I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
KARENA AKU



Dreettt Dreettt Dreettt


Suara getaran hp berbunyi di atas meja, tangan Azril segera meraih hp tersebut dan mengangkat panggilannya


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam bang"


"Masalah tragedi malam itu saya telah menemukan beberapa bukti, tapi....."


"Apa?" tanya Azril datar


"Tapi ada pihak lain yang sudah jauh lebih dulu menemukan bukti-bukti pelaku penjebakan itu"


"Siapa?"


"Dari yang saya tahu tuan Alfred yang telah melacak segalanya, tapi ntah kenapa sampai sekarang belum ia bongkar"


"Oh ya hp non Rara sekitar 1 bulan yang lalu telah berada di tangan tuan Alfred, bawahannya berhasil menemukan hp tersebut di sebuah counter hp kecil, benar kata abang hp tersebut sudah di pasang pelacak GPS oleh keluarganya"


"Bang, Zahra telah lebih dulu mengundurkan diri dari pesantren sebelum kedoknya terbongkar, kini dia telah pulang ke Jakarta lebih dulu"


"Dimana dia?" tanya Azril sembari mengepalkan tangannya


"Di rumahnya"


"Aakkhhh"


Azril menoleh ke ranjang dilihat nya Rara yang berusaha bangun dan mendudukkan dirinya dengan susah payah


"Aku tutup, wassalamu'alaikum" tanpa menunggu jawaban salam dari sebrang sana dia telah mematikan hpnya dan berjalan mendekat ke arah istrinya


"Ra" kedua tangan Azril membantu Rara agar dapat duduk dan menyender di sandaran ranjang


"Aduhhh" Rara meringis pelan


"Kamu kenapa? apa yang sakit?" tanya Azril lembut


Rara menunjuk bagian perut nya, sontak tangan Azril mengelus perut Rara pelan


"Kenapa perutnya, bagian apa yang sakit?" wajah Azril terlihat khawatir


"Lapar" ujar Rara polos


"Astaghfirullah, ini udh sore kamu tadi belum makan siang bentar ya aku ambilin makan dulu" Azril langsung menghilang dari kamar dan muncul di dapur untuk mengambil sepiring nasi beserta ikan bakar, kemudian ia mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan coklat pasta tak lupa segelas teh hangat penghilang dahaga


Azril kembali dengan nampan di tangannya, dilihatnya Rara terdiam dengan pandangan yang kosong, pikiran melayang hanya pada satu arah


"Ra ayo ini makan dulu" ujar Azril sembari menyodorkan sesuap nasi di depan mulutnya


Rara membuka mulutnya tanpa mengalihkan pandangannya, tatapannya masih sama hanya mulutnya saja yang asyik menguyah makanan


Makanan telah tandas begitu saja namun Rara masih diam tak berkutik


"Ra"


"Rara" Azril mencoba memanggil Rara berkali-kali namun lagi-lagi Rara hanya terdiam membisu, tatapannya kosong melompong


"Kamu istirahat lagi ya" ujar Azril yang hendak membaringkan tubuh Rara, namun Rara segera menepis tangan Azril yang berada di pundaknya


"Dimana orang tadi?" tanya Rara yang membuat Azril mengerutkan dahinya


"Siapa?"


"Yang tadi"


"Afham" tebak Azril


"Namanya Afham" Azril tertegun, benar ternyata Rara hanya mengenali wajahnya saja namun tidak dengan namanya


"Iya, kamu mau bertemu dengan dia?" tanya Azril lembut


Rara menggelengkan kepalanya pelan "Aku mau bertemu bapak" ujar Rara


Azril tahu pasti apa yang dimaksud dengan bapak disini, bukan papanya melainkan bapak sopir yang telah menyelamatkan nyawanya


"Sayang, bapak itu sudah ada di surga, dia pasti sekarang lagi tersenyum melihat perempuan yang ia selamatkan kini baik-baik saja" ujar Azril lembut


"Baik-baik saja" Rara tersenyum sinis dengan pandangan yang mulai buram akibat linangan air mata, kedua tangannya menarik kerah baju koko Azril dengan kencang


