
"Apa bang saya gak mau" ujar Azril tegas
"Tadi katanya demi Rara"
"Justru karena demi Rara saya tidak mau"
"Oh kalau gitu saya tidak akan memberitahu kamu kabar tentang Rara"
"Bang....." Azril bingung, ia menimbang-nimbang syarat Dariel
"Gimana hah, pilihan ada di tangan mu" ini adalah balasan karena telah mempermalukan dirinya tempo hari di restoran
"Bang apa ada syarat lain"
"Foto model bareng pasangan yang sek**"
"Astaghfirullah, dunia apa ini" Azril mengelus dadanya, ini godaan syaitan
"Ayolah, tubuh mu lumayan juga, hanya beberapa gaya pasti hasilnya bagus, tinggal cekrek kau akan mendapatkan kabar tentang Rara"
"Bang setujui saja" bisik Baheer "Lagi pula saya yakin foto abang tidak akan di muat di majalah atau iklan apapun" lanjutnya
"Hanya foto kan bang, tak ada hal hal aneh lainnya, dan tidak di publikasikan?" tanya Azril
"Bisa jadi, tergantung mood saya"
"Bang saya butuh kejelasan?"
"Berarti tidak butuh kabar tentang Rara?"
Mulut Azril terbuka tanpa suara, bagaimana mungkin ia tidak butuh, Rara adalah istrinya satu-satunya wanita tanpa hubungan darah yang amat di cintai olehnya
"Baiklah bang" Azril pasrah ia berdiri tanda setuju
Muncul smirk di wajah Dariel, selain lembek ternyata Azril kulot juga batinnya
Dariel berbicara pada fotografer di sana, setelah paham sang fotografer meminta Azril bergaya dengan instruksinya, namun sebelum itu nampak seorang wanita berjalan ke arahnya hendak mengusap wajah Azril agar terlihat lebih fresh di kamera namun buru-buru Azril melangkah mundur
"Maaf mbak tolong jangan sentuh atasan saya, biar saya yang melakukannya"
Wanita itu mengangguk paham dan menyerahkan tisu basah pada Baheer
Baheer dengan telaten mengusap wajah Azril, serta memberikan beberapa polesan sesuai instruksi MUA di sana
"Wah wah wah sepertinya asisten kamu merangkap segalanya ya, apa apa bisa ia lakukan, kenapa gak sekalian aja melamar jadi MUA" ujar Dariel
"Kepalanya agak dongak sedikit, nah sip sip" intruksi sang fotografer
Cekrek
Cekrek
Cekrek
"Nah sip, hasilnya bagus, boleh saya rekrut gak nih?" tanya sang fotografer sembari melihat hasil bidikannya
"Apaan masih kalah jauh sama gue" celetuk Dariel
"Jangan iri jangan dengki tuan" timpal Baheer
"Dihhh siapa juga yang iri sama kecebong kayak dia, sekali pites tamat hidupnya"
"Dia jauh berbeda dari saya, udah tampan terkenal kaya raya, apa coba yang kurang dari saya" ujar Dariel sombong
"Allah membenci orang yang takabur alias sombong" timpal Baheer
Dariel menatap tajam ke arah Baheer "Kalau mau ceramah bukan di sini tempatnya"
Dariel berjalan ke arah Azril yang masih berdiri di tempat, tangannya terulur membuka satu persatu kancing Azril
"Bang" Azril mencekal tangan Dariel memberhentikan aktivitas kakak iparnya
"Diem kamu, ini sesi foto yang paling di nanti"
"Apa maksud abang, saya tidak menjajahkan tubuh saya" Azril menepis tangan Dariel
"Kayak tubuh lo bagus aja" gerutu Dariel, ia melempar majalah ke arah Azril, spontan tangan Azril menangkap majalah tersebut
"Saya pingin kamu bergaya seperti itu"
Azril menatap sampul majalah depan, nampak seorang pria mengenakan kemeja yang terbuka alias tidak di kancing hingga menampilkan sebagian otot dadanya yang nampa sixpack
Azril menelan ludahnya kasar "Saya tidak mau bang" tolak Azril, ia menaruh buku tersebut di atas meja kecil yang tersedia di ruangan tersebut
"Hahahaha saya tau kamu tidak memiliki tubuh yang bagus kan" Dariel tertawa melihat raut wajah Azril
"Saya sudah menuruti keinginan abang, sekarang beritahu saya kabar tentang Rara, dan dimana Rara berada"
"Rara kabarnya saat ini..... sedang bernafas dan dia berada di..... dunia" ujar Dariel santai, ya iyalah bernafas kalau gak bernafas mati dong
"Bang saya serius" wajah Azril sudah memerah menahan kekesalannya
"Saya juga serius, dia pasti sekarang sedang bernafas"
"Bang jangan bercanda" bentak Azril
"Eeehh sikap apa itu, dasar gak sopan sama kakak ipar sendiri, saya lebih tua dari kamu"
Azril berusaha mengendalikan emosi, tangannya sedari tadi sudah mengepal kuat
"Bang sekali lagi saya bertanya bagaimana kabar Rara dan dimana dia berada?"
