I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Tepat Sasaran



"Aku ingin pisah darinya"


Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Rara, tatapannya nampak datar, begitupun dengan nada bicaranya seolah-olah itu bukanlah beban baginya


Semua orang terkejut kala mendengar ucapan tersebut


"Apa yang kamu bicarakan ra, apa papa gak salah dengar?" tanya papanya gentir


"Tidak pa, aku ingin mengakhiri semuanya" ujar Rara sembari tersenyum manis, tak ada beban sedikit pun dari raut wajahnya


"Ra kamu jangan asal memutuskan begitu saja, apa Azril berbuat salah padamu?" tanya mamanya yang ikut sedih kala mendengar keputusan putrinya, usianya baru 19 tahun tapi kini pernikahannya di ambang kehancuran, janda di usia muda bagaimana mungkin


"Ma Rara tidak asal memutuskan, ini sudah Rara pikirkan matang-matang"


"Tapi sayang apa benar-benar sudah tidak bisa di perbaiki?"


Rara hanya tersenyum ke arah mamanya, Rara tahu bahwa mamanya sangat mengkhawatirkan dirinya


"Apa yang dia perbuat padamu ra?" tanya Alfred


"Hehehehe tak ada kak, tenang saja aku ini kuat kok" ujar Rara sembari terkekeh kecil kala melihat raut murka Alfred


"Ra katakan yang jujur, apa dia menyelingkuhi kamu? apa dia memadu kamu?" tanya Dariel sembari mengepalkan tangannya


"Tumben serius amat kak mukanya, biasanya juga suka melihat adiknya ini menderita hahahaha" ujar Rara sembari tertawa


"Seorang kakak akan merasa senang ketika melihat adiknya menangis karena dirinya, tapi dia akan murka kala melihat adiknya menangis karena orang lain" ujar Dariel datar


Rara tertegun mendengar ucapan kakak keduanya, lebih tepatnya kakak pertama dari rahim yang sama


"Kak aku terharu, ternyata kamu tidak berubah sampai sekarang" ujar Rara sembari menutup mulutnya, ia bingung mau bersuka atau berduka


Semua keluarganya hanya menatap penuh prihatin terhadap dirinya


"Tak apa aku menjadi janda"


"Tak apa aku mengubur impian ku"


"Aku akan menutup setiap lembaran pada buku ini dan membuka lembaran pada buku baru"


"Ra tapi......"


"Ma aku masih punya kalian kan, jadi tenang saja, aku akan baik-baik saja" ujar Rara yang memotong ucapan mamanya, senyum di wajahnya ia kembangkan kembali


"Aku dah kenyang aku mau ke kamar dulu ya, oh ya jangan beritahu dia dulu biar aku yang akan menyampaikan niat ku ini padanya" Rara berdiri kemudian segera beranjak menuju kamarnya tanpa melunturkan senyuman itu


Begitu pintu tertutup dia tersenyum pilu, air matanya menetes meratapi kehidupan nya, badannya yang ia senderkan di pintu kini merosot ke bawah dia memeluk lututnya dengan erat, tak ada suara isak tangis hanya air mata yang mengalir tanpa suara


"Hemophobia" gumam Rara gentir


***


Ketika makan malam telah usai Azril baru saja kembali ke rumah, rasanya rumah begitu sepi tak ada yang menonton tv di ruang keluarga, atau hanya sekedar bercengkrama di ruang keluarga


Azril membuka pintu kamarnya, dilihatnya Rara kini telah berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam dan nafas yang teratur


Azril mendekat ke arah Rara yang diyakini istrinya itu telah terlelap, di tariknya selimut ke atas untuk menyelimuti tubuh Rara, wajah bulat Rara menambah kemanisan pada dirinya, Azril membungkukkan badannya, bibirnya ia tempelkan di atas pipi Rara sekilas kanan dan kiri, kemudian dia segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri


Azril mengancing baju piyamanya namun ia tidak segera tidur melainkan membuka tab dan berkelana pada layar tersebut


Rara melangkah tanpa suara berjalan ke sofa mendekati suaminya, ntah Azril yang terlalu fokus atau tidak peka hingga ia tak menyadari bahwa Rara telah berpindah tempat


Rara mendudukkan dirinya di sebelah Azril dengan jarak beberapa centimeter, merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya ia mengalihkan pandangannya kesamping


"Loh ra" ujar Azril kaget


"Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Azril sembari menatap ke arah kasur, benar saja Rara sudah tak ada di atas kasur


"Terbang" ujar Rara datar


"Mas aku mau bicara serius sama kamu" ujar Rara sembari menatap mata Azril


"Bicara apa?" tanya Azril sembari tersenyum


"Ingatan aku sudah pulih" ujar Rara yang mampu membuat Azril terkejut, bukannya senang ia malah melunturkan senyumannya


Melihat raut wajah suaminya berubah Rara tersenyum sinis "Kenapa kok terkejut?"


