I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Keluarga Si Buntel



"Selamat pagi sayang" sapa Azril pada sebuah bingkai foto di atas meja rias yang terletak di kamarnya


"Mas berangkat kerja dulu" rancaunya sembari menatap dirinya di cermin yang tengah sibuk mengancing baju kemejanya serta memakai dasinya


"Hari ini ada rapat di hotel ra, gimana suami kamu sudah tampan bukan" Azril memakai jasnya, kini pria itu nampak gagah dari biasanya


Azril lebih sering mengenakan kemeja saja jika berangkat kerja namun jika ada pertemuan bisnis, rapat, kerjasama dengan pihak manapun, menyambut kolega maka ia akan mengenakan dasi serta jasnya, dan biasanya jika ada hal hal tersebut Rara lah yang membantu Azril memakai dasi serta jasnya, istrinya sudah ahli dalam hal itu karena dulu ia cukup sering memakaikan kakak-kakaknya dasi


Azril menuruni tangga menyapa kedua bayinya yang sedang sarapan di temani bi Wawa serta baby sitter nya


"Assalamualaikum anak-anak papah selamat pagi" sapanya pada bayi yang tengah duduk di kursi bayi dengan mangkuk kecil di depannya


"Makan yang banyak ya biar tumbuh cepat" ujarnya sembari mengelus kedua anaknya


"Bi Wawa mbak Sita tolong jagain Av dan Ay ya" ujar Azril


"Baik tuan"


"Papah berangkat dulu ya, ayo sini salim" Azril meraih tangan mungil mereka dan mendekatkan punggung tangannya di dahi mungil sejenak, kemudian ia menempelkan bibirnya sejenak di atas kepala mereka


"Saya berangkat dulu assalamualaikum"


"Dada dada"


"Waalaikumsalam" sahut bi Wawa dan mbak Sita


Azril tersenyum melihat Ay merancau dengan bibir belepotan, ia melambaikan tangannya dan berjalan keluar rumah


Nampak Baheer yang telah menunggu di halaman rumah, benar-benar asisten setia


"Assalamualaikum bang"


"Waalaikumsalam, ayo Baheer berangkat" jawab Azril


***


Azril pulang sore hari karena hari ini ia benar-benar sibuk dan tak bisa di tunda lagi, apalagi hari ini ia beberapa kali tengah menemui kolega bisnisnya


Namun sebelum pulang mobil itu terparkir di halaman rumah umi dan abinya


Azril turun dari mobil, nampak seeokor buntelan putih berlari menghampiri nya


"Meow meow meow" kucing itu berlari girang ke arah mobil Azril


"Buntel" sapa Azril, ia menjongkokkan dirinya mengelus kucing itu dengan lembut


"Moew meow"


Mata kucing itu melirik kebelakang Azril ia juga melirik ke sebuah pintu mobil yang tak kunjung terbuka lagi, bola matanya terus berputar ke sekelilingnya mencari sesuatu


"Cari Rara ya?" tanya Azril sembari tersenyum pilu


"Meow meow"


"Kakak eh gak mamah kamu masih pergi, tapi kamu tenang aja dia pasti akan kembali" Azril jadi teringat kala Rara menyebut dirinya kakak dihadapan si buntel, sedangkan Rara menyebut Azril dengan sebutan papah di hadapan si buntel, sungguh tidak adil baginya, rasanya Azril benar-benar terlihat tua saja


"Meow meow meow meow"


Ntah kucing itu mengerti atau tidak yang jelas sorot matanya berubah menjadi sendu


"Azril" panggil uminya


"Assalamualaikum umi" Azril mencium punggung tangan uminya


"Waalaikumsalam, ayo umi udah siap, abi kamu udah berangkat tadi siang keluar kota daripada umi di rumah sendiri mending ikut sama kamu aja sekalian jagain sikem" ujar uminya


"Iya umi, ayo" Baheer membantu membawa tas milik umi Azril, setelahnya ia membukakan pintu untuk uminya Azril meraih si buntel dan memangkunya di dalam mobil


Nampaknya kucing itu tak bersemangat, ia berbaring lesu di pangkuan Azril


"Pacarnya udah melahirkan" ujar uminya yang duduk di sebelah Azril, semenjak mobil jalan Azril hanya terdiam sembari mengelus si buntel


"Hah" Azril mengerutkan dahinya bingung akan ucapan uminya


"Itu.... kucing yang dulu sering Rara kejar, yang punya si Iqba, dia udah melahirkan"


"Alhamdulillah, berapa anaknya mi?" tanya Azril, tumben-tumbennya uminya merhatiin seekor kucing biasanya uminya tak begitu tertarik perihal kucing, apa mungkin semenjak ada si buntel


"Umi kurang tahu, coba tanya sama suaminya"


"Siapa suaminya?"


