
"Ra ayo sini makan, udah mama siapkan, tadi siang kamu cuma makan beberapa sendok aja" ujar mama kala melihat Rara yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Kenapa baru mandi jam segini? sini mama keringkan rambut mu dulu, jangan sampai tidur dalam keadaan rambut basah seperti kemarin-kemarin"
Rara memegang tangan mamanya ketika mamanya hendak meraih kepalanya
"Gak usah ma, nanti biar mas Azril aja yang ngeringin sama nyisirin rambut ku" ujarnya sendu
"Sekarang sama mama dulu, nanti kalau Azril sudah datang baru dia yang melakukan"
"Gak usah ma, biar mas Azril aja, dia suka banget nyisirin rambut ku"
Mamanya menghembuskan nafasnya pasrah, lagi-lagi ia berkata perihal Azril
"Ya udah kalau gitu sekarang makan dulu"
"Aku makannya nanti aja tunggu mas Azril"
"Ra ayo dong sadar, kasian bayi kamu, dari kemarin kamu hanya minum susu sama makan beberapa sendok saja, apa kamu mau pingsan lagi, apa kamu mau di infus lagi" ujar mamanya yang ikut frustasi menghadapi putrinya
Dua hari setelah Azril meninggalkannya ia sempat di larikan ke rumah sakit karena pingsan serta kekurangan asupan gizi, setelah mendapat ceramah dari dokter akhirnya ia mau makan meski hanya beberapa sendok tiap kali waktu makan demi kedua bayi yang ia kandung saat ini
"Ra kamu sadarkan kalau kamu yang salah di sini, jadi tolong beri dia waktu untuk menenangkan dirinya"
Rara menatap mamanya dengan nanar "Ma aku mau istirahat aja" ujarnya pelan
"Makan dulu baru istirahat"
"Gak mau ma Rara gak lapar" ujarnya dengan keras kepala, ia merebahkan dirinya di atas kasur dan menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhnya
"Hiks hiks hiks" suara isak tangis terdengar lagi dari balik selimut
"Ya udah mama keluar dulu, paling gak minum susunya sama makanlah beberapa suap, demi bayi mu ra" mamanya melangkah keluar kamar dengan pasrah, ia tak bisa memaksa putrinya, ia takut membuat kondisi Rara semakin parah
***
"Ra bangun yuk"
"Ra bangun ada Azril di bawah"
Rara yang mendengar nama Azril di sebut segera membuka mata dan mendudukkan dirinya di atas kasur
"Mas Azril udah datang ke sini ma?" tanya Rara antusias
Mamanya mengangguk pelan "Dia sedang menunggumu di bawah"
Tanpa pikir panjang Rara segera bergegas turun ke bawah, dilihatnya Azril tengah duduk di atas sofa dengan santai
"Mas" Rara berteriak girang, ia berlari menghampiri suaminya, ia hendak memeluk tubuh yang selama ini membuat ia merasa nyaman
Namun gerakannya terhenti tepat di hadapan Azril, ia takut kala melihat wajah suaminya yang nampak dingin dan datar, auranya berkata bahwa kini Azril tak ingin di sentuh oleh Rara sedikit pun
"Duduk di sana" perintah Azril dengan suara yang dingin, suara ini mengingatkan ia pada awal pernikahannya dengan Azril, kini ia tak merasakan kelembutan yang selalu suaminya berikan semenjak ia mengalami kecelakaan
Rara menurut, ia duduk di sofa sebrang dengan batas meja di hadapan mereka
Azril menyodorkan sebuah map di hadapan Rara "Bukalah" ujarnya
Dengan tangan gemetar Rara membuka map tersebut, tubuhnya langsung terasa lemas kala melihat judul besar pada lembar kertas tersebut
"Surat Pernyataan Cerai"
Air mata Rara turun begitu saja dengan deras, ia tak menyangka bahwa Azril benar-benar ingin bercerai dengannya
Ia memang sangat ingin bertemu dengan Azril namun tidak dalam kondisi seperti ini
"Tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan lagi?" tanya Rara sembari terisak
"Aku tidak mengampuni orang yang hendak membunuh anak ku"
"Maaf ra aku tidak bisa, bagaimana pun caranya hak asuh harus jatuh ke tanganku kelak ketika dia sudah lahir, aku akan merawatnya dengan wanita lain yang bisa menghargai aku sebagai suaminya dan sangat menyayangi anak-anakku kelak"
"Cepat tanda tangan, aku tak punya banyak waktu"
"Gak aku gak mau"
"Aku gak mau, jangan tinggalin aku, aku butuh kamu mas"
"Tapi aku gak butuh orang seperti kamu untuk hidup berdampingan dengan ku, aku sekarang menyadari bahwa kamu tidak pantas ra menjadi pendamping hidup ku, sifat kamu sangat jauh berbeda dari Azizah"
Mendengar perkataan Azril hatinya terasa teriris bagaimana mungkin suaminya dengan kejam membandingkan dirinya dengan mantan istrinya dulu
"Cepat, malah bengong"
"Kamu ingin bercerai dariku karena mbak Azizah kan, iya kan?"
