
"Dua hari sebelum pernikahan kita, itu berarti pernikahan aku dengan Azizah" batin Azril
Azril termenung mendengar perkataan Rara, hening tak ada suara sama sekali hingga semenit berlalu barulah Rara membuka mulutnya
"Aku gak ingat lagunya apa, mmm..... gak hapal juga sih, yang aku lihat ketulusan cinta di antara kalian"
Azril menangkup pipi Rara mengarahkan wajah Rara tepat di hadapannya dengan jarak sekitar 15 centimeter "Kamu tahu darimana ra, apa kamu merupakan salah satu tamu undangan?" tanya Azril yang merasa tak enak hati pada istrinya
"Gak lah, kenal kamu aja gak" ujar Rara ketus, ia menarik kedua tangan Azril agar terlepas dari pipinya
"Terus?" tanya Azril lirih
"Kau tahu itu adalah pernikahan impian bagi semua kaum wanita"
"Jika dibandingkan pernikahan ku dengannya sangat jauh berbeda, pernikahan ku kayak stand komedi, tak ada gedung yang megah, tak ada gaun mewah, tak ada keharuan dan tak ada kebahagiaan, hanya ada gelak tawa para tamu yang tidak mengerti kisah di balik layar sang mempelai"
"Apa kamu cemburu?" tanya Azril hati-hati, memang benar jika dibandingkan pernikahan dia dan Rara dengan pernikahan dia dan Azizah sangat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, bahkan Azril hanya memberikan mahar seadanya tanpa bertanya pada Rara apa yang ia inginkan
"Aku tak berhak untuk cemburu dengan masa lalu kamu, karena aku bukan bagian dari masa lalu kamu, tapi jika seseorang dari masa lalu kamu hadir di masa sekarang atau bahkan di masa depan nanti maka aku berhak cemburu bahkan berhak menentukan pilihan ku sendiri"
Azril memeluk tubuh Rara, menenggelamkan kepala istrinya ke dalam dada bidang miliknya, membiarkan sang istri mendengarkan detak jantungnya yang sedang berirama dengan merdu
"Masa lalu ku tak akan pernah datang kembali, karena ada seseorang yang harus aku jaga di masa sekarang hingga di masa dimana kita akan berkumpul di akhirat kelak"
Rara mendongakkan kepalanya menatap mata Azril yang penuh dengan ketulusan
"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa jatuh hati padamu" ujar Rara dengan sorot mata yang tak bisa diartikan
"Itulah yang aku mau" ujar Azril lembut
"Tapi.........." Rara menjeda ucapannya sebentar
"Sekarang aku tahu bahwa semegah-megahnya pernikahan, secinta-cintanya kedua mempelai jika tak di takdir kan untuk bersatu maka mereka akan berpisah"
"Ra......"
"Tunggu dulu aku belum selesai bicara" potong Rara yang melepaskan pelukan Azril
"Ehhh iya ra lanjutkan" ujar Azril pasrah
"Jadi intinya aku tak membutuhkan sebuah pernikahan megah ataupun pernikahan sederhana, aku tak membutuhkan sepasang manusia yang saling mencintai namun akhirnya harus di pisahkan, aku hanya membutuhkan sebuah pernikahan dengan penuh keharmonisan dan saling menghargai satu sama lain hingga membawaku ke akhir hidupku"
"Dan jika aku mendapatkan sebuah pernikahan yang saling mencintai satu sama lain maka aku termasuk orang yang beruntung"
"Aku ingin kamu menjadi salah satu diantara orang-orang yang beruntung itu" ujar Azril lirih
"Tunggu sampai hati ini jatuh padamu, maka aku akan menjadi salah satu diantara mereka" Rara tersenyum manis hingga menampakkan lesung pipinya
"Aku akan menunggu sampai kapanpun itu, dan jika hatimu sudah jatuh padaku bisakah kamu memberitahukan aku, seperti layaknya aku memberitahukan kamu"
"Maksudmu seperti kejadian di kebun binatang?"
