
Baheer hendak menelpon balik namun sebuah spam chat dari Ammar mengurungkan niatnya, ia membuka pesan tersebut, ternyata Rara sudah melahirkan
"Bang" Baheer menepuk pundak Azril hingga membuat sang pemilik pundak menghentikan aktivitas suap menyuapnya dan menoleh ke arah Baheer
"Apa?" tanya Azril
"Ini ada....."
"Nanti aja bahas pekerjaannya" potong Azril yang mengira Baheer hendak membahas pekerjaan dikarenakan pandangan Baheer yang tak lepas dari hpnya, ia kembali menusuk potongan apel dan menyuapkannya ke Fera
"Bukan pekerjaan bang, ini soal non Rara.... ehh non Rara" Baheer menghentikan ucapannya, ia mulai membelalakkan matanya kala membaca pesan yang menyatakan bahwa Rara tak sadarkan diri sehabis melahirkan, tadi ia hanya membaca sekilas bahwa Rara telah melahirkan
"Iya nanti saya telfon dia balik" ujar Azril
"Bukan gitu bang, non Rara sudah melahirkan" pekik Baheer
Perkataan Baheer membuat Azril berdiri dengan spontan, ia berhenti menyuapi Fera dan meletakkan piring di atas meja
"Apa Baheer? coba ulangi lagi" pinta Azril, sekarang usia kandungannya baru delapan setengah bulan, mengapa kedua bayinya menerobos di waktu yang tidak tepat
"Non Rara sudah melahirkan dan sekarang......" Baheer menghentikan ucapannya kala ponselnya di rampas oleh Azril
Azril membaca chat dari kakaknya, kabar Rara melahirkan prematur saja sudah membuat ia terkejut, ditambah dengan kondisi Rara sekarang sedang tak sadarkan diri beberapa menit setelah melahirkan membuat ia semakin syok
"Baheer pesankan tiket pesawat paling cepat" pinta Azril panik, wajahnya nampak pucat, ia yang telah berjanji akan menemani istrinya melahirkan malah ia ingkari, siapa yang dapat memperkirakan bahwa Rara melahirkan hari ini, tak ada yang tahu bukan, rencananya ia akan pulang besok namun dikarenakan Fera mengalami kecelakaan membuat ia hendak menunda kepulangannya tiga sampai empat hari menunggu kepulihan Fera, ia pikir masih ada waktu sebelum usia kandungan Rara menginjak sembilan bulan
"Mas gak pa pa?" tanya Fera khawatir
Azril menatap ke arah Fera yang masih dalam keadaan terbaring di rumah sakit, tubuhnya juga belum pulih, perkiraan dokter sekitar tiga sampai empat hari Fera diperbolehkan untuk pulang
"Fera saya akan pulang ke Jakarta lebih dulu, kamu tenang saja di sini ada Baheer yang akan menemani kamu, saya juga akan meminta bantuan rekan kamu untuk menjaga kamu" ujar Azril
Fera hanya terdiam mendengar keputusan Azril, sedikit tak rela namun ia harus sadar bahwa ia bukan orang penting yang harus menahan Azril di sini, istrinya jauh lebih penting dibandingkan dengan dia yang hanya sebatas TEMAN, baru saja ia terbuai dengan perhatian Azril namun kini ia di tampar dengan kenyataan pahit
"Baheer saya akan langsung ke bandara, tolong kemasi semua barang saya dan bawa kembali ke Jakarta saat kamu balik ke Jakarta nanti" ujar Azril yang mendapat anggukan dari Baheer
"Abang hati-hati di jalan, semoga non Rara baik baik saja" ujar Baheer tulus
"Aamiin"
Azril segera berlari mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia terus saja memikirkan kondisi Rara, mulutnya tak henti-hentinya berdoa, ia benar-benar tak kuasa membayangkan wajah pucat Rara
Sampai di bandara ia meninggalkan mobilnya, biar Baheer nanti yang mengambil, ia tak membawa barang apapun hanya dirinya serta dompetnya, beruntung tadi Baheer sudah memesankan tiket secara online, dan yang lebih beruntung lagi ia mendapati tiket yang tiga puluh menit kemudian akan lepas landas menuju Jakarta
Kejadian ini seperti Dejavu, mengebut di jalan dan berlarian di bandara dengan pikiran yang kacau penuh bayang akan istrinya
***
Sekitar pukul lima sore Rara membuka matanya, mata bulat itu mengerjap-ngerjap menetralkan cahaya yang masuk pada retina matanya
"Kamu sudah sadar sayang" ujar sang mama penuh haru
"Alhamdulillah kamu buat papa takut" desis papa
Ia menatap ke sekelilingnya, terdapat orang tuanya, mertuanya, kedua kakaknya, serta kakak iparnya, namun hanya satu yang kurang yaitu suaminya sendiri
Setelah sadar sepenuhnya Rara memegangi perutnya yang sudah kempes, ia teringat bahwa dua bayi yang sering ia bawa kemana-mana dalam perutnya sudah menerobos keluar, sosok makhluk baru yang datang ke dunia ini serta datang dalam kehidupan Rara