Rara mulai berdiri membelakangi Azril


"Takut aku mengingat kejadian selama di pesantren"


Jlebb


Jlebb


"Atau takut kamu ketahuan memiliki niatan untuk berpoligami"


Jlebb


Semua perkataan Rara mampu menusuk relung hatinya, benar-benar tepat sasaran


"Ra gak gitu aku bisa jelasin" Azril ikut berdiri, kedua tangannya memegang pundak Rara dan membalikkan badan Rara agar mereka saling berhadapan


"Jelasin? ok aku beri kamu waktu untuk jelasin tentang rencana kalian berdua"


"Kalian berdua? apa maksud kamu ra?" raut wajah Azril terlihat bingung


"Mbak Azizah" Rara menepis kedua tangan Azril dari pundaknya


"Azizah" Azril semakin bingung


"Ya kenapa, kaget aku pernah bertemu dengannya"


"Kapan kamu pernah bertemu dengannya?" tentu saja Azril kaget, ia tidak mau sampai Azizah mengatakan sesuatu yang membuat rumah tangganya hancur


"Kamu gak perlu tahu kapan, yang harus kamu tahu bahwa aku mengetahui niatan kamu untuk mempoligami diriku"


"Ra aku......."


"Mas denger ya, sebelum kamu mempoligami aku, aku akan dengan senang hati berpisah dengan kamu" ujar Rara yang memotong ucapan Azril, ia juga menekan setiap kata yang ia ucapkan


Azril menggelengkan kepalanya dengan kuat


"Gak ra, aku gak mau pisah sama kamu, aku juga gak mau berpoligami"


Rara tersenyum sinis "Cihhhh kamu benar-benar munafik ya"


"Ra dulu aku memang sempat memiliki niatan seperti itu tapi tidak untuk sekarang"


"Baru sekarang kamu merubah niatan itu, mulut laki-laki emang kebanyakan berdusta ya"


"Astaghfirullah gak ra, maksud mas semenjak kamu kecelakaan, aku sudah tidak memikirkan wanita lain selain kamu ra, ku mohon percaya padaku ra" Azril berusaha meraih tangan Rara namun dengan sigap Rara segera menghindar


"Mas apa kamu gak capek berpura-pura seperti ini?"


"Apa kamu mau terus hidup dalam kebohongan seperti ini?"


"Aku tahu kamu hanya iba terhadap ku"


"Apa aku begitu menyedihkan di matamu?"


"Gak ra aku gak iba terhadap kamu, aku mencintai kamu" kata cinta itu akhirnya bisa Azril ucapkan di hadapan sang istri


"Cinta? bagaimana mungkin" Rara terkekeh mendengar ucapan Azril yang mengatakan cinta terhadap dirinya


"Demi Allah ra, aku sungguh mencintai kamu"


"Jangan bawa bawa Allah" teriak Rara keras


Rara mendudukkan dirinya kembali di sofa


"Aku gak tahu aku harus apa, aku juga sama sepertimu yang tidak menginginkan pernikahan ini, kamu tahu gimana rasanya ketika aku di cap sebagai seorang pelakor yang merusak rumah tangga kalian"


"Aku pikir seiring berjalannya waktu gosip itu akan mereda, tapi ternyata aku salah, gosip itu semakin hari semakin menjadi-jadi"


"Awalnya aku juga tidak ingin menikah denganmu, aku hanya ingin kejadian malam itu berlalu begitu saja, tapi aku yang sebagai wanita tentu paling di rugikan, karena apa? karena aku memiliki sebuah mahkota, dan kamu" Rara menunjuk ke arah Azril


"Yang telah merenggut mahkotaku" lanjutnya


"Akhirnya aku mau menikah denganmu, aku berpikir bahwa pernikahan kita paling hanya mampu bertahan beberapa bulan mengingat cinta mu yang begitu besar padanya"


"Aku dulu berpikir lebih baik aku memiliki status janda daripada status pemerkosaan ataupun status perzinaan, maka aku iyakan pernikahan ini"


"Tapi seiring berjalannya waktu ketika aku tinggal di pesantren dan mulai mempelajari ilmu-ilmu agama rasanya aku tidak ingin pisah darimu, aku ingin dibimbing olehmu, aku ingin menggapai surga bersamamu, karena aku tidak mau Allah membenciku"


"Mas bukan aku yang tidak mau menggenggam tanganmu, melainkan kamu yang tidak mau menggenggam tanganku"


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