I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Terusin Cemburunya



"Wah udah wangi sekarang" Rara keluar dari kamar mandi sembari mengangkat si buntel tinggi-tinggi


"Eh mas kenapa?" tanya Rara kala melihat suaminya duduk diam termenung, nampaknya ia kelelahan dan banyak pikiran


"Buntel papah kamu kenapa ya?" Rara berbicara pada kucing dalam gendongannya yang kemudian ia turunkan ke bawah lantai, karena kucing itu tak mampu memberikan jawaban hanya mengeong tak jelas


"Mas kenapa?" Rara mendekat ke arah Azril, ia mengelus punggung suaminya lembut


"Eh sayang" Azril tersenyum tipis melihat wajah istrinya


"Mas kenapa?" tanya Rara penasaran


"Mas gak kenapa kenapa kok"


"Bohong mas pasti ada masalah kan?"


Azril hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rara


"Mas gak mau cerita ya?"


"Yakin kamu mau tahu?"


"Iya"


Azril menghela nafasnya "Restoran yang ada di Surabaya di ambang kebangkrutan ra" ujarnya lirih


"Hahahaha restoran kamu mau bangkrut mas, hahahaha wajar aja sih kan mas gak bisa masak hahahaha" Rara tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Azril yang terlihat lelah bercampur kesedihan


"Astaghfirullah hal adzim, suaminya kesusahan malah di ketawain"


"Mengapa istriku berbeda ya Allah" Azril mengelus dadanya melihat kejadian langka ini, dimana mana jika suami mengalami musibah istrinya akan menenangkannya dengan sabar serta memberi semangat, dan kalau bisa memberikan solusi tapi istrinya sungguh berbeda


Rara mendudukkan dirinya di pangkuan suaminya, ia melingkarkan tangannya di leher Azril


"Mas tenang aja, kalau mas udah gak bisa nafkahi aku, aku bisa cariin nafkah buat kamu" ujar Rara penuh percaya diri, tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Azril pelan


"Gk mas gak mau kamu capek kerja"


"Mas tenang aja aku gak bakal capek kok, pekerjaannya gampang banget"


"Pekerjaan apa emang?" tanya Azril curiga


"Aku mau cari sugar daddy yang bisa menghidupi kebutuhanku, terus nanti aku bakal jadi sugar mommy untuk mas agar bisa memenuhi kebutuhan hidup mas, jadi nanti mas gak usah capek capek kerja lagi, gimana setuju gak?"


Azril tersenyum lebar, kedua telapak tangannya menangkup pipi Rara dan mengelusnya lembut, ia merasa sangat terharu mendengar penuturan istrinya saking terharunya hingga ia mencubit kuat pipi Rara


"Aduuhh mas mas sakit... aduhh"


Azril mencubit pipi Rara sembari menarik-nariknya tanpa ampun


"Berani kamu ra, kalau ngomong asal terus, bisa gak kamu jaga omongan kamu hah"


"Aduhh iya iya mas, sakit ini.... ampun" Rara memegang kedua tangan Azril berusaha melepaskan pipinya yang tersakiti namun hasilnya nihil


"Masih mau bilang kayak gitu lagi hah?"


"Gak mas gak, ini lepasin dulu"


Azril melepas cubitannya "Kalau ngomong di jaga ra" ujar Azril tajam


"Iya iya ah, becanda doang juga" gerutu Rara, ia mengelus pipinya yang sudah memerah


***


"Sayang udah siap, duhh cantik banget sih" ujar Azril kala melihat istrinya sedang berdiri di depan kaca


"Cantik dari Hongkong, kemana semua make up aku kenapa cuma pelembab wajah, bedak sama lipstik" decak Rara sebal


"Udah gitu aja udah cantik kok, gak usah di tambah macam macam, eehhh......" Azril mencium aroma wangi yang sangat ia kenal, hidungnya mengendus-endus mencari sumber wangi tersebut hingga sampailah di dekat Rara


"Mas apaan sih" Rara mendorong tubuh Azril agar menjauh darinya


"Kamu pakai parfumnya mas ya, ganti kerudungnya" perintah Azril


"Mas..."


