
Rara berusaha membuka matanya yang kini telah membengkak, mimpinya mengusik dirinya memaksa ia untuk bangun, tubuhnya terasa berat seperti ada yang menimpa dirinya
"Pantes mimpi kelindes gajah" gumamnya kala mendapati dirinya terbangun dalam pelukan Azril
Rara berusaha menyingkirkan tangan serta kaki Azril yang menimpa dirinya, Azril memeluk ia dengan erat layaknya sebuah guling
"Kamu udah bangun?" tanya Azril yang juga ikut membuka matanya kala merasa sesuatu dalam pelukannya bergerak-gerak
"Mmmm minggir ini kakinya" pekik Rara yang membuat Azril menyingkirkan kakinya sendiri agar Rara dapat duduk
"Jangan ngambek lagi" Azril ikut duduk, ia memeluk tubuh Rara dari samping
"Minggir ah" Rara melepaskan tangan Azril yang menempel pada tubuhnya
"Ra mas punya kejutan buat kamu" ujar Azril yang menghentikan langkah Rara menuju kamar mandi
"Mau bawa aku kemana lagi? ke rumah sakit jiwa"
"Astaghfirullah sayang kok ngomongnya gitu, jangan soudzon"
"Percuma husnudzon sama kamu"
"Nanti habis ashar mas tunjukin, jangan ngambek lagi"
***
"Ayo ra siap-siap!" melihat istrinya bergeming di atas kasur membuat Azril menghela nafas berat
"Ra" Azril mendekati istrinya yang masih diam membisu
"Apa yang harus mas lakukan agar kamu tidak marah lagi?"
"Mas cuma pingin kamu sembuh, setidaknya mas ingin mempertanggung jawabkan apa yang dulu mas perbuat"
"Kamu marah karena apa ra? karena mas sudah menghancurkan mimpi kamu? apa karena mas tahu kamu memiliki trauma seperti ini?"
"Ra jawab!"
"DIAM" bentak Rara keras, ia juga bingung marah karena apa, karena kesal ada yang mengetahui rahasianya, atau karena itu aib bagi dirinya hingga ia membungkam mulutnya dan enggan melakukan pengobatan
"Marah aja cantik, gimana kalau tersenyum, mihhh makin tambah cantik istriku" puji Azril, bukannya tersipu malu ia malah melayangkan tatapan tajamnya
"Ra, ayo ikut mas yuk, masak kamu gak penasaran sama kejutannya?"
"Ra....." Azril menoel-noel pipi Rara
"Pipi kamu kayak bakpou, boleh di gigit gak nih" gumamnya dengan tatapan yang siap melahap santapannya
"Aaaaaa...... sakitttttt" pekik Rara kala mendapat tekanan yang cukup kuat dari pipinya
"Ehhh aduh maaf sayang, mas kelepasan" ujar Azril yang kelimpungan, ia mengusap-usap pipi Rara, terpampang jelas bekas gigitan yang Azril berikan
"Sakit" desis Rara
"Maaf mas kelepasan, beneran gak sengaja"
"Pergi"
Dreetttt dreetttt
Pandangan mereka berdua tertuju ke arah ponsel yang bergetar di atas nakas samping tempat tidur, melihat ponselnya berbunyi Azril meraih ponsel tersebut dan mengangkat panggilan, ia berdiri dan berjalan menjauh dari tempat tidur
"Halo assalamualaikum, ada apa jen?" tanya Azril pada seseorang diseberang sana
"Mmmm........" Azril melirik ke arah Rara sebentar sampai akhirnya
"Iya jen, bisa, kamu tunggu aja di sana, aku segera berangkat....."
"Katanya mau ngasih aku kejutan" teriak Rara yang memotong pembicaraan Azril, ia berharap teriakannya tersebut sampai terdengar di telpon
Mendengar istrinya berteriak membuat Azril menoleh ke arah Rara, ia menjauhkan telponnya dari telinga "Eh tadi katanya gak mau" gumam Azril
"Kamu mau ngingkarin janji ya mas" teriak Rara lagi
"Hah" Azril segera mendekatkan hpnya ke telinga lagi
"Maaf jen, saat ini saya gak bisa ke sana, nanti saya hubungi asisten saya saja"
"Waalaikumsalam"
"Ayo ra berangkat" ujar Azril dengan wajah berseri, ntah dorongan dari mana yang membuat Rara merubah pemikirannya, yang jelas Azril merasa cukup bahagia
"Loh kok malah tiduran" ujar Azril yang menarik selimut Rara
"Gak mau" Rara menarik selimut nya kembali hingga menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya
"Ya udah kalau gak mau, mas pergi dulu sebentar"
Rara langsung membuka selimut yang menutupi kepala "Mau kemana?" tanyanya sinis
"Ada urusan pekerjaan mas....."
