I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Lan & Baheer



Brukkkkkk


"Aduh kalau jalan jangan ngandalin mata kaki aja dong" ujar seorang pria yang kini tengah terduduk di tanah akibat tabrakan yang cukup dahsyat


"Aduh maaf maaf, gak bisa ngerem tadi" Rara yang juga tersungkur ke bawah segera berdiri dan menarik tangan pria yang jadi korban tabrak tanpa lari


"Kamu siapa? dari kelas mana?" tanya pria itu datar


Bukannya menjawab Rara malah segera melanjutkan larinya kala melihat Afham yang berlari kian mendekat


Rara berlari menaiki tangga dan dengan sigap badannya memasuki salah satu ruang kelas


"Ehhhh anu" Rara merasa jadi salah tingkah kala semua orang di ruang kelas itu menatap dirinya aneh, jam memang menunjukkan waktu istirahat tapi siapa sangka banyak santri yang masih ngetem di dalam kelas, ada yang tidur, makan, bahkan melakukan permainan aneh sebagai gurauan


"Siapa kamu? kenapa ada bocil di sini?" ujar salah seorang santri yang duduk di depan


"Saya numpang bentar ya di sini" Rara menghilangkan rasa malunya, dengan santai dia berjalan ke bangku paling belakang dan duduk di bawah lantai menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat


"Hey itu tempat ku" degus pria berbadan tinggi, di belakangnya terdapat beberapa santri lain yang ikut penasaran dengan adanya makhluk aneh tersebut


"Sebentar aja, lagian masih kosong kok bangkunya, duduk aja, saya cuma numpang duduk di bawah" ujar Rara santai


"Dih suara kamu kayak banci, wajah kamu juga lembek kayak wanita"


"Emang wanita kok" ucapan Rara membuat semua santri melongo, bahkan beberapa santri yang tadi tak peduli ikut mengerumuninya


Rara langsung menutup mulutnya kala menyadari apa yang ia ucapkan


Penutup kepala Hoodie terlepas dari kepala Rara kala ada tangan jahil yang penasaran dengan ucapan Rara


"Waw cantik tapi tampan"


"Beneran kamu perempuan? mau jadi pacar aku gak? gara gara tinggal di sini aku jadi jomblo nih"


"Ngapain kamu ke sini? apa kamu santriwati di sini yang sengaja mengintip santri putra?"


Pertanyaan pertanyaan aneh terlontar dari mulut mereka, Rara yang merasa malu menjadi objek perhatian layaknya patung di museum hanya mampu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya


"Minggir semua" suara teriakan menggelegar di ruang kelas, semua santri yang ada di sana menegang kala mendengar suara tersebut, dengan penurut semua bubar meninggalkan Rara sendiri


Tangan Azril mengepal kala melihat Rara yang kini menjadi pusat tontonan layaknya seorang wanita yang berlenggak lenggok di atas panggung hingga mampu menarik mata kaum Adam


"Ayo pulang" ujar Azril lembut, dia menarik tangan Rara menyuruhnya untuk berdiri, tentu saja Rara terkejut kala melihat Azril, bagaimana bisa dia mengetahui keberadaannya di sini


"Aku mau jalan jalan di tempat ini" ujar Rara datar sembari bangun dari duduknya


Azril memakaikan penutup kepala Hoodie dan mengikatnya agar rambut dan leher Rara tidak terlihat


"Kalau kamu pingin jalan-jalan jangan di sini banyak tempat indah di kota ini" ujar Azril, Rara menatap Azril tajam dengan penuh curiga, padahal dia hanya ingin jalan-jalan di sini tapi kenapa tidak di perbolehkan


"Ayo pulang" Azril menarik tangan Rara, namun yang di tarik enggan mengikuti langkah Azril


Azril menghela nafasnya kasar berusaha menghilangkan emosinya serta kemarahannya


Tentu saja mereka berdua ini menjadi pusat perhatian seisi kelas


"Sayang nanti kamu jatuh lo" ujar Azril lembut, santri-santri yang melihatnya merasa panas, apa benar ini ustadz Azril yang di rumorkan itu


