
Kini Rara dapat tertidur pulas sehabis menyantap makanan yang di sedekahkan dari ustadz Afham untuknya
"Kalian mau apa?"
"Jangan aku mohon"
"Tolong"
"Mama papa Rara takut"
"Kak kakak Rara takut"
"Tolong"
"Jangan sentuh aku"
"Tidak aku tidak bersalah, lepaskan aku"
"Akkkkhhhhh"
"Rara bangun" sayup-sayup terdengar suara seseorang yang berusaha menarik dia dari alam bawah sadarnya
"Rara bangun" Zelin mengguncang pundak Rara berkali-kali untuk membangunkannya dari mimpi buruk yang Rara alami
Spontan Rara langsung terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal, keringat mengalir membasahi dahinya, bayangan akan masa lalu kini menghantuinya lagi
"Ra kamu gak pa pa?" tanya Zelin lembut ia mengusap punggung Rara pelan
Rara hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Zelin
"Ini minum dulu" Zelin menyodorkan segelas air putih
Teguk demi teguk air mengalir membasahi kerongkongannya hingga air di gelas tandas begitu saja
"Kamu ngapain disini?" tanya Rara sembari melirik ke arah Zelin yang duduk di sampingnya
"Aku mau ke masjid buat ngajakin kamu shalat" ujar Zelin semangat
"Shalat apa? ini baru jam satu" ujar Rara yang melirik ke arah jam dinding yang terletak di dinding kamarnya
"Shalat istikharah, aku mau minta sama Allah agar ustadz Nathan bisa menjadi pendamping hidupku" ujar Zelin dengan senyum manisnya
"Shalat istikharah tuh apa?" tanya Rara penasaran
"Shalat istikharah itu biasanya di lakukan agar kita mengetahui siapa jodoh kita" ujar Zelin
"Hanya untuk jodoh?" tanya Rara
"Mmmm nggak sih, tapi biasanya orang-orang gitu, untuk menentukan diantara dua pilihan, yah agar dapet petunjuk gitu" ujar Zelin lagi
"Udah yuk ke masjid sekalian kita ngetem di masjid untuk shalat tahajud terus baca Al-Qur'an terus shalat shubuh" ajak Zelin sembari menarik-narik tangan Rara, sudah tobat rupanya ini anak
Rara berpikir sejenak "Apa aku juga shalat istikharah aja kali ya, biar tahu siapa jodohnya kak Alfred dan kak Dariel, biar tahu aja gitu siapa orang yang kurang beruntung mendapatkan mereka" gumam Rara dalam hati, akhirnya dia pun memutuskan untuk mengikuti ajakan Zelin
Setelah mendapat petunjuk tata cara shalat istikharah dari Zelin dia pun melaksanakan shalat istikharah dengan khusyuk tak lupa berdoa meminta petunjuk
Sesudah shalat Zelin mendekati Rara dan duduk di samping Rara sembari menggelar sajadah nya
"Heh" Zelin menyenggol lengan Rara pelan
"Apa?" tanya Rara menghadap ke arah Zelin
"Kamu tadi shalat istikharah buat nambah suami lagi ya" ujar Zelin asal
"Kok kamu tau" ujar Rara dengan mimik wajah yang pura-pura serius bercampur kaget
"Hah yang bener" ujar Zelin yang kaget beneran
"Ya tapi sayangnya di Indonesia tidak di perbolehkan poliandri" ujar Rara dengan mimik wajah sedih
"Sabar ya ra nanti takutnya kalau kamu punya suami banyak kamu kewalahan aja" ujar Zelin
"Iya kewalahan di bobol terus hahahahaha" Zelin tertawa melihat raut wajah Rara
Rara mengerucutkan bibirnya "Eh ada ustadz Nathan" teriak Rara
Dengan secepat kilat Zelin menoleh ke arah pandangan Rara "Mana ra?" tanya Zelin antusias
"Eh salah liat" ujar Rara watados
"Isss nyebelin banget sih" gumam Zelin kesal
"Ra kamu masih sering di bully gak?" tanya Zelin yang sudah merebahkan tubuhnya di lantai masjid beralaskan sajadah, pandangan menatap langit-langit masjid
"Masih" ujar Rara datar
"Kamu gak mau ngelawan?" tanya Zelin
"Mau" Rata ikut merebahkan dirinya di samping Zelin
"Kalau mau kenapa gak pernah ngelawan, emang sih kalau diliat liat nih ya kamu tuh polos orangnya tapi kalau sudah mengenal kamu rasanya kamu tuh punya aura yang tidak dapat terkalahkan" Zelin memalingkan wajahnya ke samping menghadapi Rara
"Karena........."