"Mana bayi aku ma, apa dua-duanya masih hidup?" tanya Rara panik
Mamanya yang sangat mengerti kondisi Rara segera menenangkan putrinya "Baik sayang, dua-duanya selamat, kamu tenang aja ya istirahat dulu jangan banyak pikiran"
"Dua duanya masih hidup kah, gak mati kan?" Rara masih saja mengkhawatirkan hal itu
"Sssttttt masih ada tenang aja keponakan kakak dua-duanya kuat, yang gak kuat tuh kamu ra, masak habis lahiran langsung pingsan, payah ah" ujar Dariel
"Heh gak boleh gitu, ibu melahirkan itu mempertaruhkan nyawanya, orang yang gak pernah merasakan melahirkan emang gampang ngomongnya, coba aja kamu dikutuk jadi seorang laki-laki yang dapat melahirkan pasti baru pembukaan satu udah melayang nyawanya" ujar papa bijak sekaligus menyindir
"Halah papa sok tahu, emang papa pernah merasakan melahirkan?" tanya Dariel
"Heleh tahu apa papa, tahu buatnya doang kan" sindir Dariel yang emang benar kenyataannya
"Ya kalau buatnya siapa yang gak tahu, cuma orang jomblo aja sih yang gak tahu" papa membalas sindiran Dariel
"Berisik, inget umur" peringat Alfred
"Udah udah kebiasaan berantem gak tahu tempat" tegur mama
"Ra kamu mau makan apa mmmm? kamu dah lapar kan" tanya mama kala melihat putrinya hanya bengong dengan pandangan kosong ke arah pintu ruangan
Semua orang menyadari bahwa wanita ini sedang menunggu suaminya datang
"Bentar lagi Azril datang kok ra tenang aja" ujar Ammar menenangkan, ia baru mendapatkan kabar dari Baheer bahwa Azril sudah dalam perjalanan pulang
"Iya ra, tunggu aja, pesawatnya lagi kena macet di langit soalnya" timpal Dariel
"Jadi orang gak usah beg* beg* amat dong, ya kali di langit ada lampu merah ijo" timpal Alfred
"Ssstttttt ini tuh cuma buat nenangi Rara" bisik Dariel keras, tentu semua orang dapat mendengar bisikannya
"Dia bukan anak kecil yang mudah di tipu sama kamu, ingat IQ dia lebih tinggi dari kamu" ujar Alfred datar
"Cihhh kenapa bawa-bawa IQ segala sih" gerutu Dariel, ia memang memiliki IQ yang lebih rendah dibandingkan dengan Alfred dan Rara, ntah dia keturunan siapa, mungkin karena dulu mamanya sering ngidam yang aneh-aneh membuat otaknya sedikit geser
"Ma aku pingin lihat bayi aku" ujar Rara lirih
Mama menghadap ke arah papa serta besannya meminta persetujuan dari mereka, melihat mereka semua mengangguk akhirnya mama Rara mengiyakan
"Tapi pakai kursi roda ya ra, tubuhmu masih lemas" ujar papa
Rara hanya mengangguk setuju, ia ingin cepat cepat melihat kedua buah hatinya tanpa nama karena memang belum memiliki ide soal nama mereka berdua
Papa mendorong kursi roda yang di duduki Rara ke ruang inkubator, setelah mendapat instruksi dari petugas di sana kini Rara dapat melihat kedua bayinya
Rara meneteskan matanya penuh haru, bayi mungil yang memiliki berat di bawah rata-rata itu tampak menggerakkan tangan mungilnya, tubuhnya di pasang alat bantu untuk meninjau perkembangannya
Rara ingin menggendongnya namun ia takut terjadi apa-apa dengan bayi tersebut "Semoga kalian bisa hidup lebih lama di dunia ini sampai mamah pergi suatu saat nanti" doa Rara dalam hati
"Ma apa mereka bisa hidup lebih lama?" tanya Rara tiba-tiba
"Tentu saja, kalau Allah mentakdirkan hidup mereka di dunia ini lama maka mereka akan hidup lama" ujar mamanya lembut
"Aku gak mau kehilangan di saat mereka sudah bernafas dan dapat menghirup udara di dunia ini" gumam Rara lirih
"In Syaa Allah tidak sayang, berdoa sama Allah ya" ujar papa
"Ngomong-ngomong mau di beri nama siapa?" tanya papa
"Mmmm Rara belum tahu, nunggu mas Azril aja" ujar Rara pasrah
"Di kasih Adelard ya di belakangnya" usul papa
"Mas ini kan walinya Azril, keturunannya Azril ya masak ikut nama keturunannya Rara sih, kalau nanti Alfred sama Dariel punya anak baru ikut keturunan keluarga kita" ujar mama yang menyenggol lengan suaminya
"Iya masak sih gak boleh"
"Lebih baik ikut keturunannya Azril mas"
"Iya iya" ujar papa pasrah
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Sampai ketemu di episode berikutnya di saat Azril bakal muncul di balik pintu ruangan perawatan Rara 😖😖😖
Jangan lupa dukung karya ini yooo