
"Maaf, karena menyelamatkan saya bapak anda sampai mengorbankan nyawanya sendiri" ujar Rara sendu, ia mengusap air matanya kasar, kini mereka berada di rumah seorang dokter gigi
"Andai saja saya tidak menaiki taksi tersebut mungkin beliau masih hidup sampai sekarang"
"Andai saja beliau tidak menolong saya pasti beliau masih bisa berkumpul dengan keluarganya"
Rara tak henti-hentinya terisak dihadapan seorang pria yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun
Pria tersebut tersenyum ke arah Rara
"Hey cantik kenapa kamu menyalahkan sebuah takdir" ujar pria tersebut ramah
Rara mendongakkan kepalanya memberanikan diri menatap wajah seorang anak dari pak sopir yang telah menyelamatkan nyawanya
"Apa anda tidak menyalahkan saya, meskipun anda tahu penyebab kematian ayah anda?" tanya Rara sembari mengusap kasar air matanya
"Jika saya menyalahkan kamu maka sudah dipastikan saya menyalahkan sebuah takdir dari Nya"
"Bukankah setiap yang bernyawa akan mati juga, kita tinggal menunggu giliran saja"
"Tidak peduli bagaimana seseorang kehilangan nyawanya, karena semua itu sudah di atur oleh Allah dan sudah tercatat di lauhul mahfudz"
"Apa bapak tidak sedih?" tanya Rara ragu
"Tentu saja saya merasa sedih dan terpukul tapi tetap saja kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan"
"Saya yakin kini beliau sedang tersenyum karena berhasil menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang cantik seperti anda" perkataan itu mengingatkan Rara dengan ucapan Azril
"Benarkah?" tanya Rara lirih
"Tentu saja benar, saya kenal betul sifat ayah saya"
"Bolehkah saya menemui istri beliau?" Rara teringat selain kata-kata yang menyemangati dia untuk bisa bertahan hidup ada satu kalimat yang membuatnya semakin sedih
"Ada apa gerangan ingin bertemu dengan ibu saya?" tanya dokter gigi bingung
"Saya ingin meminta maaf kepada beliau" dokter gigi itu mengernyitkan keningnya menunggu kalimat yang akan di lontarkan Rara lagi
"Beliau sempat berkata bahwa beliau kangen pada istrinya"
"Rasanya saya sangat bersalah karena beliau tidak bisa melihat istrinya sebelum beliau menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya" ujar Rara lirih
Bukannya sedih dokter gigi itu malah tersenyum mendengar penuturan dari Rara
"Pantas saja, ternyata ayah saya berkata bahwa beliau kangen dengan ibu saya"
"Kau tahu ibu saya sudah menunggu beliau di surga Nya"
Perkataan pria tersebut membuat semua orang yang ada di sana tertegun
***
Seminggu sudah lamanya mereka berada di Sidoarjo tiap hari Rara selalu mengunjungi makam pak sopir berhati malaikat tak lupa dia juga mendoakan seseorang yang terbaring di samping beliau, siapa lagi kalau bukan istrinya
kedua orang tuanya berkali-kali menyuruh Rara untuk pulang namun Rara terus menolaknya
Selain menemani Rara Azril juga bekerja di restoran cabang miliknya, mereka tidak tinggal di hotel melainkan di sebuah rumah yang Azril sewa untuk sementara waktu
"Ra aku pergi kerja dulu ya, kalau butuh sesuatu telpon aku ya, atau minta tolong pada bik Sasa" ujar Azril sebelum berangkat kerja
Rara hanya mengangguk pelan, setelah Azril pergi dia bergegas pergi ke makam, membelikan bunga terbaik serta memanjatkan doa terbaik pula
"Pak stop" ujar Rara kepada sopir taksi yang ia tumpangi
Rara turun dari mobil, sejak saat dia membaca plat yang bertuliskan "Pondok Pesantren Al-Farabi" hatinya mulai terusik
Dia melangkah kakinya menuju gerbang, dilihatnya ada dua orang pria paruh baya yang berjaga di sana
Rara menaikkan penutup kepala yang terdapat pada kaos Hoodie yang ia kenakan
"Permisi pak saya ingin masuk sebentar kedalam" ujar Rara pada kedua penjaga gerbang
"Ada keperluan apa?" tanya salah satu penjaga gerbang
"Kakaknya laki atau perempuan?"