Azril membuang jauh rasa malunya, dia membawa Rara keluar dari kelas, bukan hanya dari kelas melainkan dari pondok pesantren tersebut


"Maaf ra aku akan semakin ketat mengawasi setiap pergerakan kamu, dan sebisa mungkin menjauhi kamu dari hal-hal yang berkaitan dengan masa lalumu" batin Azril lirih


"Aku laper" ujar Rara membuka pembicaraan di dalam mobil, hatinya kesel hingga perutnya ikut merasakan amarah


"Mau makan apa?" tanya Azril yang melirik ke arah Rara, namun Rara hanya diam saja


"Udang bakar, cumi bakar, ikan bakar, kepiting bakar, lobster bakar, tuna bakar" Azril mengoceh menyebutkan menu masakan yang baru baru ini launching di restorannya


"Kenapa gak kamu aja sih yang di bakar" ujar Rara judes


***


"Tidak salah lagi memang ada dua sidik jari di sini" ujar Baheer kepada orang yang duduk di hadapannya ini


"Kedua data dia sama, semua orang yang berada di pesantren Al-Amin dan di pesantren Al-Farabi tidak ada yang menyangkal keberadaannya" ujar Lan sembari menatap tab miliknya


"Awalnya saya berfikir bahwa dia merusak sidik jarinya sendiri" gumam Baheer, setelah melakukan pemeriksaan berulang-ulang kali sidik jari di tangan Zahra itu murni tanpa ada kerusakan sedikit pun


Kini Lan dan Baheer berada di kota Sidoarjo, Lan memutuskan mengikuti Baheer dan terjun langsung ke sana, mungkin karena ucapan Baheer yang menyindirnya tempo lalu


"Zahra sudah terbukti bersalah dan mendekam di penjara, bahkan dia bersaksi bahwa tidak ada orang lain yang ikut campur dengan apa yang ia lakukan"


"Bukankah ini cukup aneh?" ujar Baheer


"Dengan suka relanya dia mengakui semua perbuatannya, tidak ada bantahan sama sekali, bukankah ini terlalu mudah"


"Saya curiga bahwa dia hanya di hasut oleh orang lain" ujar Lan spontan


"Saya juga curiga bahwa kamu menaruh hati padanya" ujar Baheer asal


"Hey dugaan macam apa itu, jangan asal menyimpulkan, oh atau kau yang memiliki perasaan padanya" ujar Lan sinis


"Buktinya kau terus saja membela dia dari kemarin" ujar Baheer santai


"Siapa yang membelanya? ini hanya insting seorang asisten yang handal" ujar Lan bangga


"Ya ya ya, meskipun begitu tapi dia tetap saja mendapatkan hukuman bukan, tidak peduli apa alasan di balik itu semua" Baheer menggidikkan bahunya tak peduli apa yang Lan pikirkan


"Udah sana kamu balik ke Jakarta, bikin rusuh aja di sini, awasi orang-orang yang mencurigakan di sana, bagian saya di sini" usir Baheer sembari mengibaskan tangannya


"Siapa juga yang betah di sini, siapa yang juga yang mau bekerja dengan orang aneh macam kamu, kalau bukan perintah bos ogah saya bekerjasama denganmu" Lan langsung pergi meninggalkan Baheer


"Dalam waktu yang bersamaan bisa berada di dua tempat, kalau saja abang menyuruhku dari dulu untuk mengawasi non Rara mungkin masalah ini telah terpecahkan" gumam Baheer setelah Lan pergi menghilang dari hadapannya ini


"Apa dia mempunyai jurus ninjutsu bisa berpindah tempat dengan mudah, kalau saja dulu mengutus bawahan lebih banyak lagi mungkin masalah ini telah terpecahkan" gumam Lan yang tengah duduk di kursi kemudinya


"Ehhh apa jangan-jangan..........." ujar keduanya secara bersamaan namun di tempat yang berbeda