
"Umi sirup rasa cocopandan mana ya?" tanya Azril
"Itu di lemari bawah, paling belakang"
"Kenapa di taruh di sini mi?" tanya Azril sembari mencari sirup yang ia inginkan, biasanya botol sirup di taruh di lemari kaca agar mudah terlihat
"Itu umi yang naruh, katanya Rara mual kalo liat sirup merah" Azril hanya menganggukkan kepalanya
"Azril istri kamu baik-baik saja kan?" tanya umi khawatir
"Iya umi, Rara baik-baik saja, memang ada apa umi?" tanya Azril yang mendekati uminya
"Umi cuma khawatir aja, soalnya umi pernah nyuruh dia buat nyuci ayam atau daging tapi dia menolak, bilangnya gak bisa"
"Tapi tiap kali umi mau nyuci daging pasti dia menjauh, kayak kelimpungan gitu, malah kadang pergi menghindari dapur sampai umi selesai nyuci"
"Oh mungkin efek kehamilannya kali mi" ujar Azril
"Masak separah itu, umi ingat banget waktu umi motong wortel dengan buru-buru gak sengaja ngenain jari telunjuk umi eh malah Rara yang berteriak histeris, habis itu dia malah lari ke kamar, mengunci diri"
Azril mencerna setiap perkataan yang di lontarkan uminya mengenai istrinya
"Apa dia punya trauma?" tanya umi hati-hati
"Trauma apa mi?"
"Umi yang nanya kok malah kamu yang balik nanya"
"Ehh maaf mi Azril kurang peka"
"Kamu gimana sih sama istri sendiri malah gak mengenal dirinya dengan baik"
"Maaf mi, kalau gitu Azril pamit ke kamar dulu ya"
"Eh ini sirupnya gak jadi di buat, apa mau umi buatkan"
"Gak usah umi, udah gak haus"
Umi hanya menggeleng melihat kepergian putranya, mungkin dia mengkhawatirkan istrinya
Azril membuka pintu kamarnya, ia mendapati Rara yang telah tidur terlelap, perlahan ia mengusap rambut Rara dengan hati-hati
"Apa benar aku belum mengenalmu dengan baik" gumamnya dalam bisikan
***
"Mas kamu pingin bayi cewek apa cowok?" tanya Rara kala telah bersiap menuju rumah sakit untuk memeriksa kandungannya serta jenis kelamin dari bayinya
"Sedapatnya ra, cewek cowok sama aja" ujar Azril tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone
"Beda lah mas, kalo cewek itu perempuan kalo cowok itu laki-laki"
"Hah" Azril menatap bingung ke arah Rara, ini dia yang agak rada-rada apa istrinya yang agak rada-rada
"Pingin cewek apa cowok?" Rara mengulang pertanyaannya
"Cewek" ujar Azril kala mengingat bahwa istrinya ingin memiliki bayi perempuan
"Itukan keinginan aku, gak bisa cari yang lain"
"Hah"
"Ayo cari yang lain!" perintah Rara
"Cari yang lain gimana pilihannya hanya dua, cewek apa cowok, kalau kamu milih cewek berarti mas harus pilih cowok"
"Iya berarti kamu pingin cowok ya"
"Teori macam apa ini" batin Azril
"Kalau gitu ayo kita taruhan mas, kalau bayi kita perempuan kamu harus menuruti permintaan aku, begitu pula sebaliknya"
"Ra gak boleh taruhan" ujar Azril tegas
"Kenapa kamu takut ya, idih cowok kok pengecut"
"Mas gak pengecut" ujar Azril tak terima
"Ok deal kita taruhan" Rara segera menjabat tangan Azril tanda pertaruhan dimulai
"Udah ayo berangkat, mas udah dapat no antriannya"
"Ayo let's go, habis itu pergi ke mall ya, beli perlengkapan bayi"
Azril melihat raut wajah ceria dari istrinya, tapi ia tidak bisa menjamin apa dia akan pulang dari rumah sakit dengan wajah ceria pula
***
"Mas cuma pingin kamu sembuh"
Rara hanya terdiam matanya tak lepas dari pemandangan luar kaca mobil, sesekali ia mengusap pipinya, Azril tahu bahwa kini istrinya sedang menangis