"Heem" terdengar suara deheman yang membuat mereka berdua kaget, dengan segera mereka mendudukkan diri mereka masing-masing
"Astaghfirullah mbak kunti" ujar Zelin kaget
"Bukan itu mbak ocong" ujar Rara membenarkan
Ternyata Shella berdiri di belakang mereka dengan memakai kain putih di sekujur tubuhnya
"Ya Allah tega bener dah, orang cantik gini di katain kunti ama ocong" degus Shella sebal
"Lagian ngapain sih kamu punya hobi bikin orang jantungan mulu" ujar Zelin
"Mbak-mbak sekalian yang saya cintai masjid bukanlah tempat buat tidur, bukan pula tempat buat ghibah, masjid merupakan tempat beribadah bagi orang muslim, maka dari itu jika kalian benar-benar seorang muslim dan bukan muslim abal-abalan tentu kalian sudah tahu apa yang harus di lakukan di dalam masjid" Shella berdiri di depan mereka berdua sembari berpidato dengan menggerakkan tangannya layaknya berdiri di mimbar
Zelin dan Rara hanya melongo melihat tingkah Shella
***
"Bentar lagi ujian nih UN UN kalian mau daftar kampus mana, atau kalian mau mengabdikan diri kalian untuk pondok tercinta ini" tanya Shella ketika jam istirahat
"Aku dah kuliah" ujar Rara
"Oh iya iya kok aku lupa sih, kalau kamu Zelin?" tanya Shella sembari menghadap ke arah Zelin
"Aku mau nikah aja sama ustadz Nathan" ujar Zelin sembari tersenyum sendiri nampaknya pikiran nya sudah melayang ntah kemana
"Iya kalau ustadz Nathan mau sama kamu, dengar-dengar nih ya beliau tuh sudah menyukai seseorang tau, katanya sih mau ngelamar orang itu " ujar Shella memanas-manasi Zelin
"Apa gak mungkin" teriak Zelin hingga mengundang banyak mata yang mengarah ke belakang tempat mereka bertiga duduk
"Loh kamu gak tau Zelin?" tanya Rara yang ikut-ikutan memanas-manasi Zelin
"Hah yang bener kalian tau darimana?" wajah Zelin terlihat pucat bercampur panik hilang sudah senyuman yang tadi merekah di bibirnya
"Iya bener, bener bener ngarang hahahahahaha" ujar Shella dan Rara kompak keduanya langsung tertawa melihat ekspresi Zelin yang sedari tadi berubah ubah, awalnya ia tersenyum senang kemudian menjadi pucat dan panik eh sekarang menjadi marah dan geram
Bel sudah berbunyi jam istirahat pun usai, namun guru yang mengajar kelas mereka belum datang
"Udah donk jangan marah lagi" bujuk Shella, ia juga mengkode Rara agar mencari cara supaya Zelin tidak ngambek lagi
"Nanti cantiknya ilang lo terus nanti ustadz Nathan malah tambah gak mau sama kamu loh" niat hati ingin membujuk eh malah mendapat tatapan tajam dari Zelin
"Eh ada ustadz Nathan" teriak Rara
"Emang kamu pikir aku bakal jatuh ke lubang yang sama, aku gak sebodoh itu ya ferguso" Zelin ikut berteriak dengan sinis apalagi jam ini bukanlah jam milik ustadz Nathan
"Kalau kamu gak bodoh maju ke depan terangkan bab sebelumnya, tapi sebelum itu saya mau salam dulu serta mengabsen kalian"