"Ehh gak juga, di mana aja asal aku mendapatkan pernyataan cinta yang tulus dari mu, dan lagi awal aku mengungkapkan cinta padamu itu saat kamu memberi tahuku bahwa ingatan mu sudah pulih"
"Ohhh"
"Jangan oh oh aja, kamu belum ngasih tahu kapan kamu lihat aku nyanyi dan kenapa kamu bisa lihat aku nyanyi"
"Gak tau" Rara langsung tengkurap sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya
"Ra jawab, dari mana" Azril mengguncang tubuh Rara pelan, namun tak mendapat respon apapun
"Pura-pura tidur kan" gerutu Azril kala ia berhasil membalikkan tubuh Rara terlentang namun mata Rara telah terpejam
***
Hari demi hari berlalu aktivitas Rara hanya berdiam diri di rumah, membantu umi, pergi ke empang, menyiram kebun, jalan mondar mandir kayak setrikaan dan bahkan mengejar kucing jika ada kucing yang nongol di halaman rumah mertuanya
Nampak normal di pagi siang dan sore hari namun jika malam hari penyakitnya kambuh, biasa bawaan dari bayinya
Seperti pada malam hari ini, ia membangunkan Azril yang telah terlelap sehabis pulang dari luar kota, wajah Azril nampak capek karena perjalanan yang cukup jauh, ia berangkat dari habis subuh dan pulang menjelang isya'
"Mas bangun, mas bangun, mas bangun" Rara mengguncang tubuh Azril tanpa rasa bersalah, tak peduli meski wajah suaminya nampak lelah
"Mmmmmm"
"Mas bangun buka dulu itu matanya"
"Apaan sih" tanpa sadar Azril menepis tangan Rara yang memegangi pundaknya
"Mas" teriak Rara hingga membuat Azril membuka matanya
"Astaghfirullah hal adzim hantu" pekik Azril terkejut, ia segera memundurkan badannya dengan mata terpejam yang ia tutupi menggunakan tangan
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta khudzuhuu sinatuw walaa naum....." suara Azril nampak bergetar ketakutan
"Mas" Rara menyentuh kaki Azril namun dengan sigap Azril menendang tangan Rara
"Bentar belum selesai baca ayat kursinya...... Lahuu maa fissamawati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih" Azril melanjutkan bacaannya dengan tubuh gemetar
"Ya’lamu maa baina aidiihim wamaa....."
"Mas ini Rara, ini Rara, masssss" rengek Rara sembari membuka masker topengnya, rengekan Rara membuat Azril sadar, perlahan Azril membuka matanya ia mengintip benarkah ini istrinya
"Ya ampun ra kamu bikin mas kaget" ujar Azril mengelus-elus dadanya yang masih berdebar tak karuan
"Astaghfirullah" Azril beristighfar beberapa kali untuk menenangkan dirinya
"Kamu ngapain sih pakai topeng malam-malam" ujar Azril sedikit kesal
"Kurang kata masker sama wajah, ini namanya masker topeng wajah" ujar Rara yang memperbaiki ucapan Azril
"Iya itu pokoknya, jangan pakai itu malam-malam lagi, kemarin kamu dah ngagetin mas dengan nyungsep di bawah kolong tempat tidur sekarang malah nyamar jadi hantu"
"Siapa yang nyungsep di kolong tempat tidur itu aku nyari lipblam yang gelinding ke bawah tempat tidur"
Kemarin malam saat Rara hendak mengoleskan lipblam di bibirnya tanpa sengaja ia menjatuhkan lipblam tersebut hingga menggelinding ke bawah kolong tempat tidur, karena saking dalamnya terpaksa Rara merangkak masuk ke dalam kolong tempat tidur sembari menyalakan senter yang ada di hpnya, kebetulan Azril baru memasuki kamar, Rara yang masih berada di dalam kolong ketika melihat ada kedua kaki Azril segera ia pegang hingga membuat Azril terkejut bukan main, bayangkan saja tiba-tiba ada tangan yang muncul dari kolong tempat tidur memegangi kakimu
"Belum lagi dua hari yang lalu pukul tiga dini hari kamu tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi dengan menggunakan mukena putih di seluruh tubuh mu"
"Itu kan aku mau ikut salat tahajud bareng kamu"
"Ra plis jangan main uji nyali lagi ya, mas bisa jantungan" ujar Azril memelas
"Aku mau sate ayam rasa sapi mas" pinta Rara
"Astaghfirullah hal adzim ra" Azril mengusap wajahnya kasar
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