Azril mengendarai mobilnya untuk pulang, keinginan Rara mengunjungi mall ia urungkan, tidak mungkin ia membawa istrinya ke mall dalam keadaan seperti ini
"Ra..." panggil Azril kala mereka sudah berada di halaman rumah milik kedua orang tua Azril
Rara menarik nafasnya dalam-dalam, ia mengusap wajahnya berusaha menetralkan ekspresinya agar tak terlihat buruk kalau saja ia akan berpapasan dengan mertuanya
Ia merututi dirinya yang tak pernah membawa make up ketika berpergian seperti para wanita pada umumnya, kini ia tau fungsi lain dari make up
Setelah dianggap aman perlahan ia membuka pintu mobil yang sudah terparkir di halaman rumah dari lima menit yang lalu, melihat istrinya turun Azril juga segera turun dari mobil
"Eh kalian sudah pulang, gimana hasil USG nya?" tanya umi kala membuka pintu rumah mempersilahkan anak dan menantunya masuk
Rara hanya tersenyum sekilas, menundukkan wajahnya dan segera beranjak dari kamar
Umi menatap Azril dengan heran, sorot matanya meminta untuk menjelaskan apa yang terjadi
"Nanti Azril ceritain, Azril mau ke kamar dulu" pamitnya pada sang umi
Perlahan Azril duduk di tepi ranjang, menatap istrinya yang kini tengah tidur terlentang dengan bantal di atas wajahnya
"Sayang nanti gak bisa nafas" ujar Azril selembut mungkin, tangannya meraih bantal yang menutupi wajah istrinya, namun dengan kekeh tangan Rara menahan bantal tersebut agar tetap berada pada tempat yang ia inginkan
"Maaf" ujar Azril berkali-kali namun itu semua hanya membuat Rara bergeming
"Mas keluar bentar ya, kamu istirahat dulu" Azril akhirnya menyerah membujuk istrinya untuk saat ini, mungkin nanti dia akan mencobanya lagi
"Kenapa dengan menantu umi?" tanya umi dengan nada mengintimidasi ketika Azril melewati ruang tamu, Azril mendudukkan dirinya tak jauh dari uminya
"Tadi aku membawa Rara ke psikiater"
"Apa?" pekik umi terkejut
"Rara tahu kamu akan membawanya ke sana?"
Azril menggeleng "Kalau dia tahu sudah di pastikan dia tidak akan mau pergi"
"Rencananya kemarin kita mau pergi ke dokter kandungan untuk melakukan USG, namun mendengar perkataan umi semalam membuat aku tidak tenang"
"Benar saja dia mengalami phobia darah"
"Astaghfirullah, kamu tuh gimana sih masak kamu baru tahu sekarang, kalau kamu tahu dari dulu kamu bisa bilang ke umi, umi akan lebih hati-hati"
"Tapi dia udah tahu mi, dia udah tahu bahwa dia mengalami itu, sekarang aku tahu perkataan dia bahwa mimpinya sudah hancur" ujar Azril lirih
"Apa dia mengalami itu dari kecil?"
"Tidak mi, semenjak kecelakaan yang menimpa dirinya"
"Azril" teriak umi keras
"Lagi-lagi gara-gara kamu" lanjutnya
"Aku tahu aku salah, maafin aku umi"
"Bagaimana bisa ia menahan semua itu sendirian"
"Terus Azril harus apa umi? Azril juga gak tega"
"Mana umi tahu, umi aja sekarang bingung, kalau gitu apa dia bisa sembuh?"
"In Syaa Allah bisa umi, trauma nya bisa sembuh kata dokternya tadi, ya asal harus rutin periksa sama minum obat"
"Alhamdulillah, jadi tadi kalian belum melakukan USG?"
"Belum umi, tunggu sampai Rara tenang dulu baru periksa kandungan"
"Kalau gitu Azril ke kamar dulu mau ngecek keadaan Rara ya mi"
"Iya udah sana, jagain sampai kondisinya stabil, dia lagi hamil gak boleh banyak pikiran apalagi sampai stress"
"Iya umi"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