
"Mas lepasin, mau aku tinju hah" gertak Rara kala Azril telah berhasil menangkap
"Suuutttt ra, ini udah malam, kamu mau buat penghuni rumah bangun, lihat udah jam sembilan" ujar Azril
"Makanya lepasin mas" pinta Rara
"Pakai ini dulu ya"
"Tantan Zaza tolongin mamah" pekik Rara, ingin rasanya ia meninju suaminya tapi itu tak boleh dilakukan, lagian masak ia tega meninju suami sendiri, paling-paling hanya jambakan serta tendangan maut yang pernah ia lakukan dulu
"Mereka udah tidur nyenyak sayang di kamar umi sama abi, lagian nanti pas kita pulang kan belum tentu kita punya waktu berdua kayak gini" ujar Azril
"Ayo dong pakai ini"
"Gak mau mas, malu ihhh aku dah hijrah" tolak Rara
Azril mengerutkan dahinya "Jadi maksudnya sebelum kamu hijrah pernah pakai kayak ginian?" tanya Azril nadanya mulai terdengar datar dan... tak suka
"Ya gak lah mas, gak separah ini, lepasin dulu ini tangannya"
"Terus separah apa?"
"Ya apa ya, paling cuma tanktop doang sama celana pendek itupun di dalam rumah" ujar Rara
"Terus kalau di luar rumah paling parah seberapa?"
"Lupa mas, udah ah lepasin"
"Jawab dulu"
"Gak mau"
"Selain kaos lengan pendek sama rok di atas lutut apa ada lagi hah?" tanya Azril kekeh, wajahnya terlihat tak suka apalagi ketika ia membayangkan hal tersebut padahal mah itu hanya masa lalu, dulu waktu di kosan Azril beberapa kali melihat Rara menggunakan kaos lengan pendek serta celana jiens waktu keluar rumah, atau memakai kaos lengan panjang namun dengan rok tepat diatas lutut yang memperlihatkan betis mulusnya
"Gak ada udah itu aja" ujar Rara bohong
"Lagi pula itu kan masa lalu mas, sekarangkan cuma kamu yang bisa lihat tubuh aku" lanjutnya sembari menangkup kedua pipi Azril agar pria tersebut tidak marah
"Bener?"
Rara mengangguk sembari tersenyum, saat di rasa ada celah ia hendak kabur namun sayang Azril dengan sigap memeluk pinggangnya erat, nampaknya ia dapat membaca gerak-gerik Rara
"Mau kabur sayang, gak bakal bisa harus pakai ini dulu ya" bisik Azril lembut
"MAS"
"Iya sayang, ayo pakai dulu"
"Iya iya ah, tapi sekali ini aja ya" ujar Rara yang sudah jengah menghadapi sifat Azril
"Mmmm iya deh" ujar Azril "Sekali ini aja di rumah kakek, untuk selanjutnya kamu bakal pakai di rumah kita" lanjutnya tapi dalam hati sembari tersenyum licik
"Jangan ngintip tutup matanya" ujar Rara, dia harus mengganti pakaian itu di kamar gak mungkinkan dia pergi ke kamar mandi yang ada di luar
"Iya ini mas udah tutup"
"Mas jelek" gerutu Rara kesal
"Udah ini selesai puas" ujar Rara kala baju haram itu telah melekat di tubuhnya
Azril membalikkan badannya, seulas senyum terbit di bibirnya
"Cantik" pujinya
"Dah puas kan, aku mau ganti baju lagi, balik badan" perintah Rara, padahal dalam hatinya "Duhhh malu bangettttt, tahan ra tahan"
"Ehhh sayang kok di ganti sih, jangan gitu aja" Azril mendekat ke arah istrinya, sontak membuat Rara memundurkan langkahnya hingga batas tembok menabrak punggungnya
"Udah gak usah mundur lagi nanti bisa-bisa kamu tembus ke kamar bang Ammar" ujar Azril dengan smirk di wajahnya, Rara bergidik ngeri, inikah wujud asli suaminya
Azril menarik pinggang Rara tanpa aba-aba ia beralih membopong tubuh istrinya
"Mas" pekik Rara
Azril segera merebahkan tubuh istrinya di atas kasur
"Jangan mas, besok besok aja ya, plisss" ujar Rara memelas, ia kurang nyaman kala harus mandi menggunakan kamar mandi luar, apalagi keluarga Azril yang selalu bangun dini hari membuat ia takut kepergok kayak semalam
"Mas....." Rara mengeluarkan puppy eyes sebagai senjata andalannya, sekarang ia benar-benar mirip kucing kedinginan
Azril mengelus lembut rambut Rara, ia juga mencubit pipi Rara gemas "Kamu benar-benar mirip kucing kedinginan sayang, mas gak tega" ujar Azril yang membuat Rara menganggukkan kepalanya dengan semangat karena rencana berhasil
"Mas hangatkan ya sayang" lanjutnya yang membuat Rara melongos, ia kira Azril sudah luluh tau taunya malah tambah semangat
"Hmmmm kamu bau bayi" ujar Azril yang mengendus-endus leher Rara, sedari tadi ia memang sudah mencium bau itu tapi ia kira itu sisa parfum bayi kembarnya di udara tadi sore pada saat memakaikan mereka baju
"Eh hehehehe iya tadi aku salah ambil peralatan mandi, karena aku dah lepas baju males balik ke kamar lagi akhirnya aku pakai aja, hehehehe aku habisin setengah botol habis busanya dikit" ujar Rara sembari terkekeh
"Kamu gak mood kan mas, di pending ...... aaaa" pekik Rara kala Azril berhasil menanggalkan pakaiannya dengan mudah
"Mood banget kok, mas kayak ngeloni Av dan Ay, cuma caranya aja yang beda" ujar Azril parau
"Mas....."