"Udah janji mau nurutkan, buruan di ganti umi sama abi udah nungguin"


"Iya iya, perempuan sejati selalu menepati kata-katanya" ujar Rara kesal


"Meski tak ikhlas" lanjutnya


Terpaksa Rara menuruti perintah Azril, jika ia membantah Azril selalu menggunakan kartu as berupa janji yang pernah Rara lontarkan


"Aqiqohannya di masjid ra"


"Tunggu sini sebentar mas buatkan susu dulu" Azril langsung bergegas masuk ke dalam tanpa mendengar persetujuan Rara


"Ehhhhh ustadz Afham" teriak Rara kala melihat sosok pria yang dulu menjadi penyelamatnya


Merasa namanya di sebut ia menoleh kanan kiri, tampak sosok wanita yang berjalan dengan langkah cepat menghampirinya


"Hahaha udah lama gak ketemu kangen banget, makin tampan aja nih ustadz galak" decak Rara


Afham hanya tersenyum melihat perubahan Rara yang sudah kembali ceria, Rara melirik ke arah beberapa orang sekitar yang tengah berdiri di samping ustadz Afham, ada dua orang pria dan satu orang wanita muda


"Ustadz Afham makasih ya buat malam yang telah berlalu itu" ujar Rara sembari tersenyum manis, ia belum sempat mengucapkan kata terima kasih pada Afham yang telah menyelamatkannya, tangannya mengelus perutnya yang kian membesar


"Ya sama-sama ra, saya juga harus bertanggung jawab pada mu" ujar Afham yang mengulas senyum tipisnya, ia melirik ke arah perut bundar Rara "Gercep banget dia" gumam Afham dalam hati


Ketiga orang itu menatap ke arah Afham kemudian beralih ke arah Rara yang terus mengelus perut bundarnya, mereka mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut keduanya, hingga timbullah satu kesimpulan dalam benak mereka


"Ahfam kamu menghamili dia?" tanya sosok pria paruh baya tersebut, wajahnya terlihat murka


"Gak nyangka sosok sepertimu telah melakukan dosa besar, dek kamu gak pantas dapetin laki-laki seperti dia" timpal pria muda di sampingnya


"Mas apa itu benar?" tanya wanita muda dengan mata berkaca-kaca


Rara bingung menyaksikan drama yang ada di hadapannya, kemudian ia beralih menatap Afham yang nampak datar tanpa ekspresi, sepertinya tak ada niatan baginya untuk mengklarifikasi hubungannya dengan Rara


"Apa ini ilmu yang kamu pelajari selama ini?" tanya pria paruh baya dengan murka


"Lebih baik kita batalkan saja perjodohan ini, abang gak mau kamu dapat pria seperti ini" timpal pria muda menatap tajam ke arah Afham


Suasana nampak tegang, di tambah Afham yang hanya diam saja membuat Rara semakin bingung


"Ehh sepertinya......." Rara hendak meluruskan kesalahpahaman itu namun


"Ra ini minum dulu susunya" ujar Azril yang membawa termos kecil di tangannya


"Gak mau mas tadi udah" tolak Rara


"Gak bisa gitu dong sayang, ini ada dua janin jadi harus minum susu dua kali biar adil"


"Eh Afham kapan sampai ke sini?" tanya Azril yang melirik ke arah Afham


"Assalamualaikum kyai Sholihin, maaf saya tidak menyadari keberadaan kyai" ia menyalami kyai tersebut saat sadar ada pimpinan lain dari pondok tetangga


"Waalaikumsalam, wanita ini?" tanya kyai Sholihin yang pandangannya menatap ke arah Rara


"Oh perkenalkan kyai ini istri saya, namanya Syafeera Halwah, biasa di panggil Rara" ujar Azril yang memperkenalkan istrinya sendiri


"Oh kalau begitu....."


"Mohon maaf kyai, saya setuju perjodohan ini di batalkan" ujar Afham dengan lancang memotong perkataan kyai Sholihin


"Kenapa mas? tadi kita hanya salah paham" ujar wanita tersebut


"Sekali lagi saya mohon maaf, kalau begitu saya pamit dulu ayo Azril ayo Rara kakek sudah menunggu kedatangan kalian wassalamu'alaikum" Afham berjalan meninggalkan mereka lebih dulu


"Ehh... pantas dia gak mau klasifikasi" gumam Rara dalam hati


Azril mengerutkan dahinya bingung kemudian ia ikut berpamitan pada kyai Sholihin


"Kenapa tadi ra?" tanya Azril penasaran


"Itu tadi mereka ngira ustadz Afham yang ngehamilin aku" ujar Rara santai


"Kok bisa mereka ngira gitu?" tanya Azril tak terima


"Ya namanya manusia pasti bisa salah paham"


"Gak ini pasti kamu kan yang ngomong aneh aneh?"


"Ya Allah mas......."


"Gak usah deket deket sama Afham lagi" Azril jadi teringat kala Rara memeluk tubuh Afham dengan erat, itu membuat ia semakin kesal


Rara membuka mulutnya lebar-lebar tanpa mampu berkata apapun


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Comment titik doang juga gak pa pa 🙃