"Nobi sekali lagi saya menjawab Rara sedang bernafas di dunia" ujar Dariel dengan wajah yang serius
Brukkkk
Azril menghempaskan lighting yang berdiri tegak di sana hingga tersungkur kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut, ia ingin meluapkan kemarahannya, bahkan ingin menghajar Dariel yang telah mempermainkannya namun ia tahan dan memilih pergi daripada emosinya semakin menjadi
***
"Ada pesan untukmu?" ujar Fren yang menyerahkan hp nya kepada adik sepupunya
Rara menerimanya, ia memang tak ingin menggunakan hp agar tak mencari tahu kabar tentang Azril, jika ia bosan ia akan menonton TV atau membantu aunty nya memasak dan membuat kue, jika keluarga Rara merindukannya mereka akan menelpon melalui hp orang-orang di sekitar Rara
"Ini" Rara membelalakkan matanya
Isi pesan tersebut berupa foto, berbagai macam foto tentang seorang laki-laki yang selalu mengusik hatinya, ayah dari anak-anak
"Dasar kak Dariel bisa-bisanya mempengaruhi suamiku yang alim jadi kayak gini" gerutu Rara kesal, bagaimana tidak gaya Azril di foto itu benar-benar seperti seorang model, apalagi saat ia berfoto dengan membuka kancing bajunya menampakkan dada bidangnya, sungguh ini sangat tampan, bagaimana jika banyak yang melihat bisa-bisa suaminya di curi cewek lain aja
Rara menekan tombol panggilan, tak butuh waktu lama si pelaku telah mengangkat telponnya
"Kak Dariel apa apaan sih" teriak Rara pada pria di sebrang sana
"Waalaikumsalam" sindir Dariel dengan mode sok alim
"Assalamualaikum" ujar Rara ketus
"Kenapa Rara sayang, kangen ya dengan kakak kamu yang tampan ini"
"Kamu apa-apaan sih kak, jangan mempengaruhi Mas Azril seperti itu, dia orangnya alim jangan sampai keikut blangsak kayak kakak" celetuk Rara
"Itu namanya fashionable ra, gimana ajaranku patut diacungi jempol kan"
"Diancungi jempol apaan, itu lebih patut diacungi jari tengah" teriak Rara kesal
"Hahahaha" nampak Dariel tertawa terbahak-bahak di sana
"Jujur aja ra kamu suka kan?" goda Dariel
"Gak" ujar Rara ketus, mungkin dalam hatinya beda lagi
"Masak? itu foto khusus buat kamu ra, susah lo bujuknya sampai dia banting lighting di studio pemotretan, rugi rugi dah aku"
"Kenapa kok dibanting? emang lighting nya salah apa?" tanya Rara
"Makanya kakak juga gak tau, jahat kan ya dia"
"Terus gimana nasib lighting nya?"
"Alhamdulillah udah sekarat, tinggal di remukin lagi bakal almarhum"
"Ahhh pokoknya kakak jangan ganggu suamiku lagi, dia orangnya polos dan alim jangan di rusak"
"Dihhh apanya yang polos apanya yang alim" batin Dariel
"Kapan pulang sayang?"
"Gak tau kak, mungkin...... beberapa bulan lagi"
Dariel dapat mendengar suara adiknya yang lesu "Kakak mau ke sana lo, mau di bawain oleh-oleh apa barang kali kangen sama masakan khas Indonesia?"
"Bawain yupi aja kak"
"Hah jauh jauh ke sana cuma minta di bawain yupi" Dariel menggelengkan kepalanya
***
Tenang bentar lagi, sabar semuanya 🧟🧟🧟