati, badannya masih terasa sakit akibat gebukan tadi sore


"Ra maaf aku tidak mengenalimu di awal aku memasuki ruangan ini, aku berjalan ke ranjang yang salah karena aku mengira dia satu-satunya perempuan di ruangan ini, maaf aku lupa soal rambut mu"


"Aku bahkan tidak menyadari apa saja yang berubah darimu, yang aku tahu hanya rambut panjang mu itu"


"Ra maaf, maaf, maaf, maaf aku benar-benar minta maaf, aku tahu aku salah bisakah kamu memaafkan ku" Azril mengucapkan kata maaf berkali-kali di dekat telinga Rara berharap ia mendengar kata maaf darinya


Perlahan tangan Azril menyentuh bagian kepala Rara, dia mengusap bagian yang telah di pangkas botak oleh seseorang yang bahkan sampai sekarang belum ia ketahui siapa pelakunya


"Kamu tenang aja ra aku bakal cari tahu siapa yang telah memotong rambut indah mu ini" bisik Azril lembut


"Heh ngapain lo deket-deket sama adek gue" ujar Dariel sinis, dia baru saja kembali memasuki ruang ICU setelah mengurus penerbangan keberangkatan Rara esok pagi di bantu dengan Lan


Azril hanya diam saja tidak menanggapi ucapan kakak iparnya tersebut, pandangannya masih terus tertuju ke Rara, lebih tepatnya bagian mata Rara berharap mata tersebut mau terbuka kembali untuk melihat dunia


Papa mama Rara sudah menginap di hotel, tadi mamanya hampir pingsan karena melihat kondisi putrinya akhirnya papa Rara memutuskan membawa istrinya ke hotel untuk beristirahat


"Lan kamu diam di sini dulu jagain Rara jangan sampai makhluk Nobi itu menyakiti Rara" perintah Dariel ke Lan


"Anda mau kemana tuan muda?" tanya Lan


"Gak usah banyak tanya ada hal yang harus gue urus" ujar Dariel yang langsung pergi meninggalkan ruang ICU


Lan duduk di samping Azril, matanya menatap gerak gerik Azril


Azril sedari tadi hanya menggenggam tangan Rara dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap lembut kepala Rara, tatapan wajahnya terlihat sendu, ia tidak mengeluarkan suara apapun dan tidak peduli dengan sosok Lan yang duduk di sampingnya, namun siapa sangka hatinya terus saja berbisik-bisik mengucapkan doa serta berbagai macam lantunan ayat Al-Qur'an dengan harapan Allah akan mengabulkan doanya


"Tuan Azril" panggil Lan pelan


Azril hanya menengok ke arah Lan tanpa berbicara apapun


"Kau tahu kenapa nona muda sangat peduli dengan rambut panjangnya" Lan berbicara seakan-akan mengerti dengan apa yang Azril pikirkan


Azril hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban


"Dulu waktu SMP nona muda suka dengan rambut pendek katanya biar isis dan gak ribet dia juga suka mengenakan topi agar tidak ada orang yang mengenalinya"


"Namun siapa sangka kakak kelasnya ada yang menyukai dirinya padahal dia sudah memiliki pacar"


"Anggap saja kakak kelasnya ini bernama Emon"


"Akhirnya Emon itu memutuskan pacarnya demi mengejar nona muda, tapi sayangnya nona muda tidak menyukainya dan hanya menganggap Emon sebagai bayangan saja, eh apa dianggap sebagai hantu ya saya lupa"


"Mantan pacar Emon tidak terima akhirnya dia mengancam nona muda agar menjauh dari Emon, tentu saja tanpa di suruh nona mudah sudah menjauh dari Emon tapi sayangnya Emon selalu berusaha mendapatkan hati nona muda"


"Ternyata mantan pacar Emon ini sangat terobsesi dengan Emon maka dari itu dia akan menghalalkan segala cara agar mendapatkan Emon kembali"


"Jika seseorang sudah terobsesi maka separuh otaknya akan di penuhi dengan apa yang ia obsesikan"


"Singkat cerita mantan pacarnya ini menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh nona muda, awalnya nona muda di culik lebih dulu dan di kurung di gudang"


"Mantan pacar Emon datang menemuinya di gudang dia mengamuk sejadi-jadinya, menjambak rambut nona muda dengan kasar serta memukuli tubuh nona muda melampiaskan segala amarah yang ia miliki"


"Ketika pembunuh bayaran itu hendak menembakkan pistol nya ke arah nona muda para pengawal yang di kirim tuan Alfred sudah lebih dulu berhasil menendang tangan sang pemegang pistol, alhasil tembakkannya melesat ke mantan Emon tepat mengenai ulu hatinya"


"Dengan refleks nona muda segera berlari ke arah mantan Emon, di saat itu pula mantan Emon berkata dengan lirih bahwa dia sangat membenci rambut pendek milik nona muda karena Emon sangat menyukai rambut pendek milik nona muda"


"Akhirnya mantan Emon meninggal di hadapan nona muda, tentu saja nona muda merasa bersalah akan kematian mantan Emon padahal nona muda tidak bersalah sama sekali"


"Sejak saat itu nona muda selalu memanjangkan rambutnya dan hampir setiap keluar dia mengenakan topi agar tidak ada yang mengenali dirinya"


"Jika rambut nona muda tidak panjang lagi maka sama saja dengan membuka luka di masa lalunya"


"Saya yakin kali ini nona muda juga merasa sangat bersalah karena sudah menghancurkan rumah tangga mu dulu, padahal dia tahu pasti bahwa ini bukanlah kesalahan nya, tapi hatinya selalu menyalahkan dirinya sendiri"


Azril mendengarkan cerita Lan jadi karena ini dia tidak ingin kehilangan rambut panjangnya