
Sehabis dari tempat itu Azril segera melajukan mobilnya menuju rumah, lebih tepatnya rumah mertuanya, ntah sampai kapan impiannya untuk memiliki rumah sendiri dan membangun keluarga kecil terwujud, tapi ia yakin suatu saat pasti Allah akan mengabulkan doanya, Azril terkekeh pelan kala mengingat semalam ia telah berhasil membobol mahkota istrinya, mudah mudahan bayi kecil bisa tumbuh di rahim istrinya dengan segera
Sebelum benar-benar sampai rumah Azril memberhentikan mobilnya di sebuah toko roti dia hendak membeli brownies untuk istrinya, kali aja istrinya mau memaafkan dirinya, kejadian semalam memang sudah ia rencanakan, selain rencana tentu saja dia juga ingin merasakan kenikmatan dunia yang membawa berkah, jika bayi sudah hadir dalam rahim istri nya tentu saja tidak akan ada kata perpisahan diantara keduanya, begitulah pemikiran Azril
Kini mobil terparkir sempurna di halaman rumah megah milik mertuanya, ia turun dari mobil dan bergegas pergi memasuki kamar mencari sosok yang telah membuat hatinya berbunga-bunga, namun hasilnya nihil
"Bi lihat istri saya tidak?" tanya Azril pada salah satu asisten rumah tangga di sana
"Tadi non Rara pergi dengan tuan Dariel tuan" ujarnya sopan
"Kira-kira pergi kemana ya?"
"Maaf tuan saya kurang tahu"
"Makasih ya bi"
"Iya tuan"
Salah satu kebetahan para pekerja di rumah ini adalah keramahan dan kebaikan dari para majikannya, bagi pekerja di sana sungguh merasa sangat beruntung karena tidak ada majikannya yang semena-mena terhadap para pekerja di rumah ini, kecuali jika mereka melakukan satu kesalahan yang fatal sudah di pastikan mereka tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini
"Kemana lagi ya dia, kenapa pergi gak pernah minta izin, harusnya aku tidak melepaskan pengawalan untuknya" gumam Azril
"Mana hp nya di tinggal lagi" ujar Azril yang melirik ke atas nakas
***
"Dek" panggil Dariel
Rara mengalihkan pandangannya dari mangkok ramen ke arah kakaknya
"Kaki kamu sakit ya?" tanya Dariel khawatir
"Ngak kok kak" Rara menggelengkan kepalanya
"Beneran nih gak?" tanya Dariel memastikan
"Iya bener emang kenapa sih?"
"Habis sedari tadi pagi kamu jalannya ngangkang, apa ini pengaruh dari tampilan mu ya, apa jangan-jangan kamu sudah melupakan genre kamu yang sesungguhnya" tanya Dariel penuh selidik
Rara melotot mendengar ucapan kakaknya, iya dia memang menyadari cara jalanan nya yang sedikit aneh, ya karena bagian itu masih terasa nyut nyut an
"Apaan sih kak, aku masih cewek normal ya" ujar Rara yang kembali melanjutkan santapannya
"Hehehehe kan kakak cuma khawatir, kali aja kamu sedang sakit" ujar Dariel yang ikut kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya
Selesai makan kini mereka berjalan-jalan di dalam mall, langkah kaki Rara berhenti, ia menatap sebuah patung yang telah dipasangkan sebuah baju gamis biru muda langit yang cantik, tak lupa patung itu memakai kerudung panjang hingga menutupi dada buatan, ya meskipun buatan tapi itu sudah lebih dari cukup bukan, hati Rara berdesir kala melihat pakaian itu
Dariel ikut menghentikan langkahnya, dia terkejut kala menatap Rara yang tengah asik memandang sebuah patung yang cantik, dengan sigap Dariel menutup kedua mata Rara
"Kak apaan sih lepasin" ujar Rara kesal
Namun Dariel malah menariknya pergi menjauh dari patung tersebut, dengan tangannya yang masih menutupi mata Rara
"Apaan sih kak" degus Rara sebal kala tangan Dariel telah menjauh dari matanya
"Dek sadar dek kamu itu seorang wanita" ujar Dariel sembari memegang kedua bahu Rara
"Iya emang terus apa salahnya?"
"Dek kamu itu seorang wanita dek kamu harus sadar, kenapa kamu bisa-bisanya terpesona dengan kecantikan patung tadi, sadar dek istighfar" ujar Dariel dengan raut wajah frustasi
Rara bengong kala mendengar penuturan dari Dariel "Sebenarnya dia ini keturunan siapa sih, EQ nya benar-benar di bawah rata-rata" batin Rara miris
"Udah ah kak ayo beli es krim aja" Rara menyingkirkan kedua tangan Dariel dari pundaknya
***
Sore hari mereka berdua baru menampakkan kakinya di rumah
"Kamu darimana ra?" tanya Azril yang baru saja pulang dari masjid sehabis shalat ashar
"Jalan-jalan" ujar Rara yang sedang merebahkan dirinya di sofa ruang tamu
"Jalan-jalan lagi, sama siapa?"
