
Semalaman Rara mendiaminya, istrinya itu nampak menghindar, andai kemarin mereka tak bertemu Zahra mungkin Rara tak akan kepikiran
Harus darimana Azril menjelaskan bahwa kemarin yang mereka temui adalah Zahra yang asli, bukan Lila yang kemarin menyamar menjadi Zahra di pesantren dan membuat Rara menderita, tentu saja wanita yang membuat Rara menderita belum terbebas dari masa tahanannya
"Mas ayo makan" panggil Rara, kepalanya tiba-tiba muncul di balik pintu ruang kerja Azril, semenjak Rara pulang sampai sekarang Azril masih enggan pergi ke restoran dan memilih bekerja di rumah
"Aku masak telor balado kesukaanku, ayam kecap kesukaan mbak Sita, sama pelecing kangkung kesukaan bi Wawa" ujar Rara lagi
Azril tersenyum menghadap istrinya, nampaknya Rara sudah kembali seperti semula dan melupakan masalah kemarin
"Ayo" Azril bangkit dari duduknya dan meraih kepala Rara dengan menahan pintu menggunakan kakinya
Azril mencium kepala serta wajah Rara bertubi-tubi
"Mas lepasin sakit" pekik Rara, bagaimana tidak sakit leher Rara hampir kejepit pintu karena ulah Azril
Azril melepaskan kepala Rara ia membuka pintu lebar-lebar, wajah Rara nampak kesel, ia menggerakkan lehernya yang hampir tengklek
"Maaf ya sayang nanti mas pijetin lehernya, sekarang ayo makan dulu" Azril menggandeng tangan Rara menuju meja makan
"Bi Wawa ayo makan" ajak Rara
"Nanti saja non, saya makan sama Sita"
"Ok"
"Sayang mana telur balado kesukaan istri aku? katanya tadi istriku masak telur balado" tanya Azril
"Oh ya bentar mas aku ambilin"
Sesudah makan Azril hendak bermain dengan sikem namun ternyata mereka berdua tertidur lelap, akhirnya ia memilih menuju ke kamar hendak merebahkan tubuhnya sebentar
Matanya melirik ke arah ponsel Rara di atas nakas, ponsel yang waktu itu istrinya tinggal kini telah ia gunakan kembali
Azril meraih benda pipih tersebut, seperti biasa ia sangat kepo semua hal tentang Rara
Azril membelalakkan matanya kala melihat wallpaper hp milik Rara, foto dirinya yang tengah berpose bak model kala itu memenuhi layar depan
"Dari mana dia dapet foto ini" gumamnya sembari senyam senyum sendiri
"Mas sadar mas" teriak Rara hingga membuat hp yang berada di tangan Azril terjatuh tepat di wajahnya, bagaimana tidak melihat Azril senyam senyum sembari tersipu membuat Rara mengira suaminya telah kerasukan sesuatu
"Aduhh" ringis Azril, bukannya prihatin Rara malah tertawa
"Hahaha makanya jangan senyum senyum sendiri, hahaha"
Azril membalikkan badannya memunggungi Rara yang masih pada posisi berdiri di samping ranjang, ia nampak kesal dan malu, namun tetap saja tak menghentikan aktivitasnya bermain dengan ponsel Rara
"Mas jalan-jalan yuk besok ke taman, ajak Av sama Ay" ujar Rara ia duduk di pinggir ranjang
"Iya boleh, kalau gitu berarti kamu gak ikut reunian sama temen-temen SMA kamu?" tanya Azril
"Ehh iya tau mas, gak jadi besok deh kalau gitu ke tamannya, aku lupa besok ada acara reunian sekolah, untung mas ingetin, ehhh mas tau dari....." Rara melirik ke arah Azril yang tengah asyik membaca wa grup teman SMA nya
"Oh pantes tau" lanjutnya
"Kamu gak minta izin sama mas buat ke acara reunian?"