"Bukan urusanmu, lebih baik urus dirimu yang hampir menyandang status janda"
"Gak mau, aku gak mau, gak mau" teriak Rara histeris
"Gak mau" Rara terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, keringat nya mulai bercucuran
"Mimpi buruk lagi.... hiks" Rara mengusap air matanya, ia melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan malam, padahal ia hanya tertidur sekitar satu jam tapi mimpi itu sudah mendatangi nya lagi, terhitung sudah tiga kali ia bermimpi mengenai suaminya selama seminggu ini
Lama ia terbengong kini ia mulai menyelam ke alam lain, terkadang ia terbangun di sepertiga malam dan berhalusinasi tentang bayangan suami nya yang sedang membaca Al-Qur'an di atas sajadah
***
"Ya Allah kenapa bannya malah kempes"
Ternyata ban motor itu melindes paku hingga menancap ke ban
Terpaksa Azril menuntun motor nya mencari bengkel terdekat namun sayang bengkel tak kunjung ia temukan, ia bertanya-tanya pada orang sekitar dimana letak bengkel terdekat giliran ada malah tutup
"Ya Allah, semoga Rara baik-baik saja" akhirnya ia menelpon Zidan dan Alif untuk membantu dirinya
Lama ia menunggu akhirnya datanglah sebuah motor yang di tumpangi oleh dua orang yang sangat tak asing baginya, ya itu Zidan dan Alif
"Ck ck ck apes banget hidup ane" decak Zidan kala melihat ban motor nya yang telah kempes
"Kamu yang sabar ya Jupry, babang akan bawa kamu ke rumah sakit dengan segera" Zidan mengelus motornya dengan penuh kasih sayang
Azril tak mempedulikan itu, ia menepuk pundak Alif mengisyaratkan agar Alif turun dari motor, dengan tampang bodohnya Alif menurut ia turun dari motor dan mempersilahkan Azril mengambil alih motor miliknya
Motor sudah melaju dengan kencang meninggalkan dua sejoli di pinggir jalan yang tak terlalu ramai tanpa sepatah katapun
Alif dan Zidan saling berpandangan dengan cengonya "Nasib nasib" ujar mereka meringis
Bukkk
Alif menendang ban motor milik Zidan "Gara gara kamu nih kita apes" gerutu Alif yang menyalahkan motor Zidan
"Hey apa maksud nte nendang nendang si Jupry hah" ujar Zidan tak terima
"Ya maap, khilaf, udah sana tuntun si Jupry, ane yang mimpin jalan di depan"
"Hey harusnya kita berdua yang nuntun, berat tahu"
"Cowok kok lemah pantas saja Kerin ogah ta'aruf sama nte"
"Heh emang nte pikir Najwa mau ta'aruf sama nte"
"Udahlah kita senasib"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