"Noh" uminya menunjuk ke arah si buntel


"Kalau mamah kamu tahu dia pasti......" Azril menghentikan ucapannya, untuk kesekian kalinya ia selalu teringat Rara


"Pasti dia senang" batinnya


Umi yang dapat membaca raut wajah Azril perlahan mengusap punggung anaknya


"Besok kita ke sini lagi jenguk anak-anak si buntel, kita foto nanti kalau Rara udah balik kamu bisa ceritakan apapun dengannya, cerita semua yang ingin kamu ungkapkan, cerita semua yang ingin kamu ceritakan hingga membuat hati kamu merasa lega"


Azril mengangguk ia menyenderkan kepalanya di pundak uminya "Kira-kira Rara kapan balik ya mi?" tanyanya


"Secepatnya kita doakan ya"


"Kalau dia tidak balik?" gumamnya namun mampu didengar oleh uminya


"Suttt kamu gak boleh ngomong kayak gitu, doakan yang baik-baik aja" tegur uminya


***


Esoknya benar saja Azril pergi melihat anak-anak si buntel yang kini sedang berada di kandang rumah Iqba


Ia bahkan mengambil gambar si buntel si gumpel serta kedua anak mereka, nampak seperti keluarga kucing yang bahagia


"Tega ya kucing lo bisa-bisanya hamilin kucing gue" degus Iqba kesal


"Bukannya bagus, dari kecil kamu suka kucingkan"


"Iya tapi gak suka yang baru lahir, menggelikan, gue suka kucing yang bersih, mana dia lahirannya di lemari baju gue lagi, bikin kesel aja" gerutunya


Azril terkekeh mendengar ucapan Iqba


"Mau tak buang aja tuh anak-anak nya, tapi dilarang sama adek gue dia mau pelihara" lanjutnya


Azril mengangguk, matanya masih fokus pada dua bayi kucing kembar itu, mirip ia dan Rara memiliki dua bayi kembar


"Ini anaknya emang cuma dua?" tanya Azril


"Tiga tapi satu mati" ujarnya


"Innalilahi wainnailaihi rajiun"


"Siapa namanya?"


"Nama apa?"


"Nama kucing kamu serta kedua bayi kucing ini"


"Namanya Momo, anaknya belum di kasih nama masih dalam tahap perundingan"


"Oh ya si genit mana, tumben gak pernah nonggol" ujar Iqba, biasanya kalau ke rumah mertuanya tanpa sengaja Iqba melihat Rara mengejar si buntel kala si buntel enggan pulang ke rumah


"Siapa si genit?" Azril nampak bingung


"Istri kamu"


"Namanya Rara dia gak genit" ujar Azril tak suka istrinya dikata katain


"Iya iya sensi amat, kemana dia? dia tahu gak kucingnya punya anak?"


"Dia... dia masih ada urusan belum sempat ke sini"


"Kalau dia di sini bisa bisa anak kucing gue di embat aja" ujar Iqba terkekeh pelan


"Ini juga hasil kerja keras di buntel, dia juga punya hak asuh anak-anaknya"


"Hahahaha kamu serius amat mukanya, udah kayak membicarakan manusia aja"


"Kalau gitu saya pamit Iqba, makasih udah jagain anak-anak si buntel, ayo buntel kita pulang" Azril menggendong buntel, kucing itu hanya diam menurut


"Sungguh tega memisahkan anak dari ayahnya" ujar Iqba menggelengkan kepalanya


"Maaf si buntel harus pulang" ujar Azril "Karena aku sangat merindukan Rara, dia salah satu obat kerinduan bagiku" ujarnya namun hanya dalam batinnya


"Ya ya udah sana pulang" Iqba menggerakkan tangannya mengusir Azril dari rumahnya


"Saya pamit assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


***


ehhh kembali lagi, Jan lupa tinggalkan jejak kalian, see you next episode, mampir juga ke cerita kakaknya, bye 👋