"Eh emang mas gak izinin?" tanya Rara
"Asal gak ada mantan kamu aja"
"Ya gak ada lah mas orang reunian angkatan"
Rara berjalan hendak keluar kamar
"Mau kemana?" tanya Azril yang membalikkan badan menatap Rara yang baru saja memegang handle pintu
"Ke kamar Av sama Ay, barang kali mereka sudah bangun, aku mau berjuang menaklukkan hati mereka" ujar Rara menggebu-gebu
***
"Rara udah selesai belum?" tanya Azril sembari mengetuk pintu kamar mandi
"Bentar mas" Rara keluar menggunakan bathrobe
"Ini mas udah siapin bajunya" ujar Azril
"Tumben" timpal Rara
"Ya biar kamu gak terlalu mencolok di sana" ujar Azril
"Kok gamis polos sih mas, aku mau pakek rok plisket sama baju atasan aja boleh ya, toh juga makai hijabnya selalu nutupin dada" pinta Rara
"Gak boleh, itu ntar kalau jalan sama mas, kalau ke acara reunian cocok pakai itu"
"Hah mas, jangan gitu dong"
"Kamu pingin tampil waw ya di sana?" tanya Azril mengintimidasi
"Ya gak gitu mas, seenggaknya menyesuaikan"
"Menyesuaikan apa? kamu pakai ini aja udah cantik kok ra, pokoknya pakai ini mas panasin mobil dulu"
"Ya udah iya pakai ini" Rara pasrah, namun bukan Rara namanya kalau tidak berpenampilan fashionable, setelah memakai gamis polos itu, ia mengambil cardigan yang panjang menjuntai ke betis dan memakainya, kemudian ia mengambil jilbab segiempat dan memodelnya sedemikian rupa hingga jilbab itu menutupi rambut hingga dada Rara
"Sempurna" gumamnya
"Ra ayo udah siap be....." Azril tertegun melihat Rara kala membuka pintu kamarnya
"Ayo mas udah siap"
"Ra kok kamu tambahin embel embel sih kan mas nyuruhnya pakai gamis aja" ujar Azril
"Suuuttt mas, ini gak mencolok kok mas tenang aja, jiwa dan raga ini hanya untuk mas" ujar Rara dengan senyuman yang amat manis
Azril tambah terpukau mendengar kata-kata Rara, akhirnya ia luluh dan memperbolehkan Rara berpenampilan seperti itu, sebenarnya ia hanya takut kalau tiba-tiba mantan Rara ikut datang ke acara itu, meski Rara bilang ini hanya anak angkatannya saja, tapi tetap saja Azril harus siaga empat lima
"Bener ya ra mantan kamu gak akan datang" ujar Azril kala mobil hampir sampai di sebuah villa, acara reunian diadakan di villa milik Amel
"Iya mas bener, kenapa sih mas takut banget aku berpaling, aku gak mungkin selingkuh kali mas, aku dah punya kamu Av dan Ay" ujar Rara yakin
"Mas cuma jaga-jaga aja" ujar Azril, hati manusia siapa yang tahu
Mobil berhenti menandakan bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan
"Jaga Av dan Ay ya selama aku gak ada, sini peluk dulu"
Azril memeluk tubuh Rara di dalam mobil "Jaga pandangan kamu juga, nanti telpon mas kalau udah mau pulang"
"Iya iya, kalau gitu aku turun ya mas, makasih" Rara mengecup pipi Azril serta punggung tangan suaminya, kemudian ia turun dari mobil
"Rara" teriak Amel ia berlari mendekat ke arah Rara
"Hay mel" Rara melambaikan tangannya
"Suami sama anak kamu gak diajak sekalian?" tanya Amel
"Gak mel, gak enak sama yang lain masih pada jomblo semua" ujar Rara jujur
"Hahahaha iya iya lagian di angkatan kita siapa sih yang udah nikah selain kamu" ujar Amel sembari terkekeh, mereka lebih memilih menamatkan pendidikan lebih dulu atau mencari pekerjaan dulu baru menikah
"Jodoh kan gak ada yang tahu, siapa tahu aja besok tiba-tiba kamu nikah"
"Hah aku, yang gak lah ngaco kamu, ayo masuk ke dalam, baru dikit sih yang datang"
***