"Bohong kamu pasti mau ketemu sama si Jenni Jenni itu kan" pekik Rara kesal
"Iya mau ketemu dia, mas ada urusan pekerjaan sama dia"
"Bohong kamu mas, kamu mau nyelingkuhin aku kan" nada Rara terdengar cukup tinggi
"Hah nyelingkuhin kamu, dapetin hati kamu aja belum, ngapain mas selingkuh"
"Awas kamu mas, kalau kamu selingkuh aku juga bisa selingkuhin kamu"
"Suuuttt gak boleh ngomong gitu, mas gak selingkuh, mas ada urusan pekerjaan sama dia, kalau kamu gak mau ikut mas ya udah mas pergi ngurusin pekerjaan mas aja"
Rara berpikir sejenak "Gak bisa di biarin nih, gak ada jaminan bahwa mas Azril gak akan tergoda olehnya, hampir tiap hari dimasakin, hampir tiap hari ketemuan, mana kemarin dia muji kecantikannya lagi, bisa-bisa aku kalah saing, mana bodynya tinggi langsing lagi"
"Ra mau pergi bareng mas gak? kalau gak....."
"Mau" ujar Rara yang segera beranjak dari tempat tidur, ia memilih pakaian terbaiknya dan berdandan secantik mungkin
Mobil terparkir di sebuah rumah mewah minimalis, meski tidak seluas dan semegah rumah kedua orang tua Rara tapi itu sudah lebih dari kata cukup
Azril turun lebih dulu dari mobil, ia membukakan pintu mobil untuk istrinya, dalam hati Rara bertanya-tanya rumah siapa ini, siapa yang akan mereka kunjungi
Rara hanya diam mematung menyaksikan rumah yang ada dihadapannya, bukan karena terkejut atau apa, melainkan karena kebingungan untuk apa Azril membawanya kesini, apa jangan-jangan ini rumah dokter psikiaternya
Belum selesai ia menerka-nerka, sebuah pelukan ia dapatkan dari belakang tubuhnya, parfum yang Azril pakai menyeruak di indra penciumannya "Dasar curang, aku gak dibolehin pakai parfum sedangkan dia apa?" gerutu Rara dalam hati
"Selamat datang di istana kita sayang" bisik Azril lembut yang membuat debaran jantung Rara berdetak lebih cepat dari biasanya
"Istana kita?" ujar Rara gugup
"Iya, mas tahu ini tidak semewah rumah yang dulu kamu tinggali, tapi mas berusaha merancang agar rumah ini sesuai dengan keinginan kamu"
"Ayo kita masuk, kita lihat-lihat" Azril melepas pelukannya hingga membuat Rara bernafas lega
"Ra kok malah bengong ayo" dengan sigap Azril menggandeng tangan Rara memandu istrinya untuk tour keliling rumah
Ekspresi yang nampak di wajah Rara hanya datar kala melihat seluruh sudut rumah barunya, tak ingin berkata apapun karena memang baginya itu hal yang biasa, tentu saja tidak bisa di bandingkan dengan rumah orang tuanya
Azril yang melihat wajah Rara biasa saja merasa tak enak hati, saat Azril bertanya-tanya mengenai dekorasi rumahnya Rara hanya mengangguk datar
"Padahal aku dah berusaha" gumam Azril pelan
"Kalau kamu gak suka rumahnya kita buat rumah baru aja, yang ini di jual" ujar Azril tiba-tiba
"Kenapa susah susah bangun rumah lagi, rumah kamu yang kemarin mana?" tanya Rara
Azril mengerutkan dahinya bingung "Rumah kemarin? mas gak punya rumah lain"
"Rumah malam pertama kita? Itu bukan rumah kamu?"
"Ma-malam pertama" ujar Azril gugup
"Malam pertama kita bukan di situ" gumamnya dalam hati
"Mas" panggil Rara kala melihat Azril yang hanya terdiam dengan pikirannya sendiri
"Eh iya ra, rumah itu mas berikan untuk Azizah sebagai mahar tambahan"
"Enak banget sih maharnya, seperangkat alat shalat, uang 100 juta, satu set perhiasan, emas 200 gram, di tambah rumah, lah aku cuma seperangkat alat shalat sama cincin" gumam Rara dalam hati
Melihat raut sedih yang terpancar jelas di wajah Rara membuat ia semakin tak enak hati "Ra rumah ini kan lebih bagus dari yang waktu itu, lebih luas yang ini malah dua kali lipat loh" bujuk Azril namun Rara hanya diam saja
"Ra kamu gak suka ya sama rumahnya? Kalau gak suka kita bangun yang baru aja, sesuai dengan desain yang kamu inginkan"
"Gak usah, ini udah cukup" ujar Rara yang berjalan kebelakang rumah, Azril mengikuti kemana langkah istrinya tertuju
"Wahhhhh" Rara terpana kala melihat kolam renang minimalis yang didesain dengan elegan, ada gasebo serta tempat duduk yang telah disediakan di sana, bahkan ada ayunan yang tergeletak tak jauh dari sana
Belum cukup dengan itu matanya menatap sebuah taman mini yang dibatasi dengan kaca, dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju ke sana, Rara tambah terpana kala melihat kolam ikan yang memanjang dengan jalan setapak, ada jembatan kecil di atas kolam ikan, nampak indah di matanya, di sana juga terdapat dua buah pohon mangga kesukaannya
"Kamu suka?" tanya Azril yang telah berdiri disampingnya, sedari tadi ia membuntuti istrinya
"Suka banget" ujar Rara senang
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