"Ngeloni kamu itu anti mainstream, banyak cara uniknya"
"Mas...."
Setelah Azril membisikkan sebuah doa ia memulai ritualnya
"Mas..... buka dulu... baju kamu, masak... cuma Rara aja....." ujar Rara tersengal-sengal
Azril tersenyum memandangi wajah Rara yang kian memerah akibat menahan malu
"Gak perlu sayang, malam ini spesial buat kamu"
***
"Dadah mbah uti, Mbah kung" ujar Rara sembari menggerakkan tangan mungil Ay dalam gendongan
"Dadah sayang kapan-kapan main ke sini lagi ya, biar Mbah uti keloni lagi" ujar umi
"Iya, sering-sering mampir ya, abi juga mau main sama mereka" timpal abi
"In Syaa Allah umi abi, kalau gitu kami pamit dulu" ujar Azril
Setelah mencium tangan kedua orangtuanya mereka mengucap salam dan memasuki mobil, mobil berjalan meninggalkan kawasan pesantren, dengan Baheer sang supir utama
"Jadi mau ke kantor bang Alfred?" tanya Azril
Rara menggelengkan kepalanya "Gak jadi" ujarnya
"Kenapa?" tanya Azril
"Mau tidur aja di rumah capek" ujar Rara yang mulai memejamkan matanya
"Capek habis ngapain emang?" tanya Azril bingung pasalnya kan ini masih pagi dan Rara juga belum melakukan aktivitas yang berat-berat, hanya memandikan bayi saja pagi ini
Rara mendelik tajam ke arah Azril, ia pikir siapa yang membuat ia kurang tidur, bahkan sehabis shubuh bisa-bisanya Azril nambah, sungguh membuat Rara pusing, padahal biasanya Azril tak meminta sehabis shubuh mana ia sekuat tenaga harus menahan suaranya lagi
"Kamu pikir aja aku habis ngapain, kak Baheer tutup telinga kak Baheer, kak Baheer masih di bawah umur tak pantas mendengar ini" perintah Rara dengan nada agak ia naikkan
Di bawah umur katanya, padahal jelas-jelas umur Baheer lebih tua dari Rara beda empat tahunan, namun Baheer tetap menurut, mumpung lampu merah ia menutup telinganya
"Siapa tadi malam yang membuat aku tak bisa tidur, belum lagi shubuh shubuh bisa-bisanya mas ngajakin begituan" ujar Rara geram karena suaminya tak peka sedikit pun
Azril melongo mendengar kemarahan istrinya "Ya maaf, mas gak tahan......" ujar Azril kikuk
Baheer melepas tangannya dari telinga "Baheer siapa suruh kamu membuka telinga mu" tegur Azril, hingga membuat Baheer menutup telinganya lagi, ia memotong ucapan nya tadi karena Baheer membuka telinganya
Tin tin tin
Klakson motor dan mobil di belakang saling bersahutan karena mobil Azril yang tak kunjung jalan padahal lampu telah berubah warna
"Kak Baheer jalan, apa kakak gak bisa lihat itu lampu warna apa, hijau kak hijau, apa perlu kakak melakukan tes buta warna" tegur Rara keras, hingga membuat Baheer menjalankan mobilnya lagi
"Astaga mereka ini kenapa lagi" batin Baheer meringis
***
Holla semua, eh Jan lupa like comment and vote ya, thanks all yang masih setia menunggu up nya bab ini 🙏 see you next bab