"Sama gue, kenapa lo iri?" ujar Dariel yang membawa segelas jus jeruk di tangannya
"Mau kemana lo, mau tahlilan?" tanya Dariel yang kini telah duduk di salah satu sofa, pandangan nya tidak ia lepaskan
"Gak bang, baru pulang dari masjid" ujar Azril sembari bergidik ngeri kala Dariel menatap dirinya dengan intens
"Oh ngomong-ngomong tahlilan tuh apaan sih" gumam Dariel dengan pandangan yang masih sama, tadi dia asal ngomong aja tanpa tahu artinya
"Tahlilan itu mendoakan orang yang sudah meninggal, biasanya juga dibacain surah Yasin bareng-bareng" terang Azril, namun nampaknya apa yang diucapkan Azril tidak didengarkan
"Bang"
"Bang"
Berkali kali Azril memanggil kakak iparnya berusaha menyadarkannya namun tak di hiraukan sama sekali, bukan tak dihiraukan lebih tepatnya Dariel tak mampu mendengar panggilan itu karena pikirannya berkelana ntah kemana
"Apa iya damage nya dia sampai akhirat, jika dipikir-pikir dia tidak menggunakan skincare apapun pakai pelet juga gak mungkin, benar ternyata kekuatan air wudhu itu sangat dahsyat, tapi aku kan juga berwudhu tiap shalat lima waktu apa wudhu ku kurang banyak ya" begitulah yang ada di pikirannya Dariel
"Woyyy" Rara melempar bantal sofa tepat di wajah Dariel hingga membuat pria itu kaget
"Dek apaan sih pakek lempar lempar segala" gerutu Dariel sebal
"Aku gak lempar ke kakak, aku lempar itu ke reog yang hampir memasuki tubuh kakak" ujar Rara yang langsung beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju kamar, melihat istrinya pergi Azril ikut membuntuti Rara
"Apa benar aku hampir kemasukan reog" gumam Dariel
***
Tok tok tok
Azril membuka pintu kamarnya terlihat seorang satpam penjaga depan gerbang rumah
"Iya pak ada apa?" tanya Azril sopan
"Maaf mengganggu tuan, ini tuan ada kiriman untuk tuan" ujar satpam itu, padahal ini sudah malam kenapa ada jasa kurir yang mengantarkan paket malam-malam
Azril mengerutkan dahinya dia melihat dua orang kurir pengantar barang membawa sebuah kotak dengan ukuran yang besar, kotak itu di bungkus dengan kertas kado disertai dengan pita di atasnya
"Oh ya pak boleh saya tahu siapa pengirimnya?" tanya Azril
"Katanya ini dari teman bapak, tapi dia hanya menuliskan hamba Allah sebagai pengirimnya" ujar salah satu kurir tersebut
"Oh gitu ya, tolong bawa masuk ke kamar aja" ujar Azril, kebetulan Rara tengah berada di kamar mandi
"Baik pak"
Setelah mengucapkan terimakasih kedua kurir serta satpam itu pamit undur diri
Azril mengamati kotak besar tersebut, sesekali tangannya mengetuk-ngetuk kotak besar hingga menimbulkan suara
"Siapa orang yang kurang kerjaan yang membungkus kardus sebesar ini, pakai pita segala lagi" gumam Azril
Clek
Pintu kamar mandi telah terbuka, Azril menatap ke arah Rara yang hanya mengenakan handuk, padahal itu handuk kimono tapi ntah kenapa hatinya bergemuruh
"Ra aku ke masjid dulu ya" pamit Azril yang segera keluar dari kamar, kondisi seperti ini tidak aman bagi jantungnya, kebetulan juga azan isya sudah mau dikumandangkan
"Duh kenapa jam segini Rara baru mandi sih, nanti masuk angin aja" batin Azril
***
"Ini apa?" tanya Rara ketika Azril baru saja menginjakkan kakinya ke kamar
"Mas juga gak tahu" ujar Azril yang mendekat ke arah Rara beserta kotak besar tersebut
Rara mengerutkan dahinya kala Azril memanggil dirinya sendiri dengan sebutan mas
"Ayo buka mas juga penasaran" ujar Azril yang mendapatkan anggukan dari Rara
Mereka berdua merobek-robek kertas kado tersebut hingga tuntas
"Wah ini sofa" ujar Rara kala mereka berhasil mengeluarkan benda besar yang ada di dalam kardus
Azril memunguti sebuah kertas yang terjatuh ketika mengeluarkan benda tersebut
"Ini......." Azril menelan ludahnya dengan susah payah