"Tiap malam aku selalu memimpikan tubuh itu, tubuh yang berlumuran darah dengan suara yang terus memanggil namaku agar aku bisa selamat" air matanya meluncur begitu saja, sebenarnya dia tidak ingin menangis, tapi apa daya siapa yang bisa mengendalikan air mata dengan mudahnya


"Aku juga ingin dia selamat"


"Tapi sekarang apa hah" teriak Rara tepat di hadapan Azril


"Dia pergi, dia sudah pergi"


"Dia pergi ninggalin aku"


"Dan kamu tahu karena siapa dia pergi" ujar Rara lirih


"KARENA AKU" teriakan Rara terdengar menggema di telinga Azril


"KARENA AKU"


"Ini semua karena aku, andai saja dia tidak menyuruhku keluar lebih dulu ini semua tidak akan terjadi, andai saja tangan kokohnya tidak menahan kursi yang hendak menjepit ku mungkin sekarang dia akan baik-baik saja"


"Dia bisa selamat kalau aku tidak keluar lebih dulu" tangisan Rara terdengar pilu hingga mampu menyayat hati Azril


"Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa aku baik-baik saja"


Perlahan cengkraman tangan Rara mulai melemah, kepalanya mulai menunduk, dahinya ia benturkan berkali-kali tepat di dada bidang Azril


"Aku ingin menemuinya, bawa aku padanya" ujar Rara lirih


"Aku mohon aku ingin menemuinya"


***


"Lan" panggil Alfred


"Iya bos" jawab Lan sopan


"Apa semua bukti telah terkumpul beserta motifnya?" tanya Alfred tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang saat ini ia pegang


"Lagi-lagi ada yang ganjal bos" ujar Lan


"Aneh" Alfred melempar dokumen di tangannya ke atas meja


"Bos itu dokumen bernilai miliaran hati-hati dalam memperlakukan dia" tegur Lan


Alfred hanya menatap tajam ke arah Lan


"Cih, kapan kita akan menemui wanita licik tersebut?" tanya Alfred yang sudah tidak sabar menggerebeknya


"Dia telah kembali ke Jakarta bos, secepatnya kita akan menemuinya"


"Pastikan dia mendapatkan balasan yang berlipat-lipat"


"Emang kertas lipat apa" batin Lan


"Bos bukankah harusnya balasan yang setimpal ya"


"Terserah saya dong, siapa bos di sini" Alfred mempertegas posisinya


"Baik bos" Lan hanya menunduk sebagai rasa hormatnya


"Jelas jelas bukti ini nyata tapi kenapa firasat ku malah mengatakan sebaliknya" batin Lan dalam hati


Lan mengingat 2 bulan yang lalu bahwa data pelaku telah di temukan namun seperti masih ada yang janggal, maka dari itu mereka mengundur waktu dan mencari informasi yang akurat


"Azahra Rajjabi merupakan adik dari Azizah Ramadhani, ternyata dia bukan anak kandung dari pasangan Masrur dan Maysaroh, dia diadopsi ketika berumur sekitar 4 tahun, bukan diambil dari panti asuhan melainkan diambil dari pinggir jalan" Lan membaca ulang data tersebut


"Siapa nama aslinya?" tanya Alfred


"Nama asli? tidak ada bos, apa nama Azahra Ranjjabi bukan nama aslinya?" Lan malah balik bertanya


"Apa kamu tidak dapat menemukan data yang akurat" bantah Alfred


"Bos dia diadopsi di pinggir jalan bukan di panti asuhan, satu-satunya yang tahu ya dia sendiri" ujar Lan membela diri


"Dimana keberadaan dia sekarang?" tanya Alfred


"Di Sidoarjo, para pengawal kita berhasil mengawasinya" ujar Lan


"Pesantren apa?" tanya Alfred


"Pesantren Al-Amin" ujar Lan


"Berarti bukan pesantren milik keluarga Azril?" selidik Alfred


"Bukan bos, pesantren milik keluarga Azril bernama Al-Farabi, terletak di Sidoarjo juga namun dia berada di pesantren Al-Amin yang letaknya cukup jauh dari pesantren Al-Farabi" terang Lan