"Laki" ujar Rara spontan
"Kalau santri laki-laki ada di gerbang sebelah sana, di sini khusus untuk perempuan"
Rara menoleh ke arah gerbang yang di tunjukkan oleh sang penjaga gerbang, kemudian dia tersenyum kikuk dan berpamitan
"Laki-laki sama perempuan kok dipisah sih, ketat amat" gerutu Rara sembari berjalan menuju gerbang yang dimaksud
Dia melakukan hal yang sama dengan sebelumnya, akhirnya dia diizinkan masuk oleh penjaga gerbang dan diarahkan ke bagian penerimaan tamu
"Mau cari siapa?" tanya seorang pria berwajah tampan, dia merupakan bagian penerimaan tamu jika ada wali murid atau keluarga salah satu santri yang ingin mengunjungi anaknya atau saudaranya maka dialah yang mencatat dan membantu mencarinya
Rara terdiam sejenak terbesit di pikirannya satu nama yaitu Afham meskipun dia ragu ada atau tidak seseorang yang memiliki nama tersebut
"Afham" ujar Rara santai
"Afham siapa? dari asrama apa? kelas berapa?"
Rara menggaruk kepalanya yang tertutup "Kenapa susah sekali sih buat masuk ke sini doang" batin Rara sebal
"Hey kok diam saja"
Rara yang bingung malah mengalihkan pandangannya ke arah lain, tanpa sengaja sosok matanya bertemu dengan pria yang ia sebutkan namanya tadi, iya tidak salah lagi dia itu bernama Afham yang minggu lalu menemani Rara dan Azril untuk pergi ke rumah anak sopir taksi
"Afham" teriak Rara keras
Ustadz Afham yang merasa namanya disebut langsung menoleh kanan kiri mencari asal suara yang memanggil namanya
Pukkkkkk
Rara memeluk tubuh Afham dengan erat hingga membuat Afham terkejut
"Ra lepasin" kedua tangan Afham berusaha menjauhkan tubuh makhluk yang menempel pada dirinya
Bukannya melepaskan Rara malah kian memeluk Afham erat
"Ra bukan muhrim lepasin" sekuat tenaga Afham melepaskannya maka sekuat tenaga pula Rara mempertahankannya
"Aku bakal lepasin, tapi bawa aku masuk ke dalam" ujar Rara sembari menunjuk gerbang kawasan santri
Afham menggeleng bagaimana mungkin Rara masuk ke dalam sedangkan isinya kaum Adam semua
"Gak ra kamu gak boleh masuk" ujar Afham tegas
"Kalau gitu gak mau aku lepasin" kekeh Rara
"Ra jangan kayak gini, kita bukan muhrim, ayo lepaskan" beruntung saat ini seluruh santri sedang belajar di kelas masing-masing maka tidak ada orang yang lalu lalang kecuali beberapa wali murid yang menunggu anaknya
"Kalau gitu jadiin aku muhrim" ujar Rara asal
Afham melongo mendengar ucapan Rara, dia ini milik Azril bagaimana mungkin akan jadi miliknya "Ra jangan aneh aneh, itu tempat khusus santri bukan santriwati, jangan paksa saya pakai cara kasar" ujar Afham dengan wajah memerah
Teng teng teng
Suara bel berbunyi tanda jam istirahat telah tiba, Rara yang sedari tadi memandang gerbang kini tersenyum, matanya berbinar binar kala melihat gerbang itu telah terbuka lebar, secepat kilat Rara berlari masuk ke dalam
"Rara" teriak Afham, dia ikut berlari mengejar Rara
***
"Untuk apa dia ke sana?" tanya Azril datar
"Mungkin......" Baheer menghentikan ucapannya kala melihat senyuman Azril, bukan senyum manis melainkan senyum pilu
"Apa kamu sudah mengingat semuanya ra? apa kamu sedang berusaha mengingat jati diri kamu?"
"Jika memang seperti itu bisakah aku egois untuk menunda kepulihan kamu, hanya sampai pada saat kamu sudah mulai jatuh cinta terhadap ku" batin Azril lirih